Days Like Today (2A)

images-4

Title     : Days Like Today

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Author : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

#1/2 Days Like Today

 

***

“Luhan? Apa yang kau lalukan disini? Dan kenapa kau ada di meja pesanan…astaga! Apa kau diminta Nyonya Wang untuk datang ke acara kencan buta ini?” Luhan sangat ingat bagaimana pertemuan pertama mereka kembali setelah satu tahun Ariel dan Luhan berpisah. Yeah, sebenarnya kedengaran tidak cocok disebut sebuah perpisahan, Ariel dan Luhan tidak dekat dan hanya mengenal satu sama lain larena mereka sama-sama kuliah di jurusan Ilmu Ekonomi -sebelum akhirnya Ariel memutuskan pindah ke kampus lain dengan jurusan pariwisata.

“Mm. Dia bibiku dan…dia memintaku untuk datang ke mari menemui seseorang,” Luhan pun menurunkan gelas di tangannya dan sedikit menarik sudut bibirnya, “Jadi…kau diminta bibiku untuk datang ke sini juga?” bohong. Luhan tahu ia sedang berbohong. Ariel baru saja putus dari kekasihnya, dan Luhan juga sedang memiliki masalah dengan kekasihnya hingga sang bibi mengambil peran malaikat dan berniat menyatukan mereka. Luhan tahu semua cerita tentang Ariel, dan Luhan yakin Ariel tidak tahu apapun melihat dari keterkejutannya saat itu.

Ariel panik. Luhan sangat ingat bagaimana ia terpana dengan setiap reaksi natural yang keluar dari diri Ariel. Ariel sangat pendiam ketika mereka kuliah bersama. Jadi, melihatnya bisa tertawa saja sudah membuat Luhan takjub. Luhan juga tahu gadis itu tertarik padanya -dia pernah memergoki Ariel memerhatikannya dan mengambil fotonya. Tingkah yang cukup aneh untuk seseorang yang memiliki kekasih, kan?

Ariel memiliki kekasih, meskipun tak satupun di angkatan mereka tahu siapa kekasih Ariel si juara satu Ilmu Ekonomi angkatan mereka. Luhan juga memiliki kekasih dan ia selalu memamerkan foto kemesraan mereka berdua. Alasan sederhana mengapa ia tidak terlalu ramah pada Ariel karena saat itu Luhan tahu, ia memiliki ketertarikan pada Ariel. Luhan tidak ingin menyelingkuhi kekasihnya meski hanya dengan ketertarikan tersirat. Jadi, sebelum perasaannya semakin membesar, Luhan memutuskan untuk menjaga jarak dari gadis itu.

Tapi tidak ada yang tahu masa depan itu seperti apa kan? Luhan tidak tahu ia dan kekasihnya yang bahkan selalu dipuji semua orang karena kelanggengan harus memiliki masalah di tengah jalan hubungan mereka. Luhan juga tidak tahu bahwa kelak, ia akan menyetujui sebuah kencan buta yang disiapkan bibinya dengan seorang bawahan kesayangannya yang menjadi seorang guide di perusahaan tour milik sang bibi. Dan…ia tidak tahu, keisengannya untuk melakukan kencan buta dengan Ariel -yang sedikit dibumbui niat jahat untuk memanfaatkan kemampuan bisnis Ariel dan kemampuan menjadi guidenya untuk dijadikan partner bisnisnya. Selain itu, Ariel berasal dari kalangan keluarga berada dan Luhan pikir itu akan cukup menguntungkan.

Ya. Hanya sebatas niat kecil karena…yeah, ia pun perlu susah payah meyakinkan Ariel mengenai kencan buta mereka. Ia tidak pernah menyangka setelah pertemuan kedelapan mereka, Luhan justru mengajak Ariel berpacaran sungguhan -karena ia sakit hati melihat kekasihnya yang tidak jelas statusnya dengan Luhan justru menggaet pria lain di acara wisudanya. Luhan juga tidak menyangka ia akan jatuh hati pada Ariel yang memeluknya saat ia terpuruk, dimana akhirnya ia memutuskan untuk menikahi Ariel yang terlaksana lima bulan setelah lamaran mendadaknya yang tanpa persiapan apapun.

Luhan belum menjadi pria yang baik untuk Ariel, dan ia merasa sangat tolol karena menyadari keburukannya setelah Ariel melepas kenangan mereka di ingatannya. Ia merasa Ariel sangat jahat, tapi setelah diingat kembali, justru Luhan lah yang jahat terhadap Ariel.

“Nyonya Ariel Lau?”

Luhan mendongak dan langsung berjalan cepat ke arah perawat yang memanggilnya. Luhan segera mencabut segala lamunannya dan fokus pada ucapan wanita itu mengenai obat yang harus diminum Ariel. Luhan benar-benar belum pernah seperti ini : melupakan segala pekerjaannya dan terfokus pada Ariel. Luhan sudah bilang, kan? Ia bukan pria yang baik.

