Way of Two Rings (chapter 26-ENDING)

 

Title : Way Of Two Rings
Genre : AU, Romance, Marriage Life, School Life
Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG
Length : Multi chapter
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
Disclaimer : the story is pure mine. Also published
xiaohyun.wordpress.com
Cover by : Alkindi @Indo Fanfiction Art

***

Saat marah, biasanya Luhan akan langsung memarahi Ariel, bahkan membentaknya. Luhan akan mengeluarkan semua kemarahannya, dan Ariel hanya perlu menunggu Luhan selesai dengan emosi yang menjilati perasannya. Tapi kali ini Luhan tidak marah lagi setelah mendengar Ariel akan mendaftar untuk kuliah di Praha. Luhan juga tidak melarang saat Ariel dibawa kembali masuk ke dalam Club. Bahkan saat pulang, Luhan sama sekali tidak bicara apalagi menatapnya. Ariel yang biasanya sangat ingin menjambak rambut Luhan saat mulai membentaknya, kali ini merasa lebih baik jika Luhan memarahinya langsung daripada mendapati dirinya didiamkan seperti sekarang. Ariel menjadi ingin menangis lebih keras.
“Maaf…” Setelah hampir satu jam diliputi keheninga, akhirnya Ariel memutuskan untuk angkat suara.
Luhan mendengus keras, ia pun tersenyum nyinyir dan melepaskan sabuk pengamannya setelah selesai memarkirkan mobil, “Kenapa minta maaf?” dan nada sinis itu semakin membuat Ariel ingin menangis. Luhan selalu terlihat menakutkan tiap kali ia benar-benar marah, “Itu impianmu. Untuk apa kau meminta maaf atas sesuatu yang kau cita-citakan?”
“Luhan…”

“Kau bisa pergi kemanapun kau mau, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan, kau berhak atas itu semua, kenapa kau harus meminta maaf?” Luhan mengucapkannya dalam satu tarikan napas. Ia bisa merasakan napasnya sendiri yang tersenggal, senada dengan denyutan jantungnya yang memberikan efek nyeri. Heol…ini bahkan baru sekedar rencana Ariel untuk pergi meninggalkannya, tapi Luhan seperti sudah membentang jarak dengan gadisnya.
“A-aku tidak bermaksud….”
“Kau memang sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari, kan?” Luhan kembali menyela Ariel. Ia tidak ingin mendengar alasan apapun. Kali ini ia ingin sedikit membesarkan egoisnya. Kali ini ia ingin menjadi yang satu-satunya didengar, “Ariel, jika aku memintamu untuk memilih antara aku atau impianmu, kau akan memilih yang mana?”
Ariel bisa merasakan napasnya sempatterhenti ketika Luhan menanyakan pertanyaan itu. Pertanyaan yang terdengar amat jahat dan dapat berhasil menghunus dadanya hingga terasa nyeri jauh ke sana –entah seberapa sakit hingga lagi-lagi, Ariel dapat merasakan air matanya kembali meleleh. Kenapa Luhan sejahat itu dengan pertanyaannya?
“Egois…”
“Jawab aku, jika aku memintamu untuk memilih antara aku atau impianmu pergi ke Praha, kau akan memilih yang mana?” Luhan mengulangi pertanyaannya yang terkesan retorik.
Selama persekian detik, hanya terdengar suara helaan napas antara keduanya. Luhan masih menunggu jawaban Ariel, ia tidak peduli apakah jawabannya nanti akan menyakitinya atau tidak. ia hanya ingin tahu apa yang ada di dalam isi kepala gadis itu, semua yang tidak pernah Luhan tahu. Ariel dan impiannya –sesuatu yang tidak pernah tersentuh oleh Luhan. Juga bagaimana pandangan gadis itu terhadap hubungan mereka saat ini.
“Ariel…”
“Kau egois…”
Luhan bisa mendnegar suara Ariel yang mulai serak, tapi ia tetap mempertahankan keras kepalanya dan terus menatap lurus kaca di hadapannya dengan tangan yang terkepal erat pada stir.
“Kenapa kau menanyaiku pertanyaanku seperti itu?” Ariel kembali menghapus air matanya yang semakin deras, “Ini pertama kalinya aku ingin melakukan sesuatu karena keinginanku sendiri. Ini pertama kalinya aku memiliki sesuatu yang ingin kucapai. Semua orang mendukungku…” Ariel memotong ucapannya dan terisak.
Luhan ingin memeluk Ariel, tapi ia lebih memilih untuk mencengkram stir di depannya lebih kuat lagi, “Saat pertama kali masuk Senior High School bersama Sohee, kami sama-sama berjanji akan melanjutkan kuliah kami di Inggris meskipun nanti kami akan berada di universitas ataupun di kota yang berbeda,” rahang Luhan semakin mengeras ketika kepingan memori itu mulai berputar di kepalanya, sejalan dengan kepingan hatinya yang sepertinya juga mulai pecah sedikit demi sedikit, “Tapi tiba-tiba saja dia jatuh cinta pada Sehun, lalu tiba-tiba saja kau muncul dan malah bertunangan denganku, dan…tiba-tiba saja aku jatuh cinta padamu, menikah denganmu, dan…” Luhan mengetukkan jemarinya di atas stir, “Dan tiba-tiba saja aku merasa rela kehilangan segala rencanaku, asalkan kau tetap baik-baik saja dan tetap berada di sisiku. Semua rencanaku hanya perjalanan, tapi kau adalah rumah tempat untuk pulang. aku pasti sudah terlalu percaya diri kau akan memilih Yonsei University.” Luhan pun tertawa sumbang cukup lama sebelum akhirnya ia pun menyentuh sudut matanya, seperti menghapus sesuatu.
Dan, tak lama setelah itu ia pun membuka pintu mobilnya dan berjalan dengan langkah agak gontai. Kepala lelaki itu tertunduk, Ariel seolah bisa menemukan sebuah beban yang membebani pundak dan juga leher pria itu. Ariel masih duduk di dalam mobil sampai punggung pria itu hilang di balik pintu lift, meninggalkan seluruh ucapannya sendiri yang terus berputar di kepala Ariel. Dan ia pun kembali menangis sembari menyembunyikan wajahnya sendiri di depan dasbor –hatinya juga kini terasa nyeri.

***

Gadis gila. Meskipun hati nuraninya tidak membenarkan satupun umpatan yang terlontar di dalam otaknya, nyatanya Luhan tidak bias menahan pikiran-pikiran itu agar tidak menguasainya. Luhan pun melempar selimutnya dengan sebal ketika sekali lagi –setelah tiga malam terakhir ini—Ariel justru kabur dari kamar mereka dan entah tidur dimana. Padahal, Luhan sudah memastikan gadis itu tidur lebih dahulu sebelum dirinya, nyatanya Luhan akan selalu tidak menapati Ariel meskipun ia baru terlelap sepuluh menit di tengah malam.
Mereka sangat jarang bertengjar hingga tidak slaing bertegur sapa selama beberapa hari, Luhan bias menjamin salah satu diantara mereka akan mereda dengan sendirinya ketika menghadapi berbagai jenis pertengkaran. Tapi…tentu saja, Luhan sangat tahu bahwa pertengkaran mereka kali ini bukan hanya sekedar pertengkaran yang akan selesai dengan sebuah pelukan ataupun kata maaf.
Luhan pun menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia pun berjalan dengan sedikit terseok kea rah kamar mandi –tak lupa dengan bantingan keras pintu kamar mandi yang menggambarkan sebagian besar perasaan kesal Luhan.
Yeah, ia sudah memikirkannya ratusan kali –hingga ia piker tak ada lagi ruang untuk memikirkan tugasnya, kuliahnya, bisnisnya, dan hal-hal lain di luar masalahnya bersama Ariel. Sayangnya, ia tidak juga menemukan titik rela untuk membiarkan Ariel pergidan meninggalkannya sendirian di sini.
Luhan tersenum kecut ketika mendapati bayangannya sendiri pada cermin. Seharusnya Luhan tidak perlu merasa bersalah. Seharusnya ia tetap membesarkan perasaan bahwa ia benar. Ariel lah yang membohonginya, Ariel lah yang tidak jujur padanya, dan Luhan piker tidak ada salahnya ia merasa tidak ingind itinggalkan oleh Ariel. Praha bukan tempat yang dekat! Luhan sama sekali tak habis piker, bagaimana bias Ariel memikirkan semua itu sendirian dan mengenyampingkan dirinya setelah apa yang Luhan lakukan….
Dan, detik berikutnya Luhan menertawakan dirinya sendiri. Ayolah…memangnya apa yang telah Luhan lakukan untuk Ariel sehingga otaknya begitu lancang dengan perasaan ia telah melakukan segalanya untuk Ariel.
Sekali lagi, ia pun menatap bayangannya sendiri dengan seksama did ala cermin.
Mungkin, sebenarnya ini bukan kesalahan Ariel…. Tapi ini mungkin kesalahan Luhan sejak awal. Ia hampir tidak pernah memikirkan tentang impian yang besar, setidaknya seperti Ariel. Ia hanya meyakini dirinya bahwa ia akan terperangkap di balik meja kerja seperti ayahnya. Ia tidak peduli meskipun ia mengamini semua hal-hal tak masuk akal yang diarahkan padanya –pernikahan, pekerjaan, semuanya.
Karena ada Ariel disana.
Yeah…satu-satunya yang ia yakini adalah, keberadaan Ariel membuat semua yang ia lakukan tidak terasa sia-sia.

