[Sequel of MWAG Lay’s] Finger (Chapter 2)

10411757_1030526473654463_672558040107621671_n

Title     : Finger

Main Cast: Zhang Yi Xing as EXO Lay, Kim Lisa (OC), Lee Jia

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by :

 

***

Lisa kembali menggigiti kukunya dengan nada tak anggun. Yeah, ini mungkin hanya rahasia yang akan diketahui olehnya dan beberapa orang yang dekat dengannya, saat Lisa gugup, entah mengapa jari-jari itu seolah lari dan begitu tertarik untuk digigiti oleh gigi Lisa sendiri –sesuatu yang menurut Yunho begitu menggemaskan –dan Yunho mengatakannya sepuluh tahun lalu, saat ia sedang berada di ambang mabuk asmara dengannya. Dan Lisa sama sekali tidak tertarik untuk peduli pada hal sepele itu sampai lelaki muda yang menjadi ‘artis’nya mengoceh soal, “Kau sangat jorok. Bagaimana bisa kau mempunyai banyak teman kencan sedangkan kau sendiri begitu jorok?”

Itu konyol. Dan Lisa tidak pernah tertarik untuk peduli.

Meskipun…yeah, Lisa harap Yixing –lelaki yang mengatakan hal tersebut—tak pernah tahu jika diam-diam ternyata otak Lisa telah mengamini apa yang dikatakan oleh lelaki ingusan tersebut. Baiklah, umurnya mungkin akan menginjak 25, tapi bagi Lisa, lelaki yang memberinya ‘cincin bekas’ itu tetaplah lelaki ingusan yang masih suka merengek dan bodoh. karena Lisa ternyata selalu menjaga imejnya dengan sangat apik di depan para pria yang sedang berkencan dengannya.

Tapi untuk hari ini, Lisa kembali kehilangan ‘imej; yang telah ia bangun. Well, meskipun ia tidak sedang berselingkuh ataupun tengah berkencan, tapi Lisa sendiri tidak tahu, hari seperti hari ini akan datang dan memporak porandakan seorang Kim Lisa yang hampir saja mendapat gelar Sarjana Psikologi sampai ia akhirnya kehilangan kesempatannya untuk menyelesaikan skripsi dan justru terdampar dengan embel-embel manajer seorang pianis muda dan terkenal.

“Kau tahu, seharusnya kau menyapa Ibu saat kau tahu ia sudah pulang ke Korea, dan bukannya bersenang-senang dengan pacar artismu dan membuat semua orang kesusahan.” Lelaki bernama Kim Jaehoon itu menyapa Lisa dengan nada tak ramah. Tentu saja Lisa sudah tahu dan sudah menebak hal ini, tapi ia tidak tahu ia tetap tidak siap.

Lisa pun menurunkan tangannya –sedikit menyadari kekonyolannya yang hampir kembali ia lakukan, menggigiti kuku cantiknya. Ia pun berdehem kecil, sebelum akhirnya menyesap kopi pesanannya dan angkat suara, “Kau juga tak pernah menyapaku setelah kembali dari Paris,” Lisa tak menatap lawan bicaranya sama sekali, ia lebih tertarik untuk memutar-mutar cangkir keramik berwarna gading di hadapannya, “Dan kukira, keluarga kita tak membutuhkan tata karma kosong semacam itu lagi, kan?”

Lelaki itu tersenyum kecut. Ia tahu Lisa selalu seperti ini, membantah dan berkilah. “Ibu sudah menyatakan kalah perang, dan kau masih ingin berperang?”

Lisa tertawa sinis mendengar jawaban tak terduga itu. Ia pun mengangkat kepala dan menarik sudut bibirnya,”Jika Oppa tidak tahu, aku tidak pernah ikut berperang di dalam keluarga Kim. Justru aku satu-satunya benalu yang tak pernah mendapatkan apapun. Tidak kemenangan, ataupun kekalahan. Bukankah begitu?”

“Lisa…”

“Aku tak pernah tertarik untuk bersaing denganmu, Oppa,” Lisa pun mulai rileks –ia baru saja menyadari kegelisahan dari lawan bicaranya. Ia pun menyandarkan punggungnya sambil melipat kedua tangan di depan dada, “Apa yang harus kurebutkan darimu? Perusahaan? Kekayaan? Tahta? Jabatan?” Lisa kembali tertawa, seolah baru saja membicarakan lelucon paling tidak bermutu, “Aku bahkan tak peduli saat Nenek menuliskan namaku sebagai daftar pemegang saham dengan angka 15%. Aku menjualnya dan menyisakan 0,5%, kau tahu pekerjaanku tak terlalu menguntungkan, bukan? Aku tetap perlu hidup setelah kalian mengacaukan semua rencana hidupku.” Jaehoon hampir membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun kembali urung saat Lisa menjentikkan jarinya, “Tapi kau juga harus tahu, aku membeli saham 2% di perusahaan elektronik. Yah…kau tahu, aku tak mungkin menumpang tinggal di rumah pacarku, kan?”

