[Sequel of MWAG Kris’] Somewhere Only We Know (Chapter 3)

somewhere-only-we-know-nidhyun

Title     : Somewhere Only We Know

Main Cast: Kris Wu as Wu Yi Fan, Anastasia Chu as Ju Fei, Henry Lau as Super Junior M Henry

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by :

 

***

Ju Fei sekali lagi mencuri pandang ke arah lelaki jangkung juga kurus yang baru saja memasuki kelasnya. Siswa baru. Dan yang membuat Fei terkagum-kagum, karena laki-laki itu berdarah Asia, atau tepatnya berdarah Cina, sama sepertinya.

Fei memang selalu antusias tiap kali ada laki-laki tampan ataupun menarik yang berada dalam jangkauan matanya. Baiklah, usia Fei memang baru menginjak angka 13. Tapi percayalah, selama ia dibesarkan di Kanada, ia tidak merasa bahwa ia adalah anak-anak yang masih suka bermain boneka aau semacamnya. Terutama ketika ia masuk ke bangku Junior High School. Ia bahkan sudah menargetkan untuk memiliki pacar setelah usianya memasuki angka 14.

Dan murid baru itu, benar-benar tipenya. Meskipun tubuhnya begitu kurus dan wajah anak laki-laki itu begitu terlihat kuyu dan polos, tapi Fei dapat langsung menangkap aura menarik dari anak laki-laki tersebut. Ia yakin, saat laki-laki itu dewasa nanti, dia akan menjadi pria tampan, berkarisma, dan juga sangat keren. Benar-benar tipenya.

Maka, jangan heran ketika Fei dengan berani mengulurkan tangannya pada lelaki tersebut –lelaki yang ternyata setelah diperhatikan begitu pasif dan juga pendiam. Tapi entah mengapa, dengan alasan tersebut Fei semakin tertarik dan semakin ingin tahu tentang anak laki-laki itu.

“Aku Ju Fei. Kupikir kita belum berkenalan, Wu Yifan.” Kata Fei dengan nada semanis mungkin. Ia tidak terlalu pandai merayu anak laki-laki, tapi setidaknya Fei cukup memiliki banyak teman karena sikap fleksibelnya.

Laki-laki yang tengah membaca buku berbahasa Cina itu menatap Fei selama beberapa saat, antara bingung dan juga terkejut. Wu Yifan –nama anak laki-laki itu—memang tidak terlalu tertarik ataupun berharap memiliki banyak teman, makanya ia cukup terkesan ketika anak perempuan berambut hitam sepunggung itu mau menyapanya terlebih dulu. Yeah…nilai plusnya, anak perempuan itu bermata sipit seperi Yifan, berdarah Asia –Cina.

Setelah terdiam beberapa saat, Yifan pun mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan Fei, menjabat tangan anak perempuan itu.

Dan Fei sangat ingat, kejadian itu terjadi di pinggir lapang sekolah. Fei ingin menyesalinya, tapi juga tidak jika ia melihat kembali bagaimana jejak perjalanan hidupnya. Yeah…hidup penuh kejutan, ia tidak pernah tahu lelaki yang ia pikir sebagai tipenya itu akan benar-benar membuat Fei jatuh cinta.

Atau…Fei tidak tahu, jatuh cinta pada lelaki itu bisa menyakitinya sebegitu dalam.

“Nona Chu?”

Semua lamunan Fei langsung terpecah ketika suara laki-laki yang belakangan ini sering mengusik gendang telinganya kembali memenuhi udara di kamar inapnya. Fei terpaksa mengangkat kepalanya, dan dokter bernama Henry itu tersenyum dengan nada ramah pada Fei. Cih! Ia tidak suka cara berbasa-basi pria Cina ini.

“Bagaimana keadaanmu? Merasa lebih baik?” Henry terus erbicara dengan nada ceria, seolah-olah Fei juga merespon baik setiap pertanyaan tidak penting pria tersebut terhadapnya.

Henry pun mengecek keadaan pasian VIP-nya seperti biasa. Dan seperti biasa pula, gadis bernama Anastasia ini tidak pernah benar-benar merespon apapun yang dikatakan oleh Henry. Yeah, meskipun gadis ini sempat mengalami masa kritis dan koma, tapi Henry sangat tahu jika sebenarnya kesehatan gadis ini sebenarnya sudah hampir benar-benar pulih –hanya saja, hati gadis ini sepertinya tidak pernah mau terbuka dan membuatnya terkungkung pada satu masalah yang tidak Henry atau siapapun tahu. Itu pula yang membuat ibu gadis ini belum mau mengeluarkan Anastasia dari rumah sakit, Anastasia Chu sama sekali tidak pernahmenjawab pertanyaan orang lain.