***

Ariel menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan ketika menyadari sakit kepalanya tidak juga mereda sejak semalam. Ariel sama sekali tidak demam, tapi denyutan di kepalanya membuatnya hampir membenarkan ide untuk membenturkan kepalanya. Entah karena ia kedinginan tidur di perpustakaan dengan AC yang benar-benar terlupakan untuk dimatikan, atau karena memang belakangan ini ia banyak pikiran, Ariel tidak merasa sehat walaupun nyatanya secara kasat mata, ia tampak baik-baik saja.
Dengan dramatis, Ariel menyentuh dadanya dan sedikit menekannya. Pusat sakitnya ada disana. Ariel sempat menertawakan tingkah idiotnya ini, ia emmangd ramatis, tapi ia tidak pernah benar-benar merasa amat melankolis seperti sekarang. Sakit hatinya tidak bisa dibohongi. Ia merasa sesak dans akit secara bersamaan di sana, tepat di hatinya.
Ia pun menyeret kakinya menuju meja makan dan mengambil roti tawar dan mengoleskan selai coklat di atasnya dengan asal-asalan. Sebenarnya ia tidak terlalu menyukai roti, tapi ia malas bergerak dan ia hanya merasa lapar tanpa memiliki selera makan. Membuatnya menjadikan roti tawar dengan selai coklat ini sebagai pilihan akhir –persetan dengan Luhan. Walaupun ia mengkhawatirkannya, tapi ia tidak ingin ambil pusing dan beringkah sok peduli lagi. Ia kesal dengannya. Ia marah padanya. Dan semua itu mengerucut pada satu keputusan : ia tidak akan melakukan apapun untuk Luhan dan akan mengabaikannya.
Tepat setelah lamunannya berakhir, Luhan muncul dari undakan tangga dan sempat ketahuan menatapnya selama beberapa saat sebeluma khirnya ia menarik bola matanya kea rah lain –mungkin kea rah kulkas, karena setelahnya ia berjalan melewatinya dan membuka kulkas yang berada di belakang Ariel saat ini.
Luhan sama sekali tidak berkomentar apapun ketika mendapati meja makan mereka hanya terisi dengan roti tawar, selai coklat dan stroberi, dan satu gelas susu coklat milik Ariel yang tersisa seperempat. Luhan hanya meneguk air putihnya dan menaruhnya asal di atas kulkas dengan pandangan yang lagi-lagi berakhir pada Ariel –tepatnya punggung Ariel. Meskipun menyadari keberadaan Luhan, Ariel sama sekali tak bergeming dan bertingkah sibuk dengan rotinya.
Luhan pun mendengus pelan. Ada dorongan dalam dirinya untuk mendekat kea rah gadis itu, lalu otaknya akan memutar role-film mengenai ide untuk memeluk atau setidaknya melihat wajah gadis itu sedikit lebih lama. Luhan amat merindukan Ariel. Tapi seluruh dorongan dan juga rindu yang mulai menyakiti perasaannya sama sekali tidak mengalahkan ego Luhan.
Luhan ingin menunggu sedikit lebih lama…hingga mungkin Ariel akan berubah pikiran dan membuat Luhan yakin, bahwa dirinya sama berharga seperti Ariel bagi dirinya. Atau…mungkin setidaknya hingga hingga Luhan bisa merelakan keputusan Ariel yang dibuat benar-benar secara sepihak olehnya.
Luhan benar-benar bermaksud mengabaikan Ariel dan sudah siap berangkat kuliah di pertengahan musim panas yang benar-benar jauh lebih menyenangkan dihabiskan di rumah dengan suhu rendah AC, tapi langkah kakinya terhenti begitu saja ketika mendengar suara ingus Ariel…. Astaga…yang benar saja! Siapa yang akan terkena pilek di tengah musim panas begini?
“Kau sakit?” dan itu merupakan kalimat pertama yang memecah keheningan di rumah itu selama beberapa hari ini. Luhan sebenarnya bisa saja menahan diri sedikit lebih lama, tapi ia merasakan letupan emosi di dadanya saat menyadari kekonyolan seorangAriel : terkena pilek di musim panas.
Ariel yang masih terkejut hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, sekaligus…senang, tentu saja. Ternyata Luhan masih sempat mengkhawatirkannya walaupun terdapat guratan di keningnya yang menunjukkan rasa kesalnya.
Tanpa menunggu jawaban Ariel, Luhan kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan kesal kea rah Ariel, “Orang konyol macam apa yang bisa terkena di musim panas, hah? Bagaimana bisa kau mengatakan kau ingin pergi ke luar negeri sendirian jika kau bahkan tidak bisa mengurus dirimu sendiri dengan benar?” Luhan mendengus panjang sebelum akhirnya menaruh tasnya di atas kursi dan berjalan menuju meja konter.
“Aku baik-baik saja…. Hidungku hanya sedikit tersen…”
“Hanya kau bilang? Sekarang kau hanya pilek, kemudian kau akan terkena batuk lalu kau akan terkena demam, begitu?”
Ariel mencebikkan bibirnya. Luhan memang selalu lucu saat marah, seperti sekarang ini, harusnya Ariel bertingkah sok jual mahal dan bukannya malah asyik menonton Luhan yang mulai sibuk memasak sesuatu untuk Ariel. Ariel hanya pernah satu kali berkencan –selain dengan Luhan—dan ia hampir tidak ingat apakah ia dan Jongin pernah benar-benar bertengkar hebat seperti yang ia alami sekarang dengan Luhan. Dan tentu saja, meskipun Ariel ingat ia pernah merajuk beberapa kali saat berkencan dengan Jongin, tapi Jongin tipikal laki-laki yang akan berusaha membuat keadaan menjadi normal kembali, dan tentu saja dia pria baik yang tidak akan berteriak dan membentak kekasihnya. Jongin juga jarang merajuk seperti Luhan, ia laki-laki dewasa, bahkan meskipun saat itu mereka masih berstatus sebagai pelajar.
Sedangkan Luhan…justru kebalikan dari Jongin. Ariel sangat yakin sih Luhan sebenarnya laki-laki yang amat manis ketika berkencan dengan perempuan selain dirinya, tapi Luhan memang akan selalu seperti itu jika bersama Ariel : ia tidak segan memarahi dan menceramahi Ariel hingga ia pikir kupingnya akan terbakar karena ucapan Luhan, Luhan juga akan merajuk dan bertingkah manja –ralat—menyebalkan pada Ariel, Luhan juga tipe laki-laki yang suka teriak padanya jika marah, tapi di sisi lain, Luhan punya sifat imut seperti sekarang : kdang ia menunjukkan kepeduliannya lewat kemarahan-kemarahan yang ia tunjukkan padanya. Seperti sekarang, ia terus mengomel sembari memasak. Dan sifat anehnya yang satu itu justru menjadi poin plus bagi Ariel….
“Meskipun kau tidak ingin memasakkan sesuatu untukku, setidaknya kau harus memasak sesuatu untukmu sendiri. Kau harus tetap makan dan harus tetap menjaga kesehatanmu sendiri! Kau piker itu lucu ketika kau terkena flu di musim panas?” dan Luhan masih melanjutkan ceramah panjangnya ketika masakannya telah selesai –semangkuk sup tahu pedas.
“Hidungku hanya sedikit mampet,” Ariel masih membela dirinya. Dan dengan gerakan ragu, ia pun mengambil sendok dan mencoba masakan Luhan yang bisa dikatakan adalah masakan pertamanya selain ramen, “Wah! Ini enak!” dan Ariel menyesali dirinya sendiri yang terlalu bersemangat saat bereaksi dengan makanan ini….
“Tentu saja aku harus bisa masak. Istriku akan meninggalkanku sendirian dan aku harus bisa mengurus diriku, padahal dia juga belum bisa mengurus dirinya sendiri,”
Ariel hanya mendelik malas. Ia tidak tertarik untuk bertengkar dengan Luhan di pagi ini –dengan kondisi hidung mampetnya. Terlebih, jika ia bertengkar dengan Luhan lagi, artinya ia harus berhenti memakan masakan Luhan yang enak ini.
Walaupun…yeah, akhirnya kembali kehilangan selera makannya setelah Luhan menutup pintu apartemen mereka. Luhan terlalu berkeras dengan ketidak setujuannya pada keputusan Ariel. Bahkan ia belum benar-benar mendiskusikannya dengan Luhan, Luhan juga belum mendengar semua penjelasan dan rencananya…. Tapi tingkahnya yang seperti ini membuat Ariel rasanya ingin menenggelamkan diri saja ke dalam samudra.