“Kim Lisa!”

“Berhentilah!” Jaehoon sedikit terkejut saat nada tinggi itu keluar dari mulut Lisa, “Aku bukan lagi anak ingusan yang bisa kau kelabui. Lakukan apa yang kau mau, Kim Jaehoon. Delapan tahun telah berlalu, bahkan empat tahun setelah kau berhasil menggagalkan gelar sarjana itu berdiri di belakang namaku pun sudah berlalu. Aku, Kim. Li. Sa. Bukan lagi gadis kecil yang bisa kau kelabui.” Lisa pun bangun dari duduknya dan menyambar ranselnya, “Jangan menggongong lagi di kehidupanku. Dan…omong-omong, Jung Yunho, penyanyi itu bukan pacarku, kau harus menyampaikan ini pada Ibu sebelum ia melakukan hal bodoh. penyanyi itu berasal dari agensi terkenal, jadi, jangan lakukan tindakan bodoh.”

 

***

 

Dan Lisa tetaplah Lisa. Ia tidak pernah peduli ketika orang lain mengomentari kehidupannya. Ia tidak peduli ketika orang lain bertanya tentang alasan ia menanggalkan kesempatannya untuk lulus dari Seoul National University dan malah melarikan diri tanpa sempat menyerahkan skripsinya –apalagi sampai mengulang kuliahnya. Dan Lisa tidak peduli, ketika parasit semacam Kim Jaehoon muncul kembali di hidupnya.

Ya. Hidupnya. Hidup Kim Lisa.

Ini hidupnya. Dan Lisa sudah bertahun-tahun hidup dengan caranya sendiri, tanpa pernah peduli dengan gelar atau statusnya –atau apapun yang membuat orang lain selalu bertanya ataupun berspekulasi tentang hidupnya.

Tapi Lisa selalu peduli ketika orang-orang di kehidupannya mulai terusik hanya karena dirinya. Seperti Yunho yang mendadak menghubunginya karena khawatir dengan gossip kosong yang menuliskan namanya di banyak berita sebagai kekasihnya. Dan yang membuatnya lebih peduli lagi, ketika untuk pertama kalinya Zhang Yi Xing menginterogasinya seperti sekarang, tepatnya setelah membaca nama ‘U-Know’ di layar ponselnya dan mengangkat telpon tersebut.

Demi Tuhan! Ia bahkan tidak tahu lelaki yang sedang menjalankan wajib militer itu mau repot-repot menghubunginya!

“Tapi ini bukan yang pertama kalinya Nuna mendapat gosip semacam ini!” entah mengapa nada bicara laki-laki itu naik oktav.

Lisa yang tengah duduk tak jauh dari Yixing hanya bisa mendengus kecil. Sejak dulu, Yixing memang pecemburu –dan Lisa tidak tahu rasanya dicemburui bisa semanis ini. well, bolehkah ia menyebutnya manis?

Wanita yang tengah menata rambut Yixing juga sepertinya tidak terlihat terlalu nyaman menjadi benalu di antara Yixing dan Lisa –yeah, tidak banyak yang tahu tentang hubungan mereka berdua. Sampai akhirnya, wanita itu selesai dan pergi meninggalkan pasangan kekasih itu untuk melanjutkan pertengkaran mereka.

“Bahkan kau masih menyimpan nomor ponsel artis itu! Apa tidak bisa Nuna berhenti bermain-main seperti itu?” lagi, Yixing mengomel. Entah mengapa ia jadi sesensitif ini setelah berminggu-minggu ia mengabaikan Lisa dan sibuk berduaan dengan pianonya.

Lisa pun akhirnya mendekat kea rah Yixing, kemudian memeluk leher pria itu dari belakang dan menjatuhkan dagunya di kepala Yixing, membiarkan rambut lelaki itu menggelitik kulit wajahnya, “Lanjutkan…”

“Apa?” balas Yixing ketus.