“Kupikir kau harus mencoba menghirup udara segar, Nona Chu. Apakah ruangan ini tidak membuatmu jengah? Kau sudah sebulan lebih berada disini,” ujar Henry dengan santai, ia bahkan sengaja menyuruh perawat meninggalkan mereka berdua, kebetulan ini sudah jam istirahat.

Fei masih tak menghiraukan Henry. Gadis itu pun memilih untuk memunggungi dokter paling menjengkelkan itu. Ia bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa laki-laki cerewet ini bisa lulus menjadi seorang dokter.

“Aku tahu kau hanya tak mau bicara,” Henry masih berbicara, sama sekali tidak peduli jika gadis bernama Anastasia itu tidak mendengarnya sama sekali, “Luka traumamu tidak separah itu. Tapi…yeah, sebagai manusia biasa, aku juga takkan memaksamu untuk melihat ke arah luka hatimu,” Henry pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mata Henry pun menyisir setiap pemandangan yang tertangkap oleh retina matanya, musim yang cantik di tengah kota yang tak pernah rehat dari kesibukan.

“Setidaknya, buat ibumu merasa tenang, Nona Chu,” Henry pun memutar tubuhnya dan menatap tubuh Anastasia yang dibungkus rapat oleh selimut. Henry tahu, gadis itu benar-benar tak ingin siapapun menyentuh masalahnya –luka hatinya pasti begitu parah. “Dia mengkhawatirkanmu, sangat…”

“Dia mengkhawatirkan sahamku, perusahaan yang seharusnya aku pimpin, dan masa depanku yang sudah Mama rencanakan.”

Henry sebenarnya sangat terkejut ketika gadis itu angkat suara –namun dengan cepat, Henry mengendalikan dirinya dan membuat tubuhnya setenang mungkin. Henry masih melihat Anastasia tak bergerak dari posisinya, namun Anastasia masih bersuara…menariknya, gadis itu tak menggunakan bahasa inggris, melainkan bahasa mandarin.

“Dia wanita yang sempurna, dan semua orang memuji kesempurnaan hidupnya. Dia wanita luar biasa, itu lah sebabnya aku selalu mempercayainya…sampai aku tahu aku tak membutuhkan apapun selain…dirinya.”

Henry mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan ini akan terus berlangsung, tapi akhirnya Henry memutuskan duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana, terus membiarkan gadis bernama Anastasia itu berbicara, memutar setiap kenangan yang sebenarnya sama sekali tidak Henry mengerti.

“Aku bahkan tidak percaya dia menolakku dengan alasan kebahagiaanku…padahal jelas, dialah kebahagiaanku. Aku bertahan selama ini demi dirinya, dan dia meninggalkanku begitu saja? Dan dia pikir aku bahagia?” Fei tak bermaksud untuk memulai mengingat setiap detail jejak yang hampir ia hapus dalam ingatannya. Tapi dokter brengsek itu justru malah membuat Fei kembali mengingat bagaimana ketika Fei dan Kris memulai pertemanan mereka, bagaimana ketika mereka akhirnya mengakui satu sama lain sebagai sahabat, bagaimana ketika Kris dan Fei sepakat untuk kabur dari rumah jika mereka tidak berada di sekolah yang sama saat Senior High School…

Dan Fei akan selalu ingat, bagaimana Kris menolak pernyataan cintanya dengan halus –hingga akhirnya Fei tahu jika Kris menyukai laki-laki, bukan perempuan sepertinya. Ingatannya terus berlari hingga mereka memasuki bangku kuliah. Kemudian seorang penghancur hubungannya dengan Kris muncul…lelaki yang entah bagaimana justru pernah tidur dengannya itu, akhirnya menjadi cinta yang seolah tak menemukan titik akhir bagi Kris-nya.

Fei selalu ingin berusaha mengakhirinya. Mengakhiri semua perasaan yang justru tumbuh semakin besar tanpa peduli apakah Kris berada di dekatnya atau justru jauh darinya. Karena Fei akan selalu kembali pada Kris, dan akan selalu menjadi penyangga bagi Kris bahkan di titik paling terpuruknya.

