What If

Title     : What If
Genre  : Romance
Main Cast: Ashley Lee as Lee Ha Eun (OC) & Lee Taeyong as NCT Taeyong
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG
Length : Oneshot
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
Disclaimer : the story is pure mine. Also published
xiaohyun.wordpress.com

Prev : https://xiaohyun.wordpress.com/2016/11/17/3-winterstation-happy-20th-project-playing-with-fire/

Story of Someone I Know || Her Name is Ashley || A Few Years Later
***

Taeyong menaikkan masker yang ia kenakan dan kembali melirik layar ponselnya skali lagi, kemudian ia menertawakan isi pesan yang berisi, “Jika kau terlambat,aku bisa saja membunuhmu Lee Taeyong. Mood-ku sedang tidak terlalu baik hari ini,”
Taeyong sangat yakin gadis itu amat mengecam pembunuhan dan tindak kriinalitas sejenis, meskipun di sisi lain, dengan idiotnya gadis itu akan memuja drama psikopat yang menceritakan sisi menyedihkan seorang pembunuh yang membuatnya layak untuk diberi maaf dan juga belas kasihan dari orang-orang. Taeyong sendiri tidak tahu, drama TV mana yang menceritakan kisah psikopat semacam itu, tapi karena gadis itu terlalu sering menceritakan kisah-kisah serupa, Taeyong diam-diam malah menghapal semua plot itu secara mentah-mentah. Dan lucunya, gadis itu akan mengancamnya dengan tindakan kriminalitas yang hanya ia tahu lewat TV tersebut.
“Tuan, Anda telah sampai,”
Suara si supir taksi terseut berhasil menarik lamunan Taeyong. Ia pun menyerahkan sejumlah uang dan membawa beberapa barang bawaannya yang dipesan khusus oleh gadis yang aru saja mengancamnya di pesan singkat tadi. Dipikir-pikir, gadis itu belakangan terlalu bossy –menyuruh ini, menyuruh itu, dan dia akan terus mengoceh jika keinginannya tidak terkabul.
[Aku sudah di depan apatemenmu. Cepat turun!]
Taeyong pun memasukkan kembali ponselnya ked alam saku setelah mengirimkan pesan singkat itu dan memnyeret kakinya mendekat ke arah gedung apartemen yang terilang cukup mewah itu. Meskipun selalu mengeluh tidak memiliki uang, tapi gadis itu malah mampu membeli sebuah apartemen mahal di kawasan Gangnam.
“Yong!” dan gadis dalam pikiran Taeyong itu muncul sambil melambaikan tangannya dengan semangat di depan pintu masuk gedung dengan wajah tertutup masker dan rambut panjangnya yang agak berantakkan –err, sejak kapan dia mengubah warna rambutnya menjadi kecoklatan seperti itu?
Mengabaikan penilainnya terhadap gadis itu, Taeyong pun segera mendekat dan menyerahkan bawannya, “Kimbap berisi seafood, sup, dan minuman yang kau pesan sudah di sini nona. Aku terpaksa berbohong pada manager karena kau,” Taeyong mendelikkan matanya yang segera dibalas kekehan gadis itu.
“Ayo masuk! Aku tidak mau ada dispatch yang memotret kita dan membuatku dipecat hanya karena skandal tidak berguna bersamamu,” ia pun menarik Taeyong ke dalam tanpa menyentuh bawaannya yang ia pesan secara paksa. Benar-benar bossy.