Setelah selesai, Luhan segera bergegas menuju kamar inap Ariel. Orang tua Ariel tidak tinggal di Korea dan musim dingin kali ini membuat penerbangan di negara mereka harus ditunda karena buruknya cuaca. Orang tuanya juga sudah kembali ke Cina dan hanya menitipkan Ariel padanya berulang kali, seolah Ariel lah anak mereka.

Ariel memang sangat dicintai keluarganya, entah karena apa. Padahal Ariel sendiri bukan tipikal orang yang terbuka. Tapi wanita itu seolah berhasil mencuri perhatian orang-orang terpenting Luhan. Membuat semua ini terkesan bahwa mereka benar-benar berjodoh.

“Bibi?” Panggil Luhan agak kaget mendapati sang bibi sudah berada di kamar Ariel. Warna muka Bibi Wang sama sekali tidak terlihat baik, ia pasti terkejut karena Ariel mungkin melupakannya.

“Kau darimana saja? Kenapa meninggalkan Ariel begitu lama?” Dan dia masih Bibi Wang yang cerewet dan suka mengatur.

Luhan tersenyum dan melirik Ariel yang terlihat tidak nyaman sama sekali di ranjangnya. Luhan tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan sebelum Luhan datang, satu-satunya yang Luhan harapkan semoga hal itu bukan sesuatu yang membuat Ariel tertekan.

“Aku menebus obat dari apotek,” sahut Luhan sambil berjalan ke arah laci nakas putih di samping ranjang Ariel, “Bibi kapan datang? Kenapa tidak mengabari dulu?” Luhan berusaha bertingkah biasa saja -mencoba menutupi kecanggungan Ariel dan menutupi kesedihannya.

“Aku baru saja sampai dan…” ucapan Bibi Wang menggantung, ia hanya menghela napasnya dan menatap Arie prihatin, “Kenapa kau tidak mencoba untuk mengembalikan ingatan Ariel sedikit-sedikit? Setidaknya kau harus menceritakan bagaimana kalian bisa bertemu dan…”

“Tidak apa-apa,” potong Luhan dengan nada santai, berbeda dengan dadanya yang tersendat. Ia paham kemana ucapan sang bibi, “Aku hanya ingin fokus pada kesembuhan fisik Ariel dulu, ingatannya bisa kembali pelan-pelan. Yang penting dia baik-baik saja,” Luhan berusaha menghibur. Entah menghibur siapa, ia hanya tidak ingin membuat suasana menjadi haru.

Luhan pun duduk di samping Ariel dan mencoba mengikat rambut wanita itu. Ariel yang terkejut dengan perlakuan Luhan, sempat menolak dan menatapnya tajam sambil menggeleng. Tapi Luhan tidak peduli, ia hanya tersenyum dan melanjutkan perlakuannya, “Tidak apa-apa. Aku sering melakukan ini untukmu. Tangan kirimu dibebat, kau tidak bisa melakukannya sendiri.” Luhan mencoba untuk kembali membujuk Ariel. dan kali ini, wanita itu tidak memberi penolakan.

“Jadi, bagaimana bisa kau mengalami kecelakaan mengerikan itu, hmm? Bagaimana kau bisa memutuskan untuk menyetir mobil sendiri?” Bibi Wang terus menanyakan pertanyaan yang sama pada Ariel.

Ariel hanya mengernyit dan menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak tahu kenapa ia harus menyetir sendiri, kenapa ia bisa mengalami kecelakaan, dan ia bahkan tidak tahu ia pernah bisa menyetir karena seingatnya, ia bahkan tidak diizinkan untuk memiliki SIM.

“A-aku…”

“Bibi, sudah kukatakan biarkan Ariel mengingat semuanya perlahan. Tidak apa-apa dia tidak mengingatnya sekarang, yang terpenting dia baik-baik saja,” Luhan mencoba menyanggah bibinya sekali lagi. Ia dapat merasakan tubuh Ariel yang menegang, dan ia pun menyentuh pundak Ariel -berharap wanita itu akan merasa lebih rileks.

“Aku mau kita bicara berdua saja,” Bibi Wang pun menyeret kakinya menuju pintu ke luar.

Ariel sebenarnya ingin menangis. Ia baru kehilangan ingatannya selama tiga tahun, tapi ia merasa seperti kehilangan seluruh memorinya. Ia seperti mendapat dosa tiap kali seseorang bertanya, dan ia bahkan tidak mengingat orang-orang yang menjenguknya belakangan. Bahkan ia tidak begitu nyaman dengan seseorang yang menjaganya saat ini. Ia merasa orang asing yang berada di tengah-tengah orang asing.