Tapi Fei tidak pernah menyangka…jika satu keputusan singkat atas nama keluarganya, berhasil membuat harapan Fei hancur. Tidak. Bukan harapannya, tapi kekecewaannya yang meledak dan membuatnya sadar…Kris tak seharusnya selalu berada di sisinya, di sisi Fei. Begitupun sebaliknya. Meskipun entah mengapa, akhirnya ia juga malah menyalahkan hidupnya yang tak lebih dari singa sirkus yang mengikuti aturan sang pawang.

Fei tak lagi punya tujuan…dan Fei ingin berhenti, mengakhirinya. Menyelesaikan hidupnya dan membiarkan semua orang bahagia dengan jalan kehidupan mereka yang telah mereka pilih. Mereka…ibunya, ayahnya, juga Kris-nya yang kini telah menjadi milik orang lain.

Dan saat kejadian dimana ia menampar Kris tempo hari terulang, justru bukan hanya hatinya yang ikut sakit, namunkepalanya ikut terjepit, seolah sesuatu tengah menghantam kepalanya dan membuat udara di sekelilingnya menipis. Kemudian, satu-satunya yang ia ingat, ketika rasa sakit yang terjadi ketika kecelakaan itu meleburkan segala perasaan menyesakkan yang menjepit dadanya.

 

 

***

 

“Haruskah kau benar-benar pergi ke Guangzhou? Maksudku…apa orang itu benar-benar begitu penting? Kenapa kalian tidak bertemu di Beijing saja?” gusar Lyn pada Wufan yang tengah bersiap-siap pergi untuk pergi ke Guangzhou. Bertemu klien, katanya…entahlah. Lyn tak bermaksud untuk tidak mempercayai Wufan, apalagi sampai mencurigai Wufan. Hanya saja, semenjak bulan madu mereka –ketika tanpa sengaja Lyn mendengar nama Fei disebut-sebut dan membuat Wufan limbung, saat itu Lyn tahu, Wufan-nya memiliki dinding besar dimana banyak rahasia tak terjamah. Dan sayangnya, Lyn bukan salah satu orang yang beruntung untuk masuk ke balik dinding itu.

Wufan yang sedang memasukkan beberapa barangnya langsung menghentikan pergerakan tubuhnya. Ia pun menghadapke arah Lyn yang dengan kentara menunjukkan ketidaksenangannya dengan keputusan Wufan untuk pergi ke Guangzhou. Jujur saja, ini juga membuat Wufanmerasa tak enak.

“Aku …benar-benar harus pergi. Dia benar-benar orang yang sangat penting, juga orang yang sangat kuhormati. Aku tidak bisa menyuruhnya untuk datang ke Beijing. Dia berasal dari Kanada, dan karena dia memiliki perusahaan di Hong Kong, dia datang ke Cina sembari menemuiku,” jelas Wufan mencoba meyakinkan Lyn. Namun hingga beberapa detik berikutnya, raut Lyn masih terlihat ragu.

Wufan pun berjalan mendekati istrinya yang tengah duduk di tepi ranjang itu, lalu ia pun memegang kedua pundak Lyn sambil berlutut, “Jangan khawatir. Aku pergi ke Guagzhou tak lebih dari tiga hari. Kebetulan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di sana,” Wufan pun mengecup kening Lyn dengan ragu, “Aku akan segera kembali setelah aku selesai. Aku janji.”

Dan sebelum Wufan berbalik untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, Lyn kembali bersuara, “Apa sebelum menikah denganku…kau…kau memiliki kekasih?”

Wufan sangat terkejut ketika Lyn tiba-tiba mengajukan pertanyaan seperti itu. Bahkan mereka sudah menikah, menurut Wufan, seharusnya percakapan semacam ini tidak perlu muncul, bukan?

“Lyn…”

“A-aku hanya bertanya,” Lyn buru-buru bangun dari duduknya. Ia baru saja menyadari kesalahan dari pertanyaannya –demi Tuhan! Mereka baru menikah dan tak seharusnya Lyn memancing sebuah percekcokan kecil.

Lyn pun langsung berjalan ke arah pintu kamar mereka, namun dengan cepat Wufan menahan lengan Lyn. Demi apapun, ia bahkan tak pernah membayangkan adegan semacam ini akan terjadi dalam hidupnya. Baik Fei ataupun Luhan yang pernah mencampuri urusan hatinya, sama sekali tidak pernah membuat adegan dramatis semacam ini.

