Way of Two Rings (chapter 24b)

the-way-of-two-rings1

Title     : Way Of Two Rings

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, School Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Alkindi @Indo Fanfiction Art

 

***

“Spesifikasiku…tidak memenuhi?” Ariel sebenarnya sedang dalam mood yang sangat bagus. Meskipun cuaca sedang tidak terlalu mendukung –karena tiba-tiba saja awan mendung  muncul dan membuat tanah Seoul basah dengan gerimis sedang, tapi Ariel tidak kehilangan bunga-bunga kecil yang menari-nari di perutnya. Entah karena ia sudah membuatkan makanan untuk Luhan atau memang karena hari ini ia sedang dalam mood yang sangat baik, saja…

Tapi, moodnya langsung berubah rusak ketika sebuah telepon masuk ke dalam ponselnya, “Jadi…maksud paman, aku tidak bisa masuk ke LFS?” tiba-tiba saja, Ariel mendaati suaranya sendiri bergetar. Aneh, ini pertama kalinya ia merasakan dadanya sakit hanya karena ia tidak bisa memiliki sesuatu yang diinginkannya.

Ariel pun terduduk di ata sofa ruang duduk apartemennya, meskipun cuaca tidak begitu hangat, tapi setidaknya sebelum ia mendapat telepon ini ia merasakan dirinya hangat. Tapi sekarang ia justru merasa dadanya begitu dingin, padahal ia sempat mengecek pengatur suhu di ruangan itu dan suhu ada di temperature yang pas.

“Tapi Nona tidak perlu khawatir, masih ada kemungkinan untuk masuk ke FAMU Praha, Ceko. Salah satu dewan sekolah di sana sudah meyakinkan saya bahwa Anda bisa masuk ke sana.”

Ariel pun menarik sudut biirnya tipis. Setidaknya ini cukup terasa adil, jika sebelumnya ia merasa hidupnya datar-datar saja, sekarang –meskipun terasa menyakitkan—tapi ia akhirnya bisa mengerti apa yang dimaksud dengan pasang surut sebuah kehidupan. Ia akhinya tahu apa yang dimaksud dengan kata ‘sulit’ dan ‘bekerja keras’, sesuatu yang hampir tidak Ariel rasaan.

Setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai ‘angka harapan’ Ariel agar bisa masuk ke universitas di Praha, Ariel pun menutup teleponnya dan menatap kaca dinding di samping kanannya. Ia belum pernah merasa sesebal ini hanya karena sesuatu yang tidak diinginkannya tidak terkabul.

“Kenapa Luhan belum pulang ya?” gumamnya kemudian. Ia baru sadar Luhan sudah terlalu lama meninggalkan rumah dan belum pulang, padahal ini sudah hampir sore, tetapi lelaki itu bahkan tidak mengiriminya pesan.

Ariel pun kembali mengambil ponselnya yang sempat ia taruh di atas meja dan menekan dial-up nomor satu –sampai nama Luhan tiba-tiba muncul di layar ponselnya. Akhirnya Luhan menelepon.

“Kenapa kau belum pulang? Di luar hujan…” Ariel menghentikan gerakan lidahnya an mendnegarkan suara seorang wanita di seberang sana, “Ya…aku…istrinya,” Ariel tidak menyadari jawabannya sendiri. Ia benar-benar gugup saat menerima telepon yang harusnya dijawab Luhan. Dan kaki Ariel langsung melemas ketika mendengar kabar bahwa Luhan baru saja mengalami kecelakaan.

 

 

***

 

Ariel tidak ingat detailnya, bagaimana bisa ia sampai di rumah sakit dnegan keadaan semrawut. Ia hanya menelepon kakaknya, kemudian menelepon Mama Lu –yang sayangnya tengah berada di Jepang—dan langsung berlari mencari taksi dan harus terpontang-panting untuk menemukan Luhan di rumah sakit yangmeneleponnya tadi. Ariel bahkan hanya membawa dompet dan ponselnya, dan yang paling konyol, ternyata ia hanya mengenakan sandal rumah.

Dan, sesampainya di rumah sakit ia langsung berlari ke UGD, kemungkinan terbesar tempat Luhan berada. Ia bahkan tidak terpikirkan untuk bertanya pada perawat dan meja resepsionis, ia hanya berja;an cepat dan membuka tiap tirai untuk meencari Luhan. Ia panik dan kehilangan seluruh pikirannya.

“Nona? Anda mencari seseorang?” salah seorang perawat yang kurang nyaman dengan tingkah Ariel itu akhirnya mendekati perempuan dengan kaos rumahan berwarna putih dan celana training hitam tersebut. Tidak mungkin kan ia membiarkan perempuan itu mengecek satu persatu ranjang pasien yang berjumlah puluhan.

“Luhan…aku mencari pria bernama Luhan, seseorang meneleponku dna katanya dia kecelakaan dan dibawa ke sini…” suara Ariel berubah parau. Ia tidak pernah sepanik ini.

Perawat tersebut akhirnya mengantar Ariel ke arah ruang darurat pasien yang baru saja mengalamai kecelakaan mobil tersebut, “Apakah Anda keluarganya? Dia kakak Anda? Mungkin Anda bisa menghubungi orang tua Anda…” perawat itu mendnegus kecil ketika Ariel langsung berlari ke arah ranjang pasien dan menangis. Ia sangat yakin yang mengangkat telepon tadi mengatakan bahwa ia adalah istri sang pasien –tapi perempuan ini bahkan terlalu muda untuk disebut sebagai istri. Tapi akhirnya perawat tersebut memanggil dokter jaga yang mengurus pasien ini barusan.

“Kenapa dia dibiarkan disini? Apa yang terjadi padanya?”

“Dia menerobos lampu merah, sepertinya dia tidak menyadari adanya lampu lalu lintas karena alergi yang kambuh. Kami sudah memberi anti alergi, tapi kami harus menunggu persetujuan wali…”

“Lalu apa lagi yang kau tunggu?! Lakukan apapun padanya agar dia selamat! Jika aku tidak akan datang lantas kau akan membiarkannya mati begitu saja?!” teriak Ariel sangat panik. Ia tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang melirik penasaran ke arahnya.

“Tapi…sebelum itu…”

“Aku akan mengurus administrasinya, tolong lakukan perawatannya sekarang dan pindahkan juga ke kamar VVIP.” Dan Henry muncul di saat yang tepat –tepat ketika mendengar teriakan Ariel. Saat gadis itu meneleponnya sambil menangis ketika mengadukan soal Luhan yang mengalami kecelakaan, Henry tahu Ariel akan berbuat sesuatu yang gegabah.

“Tenanglah…dia hanya mengalami alergi, dia akan baik-baik saja,” Henry pun menarik Ariel sedikit menjauh dari ranjang Luhan.

“Hanya?” Ariel pun melotot ke arah Henry, “Kau bilang hanya? Dia akan mengalami sesak napas jika alerginya sudah kambuh!”

“Lalu kau akan berteriak dan menangis seperti itu? Jika kau tidak bisa tenang, bahkan Luhan juga tidak akan bisa mendapat perawatan yang maksimal!” Henry pun menyentuh pundak Ariel, “Sekarang duduk di ruang tunggu dan aku akan mengurus semuanya, oke? Jangan lakukan hal gegabah dan hanya tenangkan dirimu. Mengerti?” Henry pun langsung pergi ke meja administrasi dan mengurus semua yang diperlukan. Bahkan sepertinya Henry harus menghubungi pengacaranya karena masalah ini sudah jelas pasti diurus oleh pihak kepolisian.

 

***

 

Ariel benar-benar hanya duduk dan menunduk sembari menunggu kabar berikutnya dari Henry. Dan dengan berat hai, ia akan mengakui bahwa ia memang tidak tahu apa yang harus dilakukannya meskipun ia begitu mengkhawatirkan Luhan. Tapi siapa yang akan merasa baik-baik saja jika kau melihat orang yang kau sayangi memiliki luka di sana-sini dan bahkan harus mengenakan selang oksigen? Ariel paling benci rumah sakit, dan menyadari fakta bahwa Luhan lah yang ia temui di rumah sakit benar-benar membuat dadanya terasa terjepit.

“Pokoknya dia harus bertanggung jawab untuk segala kerusakan mobilku! Dia yang sudah melanggar lampu lalu lintas, apapun alasannya, tetap saja dia yang sudah melanggar!”