***

“Kalian kan hanya akan berjauhan, lagipula kalian akan kembali bersama jika Ariel sudah selesai dengan kuliahnya. Jangan terlalu mengekangnya, maksudku…dia baru berusia tujuh belas tahun, tentu saja dia harus memiliki cita-cita…” Chanyeol berkomentar dengan nada santai sembari meneguk bir-nya. Malam itu, kelompok mereka akhirnya bisa berkumpul dengan jumlah yang lengkap.
“Tapi menikah bukan sesuatu yang bisa kau anggap sepele seperti itu. Bahkan Luhan sudah harus mencari nafkah untuk istrinya sendiri, tinggal bersama dan mengurus segalanya bersama. Ariel seharusnya bisa mengerti kondisi ini juga…” Baekhyun menyela dengan nada tidak setuju.
“Dan berhentilah berdekatan dengan gadis lain, kau sangat brengsek dengan tingkahmu yang satu itu. Bahkan kalian sudah menikah, tapi kau terus saja diekori gadis lain, bagaimana bisa Ariel akan bertingkah biasa saja saat tahu suaminya dekat dengan gadis lain? Kau selalu melarang ini dan itu, tapi kau sendiri tidak memahami perasaannya,” kali ini Soojung yang bersuara, wajah gadis itu tertekuk, seolah bisa merasakan emosi yang juga dirasakan oleh Ariel.
Jongin dan Sehun hanya saling melirik dan tidak berkomentar. Luhan juga hanya menunduk dan menatap kosong permukaan gelas birnya yang tinggal seperempat lagi. Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk mengotori reuni mereka dengan masalahnya, tapi ini sudah hari ketiga dimana Ariel dan Luhan tidak saling bertegur sapa.
“Sebenarnya menjalani hubungan jarak jauh bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan sesuatu yang sulit juga. Kalian sudah menikah. Dan Ariel juga gadis yang baik. Kalian hanya perlu menguatkan komitmen dan rasa percaya kalian, asalkan kalian bisa berkomunikasi dengan baik, kurasa kalian bisa menjalani hubungan jarak jauh.” Sohee pun mengambil napas panjang dan menatap Luhan serius, “Masalahnya terletak pada angka usia kalian. Ariel masih berusia tujuh belas tahun, sangat wajar jika dia menginginkan sesuatu untuk ia lakukan. Terlebih, jika hubungan pernikahan kalian bukan hubungan seperti seorang kepala keluarga dan ibu rumah tangga.”
“Tapi Luhan sudah mencari uang untuk mereka berdua. Dan kau hanya melihat dari sudut pandangmu, pernahkah kau memikirkan Luhan yang akan ditinggal nanti? Kau saja baru bisa pulang setahun sekali. Lalu Ariel? Luhan membutuhkan Ariel untuk mendukungnya…” Sehun menatap Sohee dengan tatapan tidak setuju. Ia yang sudah mengalami LDR sejauh ini bisa merasa ketidaknyamannnya dinomor duakan.
“Tapi Ariel juga masih muda, Sehun!” Sohee membulatkan matanya kesal ke arah Sehun, “Aku tahu ini sulit bagi Luhan juga, tapi pernahkah kau memikirkan perasaan Ariel juga? Jika Ariel terlalu banyak dituntut ini dan itu dengan embel-embel seorang istri, dia akan merasa tertekan!”
“Lalu apa kau pikir Luhan tidak merasa tertekan?! Dia bahkan belum lulus kuliah, dan dia harus selalu pulang cepat karena Ariel tidak bisa ditinggal sendirian! Belum lagi Luhan harus mencari cara agar restoran yang dia atur bisa mencukupi segala kebutuhan mereka berdua! Luhan juga masih muda dan dia sudah banyak melakukan hal untuk Ariel…” Sehun sedikit menaikkan suaranya dan membuat Sohee semakin gemas untuk menusuk mata Sehun dengan tatapannya.
“Intinya…” Jongin pun angkat suara dan membuat semua orang di ruang duduk apartemen Chanyeol itu tertuju padanya, “Pertama, kau harus memperhatikan perasaan Ariel meskipun menurutmu itu hal kecil. Anggap saja Ariel sangat kekanakan karena dia selalu mencemburui teman perempuanmu, tapi artinya dia mencintaimu.”
“Wajar saja…dia bahkan berpacaran dengan gadis lain saat mereka sudah bertunangan. Laki-laki gila dan brengsek mana yang akan melakukan hal itu?” sambung Soojung sembari meminum birnya.
“Ariel juga berkencan dengan Jongin…” Luhan pun meminum bir miliknya sambil menatap sinis Soojung.
“Kau mendekatiku, lalu mengencani Jinri, lalu mengencani Seolhyun dan membuat mereka sekamar. Kau memang player luar biasa, Luhan…” balas Soojung masih belum mau mengalah.
Luhan sudah membuka mulutnya, hendak memprotes esuatud ari ucapan sinis Soojung –tapi Jongin langsung menutup mulut Luhan dan melanjukan ucapannya, “Dan yang kedua, biarkan Ariel melakukan apa yang ia inginkan untuk saat ini. kau bilang ini pertama kalinya Ariel memiliki cita-cita, kan? Untuk saat ini, biarkan dia melakukan apapun yang ingin ia lakukan selama dia masih dalam batasannya. Kalian yang paling tahu betapa tidak siapnya kalian ketika harus saling mengikat satu sama lain dengan cincin pernikahan. Wajar saja jika Ariel juga tiba-tiba saja merasa tidak siap dengan kondisi- dimana dia harus mematuhimu sebagai seorang suami sedangkan secara mental dia belum siap menjadi istri,”
“Tapi Jong-“
Jongin menunjuk mulut Sehun dan kembali melanjutkan ceramahnya, “Dan yang terakhir, buat Ariel mengerti kondisimu. Meskipun kau memberinya kebebasan, tapi buat dia memahami ada beberapa batasan yang harus dia ikuti karena kalian memainkan aturan berumah tangga yang tentunya segala sesuatu akan terasa lebih sensitif ketimbang hubungan seperti berpacaran. Tapi aku setuju dengan ucapan Sohee, ikatan pernikahan kalian lebih menguntungkan. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kerusakan hubungan kalian karena pernikahan sesuatu yang sakral, jadi kalian tidak akan mudah merusaknya.”
“Dan kau juga harus mengontrol emosimu, Han. Ariel masih sangat muda, wajar saja jika dia masih sangat egois dan kekanakan. Justru kau akan terkesan amat brengsek jika kau malah sering membentak atau memarahinya seperti itu.” Baekhyun kembali menambahkan.
Kali ini Luhan tidak menjawab dan hanya memutar-mutar gelas di tangannya. yeah, mendengarkan saran mereka rasanya amat sangat mudah –tapi Luhan bahkan tidak bisa membayangkan jika ia bahkan harus memperhatikan waktu bahkan hanya untuk mendengar suara Ariel.
“Dan yang terpenting berbaikanlah dengannya. Jangan menyakitinya terlalu jauh…” dan Chanyeol menutup obrolan malam itu.