“Aku mendengar berita pertengkaranmu dengan Seulgi sebelum debut dibahas di Radio Star, benar begitu?” tanya Taeyong seteah melepas sepatunya dan memakai sandal rumah secara sembarang yang terletak di sisi dinding. Ashley Lee –gadis yang ia kunjungi—memiliki lima buah sandal rumah dengan bentuk, motif dan warna berbeda. Taeyong tidak yakin denan alasan gadis itu mau mengoleksi banyak sandal rumah sedangkan dia tinggal sendiri disana. Satu-satunya yang ia hapal dari sifat Ashley, dia adalah tipe yang aneh.
Dan, di dekat meja makan Ashley terlihat mendengus keras sambil melempar asal maskernya ke atas sofa dan merapikan semua makanan yang Taeyong bawa, “Kyuhyun Sunbae tidak sengaja mengatakan bahwa aku dan Seulgi sempat tidak akur saat training, dan media malah membesar-besarkannya dengan mengatakan bahwa kami pernah bertengkar,” sungut Ashley.
Taeyong terkekeh pelan dan mengikuti Ashley ke meja makan, “Tapi kalian memang sering bertengkar, kan? Aku bahkan terkejut sekalis etelah tahu kalian hampir berada di dalam satu grup,” Taeyong menggeleng pelan dan mengambil satu botol air mineral yang terletak di atas meja dan meminumnya.
“Itu bukan bertengkar!” Ashley memutar tubuhnya dan menatap Taeyong kesal, “Kami hanya tidak sependapat untuk beberapa hal dan itu membuat kami jadi tidak dekat. Bukan berarti kami bertengkar sampai kami bermusuhan, kan?”
“Tapi kau memang selalu seperti itu dengan sesame trainee perempuan, makanya kau selalu menempel pada trainee laki-laki…” dan Taeyong langsung mengatupkan mulutnya ketika Ashley melotot ke arahnya dan membalas dengan intonasi setengah berteriak, “Aku tidak begitu! Aku punya banyak teman saat training! Kau saja yang tidak tahu!”
Dan, Ashley adalah tipe perempuan yang tidak akan mau kalah saat berargumen selama dia merasa punya alibi untuk argumennya. Taeyong sudah sangat terbiasa dengan tingkah tidak menyenangkan Ashley, tapi tetap saja, kadang ia merasa ingin memberi sumpalan pada mulut Ashley karena intonasi gadis itu akan sangat menyebalkan ketika tengah berdebat.
Tapi…masalahnya Taeyong memang merasa Ashley tipe gadis yang kurang disukai oleh para trainee perempuan. Ashley memang menempel sekali dengan Krystal dan kadang dia juga pergi ke klub beersama Sulli saat masih berada di agensi, tapi Taeyong tidak yakin apakah gadis itu benar disukai oleh para trainee perempuan lainnya karena Ashley sering juga dibicarakan di belakang. Dan menariknya, para trainee laki-laki malah bisa menyesuaikan diri dengan Ashley dan membuatnya lebih terkenal di antara kalangan trainee laki-laki daripada dengan trainee perempuan.
Ah, tapi persetan dengan semua itu. Ia bukan datang ke apartemen Ashley untuk membicarakan soal berita yang muncul karena kehadirannya di Radio Star…
“Yong…aku suka penampilan Ten di Hit The Stage,” ucap Ashley sambil memasukkan beberapa potong kimbab ke dalam mulutnya, “Aku tidak tahu dia sebebakat itu. Kau mau memintakan tanda tangannya untukku, kan?”
Dan, Taeyong langsung terbatuk tersedak air mineral yang hampir memasuki kerongkongannya. Astaga, apa-apaan Ashley sekarang? Mana mungkin Taeyong eminta tanda tangan pada teman satu grupnya dan…err, ia tidak terlalu suka membayangkan ejekan jenis apa yang akan menimpanya nanti.
“Kenapa kau harus terbatuk? Aku benar-benar menyukai penampilannya minggu kemarin. Dia mendapatkan posisi pertama dan…ah,” Taeyong mengernitkan dahinya ketika Ashley memulai gestur dramatisnya di depan Taeyong, “Dia benar-benar terlihat manis dan polos. Rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan menghapus air matanya saat dia menangis…”