Kenapa aku harus kehilangan memoriku? Ariel tidak menyuarakan isi pikirannya, Ariel juga sudah berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Tapi tetap saja, matanya basah dan…

“Hei, jangan terlalu dipikirkan. Tidak apa-apa, oke?” Kali ini Luhan mencoba untuk memeluk Ariel. Perempuan itu tidak memberikan penolakan dan membiarkan Luhan semakin erat memeluknya.

Dan, untuk pertama kalinya Ariel akhirnya bisa merasakan sebuah ketenangan setelah ia tersadar dan dinyatakan kehilangan ingatannya. Luhan yang selama ini ia anggap sebagai orang lain yang sangat asing, tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang berhasil menyuntikkan sebuah kehangatan. Membuat Ariel akhirnya bisa merasakan bahwa…ia memiliki sebuah sandaran.

 

***

 

“Aku mendengar tentang gosipmu dengan mantan kekasihmu,” Bibi Wang pun mendongan dan menatap mata Luhan serius, “Dan gosip itu semakin parah karena kecelakaan yang menimpa Ariel. Kau tidak berselingkuh dengan mantan kekasihmu itu, kan?” Tanya Bibi Wang to the point.

Luhan terdiam selama beberapa saat, membiarkan musik klasik yang diputar secara konstan di kafe yang mereka datangi -dan tidak terlalu Luhan hapal, menyelingi kesunyian di kepalanya. Luhan bukan tidak tahu mengenai gosip sialan itu ternyata telah berhembus cepat, hingga bibinya yang tinggal di Busan perlu mendengarnya. Luhan juga tidak tahu separah apa dan seperti apa gosip yang menyeret namanya sejauh ini, tapi Luhan tidak sebodoh itu untuk berkata bahwa ia tidak tahu istrinya tahu mengenai gosip itu.

“Ariel…sebelum dia mengalami kecelakaan, apakah ia tahu tentang…”

“Dia tahu. Dan…kami memang sempat bertengkar karena…”

“Lee So Kyung kembali. Lee So Kyung yang mencampakkan Luhan kembali dan Luhan yang telah menikah, kembali terperosok pada perasaan lamanya,” Luhan dapat melihat tangan Bibi Wang mengepal kuat pada gelas yang dipegangnya, “Dan semua orang berspekulasi buruk mengenai kondisi Ariel.”

Luhan pun menegakkan pundaknya berusaha menguatkan dirinya sendiri. Ini bukan masalah besar. Seharusnya ini hanya masalah kecil dan tak perlu membuat siapapun terluka ataupun tersakiti. Tapi cara orang lain membicarakannya membuat semua masalah ini semakin membesar dan…

“Kami tidak pernah menjalin hubungan apapun lagi. Aku dan dia hanya menyelesaikan urusan kami yang belum selesai dan…beberapa orang salah paham mengenai hubungan kami saat ini,” Luhan mencoba setenang mungkin menjelaskan semuanya pada Bibi Wang, “Dan aku mohon pada Bibi, mulai saat ini berhentilah mencampuri urusanku, juga urusan kami -aku dan Ariel. Aku tidak mau Bibi mencampuri urusanku sama seperti Bibi mencampuri urusanku dengan Sokyung.”

 

***

 

Ariel kembali membalikkan badannya, kali ini ke arah kanan. Ia memperhatikan detail bangunan yang ikut menjulang tinggi seperti bangunan rumah sakit yang ditempatinya. Sepertinya Seoul tidak berubah banyak, atau mungkin ingatan Ariel mengenai Seoul masih tetap sama.

Terdengar tidak adil ya? Mana mungkin ia mengingat tentang Seoul tapi ia malah melepaskan memori mengenai orang-orang di sekitarnya selama tiga tahun terakhir. ditambah lagi ia malah melupakan tentang pernikahannya dan…Ariel pikir Ariel akan gila dalam waktu dekat.

  1. Ariel mungkin akan gila jika memorinya tidak kembali. Ariel juga mungkin akan gila karena ia masih sering merasakan sakit di kepalanya. Dan ia akan semakin gila karena banyak orang yang menekannya untuk mengembalikan ingatannya.

Ariel pun menarik kakinya dan menekuknya, memeluk kedua lututnya, mencoba meredam semua kesedihannya sendirian dan…yeah, ia berharap semua ini hanya mimpi buruk dan ia dapat terbangun dengan segera.

Tapi, tiba-tiba saja ponsel putih yang diletakkan di atas nakas tiba-tiba saja berdenting sekali. Ariel menoleh dengan gerakan lambat ke arah ponsel itu -ponsel asing yang terasa familiar. Ariel tidak ingat ponsel seperti apa yang ia miliki terakhir kali, tapi…. Ariel tiba-tiba saja menegakkan punggungnya. Tiba-tiba saja Ariel merasa ada aliran air melewati kepalanya -membuat kepalanya yang panas itu terasa dingin.