***

Ariel kembali melirik jam dinding berwarna abu-abu yang terletak di salah satu dinding ruang duduk apartemennya, pukul sebelas malam, Ariel pun memutar bola matanya ke arah pintu masuk, berharappintu akan terbuka dan membawa Luhan –yang sayangnya belum juga terwujud sejak Ariel duduk di sana selama dua jam lamanya.
Ariel pun mendesah panjang dan kembali melirik layar TV yang tengah menayangkan drama yang sering ditontonnya. Sebenarnya, Ariel tahu Luhan tengah bertemu dengan teman-teman semasa SMA-nya –dan hebatnya semua bisa berkumpul termasuk Yoon Sohee yang selama ini selalu terlihat sibuk dan amat jarang pulang ke Korea, juga Jung Soojung kekasih Jongin yang sepertinya memang sudah dianggap bagian dari kelompok mereka. Ariel juga mendapat sms ajaka dari Sohee, Jongin, dan Chanyeol untuk ikut ke acara reuni mereka malam itu. Tapi Luhan tidak mengajaknya. Ariel pun memutuskan untuk tidak membalas sms ajakan itu dan memilih duduk dengan otak linglung di ruang duduk sambil menunggu Luhan seperti ini.
Ariel kembali menarik kaleng kolanya dan mendesah panjang ketika iklan mulai muncul menggantikan scene dari drama yang ditampilkan, dan lagi-lagi mata Ariel berlari ke arah pintu dengan penasaran. Kalau-kalau Luhan pulang…. walaupun ia tidak memiliki rencana apa-apa untuk dikatakannya terhadap Luhan. Walaupun Luhan sudah membuka suara tadi pagi, tapi otak Ariel terlalu buntu untuk menemukan kalimat yang cocok dilontarkan di saat seperti ini.
Ariel tiba-tiba saja teringat pertengkaran mereka tiga hari lalu di dalam mobil –pertanyaan Luhan dan semua ucapan Luhan yang lainnya. Ariel tersenyum kecut, ia mendadak merasa menjadi tokoh antagonis dalam hubungan mereka berdua. Ariel pikir, seharusnya Luhan bisa mendukungnya karena ini impian Ariel. Toh, banyak pula pasangan yang harus menjalani hubungan jarak jauh, karena masing-masing subjek dalam hubungan tentunya harus memiliki impian atau sesuatu yang harus dicapai.
Seharusnya seperti itu. Atau mungkin, Ariel pikir lebih pantas seperti itu.
Tapi, ternyata Luhan tidak memiliki pemikiranyang sejalan dengannya. Ucapannya tempo hari mengenai ketidak inginannya membuat jarak dengan Ariel bukan hanya ucapan belaka, tapi sepertinya Luhan memang tidak ingin berhubungan jarak jauh dengan Ariel. Bahkan tadi pagi Luhan yang memang agak bermulut perempuan jika sedang marah, masih sempat-sempatnya menyindir Ariel. Dan sayangnya Ariel juga tidak menemukan cara untuk membujuk Luhan pergi ke Praha bersamanya.
Ariel sudah sangat sering berjauhan dengan orang-orang yang disayanginya –keluarganya. Bahkan Henry yang tinggal satu atap negara dengannya saja tidak serumah dengannya. Jadi, ia pikir tidak akan apa-apa jika Ariel dan Luhan berjauhan untuk sementara. Benar-benar sementara, toh mereka sudah menikah dan tentu saja saat semua urusan mereka dengan tujuan mereka telah selesai, mereka akan kembali menjadi pasangan yang…yeah, seperti itulah.
Pasangan suami-isteri yang membangun keluarga bahagia, memiliki anak dan membesarkannya bersama-sama.
Dan, tepat setelah tayangan drama yang tertunda iklan mulai muncul di layar TV, secara bersamaan pintu apartemennya terbuka yang dibarengi dengan langkah kaki tak beraturan. Luhan pulang.
Secara gamblang, Ariel memperhatikan Luhan yang baru saja memasuki ruang duduk, bahkan mata mereka sempat bertemu –tapi Luhan hanya mendesah panjang tanpa mengatakan apapun. Kemudian ia memutar bola matanya ke arah lain –ke arah dapur—dan berjalan dengan terseok.
Ariel mendesah panjang dan menundukkan kepalanya. Luhan sepertinya masih marah. Ariel yang tadinya memimpikan liburan musim panas menyenangkan justru harus menelan semuanya secara cuma-cuma. Ia bahkan sama sekali tidak bergairah ketika teman-temannya mengajak hang out maupun liburan lainnya. Juga termasuk rencananya untuk ikut melihat syuting seri film pendek yang naskahnya telah ia buat.
Semuanya kacau hanya karena kalimat Luhan yang menyakiti telinganya, Ariel akan memilih impiannya atau Luhan…..
“Diam dan tetaplah seperti ini,”
Ariel terlonjak kaget saat Luhan tiba-tiba duduk di sampingnya sembari menyandarkan kepalanya di pundak Ariel. Ariel mungkin akan memilih diam saja, membiarkan Luhan berkelakar dengan segala isi pikirannya jika saja ia tidak mencium bau alkohol dan juga bau asap rokok yang menempel di kaosnya.
Refleks, Ariel mendorong kepala Luhan dan memelototi lelaki itu, “Kau mabuk dan merokok?!” dan Ariel sama sekali tidak peduli lagi dengan intonasi suaranya yang mulai meninggi. Ia bisa mengerti jika Luhan menghindarinya dengan cara pergi cepat dan pulang telambat, tapi bukan berarti Luhan bisa seenaknya minum alkohol jenis apapun, bahkan merokok.
Dengan raut wajah masam, Luhan menggeser telunjuk Ariel dan kembali menjatuhkan kepalanya ke pundak Ariel, sama seklai tidak peduli dengan kemarahan maupun tetek bengek aturan yang Ariel buat secara otoriter. Ia hanya bisa merasakan kepalanya pusing dan ia ingin memeluk Ariel. Ia merindukan Ariel.
“Yak! aku serius! Kau mabuk?! Dan kau menyetir sendiri?! Kau ingin bunuh diri dn mencelakai dirimu lagi?!” lagi, Ariel mendorong kepala Luhan –yang sayangnya tidak berefek apapun karena tenaga Luhan lebih besar daripada tenaga Ariel.
“Luhan!”
“Bisakah kau diam dan membiarkanku dalam posisi seperti ini? Jika kau akan pergi jauh, maka kau harus biarkan aku sesering mungkin berdekatan denganmu,”
Kali ini Ariel membiarkan Luhan memeluknya semakin erat. Ariel benar-benar geram dengan tingkah Luhan yang amat keterlaluan hari ini. ariel bisa mentolerir Luhan yang mencoba untuk meminum bir, tapi ia tidak pernah setuju jika Luhan harus sampai mabuk seperti sekarang. Lagipula reuni macam apa yang dilakukan Luhan hingga ia pulang dalam keadaan mabuk? Dan lagi mereka semua sudah berusia dua puluh tahunan, harusnya mereka tidak lagi bertingkah seperti saat sekolah dulu.
“Aku bahkan masih merindukanmu, padahal aku sudah memelukmu seperti ini,” dan Luhan sama sekali mengabaikan gerakan risih Ariel ketika Luhan mulai menenggelamkan wajahnya pada leher Ariel. Gadis ini masih selalu sama sejak pertama kali Luhan bertemu dengannya, tidak memiliki aroma khusus. Luhan akan mengenali aroma Ariel meskipun ia tidak mengenakan parfum apapun. Hanya aroma Ariel.
“Luhan!”
Luhan tidak peduli dengan dorongan dari tangan Ariel ketika Luhan seakin menarik Ariel ke dalam pelukannya hingga keduanya terbaring di atas sofa. Luhan yakin ia tidak semabuk itu, tapi efek stress yang menderanya membuat Luhan benar-benar merasa pusing hanya karena beberapa kaleng bir yang diminumnya tadi. Luhan pikir, jika ia sedikit mabuk mungkin beban di kepalanya juga akan ikut melayang.
Tapi, masalah paling sepele yang menderanya saat ini ternyata tidak kunjung menguap meskipun ia telah menapat banyak petuah dari teman-temannya. Bahkan meskipun ia mencoba untuk mabuk, ia tidak merasakan bebannya berkurang, sebaliknya, ia malah semakin merasa ketakutan dengan bebannya sendiri.
Ia tidak ingin ditinggalkan oleh Ariel.
Selama ini, ia merasa pundaknya penuh dengan beban karena ia sudah harus bertanggung jawab untuk dirinya dan gadis kecil yang sama sekali belum mandiri ini. tapi setelah menyandarkan kepalanya dan memeluk tubuh gadis ini, Luhan juga seperti disadarkan dari fakta yang belum ia sadari, bahwa Ariel juga telah membuat bebannya menguap hanya dengan Luhan merasakan keberadaannya di dekat Luhan.
Selama ada Ariel semua akan baik-baik saja. Selama yang ia lakukan karena untuk Ariel, semuanya menjadi baik-baik saja.
“Luhan…”
Luhan mengelak dari dorongan tangan Ariel dan semakin merapatkan tubuh mereka, menyembunyikan wajahnya di antara ceruk leher Ariel dan mencoba untuk merasakan detak jantung Ariel dan juga deru napasnya. Yeah, ternyata ia punya cinta sebesar itu untuk Ariel.
“Aku pikir, tidak apa-apa seandainya aku mengalami kecelakaan karena mabuk jika kau akan menemaniku sepanjang waktu seperti kemarin. Bahkan, aku pikir tidak apa-apa jika aku koma dan terbangun dengan waktu yang telah berjalan banyak tapi kau tetap di sini dan tidak meninggalkanku.” Luhan mendesis pelan, “Tapi semua orang memintaku untuk membiarkanmu pergi. Mereka tidak setuju dengan perasaanku…”
“Kau selalu menuduhku dengan Irene. Padahal aku merasa akan gila karena kau menyebut kata Praha. Aku hanya mencintaimu, kau tahu? Hanya kau. Aku hanya mencintaimu dan tidak ada orang lain, tidak akan pernah…” Luhan masih meracau walaupun matanya mulai agak terpejam. Pelukan Luhan pun ikut mengendur ketika ia mulai beranjak kea lam mimpi, “Aku tidak bisa meninggalkan Korea saat ini. tapi aku juga tidak mau ditinggalkan olehmu. Aku harus bagaimana?” dan Ariel dapat merasakan napas teratur Luhan setelah ia mengucapkan kalimat terakhirnya malam itu.
Kali ini, Ariel menarik Luhan ke dalam pelukannya dengan erat, “Maaf…”