taeyong pun mendengus geli, “Kau mengatakan padaku bahwa kau jatuh cinta pada Doyoung di NCT U, lalu kau bilang kau jatuh cinta pada Taeil karena suaranya yang indah di lagu Without U, kemudian kau membicarakan Winwin sampai mulutmu akan berbusa, dan kau memuja Jaemin saat NCT Dream debut, dan sekarang kau akan menggilai Ten? Astaga Ashley…aku tidak yakin berapa banyak lagi laki-laki yang akan membuatmu jatuh cinta,”
“Dan aku juga menyukai Mark…”
“Ashley! Sadarlah! Kau benar-benar seorang fangirl…”
“Karena aku menyukai lirikyang dia nyanyikan di lagu Mad City,” Ashley masih berujar santai, sama sekali tidak mempedulikan warna muka Taeyong yang semakin berubah luntur menjadi datar, “Why are they doubting, TY? How have we done it, can’t you just see why? How we worked crazy for it, always kept the music going,” Ashley masih melanjutkan ucapannya –mengucapkan lirik lagu yang ia sebutkan tadi—sembari mengunyah kimbab buatan Taeyong dengan ekspresi cuek.
Ashley hanya tersenyum kecil ketika ekspresi wajah Taeyong terlihat bingung, “Kadang kupikir dibandingkan dengan member lain, Mark justru terlihat lebih peduli padamu. Aku tidak terlalu mengenalnya, tapi aku pikir anak itu malah terlihat manis dengan liriknya, bukan begitu TY?” Ashley pun kembali terkekeh –hanya seorang diri. Taeyong tidak terlihat tertarik untuk ikut bergabung dengan tertawaan Ashley.
Taeyong sebenarnya tidak bermaksud masuk ke dalam perasaannya yang mendadak menjadi mendayu-dayu, tapi perasaan Taeyong sama sekali tidak bisa lari dari memori buruknya ketika skandalnya muncul beberapa tahun lalu. Ia juga yakin Ashley tidak bermaksud untuk membahas masalah itu…tapi Taeyong ingat, ketika aia merasa terpuruk dan amat merasa buruk di hadapan semua orang, Ashley justru menjadi satu-satunya orang yang membuat rasa percaya dirinya tetap berdiri. Bahkan ketika semua orang hanya sibuk memberi simpati, Ashley dengan gaya cueknya justru hanya merangkul Taeyong dan berbisik pelan, “Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, jika kau ingin menangis, menangislah…jika kau merasa perlu minta maaf, lakukanlah. Tapi pertama-tama kau harus melihat dirimu sendiri dan memaafkannya terlebih dahulu.”
Taeyong tidak tahu bagian mana dari perlakuan Ashley tersebut yang membuatnya merasa…entahlah, ia seperti menemukan kekuatan dalam sorot mata gadis itu. Padahal, Ashley terlihat amat serampangan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi Ashley bisa memberi kekuatan terhadap Taeyong yang mendapat cacian dari semua orang. Bahkan, ada hari dimana ketika ia merasa tidak dapat dipercaya oleh semua orang, Ashley malah menyikutnya sambil memberi air mineral terhadapnya, “Sebelum orang lain yang mempercayaimu, seharusnya kaulah yang mempercayai dirimu terlebih dahulu. Kau telah berjuang sejauh ini dan telah berusaha berubah menjadi lebih baik, kau tidak bisa jatuh dan menyerah sekarang. Aku juga percaya kau telah banyak belajar disini. Dan sekarang tinggal kau tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kau bisa mempercayai dirimu sendiri dan bisa menjadi pilar yang bisa dipercaya bagi orang lain?”
Taeyong ingat, Ashley mengatakannya tempo hari ketika mereka berpapasan di dalam lift ketika kebetulan mereka sama-sama memiliki jadwal pemotretan di sebuah studio. Taeyong sebenarnya juga ingin membalas uacapan Ashley, tapi di situasi tak menyenangkan seperti yang telah dialaminya, Taeyong lebih suka melihat ke dalam mata Ashley dan mencari kebenaran ucapan Ashley di matanya sendiri. Dan Taeyong tidak yakin pada keputusan yang terjadi diluar kendalinya ketika menjadikan Ashley tempat bersandar untuk banyak hal.