Ariel tipe orang yang akan menggunakan ponselnya sebagai benda serba guna : mendengarkan musik, menyimpan catatan, menyimpan tanggal penting, dan Ariel juga tipe orang yang akan mengabadikan momen penting dalam bentuk foto. Meskipun ia sendiri tidak yakin itu ponsel milik siapa, tapu akhirnya tangan Ariel tetap terulur ke arah ponsel itu dan mengambilnya.

Password. Ariel menggigit bibir bawahnya. Ia tidak yakin siapa pemilik ponsel ini, tapi sekali Ariel pernah mengintip ponsel Luhan -dan ponsel Luhan menggunakan kunci pola untuk ponselnya. Yeah, meskipun tiga tahun telah berlalu, tapi sepertinya eksistensi ponsel pintar masih berada di puncak -terlebih bentuk ponsel yang dipegangnya saat ini lebih minimalis dan…yeah, sepertinya Ariel cukup mampu untuk membeli ponsel yang lebih bagus -seperti di tangannya, itu pun jika ini benar ponsel miliknya.

Ariel mengetukkan jari telunjuknya ke arah layar ponsel, dulu selama memiliki smartphone, ia hanya menggunakan satu password untuk ponselnya : tanggal lahir artis favoritnya. Ekhm, ini memang kekanakan, tapi…tidak ada salahnya, kan? Orang lain juga tidak akan mengetahuinya dengan mudah.

Jadilah akhirnya Ariel menyentuh 4 digit angka yang dulunya dijadikan sebagai password pin untuk ponselnya. Dan setelah menyentuh ikon centang…tada! Ponselnya benar-benar terbuka. Dan mata Ariel sedikit membelalak ketika ia melihat foto dirinya tengah berciuman dengan…Luhan.

Astaga. Astaga. Astaga. Ariel langsung menutup layar ponselnya, bahkan hampir menjatuhkannya saking terkejut melihat…err…baiklah, Ariel dan Luhan memang sudah menikah, dan mungkin mereka adalah pasangan harmonis. Tapi Ariel tidak semesum itu kan sampai-sampai harus menjadikan foto mereka berdua dengan pose seperti itu sebagai wallpaper ponselnya?

Dengan ragu, Ariel pun kembali membuka dan memperhatikan layar ponselnya -sepertinya Ariel dan Luhan memang menikah berlandaskan cinta. Yeah, mungkin bagi Ariel yang tengah berada dalam kondisi seperti ini, jatuh cinta pada Luhan…ah, tidak! Luhan jatuh cinta terhadapnya adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin. Jika Ariel boleh membandingkan dirinya dengan Luhan, mereka berada di kelas yang berbeda, maka seharusnya ada momen luar biasa yang membuat Ariel dan Luhan sampai bisa menikah.

Ariel pun mendesah panjang. Yeah…lagipula kenapa harus ada kecelakaan dan membuatnya melupakan sebagian kenangan yang ia miliki? Bahkan, di dalam galeri ponsel putih itu semuanya berisi foto-foto mereka berdua dan foto-foto Luhan -bisa Ariel bayangkan betapa ia mencintai pria yang menjadi suaminya saat ini.

Tapi…

Ariel tiba-tiba saja merinding geli membayangkan hubungan mereka. Ia benar-benar tidak dekat dengan Luhan, bahkan ia hanya sesekali membicarakan tugas ataupun diskusi tentang mata kuliah. Selebihnya, mereka hanya manusia asing. Jika Ariel bahkan memasang foto mereka yang intim, Ariel bisa membayangkan betapa mesranya mereka -berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan…. Ariel mengerjap dan langung menjatuhkan ponselnya ke atas ranjang. Pikiran macam apa barusan? Kenapa tiba-tiba ia berpikir ia pernah bermacam-macam…ah, sudahlah! Memikirkannya saja sudah membuat Ariel malu.

“Maaf membuatmu menunggu,”

Ariel yang terkejut buru-buru menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Baiklah, ini memang bodoh, tapi…Ariel bukan lagi anak kecil, ia sudah dewasa dan membayangkan sebuah pernikahan…baiklah! Hentikan pikiran kotormu itu Ariel!

“Kau baik-baik saja?” Luhan terlihat bingung ketika Ariel langsung menutup wajahnya saat mendengarnya barusan.

Luhan pun meletakkan kantong plastik berisi buah mangga yang dibelinya, lalu ia mendekat ke arah Ariel yang mengintip Luhan lewat celah jarinya, “Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah. Kau tidak sakit, kan?”

