Let’s Not Fall in Love

Title     : Let’s (not) Fall in Love

Genre  : Romance

Main Cast: Ashley Lee as Lee Ha Eun (OC) & Lee Taeyong as NCT Taeyong

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Oneshot

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

prev :

What If

 

***

“Taeyong, Ashley menghubungiku dan menanyakanmu. Kau bertengkar dengannya?” Johnny baru saja memasuki ruang latihan grup NCT 127 –untuk persiapan comeback dan debut untuknya sendiri—dan ia segera menyapa Taeyong yang kebetulan tengah sibuk melakukan beberapa gerakan di depan cermin.

Taeyong sepertinya tidak dalam konsentrasinya ketika Johnny menyapanya –dan ia hanya mendengar nama Ashley disebut oleh Johnny dengan logat kebaratan yang amat kental. Serta merta Taeyong langsung menghentikan gerakannya dan berbalik menatap Johnny, ingin memastikan ucapannya yang tidak tercerna dengan baik oleh telinganya.

“Kenapa? Kau tidak berkencan dengannya dan kini mencemburuiku karena dia menghubungiku, kan?” nada jenaka itu sayangnya tidak menghibur Taeyong sama sekali. Taeyong masih terlihat linglung dan belum menanggapi Johnny, lalu ia pun mengambil botol mineral dan meneguk isinya dengan cepat.

“Ashley menghubungimu?” Taeyong mengulang perkataan Johnny yang tertangkap oleh telinganya sembari mengambil ponselnya yang memang sengaja ia matikan. Ia tidak sedang dalam mood yang baik, jadi ia memutuskan untuk mematikan ponselnya karena tidak ingin berhubungan dengan siapa-siapa.

“Wah…kalian tidak benar-benar berkencan, kan? Ashley bilang dia mengkhawatirkanmu dan kau tidak seantusias biasanya,” ucap Johnny lagi kali ini lebih kepada rasa penasaran. Ia mengenal Ashley tahun 2010 silam, tapi ia tidak sedekat itu dengan Ashley. Tidak sedekat Taeyong dan Ashley meskipun Johnny lebih dulu mengenal Ashley. Kedekatan yang…entahlah, Johnny tidak yakin hubungan seperti apa yang dijalani oleh dua orang itu karena mereka amat sangat dekat. Taeyong juga kadang membicarakan gadis itu tanpa sadar. Dan sayangnya, Johnny sangsi untuk membuat imajinasi tentang kencan bagi mereka berdua –Ashley bukan tipe gadis yang mudah didapatkan hatinya.

“Ponselku mati,” Taeyong pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, “Latihannya masih satu jam lagi, kan? Aku akan kembali setengah jam lagi,”Taeyong pun bangun dan hendak mengambil jaketnya. Tapi gerakannya tertahan oleh ucapan Johnny…

“Kau tidak sedang benar-benar berkencan dengannya, kan?” Johnny menggunakan nada kurang setuju pada kata ‘berkencan’ dan hal itu berhasil mengusik Taeyong.

Taeyong pun mendengus kecil dan menjawab sambil lalu, “Memangnya Ashley mau berkencan dengan pria selain Kim Jongin?”

Oh. Nada itu benar-benar mengerikan. Nada sarkatik yang membuat Johnny harus meringis pelan dan berusaha berhati-hati dalam pemilihan kata yang akan ia ucapkan pada Taeyong, “Tentu saja. Dia bukan remaja yang akan selamanya mempercayai cinta pertama, kan?” Johnny tahu nada candaannya tidak menghibur Taeyong, tapi ia tidak tahu apa yang Taeyong pikirkan dan rasakan saat ini….

Tidak siapapun mengetahuinya. Termasuk patah hati yang Taeyong alami –cedera hati yang tidak Taeyong tahu bagaimana cara mengobatinya.

Tapi, ia tahu seharusnya Taeyong merasakan sesuatu pada Ashley yang lebih daripada sekedar perasaan pada seorang teman wanita, juga ia tahu bahwa Kim Jongin dan Ashley Lee adalah soulmate di masa lalu.

 

***

 

“Yong, kau tidak seharusnya seperti ini,” ucapan Ashley tempo hari setelah pernyataan cinta Taeyong berhasil membuat cedera yang cukup parah. Taeyong tidak bermaksud memaksa Ashley untuk menerimanya, tapi tetap saja…

“Lalu harusnya aku bagaimana?” Taeyong berujar datar setelah mendengar jawaban Ashley yang sudah menunjukkan penolakan terhadapnya.

