#3 All I Ask

ryeowook_1453339505_ryeowook3

Title     : All I Ask

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau | Lu Han | Bae Sa Hyun | Oh Se Hun as EXO Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

Reloaded – 1 
Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)
Reloaded – Confession

***

“Jadi saat ini kau sedang bertengkar dengannya?” tanya dokter San sambil meletakkan secangkir kopi ke hadapan Luhan. Dokter San tersenyum kecil ketika melihat raut wajah Luhan yang benar-benar kacau. Selama ini, ia sama sekali tidak dekat dengan Luhan dan hanya tahu dokter muda dan berbakat ini lewat gosip yang melewatinya seperti angin. Tapi…yeah, ketimbang seperti seorang dokter ahli bedah, Luhan lebih terlihat seperti remaja labil yang putus asa karena pertengkaran bersama sang pacar.

Luhan dengan polos mengangguk dan tetap menatap mata dokter San, berharap pria yang lima tahun lebih tua darinya itu bisa memberinya sedikit pencerahan mengenai masalah ini –bukan mengenai pertengkarannya bersama Ariel, tapi cara membujuk Ariel agar bersedia menjalani pengobatan sesuai ketentuan.

“Kau tahu kenapa aku tidak bisa memaksa Ariel lebih jauh untuk melakukan pengobatan?” tanya dokter San yang dibalas gelengan kepala dari Luhan, dokter San benar-benar seperti melihat seorang remaja di depannya, “Karena Ariel adalah pasien VIP. Kau tahu maksud dari ‘VIP?’?” dokter San menumpangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri, “Artinya orang-orang kaya dan orang-orang penting. Meskipun Ariel terlihat seperti mahasiswa biasa-biasa yang memang memiliki uang, tapi sekali lihat aku tahu dia berasal dari keluarga yang cukup terpandang.”

Luhan termenung. Selama dua tahun berpacaran, Ariel memang tidak secara gamblang menceritakan mengenai keluarganya. Luhan hanya tahu jika ayah Ariel adalah pengusaha, semacam founder perusahaan besar di Taiwan. Luhan tidak tahu detailnya, karena…yeah, ia sendiri juga tidak banyak menceritakan keluarganya di Cina pada Ariel. Jadi, ia pikir semua itu cukup impas.

“Tapi aku salut pada optimisme Ariel. Jika dia gadis yang putus asa, fisik dan psikis gadis itu pasti akan benar-benar sakit. Tapi seperti yang kau lihat, dia tetap tertawa dan bersikap seolah ia tidak sakit sama sekali,” dokter San terus melanjutkan ucapannya ketika Luhan hanya diam.

“Tapi…kesehatan jantung Ariel sungguh baik-baik saja, kan?” tanya Luhan yang mulai mengkhawatirkan hasil tes kesehatan Ariel. Yeah, sejauh yang ia tahu, pasien VIP tipe pasien yang bisa ‘menipulasi’ riwayat kesehatan demi kepentingan tertentu, dan jika Ariel dikategorikan sebagai pasien VIP, maka ada kemungkinan Ariel juga bisa melakukan hal yang sama, kan?

Dokter San mengangguk cepat –membuat Luhan cukup bernapas lega, “Ya. Dia hanya akan berkonsultasi biasa. Sudah kukatakan, dia itu gadis yang luar biasa,” dokter San tersenyum meyakinkan Luhan.

“Tapi…bagaimana Hyung tahu jika Ariel tidak melakukan pengobatan apapun untuk kesehatan psikisnya?”