Ariel memundurkan kepalanya ketika Luhan mencoba untuk menyentuh kening Ariel. Yeah, dan itu membuatnya merasa bersalah. Wajah Luhan berubah sendu melihat penolakan yang dilakukan Ariel, dan…yeah, Luhan sudah menjaganya dan berbuat baik padanya, tapi Ariel selalu membuat wajah Luhan memiliki kerutan di keningnya.

“Maaf…” gumam Ariel pada akhirnya, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya di situasi menyebalkan seperti ini : dan maaf adalah satu-satunya yang cukup masuk akal menurutnya.

Luhan sedikit menaikkan sebelah alisnya, tapi kemudian ia pun tersenyum ke arah Ariel, “Tidak perlu minta maaf.”

Bahkan Ariel bisa mendengar nada sedih dari suara Luhan. Yeah…Luhan ternyata sosok yang lebih sabar dari yang ia duga sebelumnya.

“Aku membelikan buah mangga untukmu,” kata Luhan sambil berjalan menuju nakas, “Kau suka sekali buah mangga. Jadi, kau harus memakannya,” Luhan masih menarik seulas senyum di wajahnya. Kemudian, ia pun mengupas dan memotong buah mangga itu dan menyodorkannya ke arah Ariel.

“Kau membuka ponselmu?” Tanya Luhan ketika mendapati ponsel putih Ariel berada di atas ranjang, “Kau ingat pin ponselmu?” Mata Luhan membulat, bahkan Ariel bisa mendengar nada suara yang bersemangat. Tapi…

“Aku menggunakan pin yang sama selama beberapa tahun. Jadi…kupikir aku memakai pin yang sama, dan ternyata benar…” setelahnya Ariel langsung menggigit bibir bawahnya -agak menyesal harus mengatakan itu pada Luhan. Ia juga berharap bahwa ia baru saja mendapati sebagian ingatannya kembali, tapi…yeah, ia hanya memanfaatkan instingnya.

“Begitu ya? Tapi baguslah, setidaknya kau ingat tanggal pernikahan kita,” Ujar Luhan seraya mengeluarkan ponselnya.

Ariel terkejut. 18 Februari adalah tanggal lahir Max Changmin TVXQ, dan Ariel memilih tanggal itu untuk hari pernikahan mereka? — “Tapi…Luhan, siapa yang memilih tanggal itu?”

Luhan yang baru saja akan menunjukkan layar ponselnya langsung mengangkat kepalanya, “Kita. Tapi kau yang menyarankan tanggal itu padaku,” Luhan memberikan pernyataan dengan nada bingung. Alisnya juga agak sedikit naik. Sepertinya Ariel akan sering sekali membuat Luhan kecewa seperti ini….

“Ah…begitu,”

“Kenapa? Ada sesuatu dengan tanggal itu?”

Ariel tipikal gadis yang blak-blakan, meskipun mungkin ini akan menyakiti hati orang lain, tapi ia menganggap bahwa itu lebih baik daripada kekecewaan di akhir nanti, jadi…ia pun menarik napas panjang dan menatap mata Luhan serius, “Ya, itu…tanggal lahir Changmin. TVXQ. Kau tahu, kan? Penyanyi itu…” dan Ariel langsung menggigit lidahnya ketika melihat rahang Luhan yang terjatuh. Sepertinya ia membuat suasana menjadi buruk.

“Jadi kau memilih tanggal pernikahan kita karena untuk mengingat pria lain?” Ariel cukup terkejut ketika oktav suara Luhan meninggi -menunjukkan dia tidak berada pada mood yang bagus.

Ariel sebenarnya ingin membela diri, ia tipe orang yang akan memberikan argumen jika dipojokkan seperti itu. Tapi ia bahkan tidak ingat ia sudah menikah, jadi ia juga sama sekali tidak yakin kenapa ia memilih tanggal itu untuk hari sakralnya. Well -sepertinya sifat fangirl Ariel sama sekali tidak bisa diubah.

“Aku bahkan menggunakan pin yang sama denganmu, tapi ternyata itu tanggal lahir orang lain? Wah…kau tega sekali,”

Ariel lagi-lagi merasa terpojok. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Luhan. Apa ia harus minta maaf saja? Yeah, meskipun itu takkan mengubah apa-apa, Ariel tahu. Tapi melihat Luhan sekecewa ini….

Luhan pun tetap menekuk wajahnya -bahkan ia memajukan bibirnya seperti anak kecil. Hey… Luhan memang memiliki wajah yang imut, tapi ia tidak pernah melihat Luhan berlagak imut seperti ini.

Ariel pun terkekeh pelan melihat Luhan yang menyodorkan potongan buah mangga ke arahnya, “Kenapa tertawa? Menurutmu sangat lucu karena telah memakai tanggal lahir pria lain untuk pernikahan kita?” Luhan masih marah, tapi kali ini ia tidak berteriak.