“Yong…”

“Sampai kapan kau akan terus melihat Jongin? Bahkan ketika dia telah berkencan dengan gadis lain…”

“Yong!”

“Bagaimana caranya agar kau bisa membuka hatimu lagi dan…”

“Lee Taeyong!”

“Aku tahu kau mencintai Kim Jongin, tapi aku juga tidak bisa menyangkal lagi bahwa aku juga mencintaimu dan ingin memilikimu…”

“Lee Taeyong…”

“Tentu saja, aku tidak sebaik dan sedewasa Kim Jongin. Bahkan aku tak pernah benar-benar berada di sisimu saat sulit…”

Dan, mereka akhirnya bertengkar untuk pertama kalinya. Pertengkaran yang cukup serius. Bukan pertengkaran karena memperdebatkan makanan yang akan mereka makan, bukan pertengkaran karena larangan meminum alkohol atau diet yang akan dilakukan Ashley, ini bukan pertengkaran yang begitu saja bisa diselesaikan dengan sebuah ejekan dan berakhir tertawaan.

Taeyong harusnya tahu resiko ini, tapi ternyata hatinya tidak siap dengan sakit hati yang lebih besar dari perkiraannya….

“Ashley?” Taeyong membuka suaranya ketika Ashley mengangkat teleponnya setelah bunyi dering ketiga. Taeyong masih sangat bersyukur karena gadis itu ternyata mau repot-repot menghubunginya, bahkan mengkhawatirkannya –jika itu benar—setelah suasana mereka kacau karena ulah Taeyong.

“Kau ini kemana saja, sih? Kenapa baru menghubungiku? Kau ingin sengaja menghindariku, begitu?” omelan itu justru berhasil Taeyong menarik sudut bibirnya. Entah mengapa kali ini ia merasa cukup menjadi seorang pengecut. Gadis itu masih sudi bertingkah biasa saja setelah pertengkaran mereka, dan Taeyong malah murung selama berhari-hari tanpa tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini.

“Kenapa? Kau merindukanku?” balas Taeyong dengan nada jenaka –dan semoga saja tidak terdengar terlalu dibuat-buat. Ia pun berjalan mendekati tembok pembatas gedung SM. Saat ini ia berada di atap gedung dan membiarkan angin musim dingin menggigiti kulitnya.

“Heol…narsis sekali…”

Taeyong masih mempertahankan senyum di bibirnya, “Jadi, kenapa kau begitu heboh menghubungiku sampai menelepon Johnny segala? Kau tidak ada jadwal?” Taeyong pun memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

Taeyong dapat mendengar gadis itu mendesah panjang, “Kapan kau akan pergi ke Hong Kong?” suara Ashley mulai berubah ke intonasi rendah.

Taeyong sedikit menaikkan alisnya bingung, “Minggu depan. Kenapa?”

“Kau sedang mempersiapkan come back? Atau debut unit baru?” tanya Ashley lagi.

“Kenapa? Kau ingin bertanya siapa yang akan come back dan debut kali ini? maaf Ashley, meskipun seandainya aku adalah kekasihmuu, aku tidak bisa mengatakannya…”

“Jadi, kau sedang sibuk?” potong Ashley cepat.

Taeyong pun membalikkan tubuhnya dan bersandar pada tembok di belakangnya, “Begitulah. Kenapa?”

“Aku ingin kita bertemu sebelum kau pergi ke Hong Kong…”

Taeyong memperhatikan sepatunya selama beberapa saat, membiarkan detak jantungnya menguasai seluruh tubuh Taeyong. Ia menegang. Menyebalkan sekali, bukan? Padahal mereka sudah mengenal lama, tapi situasi sialan ini malah membuatnya tidak memiliki kepercayaan diri untuk bertemu dengan Ashley –bahkan hanya dengan Taeyong membayangkannya.

“Aku tidak yakin. Kami memiliki jadwal yang cukup padat…”

“Kalau begitu aku akan ke Hong Kong, setelah acara dari MAMA temui aku.”

“Ashley…”

“Tidak ada penolakan. Kita harus bertemu. Ah, tapi jika kau menang di acara MAMA sepertinya kalian akan merayakannya dulu. kalau begitu, setelah sampai di Seoul segera kabari aku. Aku hanya akan meminjam waktumu satu hari. Jadi, aku mohon…”

Dan, Taeyong sama sekali tidak bisa menjawab –tidak bisa memberi penolakan untuk apapun yang berkaitan dengan Ashley.