Dokter San pun mengangkat bahu dan menatap Luhan serius, “Yah…kau tahu, dalam kode etik profesi kita, membocorkan masalah pasien bukan sesuatu yang baik bukan? Tapi karena kau kekasihnya, maka aku akan menganggapmu sebagai walinya,” dokter San pun memajukan tubuhnya dan mensejajarkan matanya dengan mata Luhan, “Kau pasti bisa melihat bagaimana kegelisahan gerakan mata Ariel, kan? Itu sangat jelas menunjukkan bahwa ia mengalami semacam depresi.” Dokter San pun kembali menyandarkan punggungnya, membiarkann Luhan menyerap kata-katanya dulu, “Ini sudah tahun ketiga sejak Ariel berkata bahwa departemen psikiatri adalah tempat pertama yang didatanginya. Ketika aku tahu Ariel bersikeras menolak untuk meminum semua obat yang kuberikan, aku curiga Ariel melakukan hal yang sama pada dokter bagian psikiatri. Dan saat aku menanyakan lebih lanjut penyebab ia tak ingin meminum obatnya, ia justru menjadikan antidepresan sebagai alasan kenapa ia tidak ingin meminum resepku,” dokter San pun melipat kedua tangannya, “Aku tidak masalah dengan hal itu. Ariel sehat dan dia bisa mengontrol kesehatannya dengan baik. Tapi kesehatan psikis bukan sesuatu yang begitu saja bisa disembuhkan tanpa pengobatan apapun. Gerak-gerik, cara bicara, warna matanya, aku langsung menebak Ariel tidak pernah menyentuh antidepresannya juga,”

Dokter San pun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mengalihkan pandangannya pada kopi hitamnya yang mulai mendingin, “Dia gadis cerdas. Dia…memiliki wawasan yang luas. Dia belajar mengendalikan dirinya dengan baik. Aku tidak pernah berusaha untuk menanyakan alasan lebih lanjut, tapi kau tahu, kondisi psikisnya bukan kondisi biasa. Jika bertambah parah, dia bisa saja terkena skizofrenia dan…”

“Itu tidak mungkin,” potong Luhan dengan suara dingin. Tidak. Ariel tidak mungkin terkena skizofrenia atau apapun yang lebih buruk. Luhan sudah cukup terpukul dengan kecerobohannya yang tidak bisa mengamati kondisi Ariel meskipun ia menghabiskan lebih banyak waktu bersama Ariel.

Dokter San tertawa pelan, “Itulah. Kau tahu, itu ketakutan Ariel. Pandangan orang lain mengenai dirinya, dan…yeah, ketegantungan pada obat. Dari riwayat kesehatan lamanya, Ariel memang rentan sakit,” dokter San mengambil cangkir kopinya dan menyesap isinya, “Cobalah untuk memperhatikannya dari sudut pandang kesehatan. Dan..aku tetap menyarankan agar kau juga mengetahui kondisinya lebih lanjut dari psikiaternya. Kau tahu, itu bukan tugas kita –menyembuhkan penyakit psikis. Alasan mengapa kedokteran fisik dan psikis bisa berada dalam dua ruang yang berbeda, karena kita tidak memiliki cara yang sama dalam menghadapi pasien.”

“Dan…” dokter San menatap Luhan serius, “Bantu dia untuk membuka diri tanpa perlu membuka ketakutannya.”

 

***

 

Dua hari. Luhan menghitung jumlah chats line yang tidak dibalas Ariel. Satupun. Meskipun tertera kata ‘terbaca’ di samping pesan yang dikirimnya, Ariel sepertinya masih belum mau bicara dengannya. Yang lebih menyakitkan, fakta bahwa ia terlalu sibuk untuk menemui Ariel cukup memalu dadanya dengan keras.

Luhan pun mengusap wajahnya dan melepas jas putihnya. Sudah pukul tujuh malam, dan asistennya sudah meyakinkan bahwa ia tidak akan memiliki jadwal lagi. Besok hari Sabtu, dan Luhan dengan sengaja akan menolak semua jadwal operasi yang tidak terlalu genting untuk akhir pekan. Biasanya, Luhan akan mengosongkan jadwalnya pada akhir pekan. Demi Ariel…

Luhan pun keluar dari ruangannya setelah melihat tanggal 19 dilingkari pada kalendernya. Ulang tahun Ariel, artinya hari Minggu besok adalah ulang tahun Ariel. Luhan pun tersenyum tipis, akhirnya ia bisa merayakan ulang tahun Ariel tanpa hambatan jadwal ataupun hambatan jarak. Sebagai sepasang kekasih yang hanya mampu menjalankan LDR, Luhan dan Ariel benar-benar pontang-panting untuk menyesuaikan jadwal mereka.

