Sorry (N2017)

60588_1440x900

Tulisan ini tak kubuat dengan untaian kata puitis kali ini…

Ada sebuah surat yang…tidak, mungkin ada beberapa surat yang sering kali kubuat dalam diam, dalam sebuah doa, maupun dalam sebuah ruang sepi –dimana hanya diriku yang duduk dan bernyanyi bersama air mata dan menatap nyinyir ribuan kupu-kupu yang berpesta di luar sana bersama musim semi dengan bebungaan cantik nan wangi.

Ini bukan sebuah puisi maupun sajak seperti yang biasa kubuat.

Aku lelah dengan diksi manis yang selalu muncul dari perasan cinta yang mendayu-dayu.

Aku lelah dengan diksi penuh harapan yang tak jua memberiku sebuah cahaya di ujung jalan.

Seandainya ini surat yang tak pernah sampai, ada satu kata kunci yang ingin selalu kuucapkan namun tak kunjung menyentuh ujung lidahku tanpa sebuah alasan.

Maaf.

Maaf.

Maaf.

Untukmu, yang selalu memberiku cinta tak terukur dan selalu memperjuangkanku dengan darah serta keringat yang tak akan terbayar apapun…

Untukmu, yang selalu menyebutku dalam untaian doa panjang yang tak pernah putus terhadap sang Pencipta…

Maaf.

Maaf.

Maaf.

Maaf karena aku tak terlahir dengan rupawan seperti kupu-kupu yang sering kau jumpai di tiap gang jalan yang secara kebetulan dilewati.

Maaf karena aku tidak pintar dan bisa bermain dengan rumus-rumus yang selalu kukatai gila.

Maaf karena aku tidak memiliki kekasih yang bisa kubanggakan di depanmu saat ini.

Maaf karena aku selalu keras kepala dengan segala yang kuinginkan.

Maaf karena tak bisa menjadi seperti yang kau ingini.

Maaf karena aku tak seberuntung gadis tetangga yang tampak mewah untuk dimiliki.

Maaf karena selalu membuatmu terjerumus dalam kata sulit yang menyesakkan dan selalu tiada akhir.

Maaf telah membuatmu mengeluarkan banyak hal tanpa bisa satupun mampu kutebus.

Maaf karena aku tak tumbuh dengan sayap sempurna.

Maaf karena aku tak memiliki jiwa yang sempurna.

Maaf karena aku tak bisa sama seperti orang lain.

Maaf karena aku selalu menjunjung harapanku tanpa melihat harapanmu.

Maaf aku selalu menjadi egois.

Maaf karena aku selalu tak bisa berbicara dengan benar di hadapanmu.

Maaf aku terlahir dengan darah api yang membuatku selalu durhaka terhadapmu.

Maaf karena teramat sering aku jauh dari Tuhan dan terlena dengan keremangan tak nyata yang selalu kuulurkan tanganku ke arahnya.

Maaf karena aku tak memiliki prestasi yang terukur dengan angka yang dapat kupamerkan padamu.

Maaf karena aku belum juga memiliki gunung emas yang bisa membuat semua mata berbinar ke arahnya.

Maaf…

Ada sejuta maaf lagi yang dengan angkuhnya tak pernah sampai ke ujung lidahku.

Aku hanya bintang jatuh yang tengah mencari tempat duduk…

Aku hanya seorang pemimpi kecil yang ingin mencari sebuah kenyamanan dan kebahagiaan secara bersamaan.

Seringkali aku merasa ketakutan dengan tiap langkah yang kupijak. Seringkali aku menyesali semua keputusan yang telah kubuat dengan sisa perjalanan tinggal seperempat. Aku yang brengsek dan tak tahu diri ini, masih sering angkuh….

Aku takut.

Aku gemetar.

Aku khawatir.

Aku tidak bahagia.

Setiap waktu, aku menyimpan rahasia-rahasia tolol itu dalam ruang sunyiku di balik sebuah senyum gila yang selalu kuumbar pada semua mata.

Jika aku boleh membuat satu permintaan kecil, aku ingin memintanya padamu. Sejak dulu. sejak aku tahu aku tak rupawan, aku tak pintar, aku tak memiliki apapun yang mampu membuatmu merasa bangga dan ingin tersenyum.

Maukah kau berkenalan denganku sekali lagi?

Aku tak membicarakan darah yang seringkali dikatai lebih kental daripada air.

Boleh kuceritakan satu kisah cinta tak beruntung yang pernah kualami?

Enam tahun lalu, aku mengulurkan tanganku pada seorang anak lelaki yang seusia denganku. kami berkenalan, menjadi teman, membagi tawa dan tangis, saling mendukung, saling memaki, saling bertengkar, saling menyayangi, saling melindungi….

Aku pernah mencintainya hingga kupikir aku pasti telah gila dengan segala cinta yang kumiliki untuknya. Meskipun kami berakhir berpisah dengan sebuah kesalahpahaman maupun pertengkaran gila yang dramatis…tapi aku memiliki alasan mengapa hingga kini dia tak pernah terganti.

Dia mengerti diriku meskipun kami tak terikat apapun.

Dia mengerti apa yang kuinginkan dan mendukungku meskipun pilihanku hanya sebatas sebuah gang kecil yang tak terlihat memiliki harapan. Dia memberiku bulu-bulu sayap yang ia miliki kala bulu sayapku mulai patah dan rusak. Dia bisa mendengarkanku dan memberikan sebuah lampu di kala aku menemukan kegelapan.