 

***

 

“Kau sudah melihatnya?”

Ashley yang tengah mengenakan make-up hanya bisa melirik asisten manajernya dari cermin yang sepertinya baru saja mengatakan sesuatu padanya, “Kau bicara padaku Eonni?” Ashley tidak bergerak dan tetap pada posisinya karena rambutnya tengah ditata sedemikian rupa untuk acara fashion show-nya hari ini. acara yang terlalu kebetulan berada di tanggal yang sama dengan acara MAMA 2016, acara penghargaan terbesar bagi para selebriti Asia –atau tepatnya Korea.

Meskipun tidak akan pernah masuk ke dalam daftar artis yang berada di dalam nominasi, tapi tiap tahunnya Ashley tidak akan melewatkan informasi mengenai acara itu. Terutama ketika ia dan Jongin masih memiliki hubungan yang…begitulah. Walaupun sudah putus, bukan berarti Ashley sepenuhnya meninggalkan kebiasaannya untuk mencari kabar terbaru dari Jongin. Kadang, ia juga mengucapkan selamat kepada beberapa temannya yang juga memenangkan acara itu. Tapi kali ini, ia kedapatan satu lagi temannya yang tenah memperjuangkan grup-nya di ajang emas itu.

“Tentu saja,” wanita yang berusia enam tahun lebih tua darinya itu pun mengambil tempat duduk di sampingnya. Tangannya juga masih memegangi ponsel, lalu ia menunjukkan layarnya ke arah Ashley, “NCT Dream baru saja perform. Kau penggemar berat NCT bukan?”

Ashley terkekeh pelan. Oh yeah…. Ia selalu saja menjadi penggemar bagi teman-temannya yang telah berhasil dengan impian mereka. Taemin dengan Shinee-nya, Jongin dengan EXO-nya, Krystal dengan F(x)-nya, bahkan Red Velvet, grup yang sebenarnya tidak terlalu ia senangi –yang juga di sisi lain membuat hati nuraninya justru memberikan doa paling tulus yang pernah ia miliki. Dan sepertinya sekarang ia juga akan menjadi fans dari Yuta dan Taeyong, dua orang yang ia sebut sebagai teman di grup NCT –grup yang katanya ia gemari.

“Woah…jika kau membuka SNS, kau akan mendapati banyak komentar mengenai EXO dan BTS,” dan asisten manajernya itu masih tertarik untuk membahas soal MAMA. Sedangkan Ashley hanya tersenyum mendengarkan.

Ashley pun mengambil ponselnya dan mengecek kotak masuk, berharap Taeyong menghubunginya atau mengiriminya pesan. Ashley juga tengah berada di Hong Kong, dan ia berharap Taeyong akan mengabarinya seperti biasa. Tapi sepertinya kali ini Ashley harus terbiasa dengan perubahan Taeyong, semenjak kejadian hari itu, Taeyong terlalu kentara menunjukkan jarak yang ia buat untuknya. Ini cukup menyakitinya, tapi Ashley juga tidak memiliki cara lain untuk membuat kecanggungan mereka mencair. Dan…entah benar atau tidak, tapi pada akhirnya Ashley tetap melakukan cara sederhana ini untuk mencoa memperbaiki atmosfer abu-abu mereka.

[Yong ~ wish you luck. Tapi aku amat percaya diri grup kalian akan memenangkan award malam ini.

Ps. Aku memberi voting suara untuk grup kalian, jika menang kau harus mentraktirku Leader-nim…]

Ashley pun mengirim pesan singkat itu untuk Taeyong. Ia sangat yakin Taeyong tidak akan membalasnya sekarang. Dia bukan tipe orang yang akan memegang ponsel saat sedang persiapan perform. Selain perfeksionis dalam masalah kebersihan, dia juga terlalu memerhatikan penampilannya. Ashley pun mendesah pelan dan menaruh ponselnya ke atas meja, lalu membiarkan iris matanya menembus bayangannya sendiri pada cermin. Ia sebenarnya memiliki banyak rasa iri terhadap Taeyong…. Ia iri dengan kerja keras Taeyong yang membuahkan hasil luar biasa.