Luhan harus menyiapkan sesuatu.

“Kau langsung pulang, dok?” sapa perawat ketika ia melewati meja informasi.

Luhan tersenyum dan mengedikkan bahu, “Ya. Kau tidak pulang?” Luhan terpaksa menunda langkahnya untuk pulang.

“Yeah…bagian jaga.” Gadis yang Luhan tahu baru saja menjadi perawat tetap sejak dua bulan lalu itu sedikit merengut.

“Semangatlah!”

Luhan pun langsung menyeret kakinya menuju pintu lift karyawan. Namun sekali lagi, Luhan harus menunda kepulangannya ketika seorang wanita yang familiar mengibaskan tangannya ke arah Luhan. Luhan tidak ingin merasa tidak senang, tapi menyadari penyebab awal pertengkarannya bersama Ariel adalah Sahyun, Luhan tiba-tiba saja merasa malas bertemu Sahyun.

 

***

 

“Kau bilang kita akan melakukannya besok, kenapa dipercepat?” tanya Doyoung sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, memperhatikan Ariel yang tersenyum sendiri melihat hasil foto box mereka berdua.

Yeah, tugas kuliah : berkencan dengan pasangan setengah semester.

“Kita harus mendapat nilai bagus,” kata Ariels emangat sambil mengangkat tiga lembar foto mereka, “Kita terlihat seperti kencan sungguhan. Ideku sangat brilian ya?”

Doyoung pun tertawa mendengar pujian Ariel yang ia berikan untuk dirinya sendiri, “Yeah, kau sangat percaya diri. Tapi harus kuakui itu benar,” Doyoung pun tertawa dan mengambil selembar foto dari tangan Ariel.

“Habis, aku jadi ingat foto box-ku saat berkencan. Itu terlihat natural,” gumam Ariel tanpa sadar.

Doyoung menaikkan sebelah alisnya, “Kau…punya pacar?” tanya Doyoung yang membuat Ariel agak salah tingkah.

“Y-ya…aku sudah memiliki kekasih,”

“Dia tahu kau berkencan denganku hari ini?”

Ariel mengangguk dan memasukkan foto-fotonya bersama Doyoung ke dalam tasnya, “Ya. Aku sudah mengatakannya. Kau sendiri, sudah punya kekasih?”

Doyoung tersenyum tipis, “Tidak. Aku single. Wah….sedih sekali saat tahu kau sudah punya kekasih,”

“Hei, foto profilku di Line kan dengan seorang pria.”

“Oh, jadi sekarang kau mau pamer?”

Ariel mengedikkan bahu, “Kenapa tidak? Dia keren, lumayan tampan, dan baik.”

Mereka pun tertawa bersama. Wah, Ariel tidak menyangka ia bisa secepat ini dekat dengan Kim Doyoung. Padahal, baru kemarin ia mengeluhkan Doyoung bersama tugas tak masuk akal dengan mata kuliah menyebalkan.

Ketika sedang menyusuri taman malam itu, Ariel tidak sengaja melihat sebuah bunga yang cantik –ajaib, bunga di musim dingin! Ariel pun segera mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk memotret bunga tersebut, membiarkan Doyoung berjalan lebih dulu. Sayangnya, sebelum Ariel berhasil melukis bunga itu melalui cahaya, Ariel justru hampir menjatuhkan ponselnya saat mendapati Luhan berada dalam jarak sekian belas meter di depannya.

Ya…Luhan, yang tengah berbicara dengan perut Sahyun.

Ariel pun mentertawakan dirinya. Heol…Luhan terlihat seperti ayah dari janin Sahyun.