***

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali ketika tanpa sengaja ia mendengar bunyi bising ala dapur yang agak mengganggu pendengarannya. Gila. Bagaimana bisa suara bising dari dapur di lantai bawah bisa sampai ke…eh? Luhan langsung mengangkat punggungnya terburu-buru, ia bisa mendnegar detak jantungnya menggila karena Luhan menarik kesadarannya sekaligus. Harusnya, ia terbangun dengan menyenangkan diatas ranjang –atau…yeah, setidaknya ia tidak merasakan punggungnya pegal saat tidur di sofa perpustakaan yang empuk dan luas itu.
Tapi, pagi ini Luhan tidak disambut pemandangan kamar maupun perpustakaan di apartemennya, melainkan ruang duduk yang dihiasi dengan aroma masakan, juga bunyi bising orang yang sedang memasak di dapur. Atau…harusnya ia terbangun di apartemen Chanyeol.
Luhan pun memegangi kepalanya dan mencoba mengingat memori yang terlewat di kepalanya. Ia yakin ia hanya meminum beberapa kaleng bir –bahkan paling sedikit di antara teman-temannya yang lain tadi malam. Tapi sepeertinya, Luhan amat payah soal alkohol karena selama ini ia selalu menghindari apapun yang Ariel larang. Yeah, apapun…alkohol dan rokok merupakan list nomor satu yang akan ia coret.
“Kau sudah sadar?”
Luhan menarik pandangannya ke arah Ariel yang masih mengenakan piyama tidur motif micky mouse-nya –dengan warna muka yang tidak menyenangkan dan segelas air putih di tangannya. tanpa menunggu jawaban Luhan, Ariel pun meletakkan gelas yang dipegangnya dengan kasar dan berhasil membuat emosi Luhan menaik. Ini masih sangat pagi, dan ia tidak merasa begitu sehat, jadi mereka tidak perlu bertengkar, kan?
Luhan baru saja akan melengos ketika tangan mungil Ariel dengan kurang ajarnya menarik telinga Luhan dengan amat keras. Percayalah, itu sangat keras dan Luhan merasa seperti kembali ke masa sekolahnya dan dihukum karena tidak mengerjakan PR –amat sakit.
“Yak! yak! apa yang kau lakukan?!” bahkan meskipun Luhan meronta berkali-kali, tapi entah mengapa hari itu kekuatan Ariel amat besar dan membuatnya tidak bisa melawan.
Ariel sama sekali tidak peduli denga teriakan Luhan dan semakin bersemangat untuk menarik telinga Luhan. Ia tidak peduli dengan segala scenes kriminal yang mulai menyalak di otaknya, yang ia pedulikan saat ini kemarahannya pada Luhan yang telah melanggar kesepakatan mereka. Enak saja Ariel dilarang ini dan itu, sedangkan Luhan bisa melanggar seenak jidatnya.
“Yak…yak…aku minta maaf atas apapun kesalahanku tapi aku mohon lepaskan telingaku! Ariel…kepalaku masih pusing dan kau mau membuatku semakin sakit?”
“Aku tidak mengizinkanmu menyetir sampai libur musim panasku selesai,” Ariel pun menarik tangannya dan menatap datar Luhan yang terlihat kesakitan dan mengusap telinganya yang memerah.
“Hei…jika ada masalah…”
“Kau mau protes? Setelah kau merokok…” Ariel menunjuk-nunjuk dada kanan Luhan, “…mabuk, menyetir dalam keadaan mabuk, lalu kau mesum…” Ariel pun mendekatkan wajahnya pada Luhan dan menatap tajam Luhan –setelah mendengus panjang dengan dramatis, “Cepat mandi atau kubakar kartu sim milikmu!”