 

***

 

Ashley baru saja menyelesaikan seluruh rangkaian acara tepat pada pukul dua pagi. Dan esoknya pada jam dua siang, Ashley sudah harus melakukan penerbangan ke Korea setelah melakukan pemotretan untuk salah satu majalah Cina dan juga interview sederhana. Karirnya sebagai model memang cukup mengalami peningkatan, terutama di negeri tirai bambu ini. tapi karena konflik politik antara negara ini dan juga Korea, Ashley juga mulai merasakan dampak terhadap karirnya. Seperti pembatalan perpanjangan kontrak untuk beberapa majalah Cina untuk tahun 2017 dan juga untuk beberapa acara lainnya. Untungnya, bebeapa pekerjaannya di Hong Kong tidak mengalami dampak yang terlalu parah.

Agensi Ashley pun mulai mencari cara lain untuk memperluas karir Ashley di Korea dan juga Jepang. Ashley merasa ia tidak terlalu beruntung untuk urusan karir dunia hiburan, entah gagal debut maupun mendapat dampak dari konflik negara, Ashley juga harus menelan pil pahit lagi ketika agensinya tidak bisa mengusahakan Ashley mendapat cukup ruang pekerjaan seperti di Cina –karena kontroversinya dulu.

Dan…yeah, Ashley selalu merasa bahwa ia tidak berjalan di jalan yang tepat. Ashley memang sudah mengenal dunia modeling sejak enam tahun lalu, ia juga pernah mencoba dunia akting meskipun bukan menduduki jajaran kursi utama dalam sebuah drama maupun film, tapi kenyataannya ia tidak pernah menikmati semua itu. Ashley terlanjur mencintai musik dan terlanjur terobsesi dengan musik. Ia sangat ingin mewujudkan satu-satunya impian yang membuatnya merasa benar : menjadi penyanyi.

Tapi, seperti yang ia lihat sendiri. Nyatanya ia tidak pernah benar-benar berhasil menginjakkan kakinya di dunia tarik suara meskipun ia telah menghabiskan banyak waktu dan melukai dirinya sendiri demi satu-satunya impian yang ia kira bisa ia gapai. Ia sudah merasa cukup senang ketika ia berhasil mempersembahkan suaranya untuk satu lagu yang sempat membuat namanya naik melambung, tapi ia masih haus dengan impiannya –ia ingin pencapaian yang lebih besar.

“Kau harus istirahat selagi bisa. Besok kau akan langsung datang ke lokasi pemotretan tepat pukul delapan pagi,” manajernya menoleh ke arah Ashley yang duduk di jok belakangnya. Dan Ashley hanya mengedikkan bahu, ia sudah terlalu lelah hanya untuk sekedar menyahuti manajernya yang agak cerewet belakangan ini.

Dan, ia hampir saja memutuskan untuk tertidur sampai ia ingat mengenai acara MAMA –mengenai penampilan Taeyong. Ashley pun segera mengambil ponselnya di dalam tas dan juga headphone-nya. Ia penasaran bagaimana anak lelaki itu akan menunjukkan ‘penampilan terbaiknya’. Dan…yeah, akhirnya ia menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk menonton keseluruhan perform NCT pada malam itu. Termasuk adegan dimana Taeyong menangis dan berkata, “Aku pikir grup ini tidak akan mendapatkan pernghargaan apapun karena ada aku di dalamnya,” dengan lelehan air mata disana-sini.

Dasar cengeng. Ashley mengumpat dalam hati dan justru ikut-ikutan meneteskan air matanya. Harusnya Taeyong tidak perlu mengatakan hal seperti itu. Harusnya Taeyong berhenti merendahkan diri dan menyalahkan dirinya seperti itu. Ashley tidak habis pikir bagaimana orang-orang bisa membenci dan menuduhnya meskipun mereka tidak tahu kebenaran apapun di balik masa lalu Taeyong. Ia juga sama sekali tidak mengerti kenapa orang-orang terus memukulnya dengan hujatan tanpa tahu seberapa besar peluang bagi seseorang untuk berubah, dan seberapa besar kata-kata tak manusiawi mereka membunuh karakter orang yang mereka hujat.

Ashley tahu terdapat hukum sosial yang berlaku dengan cara berbeda di setiap tempat, salah satunya Korea yang menjadi salah satu tempat cukup menyeramkan baginya. Tapi Ashley merasa bahwa mereka kadang melakukannya di luar batas dan terlalu berlebihan. Mereka juga hampir tidak memberikan maaf bahkan ketika orang yang mereka sebut pelaku sudah mengakui kesalahan dan memohon maaf berulang kali. Mereka membunuh dengan kata-kata mereka.