“Fan…kau harus segera berangkat…”

“Kau mengkhawatirkan sesuatu?” potong Wufan tanpa mau mendengar kilahan Lyn.

“A-aku hanya salah bicara, oke? Jadi…”

“Jadi itu yang kau pikirkan selama ini? kau mengkhawatirkan…masa laluku?”

Lyn terlihat menggigit bibir bawahnya ragu. Tadinya, ia takut jika ia akan bertengkar dengan Wufan. Ia tahu jika hal semacam ini adalah hal-hal sensitive dans eharusnya Lyn tidak perlu membahasnya. Tapi bagaimanapun, Lyn tetap tak bisa menyembunykkan keraguan juga…kekhawatirannya. Bagaimanapun, Lyn telah terlanjur jatuh cinta pada Wufan, dan ia tidak ingin ada benang kusut yang akan merusak jalan cerita kisah cintanya dengan Wufan.

Seolah bisa membaca pikiran Lyn, Wufan pun memeluk tubuh Lyn, “Tidak ada…siapapun,” setidaknya Wufan jujur tentang Luhan yang tak lagi menjai siapa-siapanya, “Kau hanya perlu percaya padaku. Dengan aku memilihmu, berarti aku telah menyerahkan sisa hidupku bersamamu.” Dan setidaknya, Wufan mencoba bertanggung jawab pada keputusannya untuk menikahi Lyn. Lyn tak tahu apapun dan tak bersalah dalam masalah ini, maka sudah tanggung jawab Wufan untuk menjaga hati gadis ini, meskipun Wufan belum menemukan ruang di hantinya untuk Lyn.

Yeah…ia belajar banyak dari Luhan, dan sepertinya ia harus berterimakasih setelah ini.

 

***

 

“Lama tak berjumpa, Kris Wu. Kau benar-benar sudah dewasa. Pantas saja ibumu ingin kau segera menikah,” sambut Laura Terrel dingin.

Ia mengenal pemuda berdarah Cina-Kanada itu. Meskipun ia tidak pernah berhubungan langsung dengan keluarga Wu, atau tahu sesuatu mengenai tentang Kris, tapi setidaknya Laura tahu jika Kris merupakan pemuda yang pernah disambut hangat oleh putrinya ketika ia datang ke rumah dan memberikan kado ulang tahun pada putrinya.

Kenangan lama. Laura bahkan tidak ingat tepatnya kejadian itu. Namun satu-satunya yang tak akan ia lupakan, adalah bagaimana cara mata putrinya menatap pemuda itu. Dan yang lebih membuat Laura tercengang, ketika Fei merengek dan meminta agar ia berkuliah bersama dengan Kris.

Laura tidak tahu detail bagaimana akhirnya Fei bisa berjauhan dengan Kris, tapi yang membuat Laura terpukul, adalah fakta bahwa Fei pergi ke Hon Kong demi laki-laki yang ternyata bisa semudah itu mencampakkan putrinya.

“Anda masih terlihat cantik, sama seperti ketika pertama kali bertemu dengan Anda sepuluh tahun lalu,” sahut Wufan dengan canggung. Ia tak pernah membayangkan dirinya akan dibelit atmosfer tak menyenangkan ini. meskipun…yeah, semula hubungannya dengan wanita ini baik-baik saja, namun Kris tidak pernah tahu jika akhirnya ia akan berhadapan dengan Nyonya Terrel seerti sepasang musuh lama.

Laura terkekeh dengan nada mencemooh. Apa yang disukai Fei dari pria yang bahkan sangat payah dalam masalah basa-basi ini?

“Selamat untuk pernikhanmu. Maaf putriku tidak bisa ikut merayakannya. Yeah…kurasa kau jauh lebih mengerti,”

Napar Wufan langsung tercekat ketika Laura menembaknya dengan sindiran bernada halus tersebut. Wufan pun membuka mulutnya, sayangnya tak satupun kata dalam otaknya muncul dan tersalur ke lidahnya. Semuanya buntu. Satu-satunya yang ia tahu, dadanya tiba-tiba terasa sesak dan menyisakan penyesalan.