***

Luhan tidak merasa mereka berdua telah berbaikan, meskipun kini ia berada di dekat Ariel dan memakan sarapan mereka berdua bersama-sama, tapi warna mimik Ariel menunjukkan betapa tidak baik-baiknya hubungan mereka saat ini. Warna mukanya jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya. Kepala Luhan juga terus saja diekori ucapan Ariel mengenai ‘keburukannya’ semalam –terutama kata mesum yang diberi penekanan seolah-olah Luhan telah melakukan hal tidak senonoh terhadapnya.
Luhan pun kembali melirik Ariel lewat ekor matanya ketika gadis itu menaruh gelas berisi susu putih dengan sangat keras ke atas meja. Ia harus ingat apa saja yang telah dilakukannya pada Ariel hingga wajah gadis itu lebih kusut daripada kemarin. Luhan pikir, seharusnya ia lah yang masih merajuk terhadap Ariel, tapi kali ini auranya menjadi terbalik, seolah Ariel lah yang merajuk terhadapnya.
“Jika kau mau pergi kemana pun, gunakan bis hari ini, aku tidak mengizinkanmu menyetir,” ujarnya dengan nadateramat santai tanpa menatap Luhan.
Sedangkan Luhan yang baru saja merasakan air putih memenuhi kerongkongannya, terpaksa terbatuk dan menatap Ariel dengan tidak percaya. Apa-apaan ini? kenapa tiba-tiba Ariel jadi wanita otoriter yang suka menguasai pasangannya?
“Baik motor ataupun mobil, aku memegang kuncinya hari ini,” Ariel masih melanjutkan dengan nada bicara yang teramat menyebalkan itu.
Luhan pun mendnegus panjang dan membanting sumpitnya. Yang benar saja? Siang ini ia punya jadwal kuliah, dan Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana repotnya ia nanti jika harus menggunakan kendaraan umum. Belum lagi setelahnya ia harus pergi ke perpustakaan Seoul untuk mencari beberapa buku referensi tugasnya dan ia tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya jarak antara kampus dan perpustakaan itu. Dan Ariel akan menyiksanya seharian ini dengan mengambil kunci kendaraannya?
“Bisakah kau bicara baik-baik terhadapku? Kau kira masalah kita akan selesai dengan caramu yang mempermainkanku seperti itu?” Luhan tidak bermaksud menggunakan intonasi tinggi terhadap Ariel, tapi ia tidak bisa menahan rasa kesalnya yang ternyata tidak juga sembuh.
Ariel mengangkat kepalanya, menatap lama Luhan –hingga lelaki itu memalingkan wajahnya dengan dengusan panjang, “Yang tidak bicara baik-baik itu siapa? Dan siapa yang mempermainkanmu?” Ariel pun balas menaruh sendoknya dengan kasar, “Kau hampir mencelakai dirimu sendiri dan kau masih menyalahkan orang lain? Kau masih marah padaku karena aku akan pergi ke Praha?”
Ariel pun bangun dari kursinya. Ia lelah dengan pertengkarannya yang tidak juga menemui kata akhir, ia lelah dengan situasi yang membuatnya merasa frustasi ini. Ariel pun mengambil gelas air putihnya dan meneguknya sekaligus.
“Kau ingin aku tidak pergi? Baik. Aku tidak akan pergi. Aku akan ikut suneung akhir tahun ini dan akan mengambil Yonsei University sebagai pilihan satu. Aku akan tinggal di sebuah flat dekat kampus dan akan terus bersamamu!”
Luhan tidak menampik bahwa ia mengharapkan kalimat itu meluncur dari bibir Ariel. Ia memang sangat berharap bahwa Ariel akan menghentikan niatnya untuk meninggalkan Korea –meninggalkan dirinya dan mengear impiannya yang entah kapan dan dimana akan berhenti. Ariel selama ini bukan tipikal gadis yang banyak memiliki ambisi, ia hanya akan melakukan apa yang ia ingin lakukan. Hal itu akan terdengar sepele jika Ariel hanya ingin membeli piano seharga sepuluh juta won dan langsung membelinya, tapi Luhan tidak bisa membayangkan dunia seperti apa yang akan Ariel kejar nanti, sejauh apa Ariel akan membentang jarak untuk mereka berdua, selama apa mereka harus menautkan jarak….
Tapi, Luhan jauh lebih terluka dengan warna muka Ariel ketika mengatakan ia ingin berhenti. Ia seperti baru saja menarik paksa Ariel untuk berhenti melihat dunia melalui jendelanya –bagi seseorang, impian kadang menjadi sebuah nyawa yang membuat mereka memahami apa arti bernapas dan menikmati bagaimana detak jantung mereka bernyanyi meskipun mereka harus bermandikan peluh dan air mata.
Luhan belum pernah menjadi seseorang yang memiliki impian setinggi itu, ia tidak mendewakan impiannya dan hanya menjalani apa yang harus ia lakukan hari ini. tapi jika impian adalah sebuah tujuan, Luhan pikir Ia tahu bagaimana rasanya ketika kau harus merelakan darah dan nadimu hanya untuk sebuah tujuan yang perlu kau capai.
Luhan tahu rasanya berjuang….
Dan, Luhan juga tahu rasanya terluka ketika perjuanganmu diakhiri dengan kata nol.
Luhan pun mendengus panjang dan mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak tahu cinta bisa berubah seegois ini. ia tidak tahu dengan mencintai seseorang, Luhan bahkan bisa dibuat gila dan terus-terusan disengat emosi di tiap syarafnya.
“Pergilah…”
Ariel membulatkan matanya ketika Luhan mengucap kata keramatnya. Ariel tidak tahu kemana kata ‘pergi’ itu Luhan inginkan, entah Luhan memintanya untuk meninggalkan hidupnya atau Luhan justru memintanya…
“Pergilah ke Praha. Pergilah kemanapun kau mau, lakukan apa yang kau inginkan, lakukan yang terbaik untuk mencapai dirimu yang lebih baik, lakukanlah…” Luhan sama sekali menundukkan kepalanya dan hanya memandangi permukaan meja yang kosong dalam iris matanya. Ia sama sekali tidak yakin dengan rentetan kata sialan yang terus saja keluar dari mulutnya, tapi sebagian hati Luhan merasa lega telah mengatakannya, “Tapi kau harus pulang. kau harus kembali padaku,” Luhan pikir mereka akan terlibat cekcok kembali, tapi Luhan justru mendapatkan pelukan hangat ditubuhnya.
“Luhan…”
Luhan harusnya mengejek Ariel ketika gadis cengeng itu mulai meringsek ke arah tubuhnya dan menangis sesenggukan dengan pilek yang berlomba dengan air matanya untuk mengotori wajah Ariel. Tapi kali ini, Luhan justru kehilangan seluruh kekuatannya untuk bertindak seperti ‘pria’. Ia balas memeluk Ariel. Ia ikut menumpahkan air matanya. Entah kenapa Luhan dan Ariel justru membuat suasana mendayu-dayu di sini.

***

“Kau benar-benar tidak akan ikut berlibur ke Paju? Kau tahu si pelit Taehyung sangat jarang mau berbagi sesuatu dengan orang lain, dan kau melewatkan momen teramat penting yang satu ini? ini gratis Ariel…”
Ariel tertawa keras melihat ekspresi mengerikan yang Jungkook buat di video call ketika membujuknya untuk ikut berlibur bersama. Yeah, sebenarnya Ariel sangat tidak enak untuk menolak ajakan teman-temannya, tapi ia jauh lebih tidak enak untuk menolak ajakan Luhan untuk berlibur ke Kanada.
Yeah, Kanada! Luhan mengajak mereka untuk liburan setelah Ariel menyelesaikan ujian nasionalnya dan yang terpenting, tempat tujuan mereka adalah rumah Ariel di Toronto! Bayangkan saja, kapan lagi ia bisa berkunjung ke rumah favoritnya itu?
“Masih ada liburan setelah perpisahan, kita sudah berjanji akan pergi ke daerah pantai, kan? Aku yang traktir…” Ariel pun mulai membujuk Jungkook yang perlahan menekuk wajahnya menjadi kusut. Ariel sudah memberi pengertian pada Jungah, dan dia tidak keberatan meskipun sempat membujuk Ariel. Kecuali Chunji dan Jungkook, mereka terus meneror Ariel dengan ajakan berlibur.
“Heol…kau akan menyesal karena telah menolak ajakanku,” Jungkook mendecih dan membuat Ariel semakin ingin tertawa.
“Aku benar-benar tidak bisa pergi. Aku janji, setelah perpisahan kita akan berlibur…”
Dan setelah mengobrol agak panjang, Jungkook pun mengakhiri obrolan mereka karena dipanggil sang kakak –katanya. Entah kakak yang mana, Jungkook tidak pernah menceritakan keluarganya. Dia sedikit seperti alien, terlalu misterius.
Ariel pun merebakan kepalanya ke atas sofa ketika pesan dari Luhan masuk ke ponselnya.
[Datang ke coffee bay sekarang. Terlambat lebih dari tiga puluh menit, liburan kita batal]
Ariel mengerutkan hidungnya, lalu membalas pesan Luhan dengan cepat –dengan emosi.
[Dasar brengsek. Pria macam apa yang suka mengancam seperti itu?]
Meskipun ia bersungut-sungut ketika membalas pesan Luhan, tapi Ariel tetap bangun dan berjalan cepat menuju kamarnya, hingga satu lagi pesan dari Luhan masuk ke ponselnya.
[Pria tertampan, terseksi, dan paling manly…]
“Mana ada pria manly menangis saat menonton film dan berteriak menonton film horror? Mana ada pria seksi dengan tubuh kurus seperti tengkorak,” sekali lagi Ariel bersungut ke arah layar ponselnya.

***

Hari itu, dengan amat terpaksa Luhan harus datang ke kampusnya pagi-pagi buta karena dosennya tiba-tiba saja ingin memindahkan jadwal kuliah sore menjadi pagi. Lalu disusul dengan dua mata kuliah lain yang secara bersamaan juga ingin ikut dipindah –yeah, mereka para dosen mata kuliah itu mungkin akan pergi minum bersama sehingga membuat ide untuk mengambil jam di hari itu secara bersamaan. Sehingga dengan berat hati, Luhan juga harus membatalkan acara kencan yang telah ia rencanakan hari itu. Padahal, saat itu adalah saat-saat paling penting sebelum Ariel akan pergi ke Praha. Mereka harusnya semakin bisa memanfaatkan waktu yang mereka miliki, kan?
“Kau mau ikut ke club? Hari ini ketua angkatan kita berulang tahun, dia ingin mentraktir kita semua,” Sehun yang kebetulan duduk berjauhan dengannya karena datang terlambat mendatangi Luhan yang masih sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Aku ingin langsung pulang saja, aku merindukan Ariel,”
Sehun mendelikkan mata ketika kalimat menggelikan Luhan mengusik telinganya. Sehun tidak yakin sejak kapan Luhan jadi semenjijikkan ini dalam masalah percintaan.
“Kau melihatnya siang dan malam, dan masih saja mengeluh merindukannya?” protes Sehun.
Luhan hanya mengedikkan bahu dan menggalkan Sehun dengan langkah kakinya yang terasa amat ringan. Ia terlalu bersemangat untuk melihat wajah Ariel hari itu…. Tapi, Luhan harus menelan rasa semangatnya ketika berpapasan dengan Irene di depan pintu kelasnya.
“Kau buru-buru akan pergi?” tanya Irene ketika selama persekian detik Luhan hanya terpaku tanpa mengatakan apa-apa, “Ah…aku membuatkan ini untukmu,” Irene pun buru-buru mengeluarkan coklat buatannya, “Aku tidak yakin dengan rasanya, tapi aku harap kau menyukainya. Teman-temanmu sudah mendapatkannya, tinggal kau saja yang belum…”
Dengan gerakan ragu, Luhan pun mengambil coklat yang telah dihias cantik itu. Tentu saja Luhan tidak bisa menolak, tapi di sisi lain, ia menyadari satu hal…bahwa hal sepele seperti ini yang selalu membuatnya dengan Ariel bertengkar.
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, ayo ikut denganku!”