Ariel pun meredakan tawanya dan mengambik garpu dari tangan Luhan dan kemudian menyodorkannya ke arah Luhan, “Maaf. Aku tidak tahu kenapa aku memilih tanggal itu untuk pernikahan kita, tapi yang terpenting kita sudah menikah, kan?” Ucap Ariel mencoba menghibur Luhan. Tidak ada salahnya kan? Jika memang mereka sudah menikah selama setahun, seharusnya Ariel memiliki alasan khsusu mengapa ia memilih tanggal itu dan tetap merahasiakan tentang tanggal ’18 Februari’ itu.

“Tetap saja…” Luhan pun menahan kalimat berikutnya. Tetap saja, meskipun mereka sudah menikah, kenyataan bahwa Ariel kehilangan ingatannya membuat semua ini terasa sia-sia. Luhan tidak bisa menyangkal bahwa ia merasasakit hati setiap kali Ariel bertingkah bahwa mereka adalah sepasang manusia asing, ia merasa sakit hati tiap kali Ariel menghindari sentuhannya. Pokoknya, segala yang terjadi saat ini begitu menyakitinya.

“Ingatanku akan kembali,” Ariel mencoba menghibur Luhan yang masih menekuk wajahnya, “Aku akan mengingatmu dan suasana kita akan kembali…. Kita pasangan yang…harmonis, kan?” Ariel sedikit ragu mengatakannya. Tapi harusnya meeka adalah pasangan yang harmonis, romantis, dan bahagia. Tidak mungkin Ariel menyimpan banyak foto mereka jika meraka memang tidak harmonis.

“Kenapa tiba-tiba…ah, kau melihat wallpaper ponselmu yang mesum itu?”

Ariel hampir tersedak saat Luhan mengucapkan kalimat itu seolah hal itu adalah sangat sangat sepele dan bukn sesuatu yang penting.

“Aku sudah mengingatkanmu agar mengganti wallpaper itu, bagaimana pun orang lain akan melihatnya dan kau pasti akan merasa malu. Tapi kau malah berkilah karena kau menyukai momen saat kita berciuman, kau benar-benar mesum tahu…”

Ariel pun mengeratkan pegangan tangannya pada garpu. Ia memang mesum –Ariel suka drama yang memiliki adegan ciuman yang intim, Ariel juga menyukai adegan romantis yang intim pada beberapa novel bacaannya, tapi ia tidak pernah membayangkan dirinya akan ‘seagresif’ itu pada pasangannya kelak. Bahkan, dengan mantan kekasihnya saja Ariel masih bertingkah imut dan polos. Ini…benar-benar memalukan.

“Bahkan, saat kita sedang melakukannya, kau kadang akan menjadi yang paling agresif…kau pasti akan terkejut pada dirimu sendiri jika kau mengingatnya,” Luhan masih melanjutkan obrolan yang aneh ini dan membuat Ariel semakin terpojok.

Benarkah Ariel seburuk itu?

“Pipimu memerah…kau malu?” goda Luhan ketika mendapati semburat merah mewarnai pipi Ariel. Ternyata menggoda Ariel menyenangkan juga, ia seperti kembali ke masa berpacaran dan awal pernikaha, Ariel mudah sekali tersipu jika dipuji ataupun digoda seperti sekarang.

“A-aku…” aku tidak malu –tapi sangat malu. Ariel sebenarnya ingin menangis digoda seperti itu, ia sangat malu dan tidak bisa membayangkan dirinya bisa berubah menjadi perempuan agresif seperti yang diceritakan oleh Luhan.

“Tapi aku tetap menyukaimu,” Luhan masih memotong sisa mangga yang masih ada di tangannya, kemudian memasukkan beberapa potong ke dalam mulutnya, “Bagaimana pun dirimu, aku akan tetap mencintaimu. Jadi kau harus cepat sembuh, tidak adil kan kau harus mengulang segala kenangan dari awal dan membiarkan aku yang melanjutkannya sendirian?”

Luhan pasti memang sangat mencintai Ariel, dan seharusnya Ariel juga mencintai Luhan dengan sama. Harusnya ia tidak melupakannya, pasti Luhan sangat tertekan karena ia harus melanjutkan kenangannya seorang diri. Kenangan mereka berdua….

 

***

 

“Aku akan pulang agak sore. Rapat hari ini sama sekali tidak bisa aku tinggalkan, tidak apa-apa kan aku meninggalkanmu sendiri di sini?” tanya Luhan sambil mematut dirinya di depan cermin.