Ariel terpaksa mendongak ketika seorang pria membuat kebisingan di lorong yang cukup sepi itu. Ia sebenarnya tidak tertarik untuk tahu urusan yang dimiliki pria yang terlihat sudah beusia tiga puluh tahun ke atas itu, tapi mata Ariel tidak bisa berhenti mengikuti gesturnya ketika dia menyebutkan cirri-ciri Luhan pada seseorang di telepon.

“Dia hanya mahasiswa. Meskipun dia tidak dalam kondisi stabil, tetap saja dia seharusnya sadar diri! Bagaimana dia bisa menyetir di saat kondisinya tidak sehat? Dia kira dia bisa membayar segala kerugian yang aku miliki? Benar-benar tidak tahu diri, anak muda zaman sekarang benar-benar memuakkan…. Pokoknya aku akan tetap meminta ganti rugi pada anak gila itu! Hanya karena dia kaya makanya dia bisa berbuat seenaknya?!”

Ariel mungkin benar-benar terasuki sesuatu hingga apapun yang ia lakukan benar-benar tidak bisa ia kendalikan. Seperti sekarang, ia langsung berdiri dan melempar sejumlah uang ke arah pria yang terus saja mencaci di telepon.

“Kau gila?! Kau kira apa yang kau lakukan?!” teriak pria itu terkejut.

Ariel pun kembali mengeluarkan uang dari dompetnya dan melemparnya ke arah pria yang terus melotot ke arahnya tersebut, “Kau butuh uang, kan? Kau kehilangan mobilmu yang mahal, iya kan? Berapa lagi yang kau butuhkan?”

Pria itu pun tertawa mengejek, “Wah…kalian anak-anak muda zaman sekarang benar-benar tidak tahu diri. Kau kira kau bisa melempar uang dengan cara seperti itu pada orang tua?”

“Lalu, apakah orang tua bisa menghinda orang yang lebih muda? Kau terlihat seperti penjilat yang mengemis uang. Mobilku yang kau tabrak pun benar-benar hancur, berapa kecepatan mobilmu hingga mobilku rusak seperti itu?”

“Kau…”

“Kau kira aku akan takut hanya karena kau melotot ke arahku? Kau mengatai seseorang yang dalam keadaan sekarat sebagai orang gila? Dia sakit, menurutmu apa yang bisa dilakukan orang sakit? Ah…kau juga sakit, mentalmu juga kepalamu pasti sakit sampai kau hanya memikirkan tentang uang bahkan di saat seseorang hampir kehilangan nyawanya…”

“Ariel!” Henry melotot tidak percaya ketika Ariel tengah bertengkar dengan orang yang telah menabrak mobil Luhan. Henry bahkan belum sampai sepuluh menit meninggalkan gadis itu sendiri, tapi dia bahkan sudah mengacau kembali –dan membuang uang ke atas lantai juga membiarkan beberapa pasang mata memerhatikan gerak-geriknya.

“Sudah kukatakan jangan…”

“Telepon pengacara kita,” potong Ariel cepat, “Suruh dia mengurus orang yang terus mengatakan bahwa mobilnya rusak parah. Kalau perlu ganti mobilnya, pengemis ini sepertinya hanya punya satu mobil sampai ia tidak memedulikan nyawa orang lain.”

“YAK!”

Bukan hanya pria itu, tapi Henry juga sudah melebarkan matanya kaget karena ucapan Ariel yang terdengar sangat kasar itu. Tapi Ariel seolah tidak peduli dan terus melanjutkan, “Jika kau tidak melakukannya, biar aku saja yang memintanya langsung.” Ariel pun langsung berbalik dan meninggalkan dua laki-laki itu termangu. Henru tahu Ariel gadis yang sangat labil –tapi ia belum pernah mendapati Ariel seemosi ini. Dan semuanya hanya dikarenakan satu laki-laki yang terkena alergi dan mengalami cedera sedang karena kecelakaan mobil.

 

***

 

Luhan merasakan tubuhnya begitu nyeri ketika ia bisa merasakan paru-parunya menghirup oksigen. Luhan tidak yakin apa yang terjadi padanya, yang ia ingat terakhir kali adalah mual dan kepalanya yang pusing, juga bunyi tabrakan yang membuatnya kehilangan kendali stir…ah, benar, mobilnya tertabrak mobil lain dan Luhan sama sekali tidak ingat momen setelahnya.

“Henry Ge?” panggil Luhan setelah beberapa saat ia mencoba mengumpulkan kesadarannya dan mendapati Henry tengah berdiri di dekat tihang infusnya dan berbicara sesuatu kepada perempuan dengan pakaian putih. Ia pasti sudah berada di rumah sakit.

“Kau siuman?” Henry pun segera mendekati Luhan, disusul perawat yang tadi menyuntikkan sesuatu pada tabung infusnya. Kemudian perempuan itu menekan tombol merah, dan tak lama dokter pun datang dan memeriksa Luhan.

“Kami sudah menyuntikkan obat untuk mengurangi alergi yang Anda alami. Anda memiliki alergi yang sangat parah terhadap berbagai jenis ikan, jadi lain kali Anda harus lebih hati-hati dalam memilih makanan,” jelas dokter tersebut sembari membaca sesuatu pada kumpulan kertas di tangannya.

“Tapi tidak ada masalah lain lagi kan, dok?” tanya Henry penasaran.

Dokter tersebut menyingkap selimut dan menunjukkan kaki Luhan yang ternyata mendapat gips, “Terdapat sedikit pelebaran pada tendon-nya, tapi semua baik-baik saja dan gips bisa dibuka dalam waktu beberapa hari. Selebihnya hanya ada luka-luka memar, tinggal oleskan salep yang sudah diresepkan dan pasien bisa pulang dua hari lagi.” Dokter yang terlihat baru berkepala tiga itu pun tersenyum ke arah Luhan, “Kalau begitu sampai bertemu besok dan…” ia pun sedikit melirik ke arah sofa panjang –yang belu Luhan sadari keberadaannya—, “Suruh istrimu juga untuk menjaga kesehatannya. Ini sudah dini hari dan sepertinya dia baru bisa tidur.”

Istri? Ah, benar. Ariel.

Luhan pun menoleh ke samping kanan, ke arah objek yang sempat diperhatikan oleh dokter dan mendapati Ariel yang sepertinya sudah tertidur dengan posisi memunggunginya. Luhan cukup terpekur, ia tidak yakin bagaimana reaksi Ariel saat mengetahui dirinya mengalami kecelakaan dengan alasan konyol.

“Dia…baik-baik saja, kan?” tanya Luhan pada Henry yang baru mengantar dokter sampai ke depan pintu, kemudian ia pun menyelami setiap sudut kamar inapnya ini, “Ini rumah sakit, kan? Kenapa kalian memilih kamar yang terlihat seperti hotel…”

Henry pun mendengus kecil, “Kau tidak tahu betapa gilanya dia saat tahu kau kecelakaan? Dia bahkan terus-terusan menangis dan melempar uang pada korban kecelakaan lain…” ujar Henry dengan tawa kecil di bibirnya, “Ah! Bahkan dia memarahi dan berteriak pada perawat di UGD. Dia benar-benar dramatis. Bukannya menyelesaikan maslah, dia malah membuat semuanya semakin runyam.”

Luhan pun kembali menatap punggung Ariel. Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelum Luhan berangkat futsal. Well –ia benar-benar merasa bersalah karena…entahlah, tentu saja Ariel akan sangat terkejut dan panik bersamaan. Dan Luhan sangat tahu Ariel bukan tipe orangyang akan berpikir jernih di situasi seperti itu.

“Ge…bisakah kau memberinya selimut? Ariel akan masuk angin jika dia tidur tanpa selimut,” ucap Luhan dengan nada rendah.

Henry sedikit menaikkan alisnya, kemudian matanya beralih ke arah Ariel yang sepertinya sudah menikmati alam mimpinya, “Hei…kau yang sakit disini, dan kau mengkhawatirkan orang lain?”  Henry berdecih pelan. Ia pun berjalan menuju sebuah lemari dan mengambil selimut tipis, kemudian menyelimuti Ariel seperti yang diminta Luhan. Bahkan, sepertinya Luhan sudah mulai lebih banyak tahu dan memahami Ariel ketimbang Henry sendiri.