Meskipun nama Ashley malah ikut tercoreng, tapi Ashley sama sekali tidak menyesal telah membela Taeyong dan ikut beradu argumen, juga meskipun kini ia tidak mendapat ruang yang cukup untuk pekerjaannya di Korea. Ia juga tidak memerlukan alasan berlebihan untuk melakukannya.

[Yong ~ kau harus membelikanku daging sapi terbaik saat pulang ke Seoul nanti. Ha ha ha…]

Ashley sebenarnya ingin menelepon Taeyong dan menyoraki lelaki itu –tapi Ashley pikir Taeyong perlu waktu bersama grupnya. Merayakan kemenangan terbesar yang Taeyong impikan. Ah, rasanya ia selalu melihat bagaimana mudahnya orang lain menggapai impian mereka.

[Nakamoto Yuta ~ selamat untuk keberhasilan NCT 127 ! kalian telah bekerja keras dan keren !]

Sekali lagi Ashley mengirimkan pesan, kali ini untuk Yuta yang kebetulan memang berteman cukup dekat dengannya. Rasanya aneh saja jika Ashley hanya mengirim pesan pada Taeyong. Dan tak berselang lama, Yuta justru membalas pesannya.

[Thanks! Kupikir kau hanya akan mengingat EXO karena mereka banyak mendapat sorakan selamat dan penghargaan T_T kau benar-benar harus menjadi penggemar kami.]

Ashley terkikik geli membayangkan ekspresi konyol Yuta saat mengatakan Ashley harus menjadi penggemarnya. Dan satu lagi yang menggelitik perasaan Ashley, mengenai kemenangan EXO. Biasanya ia tidak absen untuk mengucapkan selamat, tapi mereka sudah seperti legend dengan segala penghargaan yang mereka dapatkan atas prestasi tidak main-main pula. Tapi…entahlah. Ia merasa agak terbebani saja.

[Kalian sudah terlalu sering membuat rekor untuk prestasi kalian, aku tidak harus mengucapkan selamat, bukan? Hahaha. Katakan pada semua member, aku turut bahagia untuk keberhasilan kalian <3]

Biasanya, Ashley akn mengirimkan pesan singkat selamat semacam itu hanya kepada Jongin. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya Ashley malah mengirimkan pesan singkat itu kepada Sehun. Ia tidak sedekat itu sih dengan Sehun, tapi ia tidak yakin jika harus mengirimnya pada Chanyeol maupun Junmyeon, apalagi Jongin. Jadi…tidak apa-apa lah ia  mengirimnya pada Sehun dan bertingkah sok akrab dengannya. Dan satu lagi, ia kembali mengirimkan pesan singkat.

[Taemin Oppa ~  aku benar-benar senang kau mendapatkan piala penghargaan malam ini T_T aku sudah terlalu sering mengatakannya, lagumu sangat keren dan aku benar-benar selalu jatuh cinta pada semua lagumu. Tahun depan kau harus kembali membawakan lagu yang lebih bagus lagi T_T]

Ashley masih memerhatikan layar ponselnya. Masih menunggu seseorang membalas pesannya setelah mengirimkan pesan ucapan selamat yang terakhir malam itu untuk Taemin. Ia bukan menunggu balasan dari Taemin yang langsung masuk hanya berselang dua menit setelah Ashley mengucapkan kata ‘selamat’, ataupun pesan balasan dari Sehun, tapi…Taeyong. Ia sudah erasa sangat dekat dengan Taeyong, dan dia sudah menceritakan banyak hal mengenai debut dan juga penghargaan yang ingin dia bawa atas nama grupnya. Tapi nyatanya, Taeyong sama sekali tidak menjawab pesan Ashley hingga gadis itu tertidur di dalam mobil.

 

***

 

“Ashley tidak menghubungimu?”Yuta mengambil tempat duduk tepat di sebelah Taeyong. Lelaki itu terlihat sibuk membalas pesan dari seseorang –Yuta pikir itu dari seorang gadis, karena Taeyong begitu tenggelam dalam dunianya sendiri. Tapi setelah mengintipnya, ia malah mendapati kata ‘Eomma’ di layar ponsel Taeyong.