Ariel pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia sebenarnya tidak merasa merindukan Luhan karena cukup sibuk seharian ini, perasaannya teralihkan oleh fokusnya pada kegiatannya hari ini. Tapi setelah ia melihat Luhan lagi, ia justru menyadari bahwa ia merindukan lelaki itu –dan membencinya bersamaan. Harus ya Ariel melihatnya bersama Sahyun Sahyun itu?

 

***

 

[Hari ini kau sibuk?]

Luhan memperhatikan pesan yang dikirimnya pada Ariel lima menit lalu. Kemudian, Luhan pun mengetik pesan kembali untuk Ariel.

[Aku ingin bertemu denganmu. Kau dimana?]

Luhan menggeleng pelan, Ariel pasti takkan menjawabnya lagi. Ia pun kembali mengirim pesan pada Ariel.

[Jam delapan malam aku akan ke apartemenmu.]

Luhan pun meletakkan ponselnya di dasbor dan langsung mengambil secarik kertas dari sakunya. Alamat psikiater Ariel di daerah Dongdaemun. Luhan memang belum berbaikan dengan Ariel, tapi ia berencana untuk memperbaiki segalanya setelah ia mengetahui kondisi Ariel dan menemukan solusi untuk membujuk Ariel.

Luhan pun langsung menstarter mobilnya setelah membaca nama psikiater yang menangani Ariel. Park Chanyeol. Dan ia harap, dokter itu mau mengobrol agak lama dengannya untuk membahas masalah Ariel.

 

***

 

“Jadi…kau adalah kekasih dari Nona Lau?” suara berat yang hangat itu menyapa Luhan ketika ia memasuki ruang praktik dokter Park. Dia dipersilahkan duduk di sebuah sofa berwarna biru, kemudian ia disuguhi teh panas yang ditemani senyum hangat dari dokter Park.

Ya. Luhan akhirnya melihat sendiri bagaiman perbedaan dokter psikis menghadapi pasiennya. Luhan akan ramah pada waktunya saja, tapi ada kalanya ia bersikap dingin atau bahkan marah pada pasien yang menurutnya keras kepala. Ya…dia bukan doker yang terlalu ramah pada pasien.

Tapi lelaki muda yang Luhan perkirakan seusia dengannya ini, dia bisa memperlakukan tamunya dengan sangat baik. Membuat siapapun takkan merasa canggung atau merasa tidak nyaman. Meskipun…yeah, mungkin saja ada psikiater menyebalkan? Seperti di rumah sakit tempatnya bekerja mungkin? Ups…maafkan aku, dr.Hwang…

“Dari nada bicaramu, sepertinya kau cukup tahu banyak mengenai hubungan kami,” Luhan berusaha bicara dengan nyaman.

Park Chanyeol tersenyum kecil mendengar ucapan Luhan “Ya…Nona Lau sering menyebut namamu,” dokter Park pun menyandarkan punggungnya, “Jadi…apa yang ingin kau dengar dariku? Dokter San dari rumah sakitmu sudah menceritakan tentang Ariel. Apakah ini mengenai Ariel yang menolak obat-obatnya?”

Luhan pun mengusap telapap tangannya dan menggeleng pelan, “Aku ingin tahu kondisinya yang sebenarnya dulu,”

Dokter Park pun mengangguk pelan, “Ariel Lau positif menderita gangguan Bipolar Disorder. Dia membawa hasil tesnya dari rumah sakitmu, dari Dr.Hwang. yeah, dia profesorku saat kuliah, dan aku terkejut ketika seorang pasienku datang dan membawa hasil dari beliau. Dan kau tahu? Saat kutanya alasan mengapa ia memutuskan untuk tidak lagi berobat pada Dr.Hwang, dia malah menjawab karena ia tidak ingin kekasihnya yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Dr.Hwang mengkhawatirkan kondisinya,” Dr.Park pun mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum. Ia dapat melihat dengan jelas bahwa lelaki bernama Luhan ini merasa cukup terpukul mendengar jawabannya.