“Dia bukan orang lain…” Luhan sedikit membela diri. Bagaimanapun, jika Ariel udah sakit itu akan jauh lebih merepotkan dan seharusnya Ariel diam saja di rumah dan bukannya ikut ke mari.

Henry pun mengedikkan bahu dan beralih menatap Luhan, “Sepertinya hubungan kalian sudah mengalami kemajuan dengan pesat. Kau bahkan lebih mengkhawatirkannya daripada dirimu sendiri. Tapi…omong-omong, Ariel tidak memasakkan sesuatu yang membuatmu sakit seperti ini, kan?”

Luhan tercenung. Yeah, ia sama sekali tidak memusingkan penyebab alerginya yang kambuh sampai Henry mengingatkannya. Luhan pun kembali melirik punggung Ariel, kemudian bola matanya beralih ke arah Henry, “Tentu saja tidak. Dia membuatkanku bola daging dan sama sekali tidak ada ikan. Lagipula Ariel juga sudah tahu aku tidak bisa makan ikan.” Luhan pun menjeda dengan napasnya yang tertahan –menahan sakit di daerah pinggang kirinya saat ia bergerak, “Tapi, ge…. Kenapa kau tidak pulang saja?” Luhan dan Henry sebenarnya tidak sedekat itu, dan rasanya aneh sekali pria tengil yang sebenarnya sudah berubah status menjadi akkak iparnya ini mau repot-repot menungguinya.

Henry terkekeh pelan, “Kau tidak suka aku disini? Yak…jika anak cengeng itu tidak menangis dan berteriak seperti orang gila, aku pasti sudah pulang sejak tadi…” candanya yang disusul tawa yang lebih keras. Ia tidak bisa membayangkan Ariel yang seluruh kebutuhan Luhan di sini.

Luhan pun tersenyum kecil, “Bukan begitu…Gege sibuk, dan…aku pikir sekarang aku sudah tidak apa-apa,” ucap Luhan jujur. Ia benar-benar tidak bisa bersikap seolah mereka berdua begitu dekat, ia benar-benar merasa canggung, terlebih sekarang Henry sudah berganti status menjadi kakak iparnya.

Henry pun tersenyum lebar dan terkekeh pelan, “Kau ingin berduaan saja dengan Ariel?” telunjuk Henry berlari ke arah Ariel, “Hei…kau bahkan belum bisa berjalan dengan benar, dan Ariel juga tidak akan bangun hanay dengan kau menyebut namanya saja. Terlebih suaramu benar-benar menyedihkan saat ini. Ariel belum bisa diandalkan malam ini, jadi aku akan bermalam di sini juga.” Henry masih menunjukkan deretan giginya saat mendekat ke arah Luhan dan membenarkan selimutnya, “Ibumu benar-benar sangat baik terhadap kami berdua, jadi aku hanya bisa membalasmu dengan cara ini, adik ipar…”

Luhan pun tersenyum kecil –yeah, menarik sekali. Awalnya ia juga menganggap Henry seperti hama yang sangat bising ketika mereka tinggal serumah, tapi sekarang ia merasa seperti memiliki seorang kakak sungguhan karena dia mau repot-repot menjaganya dan mengurusi segala kebutuhannya –seolah ia mengulurkan tangannya dan meyakinkan Luhan bahwa mereka sudah terikat lingkaran keluarga.

 

***

 

“Kau sudah bangun?”

“Apa sakit? Dimana yang sakit?”

“Kenapa kau bisa kecelakaan? Kau kira berapa umurmu sampai kau tidak tahu arti lampu merah, hah?!”

Luhan seperti kembali ke masa lalu dan mendapati si alien cengeng yang akan membuat gaduh dengan ingusnya yang terus berbunyi, bersusulsusulan dengan pertanyaannya yang tidak juga berhenti. Ariel sudah berubah banyak ya rupanya?

“Cuci mukamu dan gosok gigi sana. Penampilanmu benar-benar kacau,” Luhan menyesal karena sama sekali tidak bisa membuat suara lantang seperti biasa, ia bisa mendengar suaranya yang lesu. Dan yang membuatnya semakin tidak nyaman, karena mata Ariel yang sudah terlihat bengkak itu lagi-lagi mengeluarkan air mata.

“Hey…sudah kukatakan aku baik-baik saja,” Luhan pun menarik Ariel mendekat ke arahnya, kemudian ia pun mengusap pipi Ariel yang kembali dibelah lelehan air matanya, “Aku akan segera pulang dan kembali beraktivitas, jangan menangis lahi, hm?”

Henry yang menonton adegan ‘kurang senonoh’ itu pun hanya bisa mengupil dan berdehem pelan, “Aku tahu kalian sudah menikah dan meskipun aku tidak tahu sejauh mana hubungan kalian, tapi…tidak biskaah kalian menghargaiku yang sendirian di sini?” Henry pun bangun dari sofa panjang di tengah ruangan dan menunjuk Ariel, “Aku yang menenangkanmu kemarin,” kemudian jari telunjuknya beralih ke arah Luhan, “Kau juga tidak amnesia tentang aku yang menjagamu semalaman, kan? Kalian tidak bermaksud menyinggung perasaanku…” dan mulut Henry langsung terkatup ketika Ariel melemparnya dengan sandal rumah sakit dengan sangat manusiawi.

“Lalu kenapa kau datang jika kau tidak mau dimintai tolong!” teriaknya dengan sangat lantang.

Henry pun langsung menarik sudut bibirnya sembari mengangkat jarinya berbentu V, “Aku hanya bercanda, haruskah kau membuat seisi rumah sakit mendengarmu berteriak seperti itu?” Henry pun berlagak merapikan jaketnya dan kembali duduk.

“Kau sangat baik-baik saja rupanya,” Luhan terkekeh pelan sambil menyampirkan rambut Ariel, “Kau bolos sekolah hari ini, kau harus sekolah besok, mengerti?”

“Lalu kau akan dengan badut menyebalkan itu?” Ariel menunjuk Henry yang asyik dengan dunianya –memegang ponsel dengan seutas senyum yang terus mengembang—dengan dagunya.

Luhan pun tertawa pelan, “Dia kakakmu. Kau harusnya bisa lebih menghormatinya,”

Ariel pun mencibir, “Dia tidak terlihat seperti kakak…” ucapnya sambil menyentuh luka jahitan Luhan di kening, “Bagaimana bisa alergimu kambuh? Kau makan apa selain makan masakanku?”

Deg.

Hell nah –dia sama sekali tidak melakukan kesalahan, tapi ia benar-benar merasakan jantungnya berdentum keras sekali, seolah Ariel baru saja bertanya “Berkecan dengan siapa kau kemarin?” –dan akhirnya Luhan hanya menggenggam erat tangan Ariel yang baru saja menyentuh salah satu luka di wajahnya, “Aku…”

“Aku sama sekali tidak memasukkan ikan ke dalam masakanku kemarin, aku juga meminta Haneul Oppa agar tidak memberi resep apapun yang berkaitan dengan ikan, apa kau punya alergi lain? Atau…”

“Aku makan bersama dengan yang lainnya sebelum memakan masakanmu, sepertinya dalam makanan yang kami makan ada ikan atau…semacamnya dan aku tidak mengetahuinya. Aku hanya makan sedikit dan langsung pergi, itu benar-benar tidak sengaja. Reaksinya bekerja lambat, artinya memang ada sedikit ikan atau…”

“Kau harus lebih berhati-hati,” sela Ariel, ia pun balik menggenggam tangan Luhan, “Aku benar-benar panik sekali.”

“Anak-anak,” panggil Henry menyela adegan yang membuatnya merasa terpojok, “Kau tahu aku harus kembali ke kampus karena dosenku kurang bisa memberi toleransi terhadap pengumpulan tugas yang terlambat, aku harus kembali ke sana dan kembali ke mari secepat yang aku bisa,” Henry pun kembali menunjuk Ariel, “Jangan lakukan hal gegabah, mengerti? Jika kau tidak mengerti apa yang harus kau lakukan kau harus menelepon Ajussi, jika dokter menyuruhmu menebus obat maka kau harus melakukannya, jika kau tidak bisa suruh perawat bernama Kim Na Young, dia kenalanku. Aku pergi…” dan Henry hampir meninggalkan ruangan sampai ia teringat sesuatu, “Ah…Mama Lu akan sampai di Jepang besok, jadi dia yanga kan menjemput kalian besok. Jangan khawatir, dan telepon aku jika ada apa-apa, paham?”