“Wah…manajer Hyung bilang dia akan mentraktir kita malam ini!” Doyoung bersorak pelan dari sudut ruangan dan membuat member NCT lainnya di ruangan itu ikut bersorak dan membuat kamar yang harusnya diisi oleh empat orang itu menjadi bising.

“Aku tidak punya banyak uang untuk membelikannya daging sapi terbaik di Korea, makanya aku tidak membalas pesannya,” Taeyong menjawab pertanyaan Yuta tepat saat Yuta sama sekali tidak memerhatikan Taeyong dan sibuk bercengkrama dengan anggota NCT lainnya.

“A-apa?” Yuta mengerjapkan matanya beberapa kali, ia sama sekali tidak mendengar perkataan Taeyong barusan.

Taeyong pun memutar kepalanya ke arah Yuta dan menarik sudut bibirnya tipis, kemudian ia mengedikkan bahu dan bangun dari duduknya, “Aku harus ke sana sebentar,” ujar Taeyong singkat sebelum meninggalkan kamar yang sebenarnya menjadi kamarnya bersama Yuta, Doyoung, dan Jaehyun –yang sayangnya menjadi cukup pengap karena semua orang memilih untuk berkumpul di sana.

 

***

 

Taeyong tidak pernah seperti ini. Ia hampir tidak pernah memperhatikan bagaimanapun tingkahnya di hadapan Ashley, ia juga tidak pernah memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan pada Ashley meskipun ia mulai menyadari perasaannya. Tapi kali ini, Taeyong merasa otaknya kosong dan ia sama sekali kehilangan ide di otaknya. Ia sebanrnya ingin membalas pesan Ashley, dan otaknya sama sekali tidak membantu keinginan Taeyong.

Kosong. Otaknya sama sekali kosong, berkebalikan dengan perasaan di dadanya yang terus mengembung dan membuatnya sesak tanpa sebab.

[Maaf aku baru bisa membalas pesanmu. Kudengar dari Yuta kau juga berada di Hong Kong.]

Taeyong segera mengirimkan dua kalimat itu pada Ashley tanpa memikirkannya lagi. Taeyong tidak tahu apa yang membuatnya menjadi selinglung itu –mengetik pesan, menghapusnya, mengetiknya lagi, menghapusnya—hingga ia memutuskan untuk tidak mengirimkan apa-apa dan berakhir pada kalimat tadi.

[Heol…kejam sekali. Padahal Yuta langsung membalas pesanku T_T]

Ashley cukup cepat membalas pesan Taeyong. Bahkan tak selang sampai satu menit, gadis itu sudah membalas pesannya –hingga satu SMS lagi masuk ke dalam ponselnya.

[Ya, aku berada di Hong Kong sejak kemarin pagi dan akan pulang jam dua siang nanti. Ini hanya pemotretan, tapi aku benar-benar lelah T_T lalu bagaimana denganmu, Yong? Wah…kalian pasti berpesta besar, aku turut berbahagia untuk kalian semua :)]

Taeyong menarik sudut bibirnya tipis. Ashley punya kebiasaan menyebalkan seperti ini –mengeluh karena tidak memiliki kegiatan dan mengeluh pula jika memiliki jadwal yang padat. Dari semua orang yang pernah ia kenal, Ashley adalah gadis yang paling sering dan paling banyak mengeluh. Bahkan ia akan mengeluhkan case ponselnya yang katanya membosankan setelah ia mengeluh karena kesulitan mencari case ponselnya itu.

Dia pasti akan mengeluh karena tidak memiliki jadwal yang cukup dan membual tentang betapa bosannya ia terkurung di apatemen ataupun harus berjalan-jalan sendirian, tapi dia juga akan mengeluh jika memiliki jadwal pemotretan selama berhari-hari meskipun ia sudah menetapkan profesinya sebagai model.

[Berhentilah mengeluh. Bukankah bagus kau memiliki jadwal yang padat daripada kau harus membangkai di apartemen dan mengeluh seharian karena bosan?]

[Oh, yeah… aku harus banyak belajar dari Uri Taeyong yang telah berhasil membawa grupnya dengan baik…]

Taeyong mendesis pelan sembari terkekeh ketika membaca SMS berupa sindiran itu. Ia sudah siap mengetikkan balasan untuk Ashley, tapi ternyata gadis itu melakukan video-call terlebih dahulu padanya. Taeyong harusnya tidak perlu gugup ataupun terkejut, tapi gadis ini hampir tidak menunjukkan ketidaknyamanannya –tidak seperti Taeyong yang bahkan tidak berani menyalakan ponsel.