“Kau masih marah, lanjutkan apa yang ingin kau katakan…”

“Nuna. Aku serius, kau bisa berkencan dengan siapapun saat kau lajang, tapi tidak sekarang! Bahkan Nuna terkena skandal? Nuna tahu dia artis terkenal, kan? Bagaimana jika…”

“Bagaimana jika kau tenangkan dirimu dan mulai focus untuk konsermu?” balas Lisa lembut dan melepas pelukannya. Ia pun melirik arlojinya, “15 menit lagi. Kau bisa minum kopi atau memejamkan matamu sebentar, kau hanya tidur dua jam.”

“Nuna…” Yixing mulai jengah, ia pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Lisa yang menunjukkan tampang baik-baik saja.

“Yixing, gosip itu benar. Aku menemui Yunho Oppa yang tengah menjalani wajib militer, tapi aku tidak berpacaran dengannya. Come on! Bahkan artis bernama Nana juga menjenguknya dan tak satupun mengatakan mreka adalah sepasang kekasih, kan?” kali ini Lisa yang mulai terlihat jengkel. Kepalanya sudah dipenuhi dengan masalah tak berguna tadi siang, dan ia tak mau memulai cekcok kosong dengan Yixing karena gosip murahan yang tengah beredar.

“Kau tahu, aku memang cukup terkenal di kalangan laki-laki. Aku juga mengenal Changmin, member JYJ, Shim Jaewon, Kyuhyun, Leeteuk, Jung Il Woo, Minho,bahkan artis baru itu…siapa namanya? Nam Joohyuk! Ya…kau tahu, kan? Dan jika kau ingin tahu artis perempuan, aku juga bisa mengenalkanmu pada Sandara atau bahkan Suzy,” Lisa mengucapkannya dengan sangat cepat dan nada tidak peduli, “Dan kau tahu aku juga menolak pengusaha yang pernah dekat denganku. Jadi, berikan alasan padaku kenapa aku perlu meninggalkanmu dan kembali pada Yunho? Jika aku mau, aku bahkan sudah memacari G-Dragon. Kudengar dia juga punya Black Card.”

Yixing mendengus geli. Lisa selalu seperti ini, besar kepala dan suka pamer –juga kadang terlalu bangga pada dirinya sendiri, “Kukira kau akan selalu patah hati jika berpacaran dengan G-Dragon.”

Lisa pun tertawa keras, “G-Dragon juga tidak buta, kenapa dia harus memacariku jika dia bisa memacari Kiko Mizu…ah! Apapun itu namanya!”

Dan Yixing hanya bisa mengernyit, merasa geli dengan tingkah Lisa yang tak pernah berubah.

“Jika kau mau aku bisa memperkenalkanmu pada beberapa orang penting di agensi Yunho. Kau tahu maksudku, mungkin saja kau bisa…”

Yixing pun bangkit dan mengecup dahi Lisa, “Cukup Lisa-ssi, aku tak mau bosku mendengar omong kosong dan membuatnya mengamuk lagi. Aku harus konser sekarang, dan tunggu aku disini. Kita ada waktu berkencan sebelum besok aku harus mengencani pianoku.”

Lisa memutar bola matanya, pura-pura kesal dengan Yixing, “Yeah…harusnya aku memacari Yunho saja sekalian.”

 

***

 

Lee Jia kembali mendengus sebal saat guru pianonya mulai mengomelinya lagi soal betapa buruknya Jia dengan alat musik. Tidak. Ini bukan hanya tentang piano, karena menurut guru musiknya, Jia memang tak terlalu berbakat –dan lebih sialnya lagi, Jia malah menyukai alat musik yang tak jug menyatu dengan jiwanya.

Dan…persetan tentang semua itu. Jia-tidak-peduli.

“Kenapa kau tak berhenti saja?”

Dan pertanyaan itu berhasil memporak porandakan hati Jia. Ya. Jia tahu rasanya sakit hati, seperti ketika orang tuanya bercerai, atau ketika ia putus dari pacarnya, juga ketika ia dan sahabatnya harus berpisah karena alasan tak berarti. Tapi Jia berani bersumpah, ia tak pernah merasa sesakit ini –ketika untuk yang kesekian kalinya, ada orang yang meminta Jia untuk berhenti dari impiannya.

Jia tersenyum kecut, kemudian menekan tuts piano di depannya dengan kedua telapak tangannya, “Maaf, Saem…tapi ibuku tak membayar Anda untuk menghentikan impianku, bukan?”

Wanita berusia 35tahun itu tersentak. Tentu saja, gadis ingusan ini baru saja membicarakan hal paling tidak sopan, seolah-olah mereka berstatus sebagai majikan dan bawahan, “Nona Lee!” tegur wanita itu dengan suara tertahan. Ia bisa saja mendamprat gadis ini jika ia tidak ingat bahwa gadis muda ini masih berstatus sebagai muridnya.