“Ya, kami mengerti, Ge…terima kasih,”

Henry mengangguk singkat pada Luhan dan langsung meninggalkan ruangan. Tak lama setelah itu, seorang perawat masuk membawakan sarapan untuk Luhan, “Sarapan untuk Anda hari ini…”

“Tidak ada ikan, kan?” tanya Ariel sakartis.

Wanita tersebut hanya bisa menarik paksa sudut bibirnya ke arah anak kecil yang menjadi gosip di lantai ini : dia gadis kaya yang melempar uangnya karena marah suaminya dijelekkan. Wanita itu sempat tidak percaya, tapi setelah melihatnya sendiri, sepertinya dunia memang sudah mulai berubah. Ia saja masih belum bisa berkencan dengan mulus, tapi gadis kecil ini malah sudah berstatus sebagai istri seseorang –yang sayangnya ternyata tampan.

“Tidak ada, dokter memberi perintah agar pasien di kamar ini tidak diberi makanan dengan jenis ikan apapun,”  sahutnya dibuat seramah mungkin.

“Terima kasih,” ucap Luhan tulus.

“Gadis ini melirikmu, kau jangan terlalu banyak senyum atau ramah padanya nanti,” ucap Ariel tanpa menoleh ke arah Luhan –dan lucunya dia menggunakan bahasa cina.

“Itu hanya sopan santun,” balas Luhan dengan bahasa cina juga.

Ariel pun mendesis pelan dan mencubit pipi Luhan yang tak berbekas luka sedikitpun, “Dasar genit!”

“Yak!  Yak! Aku pasien dan sedang terluka, tega sekali kau malah menyiksaku hanya karena cemburu padanya…”

“Dia cantik!”

“Aku tahu dia cantik…” dan Luhan langsung menutup mulutnya ketika mendapati mata Ariel melotot ke arahnya, “Aku salah, maafkan aku, oke?”

“Jangan selalu baik pada setiap gadis, kau tahu kau itu punya pesona yang bisa membuat perempuan meleleh! Makanya kau terus ditempeli rubah di luar sana,” Ariel mulai mengomel. Ia pun mengambil sarapan Luhan dan meletakkannya pada meja kecil, lalu menaruhnya di atas ranjang –di hadapan Luhan. Wah…apakah baru saja Ariel berkata bahwa ia mempesona?

“Aku bisa makan sendiri,”

“Lalu aku akan pulang dan menelantarkanmu yang baik-baik saja dan bisa melakukan semuanya sendiri.”

Luhan pun merengut, Ariel galak sekali hari ini. Ia pun membiarkan Ariel menyuapinya –karena tangan kiri Luhan diinfus sedangkan telapak tangan yang satunya dibebat tebal dengan sisa-sisa perih yang masih ia bisa rasakan di sana, “Ini pertama kalinya kau seperthatian ini padaku,” gumamnya sebelum Ariel kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Kau menyukainya?” tembak Ariel yang sangat tepat sasaran. Meskipun wajah Ariel Nampak biasa saja, tapi gadis itu memberikan reaksi yang berbeda pada dada Luhan.

Luhan tidak menjawab dan terus menghabiskan makanannya. Ariel benar-benar berbeda sekali hari ini. Ia menyuapi Luhan, membantu Luhan meminum obat, bahkan sekarang ia sudah membawakan air ke dalam baskom dan meletakkannya di atas nakas, “Kau harus membasuh wajahmu,” katanya sambil memeras kain putih di tangannya.

Luhan sebenarnya ingin menolak –rasanya aneh saja melihat Ariel melakukan semua itu terhadapnya, tapi…entahlah, di sisi lain ia juga suka ketika Ariel mengusap wajahnya pelan-pelan dengan kain di tangannya. Ia juga membantu Luhan untuk menggosok gigi –bahkan ia juga mengolesi kepala Luhan dengan suatu krim yang katanya bisa dijadikan sebagai pengganti keramas. Luhan sampai bingung, ia harus merasa terkesima atau tidak.

“Kau belajar seperti ini dari siapa?” Luhan mencoba memecah keheningan di ruang inapnya. Entah kenapa Ariel diam saja sejak tadi, padahal biasanya gadis itu akan menjadi gadis paling cerewet dan tidak bisa diam.

“Aku melihat JungAh membeli ini saat kami jalan-jalan, katanya ini sama saja dengan keramas. Ada jahitan di keningmu, kudengar luka jahitan tidak boleh terkena air,” sahut Ariel dengan nada tak acuh sembari memijat pelan kepala Luhan.

“Aku merasa seperti memiliki istri sungguhan,” Luhan menarik sudut bibirnya lebar –hingga dengan tega Ariel memukul kepalanya, “Jadi selama ini kau menganggapku apa?” ia menghetikan gerakan tangannya dan melotot ke arah Luhan.

Luhan terkekeh pelan, ia pun menyentuh tangan Ariel dan mengarahkannya kembali pada kepala Luhan, “Kau sedang datang bulan, ya? Kenapa ka uterus marah-marah?”

Ariel tidak menjawab dan terus mengusap rambut Luhan hingga selesai. Well –ini kali pertama bagi Ariel untuk merawat seseorang yang sedang sakit dan merasa khawatir bahkan ketika semua orang berkata bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Ia tidak merasa Luhan baik-baik saja dengan dua luka jahitan di telapak tangan dan keningnya, dengan jarum infuse, kaki dibebat, dan luka-luka lainnya yang membuat Luhan benar-benar lemah dan tidak bisa melakukan apapun. Belum lagi, Ariel baru saja mendapat kabar buruk mengenai penolakan dirinya di LFS –jadi, wajar saja bukan jika Ariel merasa unmood?

“Aku tidak apa-apa, kok…sungguh. Jika kau seperti ini karena mengkhawatirkanku, kurasa aku jauh lebih khawatir padamu yang bahkan tidak bicara sepatah katapun terhadapku,” sekali lagi Luhan memancing Ariel agar mereka bisa bicara lebih panjang. Tapi gadis itu tetap diam sambil membantu Luhan kembali berbaring di ranjang.

Ariel pun kembali ke kamar mandi untuk menaruh beberapa benda yang baru digunakan Luhan, dan di saat ersamaan pintu kamar inap Luhan terbuka –Luhan pikir Sehun lah yang datang karena pemuda itu baru saja menceramahinya tentanga turan berlalulintas yang baik sebelum mengasihani Luhan dan berjanji akan datang menjenguknya—tapi ternyata justru sosok lain yang sangat di luar dugaannya yag baru saja menampakkan batang hidungnya.

“Kau benar-benar sakit rupanya,” suara halus penuh nada khawatir itu mengembalikan kesadaran Luhan –Irene ada di sana, dengan satu buket bunga, satu set tempat makan dan juga buah-buahan. Luhan baru menyadari ia benar-benar sakit dan kedatangan seseorang yang menjenguknya.

Tanpa diminta, Irene pun berjalan mendekat dan menaruh seluruh barang bawaannya di atas nakas, “Tadi aku mendengar percakapanmu dengan Sehun di telepon dan…yeah, akhirnya aku berinisiatif untuk datang ke mari, Sehun masih ada kelas sampai sore. Kau baik-baik saja, kan? Tidak terluka parah, kan?”

Ah…pantas saja Irene tahu ia ada di sini. Luhan menelan isi pikirannya dan hanya mengedikkan bahu, ia masih linglung dengan keberadaan Irene yang tiba-tiba. Dan kejutan berikutnya datang setelah Ariel keluardari kamar mandi dan mendapati sosok Irene ada di ruangan itu.

“Eonni…”

Irene langsung menoleh ke belakang –ke arah Ariel yang menggantung suaranya di udara—dan menyapanya dengan hangt seperti terakhir kali mereka bertemu dan menghasilkan pertengkaran hebat antara Luhan dan Ariel. Yeah…bagaimanapun Irene tidak bisa disalahkan, sih. Tapi…tetap saja, sekali lagi melihat mata Ariel menggelap seperti sekarang –setelah seharian ini gadis it uterus mengomel—membuat suasana hati Luhan tidak menjadi lebih baik.