“Bukankah kau harusnya sibuk? Kau masih sempat menghubungiku rupanya,”

Ashley yang sedang duduk membelakangi meja rias itu sedikit mencebik, “Kau benar-benar ingin menghindariku, ya? Kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali setelah sampai disini. Ah, tidak! bahkan kau tidak membalas SMS-ku,”

Taeyong pun mengusap tengkuknya –bagaimana Taeyong akan membalas SMS Ashley jika perasaannya yang porak poranda saja masih belum bisa dibereskan dengan benar? Yeah, padahal ia sudah meyakinkan dirinya untuk tidak memebelah fokusnya dengan masalah lain, sepeti masalah peempuan dan semacamnya. Tapi Taeyong ternyata tidak memiliki pilar konsistensi setinggi itu. Taeyong tidak pernah merencanakan untuk menyukai siapapun, terutama pada sseseorang yang sudah ia anggap sahabatnya. Ia juga tidak pernah berencana untuk cemburu pada Kim Jong In setelah sekian tahun mengenal namanya, dan ia juga tidak pernah berencana untuk patah hati karena penolakan yang seharusnya sudah dengan amat jelas sudah Taeyong tahu akan terjadi.

“Aku sudah memikirkannya berulang kali…” Taeyong mencebikkan bibirnya, pandangan kosongnya menembus pemandangan dari balkon kamar hotelnya,”Tapi aku sama sekali tidak yakin bisa mentraktirmu daging sapi. Jadi…aku tidak bisa membalas SMS-mu,”

Taeyong mendapati tatapan bingung Ashley ketika bola matanya sudah kembali berlari ke arah layar ponselnya. Dan sebelum suasana menjadi canggung kembali, Taeyong pun menarik sudut bibirnya dan menunjukkan deretan gigirnya, “Tapi aku bisa memasakkanmu masakan yang lebih enak daripada masakan restoran. Tapi aku tidak bisa menjanjikan jadwalnya, awal Januari ini aku memiliki jadwal yang cukup padat,”

Ashley mendengus panjang dan tertawa agak sumbang, “Tentu saja…kau harus membuat masakan yang mirip seperti di NCT Life kemarin. Aku ingin kau membuat masakan seperti miliki Ten…”

Taeyong mendelikkan matanya cepat, “Astaga Ashley…berhentilah bertingkah menggelikan seperti itu…”

“Aku serius, Yong! Makanan Thailand-Korea! Bukankah itu sangat keren?”

Taeyong pun menegakkan punggungnya dan bersandar pada pagar pembatas tanpa mengalihkan pandnagannya dari Ashley yang kini tengah ditata rambutnya, “Baiklah…makanan Thailand-Korea yang dipesan khusus oleh Nona Ashley Lee. Lee Haeun-ssi. Aku mau melakukan ini karena kau telah mendukungku, bertengkar karenaku, dan…”

Ashley mendnegus panjang ketika mendapati Taeyong lagi-lagi meneteskan air matanya, “Kau yang melakukannya. Semua kerja kerasmu, semua perjuanganmu, kau yang berperan di balik itu semua, Yong…. Kau telah melakukan yang terbaik. Kalian semua telah melakukan yang terbaik dan berhak mendapatkan semua itu. Jangan merendah seperti itu lagi, Yong…. Aku benar-benar benci kau mendengar pidatomu…”

Taeyong pun menunduk –menghapus air matanya, sayangnya ia tidak bisa menyembunyikan hidungnya yang memerah dan matanya yang mulai sembab –lagi, “Aku memberikan waktu yang sulit bagis emua orang. Dimana pun aku berada, aku merasa selalu saja ada tatapanmengerikan yang mengikutiku. Bahkan manajer memintaku untuk tidak melihat internet,” Taeyong kembali menghapus lelehan air matanya, “Aku bahkan memberikan waktu yang sulit pada orang tuaku. Aku benar-benar begitu buruk…”