Tapi Lee Jia tidak peduli sama sekali. Ia pun memutuskan bangun dari kursinya dan menyambar tasnya. Ia melupakan segala tatakrama dan tak ingin peduli pada apapun. Jika hasilnya seperti ini, kenapa ia tidak mengemis pada Chanyeol saja untuk diajari? Lebih-lebih, ia tak perlu membayar karena ikatan mereka sebagai kakak dan adik tiri.

“Nona Lee!”

“Kukira aku adalah Nona Park, Yoon Saem,” balas gadis itu dingin, “Ibuku menyewamu atas nama keluarga Park, bukan keluarga Lee. Kebetulan ayahku sedang berada di New York, dan aku sedang berada di Korea sebagai putri bungsu keluarga Park. Dan…selamat tinggal, aku tak berharap bertemu denganmu lagi, Saem…”

Dan wanita itu hampir saja berteriak marah ke arah Jia jika saja sebuah suara tidak menginterupsi langkah kaki Jia, “Seorang pianis tidak pernah besar kepala, dan seorang pianis yang baik, tak pernah kurang ajar terhadap gurunya, jika kau ingin tahu Nona…Park?”

Tubuh Jia langsung terkesiap saat mendengar suara familiar itu. Tidak. Mungkin suara itu tidak mengisi kupingnya sehari-hari, tapi sayangnya Jia terlalu hapal suara itu sampai ia tidak berani menoleh ke arah sumber suara tersebut.

Zhang Yi Xing pun mendekat ke arah Jia dan memutar tubuh gadis tersebut, dan membuat perasaan Jia semakin luluh lantak. Idolanya yang paling membuatnya iri berada tepat di hadapannya, dengan topi hitam yang hampir menutupi matanya dan menyamarkan wajah lusuhnya.

“Kau bahkan belum pantas mendapat gelar Park. Kau tahu, si Chanyeol itu, sangat erbeda denganmu,” Yixing menyentil dahi gadis itu, “Belajarlah pada Chanyeol. Sangat memalukan jika kau hanya mengumbar nama keluargamu tapi kualitasmu rendah sekali.”

Yixing sama sekali tidak peduli dengan reaksi yang akan diberikan gadis itu, bagi Yixing, anak itu sudah keterlaluan. Ia pun berbalik dan membungkuk pada Yoon Ahjung, wanita yang baru saja mengajar gadis angkuh yang baru saja diomelinya.

“Apa kabar, Yoon Sunbae? Maaf aku mampir kemari, kafe sebrang sudah tutup. Aku sedang menunggu pacarku, tapi dia malah hilang tanpa kabar,” dan Yixing pun menoleh kembali pada gadis yang belum ia tahu namanya itu, “Dan biarkan saja dia pergi. Kurasa, pekerjaan sebagai pengajar bukan diperuntukkan untuk orang-orang yang tak mau belajar, bukankah begitu?”

Dan sekali lagi, Jia kembali merasakan kebencian itu menggerogoti dadanya. Dan yang perlu ia sayangkan, Jia justru membulatkan rasa enci itu pada pria yang selalu ia ikuti informasinya, pria yang selalu menjadi pusat pianonya, dan seorang pria yang selalu ia benci diantara kekagumannya.

 

=To be continued=

20160321 PM1106

With song “Medals by Luhan” and “Be I by B.I”

Dengan kantuk yang mendera, dan harapan semua tugas bisa selesai dalam satu kejapan mata.

Iklan

7 thoughts on “[Sequel of MWAG Lay’s] Finger (Chapter 2)

  1. Finally sequel yg ini keluar. Aahhh senang akhirnya bisa ngupas kehidupan lanjutannya yixing-lisa karna jujur, aku lbh tertarik sama sequel ini dibanding tokoh utama mwag. Karna menurutku ending mwag aja uda bagus bgt dan lbh penasaran sama lanjutan hidup.yixing yg kemaren dibikin ngenes abiss

    Well semangat ya kakak kuliah sama tugasnya. Semoga banyak waktu luang dan bisa update ini lagi
    Feedback juseyo…

    Suka

  2. Sudah lama nungguin sequel yixing-lisa, dibanding sequel mwag lebih penasrn kisahnya yixing-lisa sama wu yifan-fei. Mnrut aq ending luhan-ariel yg mwag udah pas banget, jadi lebih penasaran sama tokoh yang lain. Terutama yifan-fei, semangat y author😁😁

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s