“Kau yang menjaga Luhan di sini sejak kemarin? Wah…aku cukup terkejut,” Irene pun menoleh kembali ke arah Luhan, “Orang tuamu tidak di sini?”

“Mama dan Papa ada di Jepang. Dan…mungkin baru sampai di sini besok,”

Luhan langsung menutup mulutnya ketika Ariel menyela dnegan cepat dan membuat Irene terpaksa menoleh kembali ke arahnya. Ariel pun menarik paksa sudut bibirnya dan menatap Luhan dan Irene bergantian dengan datar, “Eonni datang sendiri? Tidak dengan Sehun Oppa?”

“Kau kenal Sehun juga?”

Yeah, Irene gadis yang cukup ramah jadi…mungkin obrolan yang kurang mengenakkan bagi Luhan ini bisa sedikit memanjang dan juga akan memperpanjang mood Ariel yang tidak bagus itu.

“Kami satu sekolah juga,” jelas Ariel singkat sembari memerhatikan bawaan Irene dengan blak-blakan, “Eonni membawa ini?”

“Ah…ya, ini untuk Luhan, kau juga boleh mencicipi beberapa bawaanku,” Irene pun langsung membuka kotak bekal yang dibawanya dan memperlihatkan beberapa jenis makanan yang ia bawa.

“Kau tidak perlu repot-repot begini, aku sudah senang kau mau menjengukku,” Luhan pun mencoba berbasa-basi –yang sayangnya berakhir gagal ketika Ariel malah menyahut, “Senang sekali ya…”

Irene hanya tersenyum –ia pasti salah paham—dan menjawab, “Tidak apa-apa, kau bahkan sering membantuku lebih dari ini,”

Ariel mencebik dan kembali menyahut dengan menyebalkan, “Tentu saja, Luhan sangat suka membantu orang, terutama perempuan cantik…”

Irene sama sekali terlihat tidak memedulikan ucapan Ariel dan merapikan seluruh bawaannya, “Aku membuat sup, kimbap, dan dumpling. Untung aku hanya ada kelas pagi, jadi aku sempat memasak ini semua untukmu,” Irene pun menyodorkan kotak bekal berisi dumpling ke arah Ariel, “Kau mau mencicipinya?”

Ariel yang hampir tidak tahu kata sopan itu langsung mengambil satu dan memasukkan semua dumpling itu ke dalam mulutnya tanpa berkata apa-apa. Irene hanya tersenyum dan menyodorkan kotak bekal itu pada Luhan, “Kau juga kemarin memakan banyak dumpling buatanku, kau mau mencicipinya lagi?”

Dan, Luhan pikir ia mendengar suara petir baru saja menyambar di atas kepalanya. Rasanya ia ingin berteriak “HENTIKAN!” pada Irene, tapi ia sama sekali tak tega dan hanya melempar senyum pada gadis itu dan hampir menyentuh dumpling yang disodorkan ke arahnya.

“Tunggu, ini ikan?”

Tangan Luhan tergantung di udara dan secara refleks matanya berlari ke arah Ariel yang memelototi Irene dengan tatapan terkejut, “Eonni, bahan dumpling ini dari ikan?” tanyanya sekali lagi, “Dan…kemarin…eonni datang bertemu dengan Luhan?”

Irene membulatkan matanya terkejut karena nada bicara Ariel yang tiba-tiba saja meninggi, ia pun mengangguk sembari menyentuh tengkuknya, “Ya…aku membuatnya dari ikan dan kemarin aku datang ke lapang futsal. Beberapa kali aku sering melihat membeli dumpling di kantin kampus kami, jadi kupikir dia menyukai dumpling, jadi aku membawakannya…”

“Jadi…kemarin juga kau membuatnya dari ikan?” sambung Luhan yang juga terkejut karena tebakan Ariel. Well –sebenarnya ia sudah yakin sejak awal makanan Irene lah yang mengandung ikan, tapi ia terkejut karena Ariel langsung tahu bahan makanan yang dicicipinya sedangkan Luhan sangat yakin ia tidak pernah melihat Ariel benar-benar menyentuh dapur untuk memasak.

Ariel masih mengunyah dumpling di mulutnya hingga habis. Ia kesal karena Irene datang ke mari dan membuat dirinya terlihat mencolok dengan segala sikap dan perkataannya, ia kesal karena dengan gambling Irene menunjukkan ketertarikannya dan perhatiannya terhadap Luhan, ia kesal karena ternyata Luhan juga memakan masakan Irene dan membuatnya sakit, dan…intinya Ariel benar-benar kesal hingga rasanya ia ingin memuntahkan kembali makannanya tanpa tahu harus menyalahkan apa lagi hari ini agar ia benar-benar ikut memuntahkan kekesalannya.

“Kau tidak secara sengaja memakan makanannya meskipun kau tahu ini terbuat dari ikan, kan?” Ariel pun bersuara –dengan bahasa mandarin—dan mengambil kotak bekal berisi dumpling dari tangan Irene, “Kau tidak sengaja memakannya karena dia yang memasaknya, kan?” ulang Ariel masih tidak menggunakan bahasa korea. Ia tidak ingin Irene mendengar dan memahami yang diucapkannya.

“Ariel…”

“Jangan gunakan bahasa korea dan jawab dengan jujur, kau tidak sengaja memakannya karena Irene yang membuat ini, kan?”

Luhan pun mendengus panjang dan memejamkan matanya, “Menurutmu aku sengaja melakukan bunuh diri dengan menggunakan makanan? Aku masih cukup waras untuk mencelakai diriku dengan…”

“Kau yakin? Kau memiliki alergi di seumur hidupmu dan kau bahkan tidak mencium bau ikan dari makanan ini?” Ariel terus menyodorkan kotak makanan itu dan menyudutkan Luhan. Baiklah, Ariel akui ini sangat kekanakan dan bertengkar dengan orang yang sakit sama sekali bukan sikap yang terpuji, tapi Ariel sangat pusing dan lelah. Kemudian Irene tiba-tiba saja datang –dengan kabar tak menyenangkan—dan semakin merusak mood Ariel hari ini.

Luhan berusaha menahan sakit pada memar di perutnya dan kembali mendengus panjang, “Bisakah kau percaya padaku? Aku tidak tahu, oke? Ada Irene di sini dan kau mengajakku bertengkar hanya karena….”

“Hanya? Hanya kau bilang?” dengan kesal Ariel pun menaruh kotak berisi dumpling itu di pangkuan Luhan dengan kasar, “Aku menangis berjam-jam karena mengkhawatirkanmu, dan karena ini buatan Irene kau bilang ‘hanya’?”

“Maaf menyela, tapi…apa ada yang salah…” Irene sebenarnya tidak bermaksud menyela –tapi ia kurang nyaman dengan pemandangan di hadapannya saat ini : Ariel yang menaikkan oktaf suaranya dan menatap Luhan dengan marah, kemudian mereka menggunakan bahasa yang tidak bisa Irene pahami di sini.

“Ariel…bisakah kau berhenti membawa Irene terus menerus? Ini bukan salahnya, dia tidak tahu apapun…”

“Kalau begitu buat dia tahu dan suruh dia pulang!”

“Ariel…”

“Katakan padanya aku kekasihmu atau apapun itu lalu suruh dia pulang! Aku sangat muak dengannya dan kau bahkan masih membelanya!”

Mata Ariel berair. Luhan benar-benar tidak ingin bertengkar lagi hanya karena Irene –terlebih karena kecelakaan yang tidak disengaja ini—dan ia juga sama sekali tidak tahu cara menenangkan Ariel yang akan berubah tuli terhadapnya di saat emosi seperti ini. Luhan pun berusaha meraih tangan Ariel, “Kumohon dengarkan…”

“Aku tidak mau mendengarkanmu sebelum kau suruh dia pulang!”

“Ariel…kumohon jangan kekanakan dan dengarkan aku dulu!” tanpa sadar Luhan menaikkan suaranya dan membuat air mata Ariel benar-benar jatuh.

“Sayang sekali…kau tidak beruntung memiliki pasangan yang sangat tidak dewasa dan kekanakan,” Ariel pun berbalik dengan cepat dan meninggalkan Luhan bahkan sebelum Luhan berhasil memanggilnya.