“Dia menangis saat aku menanyakan kondisinya dulu…”

Dr.Park mengangguk, seolah bisa membaca perasaan Luhan dengan jelas, “Ya. Aku mengerti. Dan…Nona Lau memang tidak menggunakan obat-obatan untuk pengobatannya. Dia menolak keras dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, tapi dia melakukan terapi psikologis dengan teratur selama dia belajar bahasa Korea di Sungkyungkwan,” jelas Dr.Park sambil mengingat-ingat awal pengobatan Ariel.

“Jadi dia tidak melanjutkan pengobatannya saat kembali ke Indonesia?”

“Ya…sepertinya. Dia tidak memberikan catatan pengobatan dari psikiater lain, dan…”

“Dan sekarang dia benar-benar membutuhkan obat? apakah kau benar-benar tidak bisa membujuknya? Kau dokternya, dan…” Luhan enarik napas panang dan menghembuskan napasnya perlahan. Ia benar-benar merasakan emosinya hampir meledak. Ia benci fakta bahwa ia tidak tahu apapun mengenai Ariel.

Dr. Park menghembuskan napasnya, “Ariel Lau merupakan salah satu pasien yang cukup banyak tahu mengenai psikologi untuk ukuran orang awam. Dia mengetahui kondisinya sejak masuk SMA, dan dia mempelajari masalahnya tanpa bimbingan dokter, dia mempelajari sendiri cara mengatasi depresinya. Ah…dia ada di fase campuran, dia mengalami depresi dan mania bersamaan,” Dr.Park pun berdehem pelan, “Dan pada intinya, dia membaca caraku bekerja. Dia menjaga sikapnya dengan baik selama melakukan wawancara denganku. Jadi…aku agak sulit untuk mencoba mempengaruhi pikirannya. Dia cukup keras dan…bisa kukatakan cerdas.”

“Ariel dibesarkan pada kondisi keluarga yang membuatnya merasa tidak memungkinkan untuk terbuka mengenai kondisinya. Dia juga berada di lingkungan yang kurang fleksibel pada penderita kejiwaan, dan itu membuatnya sulit untuk mau terbuka dan ragu untuk melakukan pengobatan. Terutama setelah ia merasa dicampakkan oleh mantan kekasihnya karena masalah kejiwaannya ini, dia kehilangan simpatiknya terhadap sosial.”

“Aku cukup tercengang saat tahu Ariel bertahan dengan kondisinya. Dia bahkan pernah membiarkan dirinya tidak tidur karena stress. Untungnya dia bisa mengendalikan emosinya dnegan baik dan melakukan saranku. Tapi…dia benar-benar membutuhkan antidepresan. Kodisinya tidak berubah menjadi lebih baik.”

“Tapi dia benar-benar menolak. Aku bahkan bertengkar dengannya dan…”

“Buatlah dia merasa bahwa kau bisa dipercaya. Dia hanya butuh rasa aman. Kau harus membuatnya percaya dan secara perlahan, kau bisa membujuknya untuk sedikit demi sedikit terbuka dan berbagi dengan orang lain. Kau bisa membawanya pada komunitas dengan kondisi yang sama, kemudian perlahan kau membujuknya untuk melakukan pengobatan. Dia hanya khawatir dia akan bergantung selamanya pada obat, apalagi dia wanita, dia cukup tahu banyak mengenai efek obat terhadap kehamilan dan semacamnya,” Dr.Park pun menatap manik mata Luhan serius, “Semakin cepat dia melakukan pengobatan, maka semakin cepat juga dia bisa berhenti meminum obat. Dia membutuhkan dukungan…”

 

***

 

Luhan merengut ketika tahu password apartemen Ariel justru tanggal lahir Sehun. Sepulang menemui Dr.Park, dia sempat menelepon Sehun –setelah Luhan harus menenagkan dirinya beberapa saat setelah ia mencena seluruh informasi yang dimilikinya mengenai Ariel, dan Sehun bilang, karena ia yang mengurus kepindahan Ariel, password apartemen Ariel adalah tanggal lahir Sehun dan itu membuat Luhan ingin menonjok Sehun.