“Menyalahkan dirimu atau mengakui kesalahanmu, itu hal yang berbeda dalam sudut pandangku. Pilihannya ada padamu, tapi yang perlu kau perhatikan, pilihan pertama hanya akan meninggalkan rasa penyesalan dengan sudut pandang yang bebeda dengan pilihan kedua, tapi solusinya hanya satu, kau hanya perlu melakukannya pada dirimu sendiri lalu maafkanlah kesalahan itu.” Ashley juga pernah mengatakan hal itu padanya ketika mereka melakukan video call sebelum Taeyong debut dulu. Ashley dengan posisi tengkurap di atas ranjangnya sama sekali terlihat biasa saja saat menanggapi semua ucapan Taeyong, tapi Taeyong bisa merasakan energi positif itu mengaliri darahnya.
Yeah, dan akhirnya semua perkataan Ashley berputar secara bergantian di kepala Taeyong. Taeyong tahu gadis itu sama sekali tidak memiliki perasaan berlebihan dan hanya mau melihat Kim Jong In-nya, tapi belakangan ini…entah sejak kapan dan bagaimana, Taeyong merasakan perasaan egois yang agak sedikit keterlaluan di dalam perasaannya terhadap Ashley.
“Eun-a…” Taeyong tersenyum kecil ketika Ashley mau menoleh ketika ia memanggil Ashley dengan nama Koreanya, “Jongin Sunbae selalu memanggilmu seperti itu, kan?”
Ashley menggaruk kepalanya bingung ketika Taeyong malah membahas Jongin di tengah moodnya yang stabil ini. yeah, lukanya terhadap kisah cinta yang tak beruntung bersama Jongin itu telah melewati klimaks, Ashley juga tidak merasakan sakit berlebihan seperti ketika berita hubungan Jongin dan sahabatnya disebarluaskan terhadap publik. Tapi tetap saja, Ashley akan merasa tidak nyaman. Ia dan Jongin tidak berpisah secara baik-baik, jadi kesan negative itu masih saja memengaruhi serpihan kesakit hatian Ashley.
“Bolehkah…aku seperti itu juga?” Taeyong sudah kembali angkat suara sebelum Ashley mengatakan apapun.
“Memanggilku dengan nama Koreaku?” Ashley menatap bingung Taeyong, “Just do it. Bahkan Kyuhyun Sunbae malah memanggilku begitu…”
“Bukan panggilanmu,” Taeyong merasakan detak jantungnya semakin menggila. Dan Taeyong merasa terlambat untuk memperbaiki segala kekacauan suasana yang telah ia buat ini, Taeyong terlanjur mencekik perasaannya…pilihannya hanya tersisa dua, mematikannya sekaligus atau membiarkannya tetap bernapas, toh dua-duanya akan tetap meninggalkan luka nantinya, “Tapi…caranya memanggilmu, perasaan yang ia gunakan saat memanggilmu, juga cara matanya menatapmu ketika ia menyebut nama itu. Apakah tidak apa-apa jika aku seperti itu juga? Memiliki perasaan yang mungkin pernah Jongin Sunbae miliki padamu ketika ia menyebut nama itu…”
Dan, yeah…
Ini bukan kali pertama dimana Taeyong mempertanyakan hal semacam itu terhadap dirinya sendiri. Karena ia tahu resiko terbesar dari seluruh perasaannya : maka ia harus merelakan salah satu temannya pergi. Teman terbaiknya, teman yang benar-benar menangis dan tersenyum bersama Taeyong.

20170401 AM0241

Iklan

5 thoughts on “What If

  1. ‘Kan ngga tau taeyong dgn jawaban ashley kek gmna. Fighting aja lah buat taeyong dan buat ka nidhyun biar cepet namatin karya2 selanjutny 😀 😀 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Du duhh , Aa Taeyong semngt yaa , sapaa tau Ashley nyaa mauu wkwk ,
    Wahh wahh . sepertii biasanyaa karyaa kak nidhyun daebak semuaaa 😘

    Smngtt teruss kak nulisnyaaa .

    Suka

  3. Ping-balik: Let’s Not Fall in Love | Xiao Hyun's Pen World

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s