***

Sepanjang perjalanan menuju Cofee Bay, Irene selalu mendapati Luhan yang terus saja memegangi ponselnya sembari tersenyum kecil sesekali. Luhan juga lebih banyak diam terhadap Irene daripada biasanya. Gestur lelaki itu juga menunjukkan bahwa ia sedang menjaga jarak dari Irene, entah kenapa.
“Kau ingin pesan apa?” tanya Luhan sambil memandangi menu di tangannya dengan serius, “Aku ingin pesan ice americano saja,” Luhan pun menatap Irene sesaat sebelum kembali membuka lembaran menu di tangannya dan kembali menyebutkan menu yang akan dipesannya, “Dan satu ice moccachino.”
“Kau akan memesan dua minuman?”
Luhan terkekeh pelan dan menaruh menu di tangannya, “Aku ingin mengenalkan seseorang padamu. Tapi sepertinya dia akan terlambat,” Luhan masih tersenyum ketika ia menutup buku menu dan kembali eandangi Irene, “Kau sendiri ingin pesan apa?”
Irene pun mengalihkan pandangannya pada buku menu dan mulai memilih pesanannya. Luhan pun mengambil buku menu mereka dan memanggil pelayan juga menyebutkan pesanan mereka berdua. luhan terlihat amat bahagia hari ini…Irene tersenyum dan menggeleng pelan.
“Kau bilang kau akan mengenalkan seseorang padaku…. Pacarmu?”
Luhan agak terkejut ketika Irene menebak ‘seseorang’ itu adalah kekasihnya. Yeah, Ariel dapat dikatakan sebagai kekasihnya –atau bahkan lebih dari itu karena mengingat status mereka yang saat ini bukan hanya sebatas sepasang kekasih. Luhan pun menggaruk tengkuknya dan menarik sudut bibirnya kaku.
“Kau menebak terlalu cepat,” ew, jawaban macam apa itu? Menebak terlalu cepat? Luhan menggeleng dan menertawakan jawabannya sendiri. Ia sebenarnya ingin memberikan sedikit kejutan, tapi sepertinya Luhan terlalu kentara menunjukkan bahwa saat ini ia memang akan memperkenalkan seseorang yang telah menjadi pasangannya. Luhan tiba-tiba mempertimbangkan status apa yang harus ia perkenalkan pada Irene nanti? Kekasih? Tunangan?
Lamunan Luhan buyar ketika pelayan datang dan menaruh pesanan mereka berdua. luhan pun tersenyum pada sang pelayan dan menyuruh Irene untuk mencicipi pesanannya. Luhan sedang tidak dalam mood untuk beramah tamah dengan Irene, dan sayangnya Ariel belum juga sampai dan membuat Luhan harus memutar otaknya untuk memikirkan obrolan apa yang harus mereka buka sekarang.
“Sejak kapan?”
Luhan mendongak dan menatap Irene bingung. Dan Irene sama sekali tidak terlihat terganggu dan malah terkekeh pelan, “Kau sudah memiliki kekasih, kan? Sejak kapan kalian berpacaran?” tanyanya lagi dan menyesap pelan minumannya.
Luhan pun menggaruk kepalanya. Ia tidak yakin harus memulai darimana dan mengarang seperti apa mengenai hubungannya dengan Ariel, tapi satu-satunya yang ia pikirkan hanya satu : memperjelas statusnya saat ini dan membuat Ariel berhenti untuk terus salah paham terhadapnya. Reaksi Irene saat ini juga tidak menunjukkan bahwa ia memiliki ketertarikan khusus pada Luhan –sama sekali berbeda dengan Luhan yang memang diam-diam sering memuja Irene.
“Emm…sebelum membicarakan itu, sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu,” Luhan pun mengambil kotak berisi coklat pemberian Irene dan menaruhnya di atas meja, “Sebelumnya, aku sangat berterima kasih untuk semua kebaikanmu. Aku tahu kau melakukan semua ini karena pertemanan kita, tapi seperti yang kau tahu sekarang…aku memiliki keka…ah, tidak. tapi…seorang tunangan,” Luhan pun kembali menggaruk kepalanya saat mata Irene membulat –menandakan ia cukup terkejut dengan informasi kecil ini, “Dan…aku sangat menghargai pertemanan kita. Hanya saja…tunanganku lebih muda dariku, dan dia cukup posesif…. Sehinga hal-hal kecil seperti pertemanan kita sekarang kadang menjadi sudut pandang yang berbeda jika dia yang menilainya,” Luhan menarik napas panjang dan melanjutkan, “Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi…aku pikir di lain waktu aku tidak bisa lagi menerima pemberianmu. Dia benar-benar masih kekanakan dan kami sering bertengkar karena kesalahpahaman seperti ini,”
Irene pun tersenyum dan mengangguk pelan, “Aku mengerti. Harusnya kau memberitahu aku jika kau sudah memiliki kekasih, sehingga tidak ada terlalu banyak salah paham di antara kalian.”
Yeah…kalimat dengan nada tenang itu membuat Luhan cukup lega. Setidaknya, ia tahu Irene tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya dan artinya Luhan juga tidak menyakiti pihak manapun. Dan yang terpenting, masalah ini tidak sepelik scenes dalam otaknya.
“Oh…Ariel?” Irene tiba-tiba mengangkat tangannya dan melambai ke arah belakang Luhan –seseorang yang langsung Luhan yakini adalah Ariel.
Luhan pun langsung memutar kepalanya dengan cepat dan langsung ikut melambai ke arah Ariel –juga membubuhkan senyum di bibirnya agar Ariel tidak salah paham dengan keberadaan Ariel. Yeah, gadis itu amat sangat pecemburu, bahkan ia langsung mengubah warna wajahnya menjadi kelam hanya dalam hitungan detik setelah mengetahui keberadaan Irene di dekat Luhan.
Dengan wajah tertekuk sempurna, ia pun mengambil langkah mendekat ke arah meja mereka dan balas menyapa Irene dengan nada ramah dibuat-buat. Yeah, Luhan mungkin sudah terlalu lama mengenal Ariel, sehingga senyum lebar yang ditunjukkan oleh Ariel –meskipun hingga ia menunjukkan deretan giginya—sama sekali tidak terlihat tulus di mata Luhan.
“Dia…” Luhan segera mengambil tangan Ariel dan menggenggamnya dengan erat di hadapan Irene, “Dia gadis yang kuceritakan barusan. Ariel…adalah tunanganku.”