Dia terlihat seperti pria yang berbeda dari yang ia temui kemarin –meskipun rambutnya memang dicat kecoklatan, tapi Luhan terlihat seperti orang penting dengan jas, kemeja, dan dasi hitam yang dipakainya saat ini. Sedangkan kemarin…yeah, Ariel seperti melihat Luhan yang masih berstatus sebagai mahasiswa pemangkang. Percayalah, meskipun dia terlihat sukses sekarang, Ariel takkan lupa pada sosok Luhan yang akan memilih membolos saat jam kuliah dan menunda tugasnya. Padahal dia pria yang cukup cerdas. Ariel saja selalu terpesona tiap kali ia membicarakan soal teori-teori yang berkaitan dengan mata kuliah mereka.

“Kau harus memakan obatmu. Jangan lupa makan siangmu dan makan malammu juga. Kau ingin aku membelikan sesuatu untukmu?” Luhan pun mendekat ke arah Ariel dan duduk di samping Ariel –menyibak rambutnya kemudian mengusapnya pelan, “Jika ada apa-apa kau hanya perlu meneleponku. Kau ingin aku menelepon seseorang untuk menemanimu?” tanya Luhan lagi karena Ariel tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Aku…baik-baik saja. Jaga dirimu juga, kau juga selalu melewatkan jam makanmu,” balas Ariel sambil menarik sudut bibirnya. Senang sekal rasanya ada yang memerhatikanmus eperti ini.

Dalam ingatannya terakhir kali, ia sedang bertengkar hebat dengan kekasih –ah, ralat—mantan kekasihnya. Jadi, ia bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali mantan kekasihnya yang pernah ia cintai setengah mati itu memerhatikannya seperti Luhan memperlakukannya saat ini. Walaupun…yeah, mantan kekasihnya yang satu itu bukan tipe pria yang begitu romantis jika dibandingkan dengan Luhan.

“Kalau begitu aku pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Setelah melakukan fisioterapi, minta tolong pada perawat agar mengantarmu sampai di sini, mengerti? Saraf tanganmu belum begitu baik, jadi…”

“Aku tahu, pergilah sekarang, oke? aku baik-baik saja.”

Luhan pun mengangguk dan pamit sekali lagi. Jika bisa, sebenarnya ia ingin tinggal di sini lebih lama –ia sama sekali tidak tega untuk meninggalkan Ariel lama-lama, “Jaga dirimu…” kata Luhan sekali lagi yang membuat Ariel mendengus kecil.

Dan, setelah ditinggal Luhan, Ariel pun menyalakan TV dan menonton beberapa acara yang cukup asing. Ariel bukan orang yang akan menggandrungi TV di pagi hari. Seingatnya, ia hanya mahasiswa yang perlu banting tulang untuk menyelesaikan deadline tugas dan pergi kuliah di pagi buta dan kembali petang. Ia baru bisa menonton TV hanya di akhir pekan, itu pun Ariel hanya akan menonton acara musik atau hanya sekedar menonton drama lewat internet. Ariel sama sekali sibuk hingga tidak punya waktu untuk berbaring santai seperti sekarang.

Kebosanan itu cukup terobati ketika seorang perawat menjemputnya untuk melakukan terapi hari itu. Dan setelah setengah jam melakukan latihan untuk mengembalikan sarafnya yang sempat bermasalah, Ariel pun diantar kembali ke ruangannya…dan disambut siluet asing yang berdiri di dekat jendela kamarnya.

“Di sini saja,” ucap Ariel pada perawat yang mengantarnya hingga di depan pintu kamar.

Mendengar suara Ariel, wanita itu pun berbalik dan membuat kaki Ariel sedikit lemas. Ia yakin sekali ini pertama kalinya Ariel melihat wanita itu secara langsung –mantan kekasih Luhan—selain di akun sosial media miliknya yang Ariel ikuti. Tapi detak jantungnya berkata seolah ia pernah melihat wanita dengan jas putih seperti dokter itu –seolan mereka punya kenangan tak menyenangkan dan memperburuk suasana hati Ariel.

“Kau sudah kembali rupanya,” Lee So Kyung mendekat ke arah Ariel, mencoba untuk membantunya kembali ke ranjang.

Ariel tidak memberi penolakan dan hanya tersenyum tipis ke arah wanita itu. Sepertinya mereka pernah saling mengenal dalam ingatannya yang hilang. Cara berbicara Lee So Kyung seolah-olah menunjukkan mereka bukanlah dua orang asing yang baru saling bertemu.

“Aku bisa sendiri,” Ariel menolak halus ketika Lee So Kyung mencoba untuk naik ke atas ranjang. Ia benar-benar merasa terganggu dengan gestur wanita itu terhadapnya.

Dan, setelah naik ke atas ranjang, ia tanpa sengaja membaca tulisan nama Lee So Kyung pada jasnya. Ah…benar, wanita ini menjadi dokter gigi. Ariel tidak tahu jurusan apa yang diambilnya saat kuliah dulu, tapi dalam akun twitternya, ia pernah memposting foto pelatihan keanggotaan kedokteran gigi. Ia bahkan memuji gadis yang menurutnya sangat beruntung ini, selain cantik dan pintar, ia juga memiliki kekasih seperti Luhan…yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi suami Ariel di kemudian hari.

