You Always

Screenshot_2016-06-27-12-34-19-1-1

You Always

Kim Jong In as EXO Kai & Ashley Lee

a fiction by Nidhyun

Ashley Lee kembali mengetukkan sepatu boots nya ke permukaan air yang menggenang di hadapannya. Ini mungkin sudah menit ke lima belas sejak Ashley berteduh dan menghabisi rasa bosannya dengan menginjak air yang menggenang kemudian membiarkan permukaan kulitnya digigiti udara dingin.

Dulu, sebelum Ashley terlanjur membiarkan dirinya luruh bersama istilah ‘sebatang kara’ yang hangat di negeri orang, Ashley justru merasa jauh lebih buruk ketika semua orang mendatanginya, namun hanya untuk menjadikannya sebagai pelarian sementara.

Percayalah, Ashley bukan tipikal gadis yang akan mudah percaya pada tatapan menyebalkan beberapa orang yang ramah terhadapnya.

Ashley pun mengeluarkan ponselnya, mengecek jam dan memeriksa kembali jadwalnya untuk besok. Masih ada beberapa minggu menyenangkan yang harus dilewatinya. Dan hujan yang menyergapnya kali ini, harus dijadikan sebagai salah satu momen hangat -mendengarkan musik klasik sembari menonton hujan yang menari-nari dan membiarkan udara dingin ikut bertepuk tangan dalam kegembiraan Ashley.

“Hallo? Can you help me? Can you speak english?” Suara Ashley yang agak serak menyapa seseorang di seberang telepon sana. Ashley agak ragu perusahaan taksi itu bisa berbahasa inggris, karena negara yang didatanginya terkenal dengan ‘tidak membudayakan bahasa inggris’.

Tapi Ashley patut bersyukur, ketika orang di seberang sana menjawab bahasa inggrisnya, meskipun dengan pelafalan yang agak aneh, “Ya. I need a taxi. Please come to…”

“May I help you, miss?”

Ashley langsung menjatuhkan ponselnya ketika suara usang di otaknya kembali mengudara dan menyentuh gendang telinganya. Suara yang sangat familiar. Dan…yeah, dengan agak sangsi Ashley mengakui itu adalah suara hangat yang memberikan candu tersendiri.

Ashley memutar kepalanya -juga tubuhnya- dengan perlahan. Ingin memastikan apakah suara tadi hanya delusi yang bangkir dari memori noirnya, atau justru…bolehkan Ashley menyebutnya keberuntungan?

“Kau masih terlihat sama seperti…berapa tahun kita tidak bertemu?” Gurau lelaki yang…yeah, Ashley benci mengakui bahwa lelaki itu kini berkali-kali lebih tinggi daripada enam tahun lalu.

Ya. Ashley menjawabnya. Enam tahun mata mereka tak bertegur sapa.

“Kau…kenapa kau disini?” Ashley tidak yakin apakah ucapan itu terdengar pantas untuk dua manusia yang saling mengenal dan enam tahun harus kehilangan jarak. Tapi intinya, Ashley tidak tahu bagaimana ia harus bereaksi saat momen tak teduga ini terjadi.

Ashley bertemu dengan lelaki yang dicintainya selama empat tahun, kemudian mereka harus bertengkar hebat karena rasa ketidak percayaan satu sama lain, dan….tada! Mereka bertemu lagi, persis seperti film roman yang membuat penontonnya menggigit jari.

Hanya saja…percayalah, empat tahun selama Ashley mencintai lelaki ini, mereka hanya menjalani hubungan tanpa status.

Lelaki itu tertawa, bersikap seolah mereka teman lama sungguhan yang begitu akrab dan tak perlu mengecap kata canggung. Ashley merasakan hatinya meringis, lelaki ini, enam tahun lalu hanyalah pemuda introvert yang membosankan.

“Kau lupa ya aku sudah berada di Jepang selama tiga tahun ini?” mata lelaki itu pun menyelami Ashley dari ujung kaki hingga ujung kepala, “Kau sedang berlibur? Atau…” lelaki itu pun menarik sudut bibirnya, “Kau kuliah disini juga?” Tanyanya dengan intonasi yang hangat. Percayalah, Ashley benar-benar merasakan rindunya akan meledak.