“Fei…apakah dia…”

“Dia baik-baik saja,” potong Laura cepat, “Putriku, Anastasia, dia sangat baik-baik saja. Dan kuharap kau mau berhenti untuk mencampuri urusannya. Dulu mungkin kalian adalah sahabat baik, aku menghargai hubungan kalian. Tapi…Anastasia dan dirimu harus melanjutkan kehidupan masing-masing. Jadi, mulai saat ini, berhenti mencari Anastasia.” Laura pun bangkit dari duduknya. Nyatanya, ia tak bisa berlama-lama berhadapan dengan pemuda ini. ia tak ingin kehilangan kendali. Putrinya kecelakaan dan sakit karena laki-laki ini, laki-laki yang bahkan sepertinya tidak tahu keadaan Fei.

“Anastasia…” langkah Laura terpaksa terhenti ketika mendengar nama putrinya disebut oleh pemuda ini, “Apa benar dia mengalami kecelakaan?”

“Dia baik-baik saja. Bahkan lebih baik-baik saja tanpa dirimu, Kris Wu,” jawab Laura tanpa menoleh ke arah Kris dan tetap melanjutkan langkahnya.

 

***

 

=t_b_c=

20162403 PM0817

I know this chapter is too flat. I’m sorry….

Iklan

18 thoughts on “[Sequel of MWAG Kris’] Somewhere Only We Know (Chapter 3)

  1. yuhuu thanks bgt part 3 nongol ehehe
    huhu kira kira kalo fei ketemu si kris gimana ya reaksinyaaa hmmm agak kesel juga sih sama si kris…
    btw ditunggu ya part 4.. semangaaaaat!!
    🙂

    Suka

  2. Aduuhhhh…. kasiaaan fei… gak bsa sama Kris, pdhal udah berjuang keras, fei yg slalu ad but Kris yg nrima Kris ap adnya, huuuhhh ternyata tdak berjodoh…
    Mungkin fei lbh baik gak selamat dri kritisnya dri PDA nrima kenytaan cintanya hilang dn d ambil am orang lain… kadang disitu terasa nyesek sekali…
    Next chap ditunggu yaah…

    Suka

  3. Ukhhh,,, nyesek banget
    Finally update, terima kasih author😄😄
    Paling suka sequelnya kris-fei, ditunggu next chapter. Tetap semangat nulis y

    Suka

  4. Bener2 penasaran ma kisah mereka berempat..kris-fei-henry-lyn..siapa yg akan happy ending dan siapa yg bakalan terpuruk..kris ga nikahin fei krn tau dia ga bakalan bisa ngasih apa2 di pernikahannya dan dia ga mau nyakitin fei.tapi fei pikir mending dia ttp bareng ma kris wlopun hatinya kris ga sama ia..drpd ngliat kris sama yg lain..

    Suka

  5. gimana ya kisah mereka selanjut ny…
    kasian fei yg cinta ny gak prnh d terima yifan. smg fei bisa move on dr yifan

    seandai ny yifan balikan sm fei.. si lyn yg kasian.. dia ud trlanjur cinta sm yifan..

    sulit d tebak ni kisah cinta ny yifan…

    Suka

  6. Singkat, pedis, dan jelas. Itu yg bisa aku definisikn tentang tujuan Mamanya fei ngundang Kris untuk bicara, betapa jauhnya Kris harus pergi, dan pembicaraannya gak cukup semenit, dan dalam semenit itu udh sangat menohok hati Kris, gimana kalo sejam ._.

    Disukai oleh 1 orang

  7. Maaf ya author baru bisa komentar sekarang dan dia chapter ini . Nyesek banget baca nya pengen nya sih si kris sama fei bisa bersama
    author fighting !!!

    Disukai oleh 1 orang

  8. Baru kali ini aku komen.. Maaf..
    Dan aku greget dgn jln cerita ff ini. Menurutku crita ff ini lebih rumit dibanding luhan-ariel. Semangat nulisnya!!
    Tidak sabar baca chap berikut

    Suka

  9. Astaga… Tragis banget sih jalan ceritanya T.T api aku suka ff nya.
    Ya ampun…. Terus itu gimana…. Aaaahhh.. Aku masih nggak rela kalo kris nikahnua dama lyn, bukan fei. Kenapa kau lebih memilihnya kris.?… Hiks.. Bahkan fei jauh lebih dulu mengenalmu. Dan berkorban bayak untukmu… Hiks… Haduuhhh… Itu perasaan kris kek gitu, apa dia udah mulai ada rasa ke fei. Perasaan sebagai perempuan, bukan sahabat. Huhu.. Aku berharap nantinya kris cerai trus nikah sama fei.
    Aku masih nungguin kelanjutannya. Penisirin.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s