 

***

 

“Mana kutahu Irene akan datang ke rumah sakit dan menjengukmu! Lagipula kenapa tidak kau katakan saja pada Irene kalau kau sudah punya pasangan atau semacamnya, hah? Sudah tahu Ariel sangat pecemburu, tapi kau sendiri tidak melakukan apa-apa…” Sehun pun menjauhkan ponselnya dari telinga saat Luhan marah dan menaikkan oktaf suaranya. Mata Sehun terfokus pada papan reklame yang tertempel pada salah satu dinding gedung di depannya, “Kau yakin Ariel ada di tempat renang? Kau sudah meneleponnya?” sekali lagi Sehun menjauhkan ponselnya dari telinganya, Luhan seperti perempuan jika sudah marah-marah seperti itu, “Ya mana kutahu Ariel tidak membawa ponselnya,”

Sehun pun menyeret kakinya ke dalam dengan wajah merengut, benar-benar menyesal telah terlibat dengan masalah rumah tangga Luhan yang sama sekali tidak pernah terdengar wajar bagi Sehun, “Nona, apa tadi ada remaja perempuan yang datang ke mari? Kudengar dia menggunakan kartu anggota VVIP, namanya Ariel Lau…” Sehun pun mendekat ke meja informasi dan bertanya pada perempuan yang berdiri di balik meja tersebut.

“Ya, dia datang ke mari dan masi ada di dalam,” wanita tersebut menjawab dan balas tersenyum ramah pada Sehun.

Sehun pun berterima kasih dan meminta izin masuk. Ia masih belum menutup teleponnya ketika menyusuri lorong dan sampai di dalam rungan dengan dua buah kolam yang menyambut matanya. Entah karena memang tempat ini sedang sepi, atau memang Ariel sengaja menggunakan ruangan ini untuknya sendiri, tapi Sehun benar-benar hanya mendapati Ariel yang tengah meliuk-liuk di dalam air.

“Wah…kukira Ariel sama sekali tidak bisa berolah raga, tapi dia terlihat sangat ahli saat berenang,” Sehun refleks mengangkat teleponnya kembali dan berujar pelan pada Luhan yang entah mendengarnya atau tidak.

“Dia di sana? Bisa bawa dia kemari? Kau tahu, kau yang paling bertanggung jawab…”

“Ya…ya…ya…aku tahu, tapi aku tidak merasa perlu bertanggung jawab atas pertengkaran kalian, oke? Karena kau satu-satunya yang membuat Irene berpikir bahwa kau menyukainya dan kau terlalu bertingkah seperti seorang single dan mmebuatnya salah paham. Tutup teleponnya sekarang dan tidurlah dengan tenang, oke?” Sehun pun menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban. Kemudian ia pun berjalan mendekat ke arah Ariel yang kebetulan tengah duduk di tepi kolam –gadis itu sepertinya belum menyadari keberadaannya.

“Aku baru tahu kau punya kebiasaan pergi berenang untuk mengembalikan moodmu,”

Ariel memutar kepalanya dengan cepat dan menata Sehun dengan terkejut –tapi detik berikutnya Ariel mendengus panjang dan memalingkan wajahnya, sepertinya Ariel tahu Luhan lah yang membuat Sehun berada di sana.

“Kau tidak mau kembali sekarang? Luhan sedang menunggumu,dia sedang sakit dan pasti sangat membutuhkanmu,” Sehun pun berjongkok di samping Ariel dan memerhatikan kaki gadis itu yang masih bergerak di dalam air.

“Kita pulang, oke? Apapun masalahmu dengan Luhan, kau harus membicarakannya agar selesai,”

“Oppa pulanglah, aku akan kembali ke sana sendiri nanti,” Ariel pun bangun dan berjalan meninggalkan Sehun yang masih berjongkok di tepi kolam.

Sehun pun bangun dan menarik tubuh Ariel agar menghadap ke arahnya, “Pulang sekarang, oke? Kau bukan satu-satunya yang kesulitan dalam masalah kalian. Aku tidak tahu bagaimana cara Luhan agar kalian bisa berbaikan, tapi Luhan sedang sakit dan dia sangat membutuhkanmu, dia tidak bisa menjemputmu dan menyelesaikan masalah kalian. Jadi, kita pulang, oke?”

Melihat Ariel yang terus menundukkan kepalanya, Sehun pun mengusap kepala Ariel beberapa kali sebelum kembali berkata, “Aku menunggumu di sini, oke?” well –Sehun mendadak merindukan kekasihnya yang sudah enam bulan ini belum pernah bertemu langsung dengannya lagi. Meskipun bertengkar itu menjengkelkan, percayalah, kadang kau akan merindukan masa-masa seperti itu untuk beberapa alasan.

 

***

 

Luhan kembali melirik jam dinding di kamar inapnya –mengabaikan suara bising dari teman-temannya yang silih berganti mengunjunginya. Setelah Irene pulang, teman-teman kuliah Luhan datang –kecuali Sehun yang ia paksa untuk mencari Ariel dan membawanya kembali—kemudian, setelah teman-teman kuliah Luhan pulang, giliran teman-teman lama Luhan yang datang mengunjunginya : Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun. Dan mereka bertiga masih di sini sambil memperbutkan buah-buahan yang dibawa Irene tadi.

“Makanlah! Percayakan Ariel pada Sehun, oke? kau belum makan sejak tadi,” Baekhyun pun berinisiatif untuk membujuk Luhan agar memakan makannnya. Menu makanan telah datang sejak setengah jam lalu tapi Luhan terus memandang ke arah jendela setelah bertengkar dengan Sehun di telepon. Bahkan pemuda itu sepertinya melupakan tangannya yang diperban dan terluka.

“Aku tidak lapar,” Luhan mengerutkan dahinya dan menjauhkan kepalanya dari sendok yang disodorkan Baekhyun.

“Yak…kau tidak bertingkah menyebalkan seperti ini terhadap Ariel, kan? Ariel masih terlalu kecil untuk menghadapi lelaki menyebalkan sepertimu,” Baekhyun langsung menutup mulutnya saat Luhan balas memelototinya.

“Bagaimana pun harusnya kau tidak membuat perempuan bernama Irene itu terus berada di sekitarmu, wajar saja jika Ariel marah dan meninggalkanmu seperti sekarang. Jika aku yang mengalami hal semacam itu, mungkin Soojung akan bersyukur di depan wajahku dan bukannya mau merawatku,” Jongin pun ikut berkomentar terhadap masalah Luhan, “Lagipula kenapa kau tidak katakan saja pada semua orang bahwa kau punya kekasih agar perempuan di luaran sana tidak berpikir kau itu pria singgel?”

Luhan pun mendengus panjang. Ia sudah sering mendengar pertanyaan seperti itu –tapi entah mengapa Luhan merasa semua itu tidak perlu ia lakukan. Toh ia juga tidak pernah secara sengaja menunjukkan bahwa ia pria single yang sangat bebas, ia juga tidak pernah terlalu menunjukkan sikap simpati pada perempuan manapun –meskipun…baiklah, ia memang pernah begitu perhatian pada Irene, tapi ia bahkan tidak pernah menunjukkan secara gamblang bahwa ia tertarik atau apapun pada gadis itu, kan?

“Dan lagi bayangkanbagaimana jika Ariel dekat dengan laki-laki lain dan mengatakan kepada semua orang bahwa dia gadis single, kemudian hanya mengakuimu sebagai saudaranya dan tetap dekat dengan pria lain? Kupikir kau juga tidak akan suka jika keadaannya seperti itu,” Chanyeol pun ikut menyahut.

“Benar juga. Dia seperti ini karena dia juga mencintaimu. Kadang perempuan perlu melihat langsung aksi pria yang dicintainya agar dia percaya bahwa pria tersebut tulus terhadapnya,” ucap Baekhyun yang disusul tawa kecilnya, “Heol…mudah sekali untuk menasihati orang lain, tapi aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa melakukannya atau tidak,”

Chanyeol pun ikut tertawa, “Kau dan Taeyeon Nuna memang terlalu…so so…”

Baekhyun pun melempar biji jeruk ke arah Chanyeol dan mereka pun tertawa bersama –sebelum pintu kamar inap Luhan terbuka dan menampakkan batang hidung Sehun, kemudian disusul Ariel yang masuk setelah Sehun dan tersenyum canggung pada semua orang –kecuali Luhan.