Ashley pun memungut ponselnya yang jatuh dan kembali menegakkan punggungnya, menatap canggung ‘teman lamanya’, “A-aku…” Ashley pun menggeleng pelan dan menatap lelaki itu -tepatnya memberanikan diri untuk menatap lelaki itu, “Aku sedang berlibur disini, sambil…ya, kau tahu, mencari inspirasi dan…” Ashley pun mengangkat sebelah alisnya tanpa sadar, astaga situasi ini benar-benar, “Yah, begitulah.”

Lelaki itu pun tertawa renyah, merasa sikap Ashley yang penuh optimisme itu menjadi konyol dan…entahlah, Ashley yang ditemuinya enam tahun lalu, dan Ashley yang bertengkar dengannya tiga tahun lalu, bukanlah Ashley yang akan berbicara gugup.

“Kalau begitu, mau mengobrol sebentar denganku? Sambil minum kopi misalnya?” Ashley mengangkat sebelah alisnya, namun lelaki itu langsung menyentuh pundak Ashley, “Disana. Sebagai…perayaan pertemuan dua teman lama?”

Ashley pun mengikuti arah mata lelaki itu. Dan…bagus sekali, sebuah kafe yang mungkin menyediakan cappuccino panas dengan latte art cantik, kemudian ditemani makanan junkfood favoritnya. Ashley pun kembali menatap lelaki di hadapannya, dia yakin bahwa ia bukan gadis yang bisa dirayu oleh omong kosong semacam itu. Tapi…yeah, Ashley akhirnya mengangguk dan tahu-tahu sudah berada di dalam kafe, membiarkan kehangatan lelaki itu kembali mengisi rongga dadanya yang sempat dibiarkan dingin dan kosong.

Demi satu orang semata.

Kim Jongin. Ya…semua demi Kim Jongin.

Dan ashley harap, lelaki yang selalu mendatanginya saat terluka namun menolak uluran Ashley, lelaki yang membuatnya hanya memporoskan sudut hidupnya pada satu pria tanpa memikirkan orang lain, lelaki yang membuatnya selalu melakukan ini dan itu meskipun…baiklah, sebut saja Ashley adalah pihak yang tersakiti karena ketidakjelasan hubungan mereka. Lelaki itu, Kim Jongin, Ashley tidak ingin mengulang kembali perasaan lamanya yang dengam susah payah dikuburnya dan dilupakannya.

Tapi…yeah, pernahkah hati berbohong bahkan pada otak yang memiliki IQ tinggi? Ashley pikir tidak. Karena…cinta lamanya, harapan tuanya, dan rindu usangnya terhadap Kim Jongin, tidak pernah berubah termakan waktu. Terkutuk memang kebutaan sebuah cinta.

“Ashley, aku berjanji akan membuatmu selalu berada di sisiku, mulai saat ini dan esok dan esoknya lagi.”

Itu omong kosong yang sudah membusuk. Tapi…mungkin, bagi hati Ashley, itu semacam hujan yang turun di padang gersang. Ia pernah mencintai Kim Jongin sepenuh hatinya, dan sekali lagi, setelah obrolan basa-basinya yang ditemani aroma kopi sehangat Kim Jongin sore itu, Ashley Lee harus menerima kenyataan bahwa ia kembali jatuh cinta pada Kim Jongin.

Ya. Ia selalu jatuh cinta pada lelaki yang pernah mencampakkan perasaannya itu.

Cinta itu…bodoh ya? Meskipun tahu itu adalah hal bodoh, Ashley nyatanya tetap saja melempar senyum tulus dan…maaf Tuhan, sekali lagi Ashley menyebut Jongin dalam doanya, kali ini agar tak pernah terpisahkan lagi dari Ashley.

***

End

20160818 AM0145

 

Iklan

5 thoughts on “You Always

  1. Oke, aku kaget bgt setelah beberapa bulan gk baca ff, dan baru tadi aku maen ke sini ternyata udh banyak bgt ff yg di post tp hanya ini yg betul2 menyita hatiku, gmn nggak sepertinya author masih baper soal hubungan nya kai dan pcr nya (aku tahu krna author curhat di chap plg pertama) sama seperti aku, dan ff ini bener2 mewakili perasaanku huhu walaupun ngegantung aku tetep puas lah setelah beberapa bulan gk maen kesini, klo bisa lanjut lg yah author 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s