Aku tak perlu menyebutkan alasan untuk setiap jalan yang kupilih di saat semua orang berpaling dari jalan yang kupilih, tapi dia bisa mengerti dan memberiku sebuah selimut kehangatan tanpa pelukan di saat badai mulai menerjangku dengan gila.

Dia tak seberapa denganmu…

Sungguh, dia tak sampai dengan kotoran kuku dan amat hina juga tak layak untuk kusamakan denganmu.

Tapi aku bisa merasakan sebuah energi positif yang menyelusup pada darahku.

Dia memberikannya.

Aku mendapatkannya.

Aku selalu merasa tak adil dengan setiap perbedaan pendapat denganmu. Tapi di sisi lain, aku juga menemukan keberuntungan yang berbeda dengan orang lain meskipun mereka memiliki keinginan yang terlihat mustahil.

Aku tidak tahu kenapa Tuhan memberikanku naluri untuk melakukan sesuatu.

Tapi, saat aku menanyakan pada dia yang pernah kucintai, kalimatnya menjadi kalimat tak terlupakan: karena kau bahagia. Kau harus bahagia. Yang terpenting kau bahagia.

Dia juga mengingatkanku untuk bersyukur….

Aku penasaran, apakah aku bahagia ketika hanya mengumpulkan ribuan kata puitis omong kosong yang amat dicemooh orang-orang? Apakah aku bahagia ketika hanya membuat plot kosong dan membuatku kehilangan banyak waktu dan tenaga?

Aku takut.

Aku tidak memiliki masa depan seindah yang kubayangkan.

Aku tahu.

Tapi aku bersumpah aku bahagia dengan kekosongan yang kulakukan.

Aku bahagia meskipun aku hanya bisa mendapatkan selembar piagam kosong yang menjadi kenangan di kemudian hari. Aku bahagia meskipun aku hanya bisa mendapatkan sebuah piala kosong di tanganku. Aku bahagia meskipun hanya mendapat energy positif dengan segala pengalaman yang kumiliki. Aku bahagia hanya dengan beberapa mata yang sudi membaca semua karya kosongku. Aku bahagia telah berbagi meskipun aku tak tahu apakah mereka menemukan energi  dalam tulisanku.

Aku bersumpah, aku bahagia.

Aku bahagia dengan impian yang kumiliki.

Aku bahagia dengan sobekan kecil harapan yang kumiliki seorang diri.

Aku bahagia dengan kekosongan yang kulakukan.

Aku ingin memberikan pengalaman yang berbeda lewat tulisan kosongku.

Aku hanya mencoba bersabar menunggu hingga kupikir aku bisa sembuh daribeberapa kerusakan dalam mentalku yang memang terlahir cacat ini, aku hanya mencoba menunggu hingga aku tahu aku layak. Aku hanya mencoba sok tahu dan sok pintar…

Tapi aku percaya pada diriku.

Aku percaya pada Tuhan yang telah menganugerahiku semua ini.

Aku tidak sempurna, terlalu tidak sempurna, terlalu hina….

Tapi…maukah kau sekali lagi berjabat tangan denganku?

Maukah kau berbicara pelan-pelan denganku tentang jalan yang ingin kupilih?

Maukah kau memberiku semangat seperti mereka yang tak pernah terikat apapun denganku?

Maukah kau mendukungku hingga akhir?

Maukah kau mempercayaiku?

Aku selalu berpikir aku tidak takut dengan segala jalan yang kuambil.

Tapi kau ketakutan terbesarku. Aku selalu meminta maaf pada Tuhan karena aku seperti dengan sengaja memasuki neraka. Tak ada yang bisa kulakukan dan…maaf.

Aku tak bisa berjalan dengan hanya bermodalkan tentang impian sebuah tahta.

Aku mencoba mencari jawaban pada diriku, dan tak kutemukan tahta sebagai impian terbesar.

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Seperti sekarang, meskipun aku lelah, berkarat, membusuk, hancur, rusak, sakit, dan amat kesepian…. Aku tahu aku tak bisa berhenti begitu saja.

Ah…juga teruntuk kedua darah yang juga terhubung denganku, maaf  karena aku menjadi tali penghalang jalan kalian.

Maaf…

Maaf…

Maaf…

Aku akan berjuang lebih keras lagi. Aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku akan mencari jalan lain agar usahaku bisa berbuah kali ini.

Maafkan aku yang durhaka dan berdosa ini.

Maafkan aku dan impianku yang tak bisa membuat semua orang terpana padaku.

Maafkan aku…

 

20170214 PM1145

 

Please don’t see just a boy caught up in dreams and fantasies
Please see me reaching out for someone I can’t see
Take my hand let’s see where we wake up tomorrow
Best laid plans sometimes are just a one night stand
I’d be damned Cupid’s demanding back his arrow
So let’s get drunk on our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

Who are we? Just a speck of dust within the galaxy?
Woe is me, if we’re not careful turns into reality
Don’t you dare let our best memories bring you sorrow
Yesterday I saw a lion kiss a deer
Turn the page maybe we’ll find a brand new ending
Where we’re dancing in our tears and

God, tell us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and the lambs are on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying
Just the same

God, give us the reason youth is wasted on the young
It’s hunting season and this lamb is on the run
Searching for meaning
But are we all lost stars, trying to light up the dark?

I thought I saw you out there crying
I thought I heard you call my name
I thought I heard you out there crying

But are we all lost stars, trying to light up the dark?
But are we all lost stars, trying to light up the dark?


Read more: Adam Levine – Lost Stars Lyrics | MetroLyrics

 

Iklan

One thought on “Sorry (N2017)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s