“Waktu bermain-main sudah habis, ayo pulang!” ucap Sehun kemudian.

 

***

 

Sepeninggal teman-teman Luhan, Ariel langsung masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Ia juga menyalakan TV dengan volume kecil dan menonton acara musik malam itu dengan satu mug coklat panas yang disediakan di sana. Ariel sebenarnya ingin melihat dan bertanya tentang keadaan Luhan, tapi melihat Luhan yang tidur menyamping ke arah jendela, justru membuatnya urung dan lebih memilih untuk diam saja. Ariel tahu apa yang ia lakukan saat ini memang kekanakan, tapi…toh Luhan juga tidak mengatakan apa-apa, jadi Ariel pikir ia lebih baik diam saja.

Tapi, setelah seengah jam ia menonton acara musik ditemani dengan suara gemuruh hujan di luar dan juga remangnya ruangan itu, Ariel pun akhirnya mengalah pada rasa gengsingnya dan menoleh ke arah Luhan yang ternyata belum mengubah posisi tidurnya. Aneh. Luhan benar-benar tidur, kan?

Ariel pun berjalan mendekat dan mengintip Luhan yang masih tidak bergerak itu –kemudian tanpa sengaja Ariel mendapati makan malam Luhan yang ternyata belum disentuh sama sekali. Ia pun mendnegus panjang dan kali ini mengecek laci nakas, dan ternyata benar saja apa yang dipikirkannya, Luhan juga tidak meminum obatnya.

“Luhan? Kau benar-benar tidur?” Ariel berisik dan mencoba menyentuh kening Luhan. Tidak demam. Tapi Luhan sempat terbatuk beberapa kali sebelum tubuhnya menggeliat pelan dan berubah lurus.

“Kau bangun? Badanmu sakit?” tanya Ariel sekali lagi. Ia pun duduk di tepi ranjang dan mengusap kening Luhan yang agak berkeringat.

Luhan pun membuka matanya perlahan –dan hati kecilnya diguyuri rasa tenang ketika benar-benar mendapati Ariel berada di hadapannya. Ia benar-benar bingung ketika Ariel sampai tadi dan langsung pergi ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun, ia bahkan tidak balik menatap Luhan.

“Kau sudah tidak marah padaku?” ucap Luhan tanpa mengacuhkan satupun pertanyaan Ariel.

“Kau masih membicarakan hal seperti itu setelah melewatkan makan malammu dan tidak meminum obatmu? Kau sedang sakit, kau selalu memarahiku jika aku melewatkan jam makan obat, tapi kau sendiri tidak meminum obatmu,” Ariel pun menaikkan ranjang Luhan. Kemudian ia mengambil obat dan air putih untuk diberikan pada Luhan.

“Bagaimana aku beselera makan jika kau malah tidak ada di sini dan meninggalkan ponselmu. Aku bahkan melihatmu menangis sebelum pergi, kau pikir aku bisa makan di saat melihatmu seperti itu,” balas Luhan sebelum meminum obatnya dengan wajar merengut.

“Ini, kau harus menghabiskannya dan jangan protes karena makanannya sudah dingin.” Kali ini Ariel menyodorkan meja kecil berisi makanan ke arah Luhan.

Tapi, Luhan malah mendengus dan merengut ke arah Ariel, “Kau tidak akan menyuapiku? Kau tadi memaksaku untuk disuapi, dan sekarang kau menyuruhku makan sendiri, tidak konsisten sekali…”

Ariel melotot tidak percaya ke arah Luhan. Sejak kapan anak lelaki yang selalu ingin terlihat sempurna di mata orang lain ini merengek ingin disuapi? Bahkan tadi pagi Luhan mengeluh ia bisa makan sendiri dan tidak mau disuapi.

“Kenapa diam? Kau masih marah padaku? Tidak mau menyuapiku? Aku sedang sakit, tega sekali…”

Ariel mendelik mendengar ucapan Luhan dan mengambil mangkuk berisi sup yang benar-benar sudah dingin itu dan mulai menyuapi Luhan, “Besok kau harus pulang, sekolah, dan menyiapkan makanan untukku. Kau kan sudah bisa masak…” kata Luhan sebelum menerima suapan dari Ariel.

“Aku ingin kau membuatkanku ayam goreng yang enak. Kau juga harus membuatkanku kimbap yang lezat, aku sedang ingin makan kimbap…”

“Ah, kalau kau bisa buat sup, kau harus membuatkanku sup pedas juga, ya? Makanan rumah sakit itu tidak enak,”

“Dan…”

“Astaga Luhan, kau sedang makan dan kau akan terus bicara? Habiskan makananmu, oke? aku akan membuatkanmu makanan tapi sekarang diam dan habiskan ini, bisa kan?” marah Ariel ketika Luhan sudah membuka mulutnya lagi untuk bicara. Ariel pikir ini pasti karena efek obat hingga Luhan banyak bicara –terlalu banyak bicara.

“Aku kan hanya mengungkapkan apa yang aku inginkan, aku sedang sakit, jadi…”

“Jadi kau banyak bicara dan punya banyak keinginan aneh. Kau terlalu banyak bicara tahu!” potong Ariel yang membuat Luhan cemberut.

“Kau masih marah padaku?” tanya Luhan yang tidak mendapat jawaban dari Ariel. Luhan pun menjauhkan wajahnya ketika Ariel kembali menyodorkan sup dingin itu ke arahnya, “Kau benar-benar masih marah padaku?”

Ariel pun mendengus panjang mendengarsemua racauan aneh Luhan, “Aku akan marah jika kau tidak menghabiskan makananmu, jadi habiskan sekarang dan berhenti banyak bicara,”

Kali ini Luhan mengambil sendok yang di arahkan padanya dan memasukkannya sendiri ke dalam mulut, “Kau masih marah,” gumamnya pelan sembari mengunyah makanannya, “Aku makan sendiri saja,” Luhan pun mencoba mengambil mangkuk di tangan Ariel –tapi Ariel langsung menjauhkan mangkuknya dan menatap Luhan lama.

“Kenapa? Percuma saja kan kau menyuapiku tapi kau sendiri malah marah padaku. Sana, tidur saja. Aku bisa makan sendiri, kok…” tangan Luhan mencoba mengambil kembali mangkuk di tangan Ariel, tapi Ariel kembali menjauhkan mangkuknya tanpa mengalihkan tatapannya dari Luhan.

“Aku sudah kenyang!” Luhan pun menaruh sendoknya dengan kasar ke atas mangkuk dan langsung memunggungi Ariel yang masih menatap tak percaya ke arah Luhan.

Selama ini, meskipun Luhan sakit tapi Ariel tidak pernah sekalipun mendapati Luhan bersikap kekanakan seperti sekarang. Dan…lihat, bahkan Luhan memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.

“Ini, minumlah!”

Tanpa melihat ke arah Ariel, Luhan pun mengambil gelas di tangan Ariel dan meminumnya cepat sebelum mengembalikan kembali gelas tersebut dan kembali memunggungi Ariel dengan wajah cemberut. Ariel pun tersenyum kecil dan menaruh peralatan bekas makan Luhan di atas nakas.

“Telentang!” perintah Ariel dengan sebuah salep di tangannya. Ariel ingat, dari resep yang dibacanya, ada salep yang harus dioleskan pada luka memar di tubuh Luhan. Luhan yang masih bertingkah kekanakan hanya melirik Ariel dari ujung ekor matanya tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun.

“Luhan…” panggil Ariel lagi yang sama sekali tak diindahkah Luhan.

“Jadi, jika Irene yang memanggilmu baru kau akan menyahut dan bersikap baik padanya?”