“Aku pernah membenci agensimu karena mereka tidak mencoba mempertahankanku atau setidaknya memasukkanku ke dalam daftar SMRookies. Aku pernah sangat kesal pada agensimu ketika semua temanku mulai debut dan aku maish harus masuk ke kelas training dan bertingkah sok tegar dengan mendukung teman-temanku,” Ashley menjeda ucapannya dengan tarikan napas yang panjang, “Tapi kau tahu, Yong? Aku mulai mengurangi rasa benciku ketika mereka mempertahankanmu. Ketika mereka mau ikut memperjuangkanmu dan mau melihat usahamu untuk berubah. Semua itu membuatku sadar, kesalahan bukan ada pada mereka ataupun padaku. Aku hanya perlu banyak belajar…” Ashley pun kini ikut menitikkan air matanya, “Semua orang memiliki waktu yang sulit, dan semua orang harus menyadari bahwa waktu-waktu sulit itu merupakan pelajaran paling penting. Dan aku senang kaulah yang membuatku menyadari itu semua. Aku benar-benar sangat bahagia dan bangga dengan semua perjuanganmu. Kau mengajarkanku untuk berjuang lebih keras dan bukan hanya melihat kemampuanku.”

Dan, selama beberapa menit, tak satupun dari mereka angkat suara dan membiarkan keheningan menyelubungi mereka. Mereka sama-sama merenungkan perjalanan mereka selama ini, juga merenungkan perjalanan dan perjuangan seperti apa lagi yang harus mereka lakukan di masa depan.

“Yong…aku tidak berkencan dnegan siapapun bukan karena aku hanya melihat Jongin atau semacam itu,” ucapan Ashley berhasil menarik lamunan Taeyong, “Aku hanya belum siap dengan beberapa situasi tidak menyenangkan karena sebuah hubungan seperti itu. Aku telah mengacaukan banyak hal danmengecewakan banyak orang. Sebelum aku memikirkan hubungan dengan seorang pria…aku ingin lebih dulu kita memikirkan mengenai impian terbesar kita saat ini. perjalanan kita masih sangat panjang. Dan aku…”

“Ayo kita tetap seperti ini,” Taeyong menyela ucapan Ashley, “Tapi kau jangan menyalahkanku jika kau tetap akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Aku mengerti mengenai alasanmu…” kemudian Taeyong pun menggelengkan kepalanya, “Tapi aku tidak menemukan alasan untuk berhenti menyukaimu.”

Ashley pun tersenyum kecil, “Aku sudah jatuh cinta pada masakanmu, Yong…”

“Dan aku akan membuatnya lebih daripada itu. Juga…” belum sempat menyelesaikan ucapannya, tia-tiba saja Yuta datang dan merebut ponsel Taeyong –dan entah sejak kapan dan darimana anggota lain juga sudah mulai mengerubuni Taeyong…tidak, tapi ponselnya.

“Wah…jadi kau selingkuh dengan Taeyong, Ashley Lee? Kau kejam sekali. Bahkan kau tidak pernah meneleponku dan kalian berkencan seperti ini di belakangku?” Yuta membuat dramanya sendiri ketika berbicara dengan Ashley di video-call.

Ashley terrtawa cukup keras, cukup terkejut mendapati ada banyak anggota NCT yang mulai ribut memperebutkan ponsel Taeyong. Dan Taeyong hanya bisa mencoba merebut ponselnya yang sama sekali tidak terlihat akan berhasil.

“Wah…aku tidak yakin apakah aku bisa mempertimbangkanmu, Yuta…”

“Nuna! Aku Haechan! Harusnya kau meneleponku dan bukannya Taeyong Hyung…”

“Aish…kau masih kecil!” protes Yuta sambil mendelik ke arah Haechan.

Kemudian Ten menyeret Haechan dan melambaikan tangannya ke arah layar ponsel di tangan Yuta, “Hai Ashley! Aku sering mendnegarmu tapi sepertinya aku baru pertama kali benar-benar berbicara denganmu…”

Dan Taeyong menyerah untuk merebut ponselnya ketika Doyoung, Jeno, dan Mark ikut menyelip dan memperebutkan ponselnya –memperebutkan Ashley-nya yang bahkan tidak berhasil ia sentuh hatinya…untuk saat ini. ia pun hanya tersenyum kecil dan membiarkan ponselnya diperebutkan disana-sini.

“Sepertinya hubungan kalian sedikit meningkat…” Jaehyun tersenyum penuh arti sambil menepuk pundak Taeyong, “Tapi aku harap kau juga tidak kehilangan fokusmu.”

“Sebenarnya aku gagal…” Taeyong balas tersenyum ke arah Jaehyun dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ashley di ponselnya, “Tapi aku akan mencoba melakukan dan menerima yang terbaik.”

 

20170407 PM1050

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s