“Kudengar ingatanmu hilang…” wanita itu membuka pembicaraan dengan warna suara yang sama.

Ariel hanya tersenyum canggung. Hubungan seperti apa yang terjalin antara dirinya dan mantan kekasih dari suaminya ini? “Kita…saling mengenal?” tanya Ariel akhirnya. Ia tidak tahan dengan sikap akrab yang canggung ini. Lee So Kyung terlihat sama sekali tidak tulus, “Kau sudah menjadi dokter sekarang?” tanya Ariel lagi.

Lee So Kyung tertawa pelan, seolah yang ditanyakan Ariel adalah sebuah lelucon tolol, “Jadi kau benar-benar melupakan sebagian ingatanmu? Wah…aku terkejut sekali Ariel-ssi…” Lee So Kyung pun mengambil sebuah kursi dan duduk di sana, “Tapi sikapmu jauh lebih baik ketimbang pertemuan kita sebelumnya,” Lee So Kyung pun kembali tersenyum.

Ariel pun tertawa sumbang, “Aku tidak tahu seperti apa hubungan kita sebelumnya, tapi…apakah kita saling…mengenal?”

Lee So Kyung pun melipat tangannya di depan dada, “Ya. Kita bertemu beberapa kali dan…begitulah,” ia pun mengecek tabung infuse Ariel dan sedikit mempercepat tetesan cairan infusan pada selang di tangannya, “Tapi kurasa kau tidak perlu mengingatnya. Kau sedang tidak sehat, aku hanya akan memperburuk kondisimus ebagai pasien…”

Mungkinkah ini karena Luhan? Bagaimanapun, Ariel juga tahu bagaimana hubungan Luhan dan kekasihnya. Ia salah satu fans dari pasangan yang selalu terlihat romantis dan harmonis ini. Mereka selalu mendapatkan dukungan dan doa dimana-mana, membuat siapapun berpikir mereka pasti akan menikah dan bahagia seperti dalam dongeng Disney. Ariel tiba-tiba saja merasa khawatir ada yang salah dengan hubungan Luhan dan mantan kekasihnay saat ini.

“Ini…tidak ada hubungannya dengan Luhan, kan?”

Gerakan tubuh Sokyung terhenti. Ia pun menoleh ke arah Ariel dan sedikit memicingkan matanya, “Kau lebih sensitif dari yang kukira. Kau menikmati pernikahanmu dengan Luhan saat ini? Kau tahu…kau kehilangan ingatanmu dan kau pasti terkejut karena terbangun dengan teman semasa kuliahmu yang mengaku menjadi suamimu.”

Ariel yakin, ini pasti karena Luhan. Tapi Ariel tidak berkata apa-apa meskipun ia ingin mengadu argumennya dengan Sokyung. Ia merasa kasihan pada Sokyung, entah kenapa. Ia pikir pasti Sokyung ada di posisi tersakiti karena Luhan menikah dengan orang lain. Ia juga cukup merestui hubungan Sokyung dan Luhan sebelumnya…. Ia juga masih merasa bahwa Luhan adalah orang asing. Jadi…entahlah, semua ini membuatnya gamang.

“Kau harus cepat pulih, Luhan tidak terlihat baik-baik saja karena kondisimu,” Lee So Kyung pun tersenyum sebelum pamit, “Aku pergi sekarang. Maaf sudah mengganggumu,” kemudian ia pun pergi dari ruangan Ariel, menyisakan rasa sesak yang Ariel sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

“Kau tidak cukup mencintainya bukan, Ariel? Kau tidak cukup mencintai Luhan…”

Ariel tiba-tiba saja merasakan sakit di kepalanya. Ada sebuah suara yang mengejarnya –suara Sokyung yang tidak ia tahu kapan ia dengar. Dan rasa sakit di kepalanya juga mulai mengganggu pernapasannya, ia merasa sesak. Ariel pun menekan tombol merah di dekatnya –memanggil perawat yang mungkin bisa menolong rasa sakit di kepalanya.

 

=t b c=

20170108 PM1000

Iklan

5 thoughts on “Days Like Today (2A)

  1. wahwah wah aku langsung baca dua chapter sih maaf ya author ehehehe… ini menarik ah aku suka sekali, wah kenapa bisa kecelakaan ya lalu apa yg akan terjadi selanjutnya kapan ariel ingetnya aw aw jadi baper uuhh dilanjut ya buruan sih kalo bisa hehehe… SEMANGAT BUAT NEXT CHAPTERNYA AKU NUNGGU 😘

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s