Mendengar nama ‘Irene’ disebut, Luhan langsung telentang dan menatap marah Ariel, “Sudah kubilang itu hanya salah paham!” Luhan pun memejamkan matanya dan mendengus kasar, “Dengar! Aku kemarin memang memakan dumpling buatan Irene karena Irene tiba-tiba datang ke lapang dan membawa makanan untuk kami. Aku tidak mau berbagi makanan buatanmu sedangkan aku belum pernah mencicipinya sekalipun, akhirnya aku memakan dua dumpling buatan Irene untuk menghargainya sebelum aku memakan masakanmu di mobil,” Luhan pun mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, “Sungguh aku hanya makan dua dan aku sama sekali tidak tahu terbuat dari apa dumpling itu! Aku juga tidak tahu Irene akan datang ke mari dan aku tidak mungkin menyuruhnya pulang, kau tahu…” Luhan pun mendengus panjang sebelum bangun dan terduduk, “Aku sudah lelah mengatakan ini padamu, tapia ku tidak mungkin mengatakan padanya…”

“Iya, aku tahu. Sekarang berbaring lagi, aku belum selesai memberimu salep di pinggangmu,”

Mendengar ucapan Ariel, Luhan justru merasa kesal, “Kau tidak mendengarkanku, kan? Aku serius Ariel, aku…”

“Aku tahu, kau merasa bersalah. Tapi aku sudah tidak apa-apa, dan sekarang berhenti meracau yang tidak-tidak, oke?” Ariel pun melanjutkan memberi salep untuk Luhan, dan kali ini di kaki.

Selama beberapa saat, Luhan hanya menunduk dan merasa ucapan Ariel baru saja memukul dadanya dengan keras. Benar. Seharian ini ia merasa tidak tenang dan merasa sangat bersalah pada Ariel. Ia takut Ariel akan marah padanya dan tidak akan datang lagi ke mari. Luhan benar-benar takut Ariel akan meninggalkannya dan…yeah, Luhan tidak tahu apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini. Ia ingin mengejar Ariel, memeluknya, menjelaskan semuanya dan meminta maaf. Tapi bahkan Luhan tidak bisa menahan tangan Ariel ketika gadis itu berbalik pergi, ia benar-benar merasa tidak berdaya dan itu membuatnya semakin merasa sakit. Ia juga benar-benar merasa tidak senang ketika mendapati fakta bahwa Sehun lah yang membawanya ke mari, dan bukannya Luhan yang berlari dan mencarinya.

”Maaf…aku tahu ini pasti terdengar brengsek karena aku selalu seperti ini, tapi aku benar-benar minta maaf.”

Ariel pun selesai memberi salep pada kaki Luhan dan tersenyum kecil, kemudian ia pun membantu Luhan berbaring kembali, “Maafkan aku juga, aku…memang kekanakan,”

“Berbaring di sini, tidur berasamaku!” Luhan pun menarik Ariel agar berbaring di sebelahnya. Lalu ia menarik Ariel mendekat pada tuuhnya dan memeluk Ariel erat, “Kau harus membuang pikiranmu tentang aku yang tidak beruntung memilikimu. Kau tahu apa yang kupikirkan tiap kali membayangkan kau meninggalkanku? Aku pasti tidak memiliki apa-apa. Seperti sekarang, aku hanya memilikimu…”

Ariel pun balas memeluk tubuh Luhan dan menyembunyikan bulir air matanya yang kembali jatuh. Yeah…ia cukup tersentuh dengan apa yang dikatakan Luhan. Meskipun ia ingin menyangkalnya, tapi ia masih merasakan sisa-sisa rasa kesalnya karena masalah hari ini. Ia benar-benar merasa kecil tiap kali menyadari keberadaan perempuan lain di sekitar Luhan.

“Dan jangan pernah meninggalkanku seperti tadi lagi, kau tahu betapa takutnya aku tadi? Aku bahkan tidak bisa mengejarmu…”

“Kau tidak perlu mengejarku, kok…” balas Ariel dengan suara serak, “Karena aku pasti akan kembali padamu sejauh apapun aku pergi. Karena mereka bilang, cinta akan selalu pulang dan tahu ke mana arah rumah yang bisa dijadikannya untuk bernaung…”

Luhan pun terkekeh pelan dan menarik wajah Ariel dan menyatukan bibir mereka lama. Yeah, di saat seperti ini, Luhan pasti akan melupakan segala masalah yang mereka hadapi : seolah keluhan tentang pernikahan muda yang ia cap tidak cocok untuk mereka adalah sebuah omong kosong. Karena dis aat seperti ini ia malah bersyukur, karena ia tahu ia telah mengikat Ariel meskipun untuk saat ini, ia merasa ia tak pernah benar-benar berjuang untuk itu.

 

=t b c=

20170105 PM0919

Iklan

37 thoughts on “Way of Two Rings (chapter 24b)

  1. Gomawo Eonni, aah akhirnya di Update..
    Beberapa hari kemaren eh udh berapa minggu sering bula blog ini,, dan akhirnyaaaa.

    3 cast fav
    . Luhan
    . Ariel
    . Henry
    😄😄😍😍😍😍

    Disukai oleh 1 orang

  2. Arrrrghg sweeet bangeeeeeet!!!suka banget ma luhan disiniiii!!
    Tapi masih mau liat luhan ditinggal ariel sih wkwkwk,biar ngerasain yg namanya kehilangan wkwk,pengen liat klo ditinggal ariel luhan gmn yaa?? Hihihi

    Disukai oleh 1 orang

  3. Ahirnyaa posting yeyeee
    Gemes dehh sama irene 😑 ga peka banget yaa. Luhannya ya gituu. Apa susahnya bilang kalau ariel kekasihnya biar ga dikira single 😂 (ahahaa jadi sewot sendiri pas baca)
    Tpi sukaa, bnyak kemajuannya ya ariel. Telaten ngerawat suami *ciiee
    Ditunggu next chapter, kurang 2 chapter kn katanya kmren yaa? Penasaran endingnya. Ariel kuliah dmna yaa,😅😅

    Disukai oleh 1 orang

  4. Aaaaa ariel bikin gemeeeeees seriuuuuuuus
    Pertamanya sempet gamau baca gegara takut knapa2 waktu ariel marah sampai ngelempar uang di rumah sakit, hahahahah lebay ya? Iiih kapan ariel cerita ke luhaaan? Kan penasaraaaaaan akhirnya dia bakal kuliah dmnnnn

    Disukai oleh 1 orang

  5. Manis, manis sangat sampe ngilu gigi, mungkin kakaknya terlalu ngebut ngtiknya atau kenapa jdi banyak typonya dan ada beberapa kalimat yg kurang lengkap, ngerti aja mungkin faktor terlalu lama gak update trus jadwal padat kepentok sama deadline, aku juga kek gitu kalo udh mepet banget, gak pake revisian lagi yg penting selesai. Duh ini berapa chapter lagi buat finalnya? Kenapa baru merasa sweetnya pas udh mau end sih? Ariel yg namanya holkay banting uang ya biasa, kalo aku jadi tuh om-om udh dipungutin lumayan buat nonton konser😂. Good job kak~ dan aku gak tau harus ngomong apalagi kalo udh mau final pokoknya keren bgt, semoga aja next chap nya banyak adegan romancenya dan irine-ku gak terbully lagi. See you next chap kak, fighting!

    Disukai oleh 1 orang

  6. ahhh selalu so sweat mreka brdua ya meskipun keduanya suka memilikih sifat yang kekanakan si, kenapa gak luhan kasih tau aja ke irene kalau dia udh pnya kekasih sih kasian jga ariel nya di gituin. dan yng paling hebat dari ariel dia akan selalu tetap sayang luhan sampai jadi orang gila dirumah sakit karena luhan hahaha . penasaran apa reaksi luhan kalo tau ariel juga ngaku single si luhan aja bisa pasti bakal lucu nih, liat luhan kayak anak kecil seperti aja lucu apa lagi kalo cemburu haha gumawo thor ceritanya makin bagus

    Disukai oleh 1 orang

  7. Akhirnya di update juga..

    uhhh sweet nya luhan, 2 chap lagi end ya eon?? aaa gak rela!! ini ff favorite banget.
    ntar bikin squel ya eon… jebal.. 🙏🙏

    Disukai oleh 1 orang

  8. Huuaaaaaa
    Suka banget tau gak sih sama ff ini
    Suka banget sama pasangan ini
    Lovelove ariel luhan
    Pokonya ditunggu ya chap selanjutnyaaa secepatnya hihi
    Fighting!!

    Disukai oleh 1 orang

  9. Lgi lgi pertengkaran berpunca gara gara Irene… Irene pun kapan nyadarnya ya….
    Kayaknya bagus klo ariel kuliah ke luar negeri biar luhan tahun gimana rasnaya ditinggalkan, pas ariel pulang tadaaaaaa ariel jadi gadis yg dewasa…. Mog aariel diterima di FAMU…

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s