Tapi…lupakanlah. Luhan kehilangan selera untuk menyakiti wajah siapapun meskipun itu adalah Sehun. Ariel tidak mengganti password apartemennya –yang entah ia tahu apakah passwordnya tanggal lahir Sehun atau bukan—dan Luhan dengan mudah masuk, dan menyiapkan sesuatu untuk Ariel. Pesta perayaan kecil untuk ulang tahun Ariel dan…perayaan karena mereka berbaikan. Ya. Mereka harus berbaikan.

Luhan memperhatikan detail sudut apartemen dengan warna putih dimana-mana. Ariel suka warna coklat, tapi sepertinya Ariel terlalu malas mengubah cat atau apapun untuk menjadi warna favoritnya. Iseng, Luhan memasuki kamar Ariel –dan rahang Luhan terjatuh ketika melihat dua buah rak berada di kedua sisi dinding kamar Ariel, kemudian di ujung ruangan dekat jendela, Luhan melihat ranjang dengan satu set meja kerja. Luhan juga mendapati foto-foto mereka berdua terpajang rapi di atas meja. Luhan pun enarik sudut bibirnya. Setidaknya ia tahu Ariel masih mencintainya.

Dasar kutu buku yang aneh. Luhan mengeluh dan menutup pintu kamar Ariel.

Luhan kembali ke ruang duduk dan saat dia akan menyalakan TV, tiba-tiba saja pintu apartemen Ariel terbuka, menampakkan sosok Ariel dnegan mantel hitamnya dengan rambut ikat satu ke belakang yang sudah berantakkan.

Ariel terpaku saat mendapati sosok Luhan berada di hadapannya, tersenyum manis –seperti biasa, seolah mereka tidak pernah mengalami keributan apapun. Ariel sebenarnya ingin langsung berlari ke pelukan Luhan. Tapi ia justru merasa enggan saat bayangan Luhan dan Sahyun menghampiri kepalanya lagi.

Ariel menggigit bibir bawahnya. Cemburu bisa menutup pintu hatinya ternyata.

Luhan yang mendapati Ariel terdiam, akhirnya mendekati Ariel dan langsung menarik Ariel ke pelukannya, membiarkan wajahnya menyentuh ceruk leher Ariel. Ariel yang tadinya merasa enggan, kini justru membiarkan tubuhnya merasakan suhu tubuh Luhan. Ia juga sudah melingkarkan tangannya pada pinggang Luhan dan menenggelamkan wajahnya pada tubuh Luhan. Entah mengapa, Ariel justru menangis. Dan Luhan semakin memperarat pelukannya ketika merasakan kaosnya basah oleh air mata Ariel.

“Maafkan aku…” bisik Luhan pelan.

 

-tbc-

20160818 PM0954

Iklan

15 thoughts on “#3 All I Ask

  1. Ky rumit bgt hdp ariel eon… Q ky liat diri sndr hehe … Smg dy cpt sembuh dr penyakit ny n luhan lepas dr sahyun si pengganggu hehe…. Next fighting eon

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kesal sama luhan yg lebih mementingkan org lain pdahal bkn anaknya bikin kesal aja… Iihhhhhh kesel pokoknya dgn luhan. Apa bagus ariel minta putus aja dgn luhan biar luhan tahu rasa?

    Disukai oleh 1 orang

  3. Klo aku jadi ariel bakal aku baikin terus si luhan, cogan jgn di siasiain mba, tp justru itu yg buat cowok makin penasaran sama cewek nya, dan dari pada banyak cincong mending ke next chap aja lah 😀

    Disukai oleh 1 orang

  4. Ping-balik: #5 All I Ask | Xiao Hyun's Pen World

  5. Ping-balik: #5 All I ASk – FFindo

  6. Ping-balik: #5 All I Ask – Lu Han Fanfiction Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s