***

Ariel pikir Luhan pasti baru saja terkena benturan keras di kepalanya dan membuat semua isi kepalanya rusak hingga ia bisa melakukan hal-hal gila belakangan ini, seperti menyetir saat mabuk, kembali merokok, mengizinkan Ariel pergi ke Praha, dan yang paling mengejutkan adalah memperkenalkannya sebagai tunangan Luhan di depan Irene. Yeah! Benar-benar di depan batang hidung Irene dan membuat gadis itu sempat terdiam selama beberapa saat karena terkejut!
Dan, Luhan dengan cueknya tetap melanjutkan pertemuan mereka dengan obrolan yang sebenarnya tidak terlalu Ariel tangkap selama di kafe tadi. Irene juga terlihat santai saja meskipun sempat terkejut dengan pengakuan Luhan. Dan sekarang, ketika mereka hanya berdua saja di dalam mobil, Ariel pikir Luhan akan membahas sesuatu mengenai tingkahnya yang agak tidak masuk akal.
Jika selama ini Luhan yang meminta agar Ariel memahami keinginan Luhan untuk menyembunyikan hubungan mereka, lantas mengapa sekarang Luhan menarik semua perkataannya dan bertingkah seperti sekarang?
“Kau ingin makan sesuatu? Aku ingin membeli ramen pedas di kedai yang kemarin kudatangi. Rasanya sangat lezat, kau juga bisa mencoba sup kaki sapi…”
“Kau baik-baik saja?” Ariel menyela tanpa menunggu Luhan melanjutkan celotehannya.
Luhan menaikan sebelah alisnya sembari melirik Ariel sesekali lewat ujung ekor matanya, “Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?” balas Luhan sekenanya, “Jadi…kau ingin makan ramen atau…”
“Kenapa kau mengatakannya pada Irene?”
Ah, masalah itu. Luhan tidak menjawab dan hanya terfokus pada jalan raya –dengan pikiran yang berlarian kesana-kemari. Luhan sendiri sama sekali tidak yakin apa yang membuatnya mengambil keputusan yang memang agak konyol tadi, tapi ia terlampau yakin dan percaya diri untuk melakukan sebuah pengakuan terhadap Irene. Irene terlampau baik kepada semua orang, termasuk pada Luhan yang kadang selalu merasa harus membalas kebaikan Irene. Tapi…seperti yang semua orang katakan, Luhan telah memiliki pasangan yang kurang memahami situasi pertemannya dengan perempuan lain.
“Apa kau sudah memutuskan untuk membuat semua orang tahu mengenai hubungan kita berdua? begitu?”
Luhan masih belum menjawab saat Ariel menyuarakan isi pikirannya lagi. Ia memilih untuk memarkirkan mobilnya terlebih dahulu sebelum membahas masalah Irene dan yang lainnya –semua keputusannya yang sepertinya menurut Ariel membuat Luhan telihat tidak baik-baik saja. Dan Ariel masih belum melepaskan pandangannya dari Luhan yang terlihat acuh tak acuh.
“Karena aku mencintaimu,” Luhan melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Ariel yang ternyata masih dalam posisinya –memandangi Luhan. Tapi detik berikutnya, warna muka Ariel berubah seolah mengejek apa yang baru saja Luhan katakan padanya.
“Aku tidak memintamu untuk menggombal, aku hanya…”
Luhan pun menutup mulut Ariel dengan telunjuknya dan kembali mengulang kalimat yang terpikirkan olehnya, “Karena aku mencintaimu. Aku tidak punya alasan lain karena aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Kau selalu saja menangis tiap kali bertengkar denganku karena Irene, dan aku sudah membuktikannya padamu, kan? Aku dan Irene hanya teman. Dan kau tidak perlu mencemburui apapun lagi,” Luhan pun mengecup dahi Ariel, cukup lama, “Dan sekarang perutku lapar. Jadi, kita bahas mengenai Irene dan lainnya setelah kita makan, oke? dan aku merekomendasikan sup kaki sapi untukmu karena kau penggila daging,” kemudian Luhan pun menarik sudut bibirnya dan langsung membuka pintu mobilnya.

***

Ariel kembali mengibaskan rambutnya ke belakang dan kembali memamerkan deretan giginya yang tidak terlalu rapi –ah, Luhan bahkan merasakan sesuatu menyeruak di dalam dadanya saat lagi-lagi ia terlambat menyadari bahwa hal sekecil itu juga merupakan sesuatu yang membuatnya terpesona pada sosok Ariel. Semakin banyak waktu berlalu, semakin banyak pula perasaan kosong yang mengerubuni dadanya : Ariel akan meninggalkannya. Pikiran sialan semacam itu selalu membuat Luhan diam-diam kembali memindai Ariel dari segi fisik hingga kebiasaannya yang mungkin saja luput dari memori otaknya.
“Mom dan Dad sudah berada di Toronto, mereka akan berada di sana selama tiga hari sebelum kembali ke Amerika,” Ariel pun mencebikkan bibirnya dan berbisik pelan ke arah telinga Luhan, “Kau tahu kan mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, bahkan mereka mau repot-repot datang ke sana karena ada undangan dari rekan kerja mereka.”
Luhan terkekeh pelan, lalu ia pun mengalungkan lenganya di leher Ariel dan menariknya ke arah Luhan –sama sekali tidak peduli dengan rontaan Ariel, “Jangan selalu berpikiran buruk tentang orang tuamu! Kau kira orang sibuk seperti mereka mau menghabiskan waktu dan uang hanya untuk sebuah perayaan rekan kerja?” Luhan pun melepas leher Ariel dan mendorong dahi gadis itu pelan, “Tentu saja mereka mau repot-repot menyebrangi negara demi putri kecil mereka yang tidak juga tumbuh dewasa.”
Ariel hanya mencebikkan bibirnya dan berkomat-kamit meniru gerakan bibir Luhan. Yeah, meskipun Ariel terlampau sering menggerutu dan mengeluh karena kesibukan orang tuanya –yang bahkan membuat Ariel merasa ditelantarkan—tapi ia juga tidak bisa menyangkal perkataan Luhan yang selalu masuk akal. Toh, yang terpenting saat ini ia sudah memiliki Luhan, ia juga jadi memiliki keluarga baru di Korea, dan yang paling penting…ia juga bisa mengubah hidupnya yang biasa-biasa saja menjadi berwarna dengan sendirinya.
Ariel pun memutar kepalanya ke arah kaca pesawat di sisi kanannya. dan setelah sekian lama, akhirnya Ariel bisa kembali pulang ke rumah lamanya –atau mungkin rumah favortnya. Ariel tidak yakin apakah ia pernah benar-benar merasa tempat lainnya selain Kanada dan Korea bisa disebut sebagai rumah jika ia kembali mengingat bagaimana buruknya dalam beradaptasi. Jadi, sebanyak apapun negara yang pernah ia tinggali, ia tidakpernah merasa semua itu rumah selain Kanada, tanpa alasan yang kuat.
“Apa yang ingin kau lakukan jika sudah sampai di Kanada nanti?”
Suara Luhan berhasil membuyarkan pikiran Ariel yang sudah berkelana kesana-kemari –dan ia pun menolehkan kepalanya ke arah Luhan yang sedang sibuk memasang headsetnya. Ariel pun menyandarkan kepalanya ke pundak Luhan dan melingkarkan tangannya di lengan Luhan, “Aku ingin tidur di kasur lamaku.”
Yeah, selama persekian detik, Luhan hanya termangu dan menatap kosong Ariel. Gadis itu sudah menunjukkan mimik dan gestur yang agak dramatis, Luhan pikir ia akan mendnegar sesuatu yang akan menyentuh hatinya dan mendapatkan suasana mendayu-dayu dari ucapan Ariel. Tapi gadis itu malah menyebutkan kasurnya seolah…ah, sudahlah. Luhan pun menggeleng pelan dan memasangkan sebelah headsetnya di telinga Ariel. Setiap orang punya kenangan dan cara mengenang yang berbeda, bukan?

***

Luhan sudah tahu Ariel bukanlah gadis yang terlahir dari keluarga biasa-biasa saja, tapi Luhan masih belum terbiasa dengan kejutan-kejutan dari kehidupan Ariel. Seperti rumah…ah, tidak. tapi istana yang mereka datangi saat ini. Luhan bahkan hampir tidak berkedip saat melihat betapa megahnya rumah yang ia pikir sebesar Blue House di Korea. Atau bagaimana belasan pelayan di rumah ini berbaris rapi ketika menyambut mereka berdua –yang sayangnya tak ada satupun orang Asia dari barisan orang-orang itu—, belum lagi tiap ruangan di rumah ini benar-benar bergaya Eropa dan membuat Luhan merasa baru saja masuk ke dalam telenovela.
“Apa kau terbiasa seperti ini?”tanya Luhan akhirnya setelah semua bayangan mengenai kejutan dari istana keluarga Lau menyambutnya telah berakhir di dalam kepalanya.
Ariel yang baru saja berbaring di sebelah Luhan hanya menatap Luhan bingung lalu kembali menatap layar ponselnya yang sejak tadi berbunyi. Luhan pun kembali menatap langit-langit kamar Ariel yang bahkan terasa amat mewah dan mahal. Luhan tidak tahu Ariel benar-benar hidup sebagai tuan putri sebelum pindah ke Korea. Pantas saja gadis ini tidak bisa melakukan apapun, bahkan untuk dirinya sendiri.
“Memangnya aku terlihat seperti apa?” Ariel menyambung obrolan Luhan setelah menaruh ponselnya di atas nakas dan berguling ke arah Luhan –tengkurap di atas tubuh Luhan.
Luhan pun melipat tangannya di bawah kepala dan balas menatap mata Ariel, “Kau sama sekali tidak diperlakukan seperti tuan putri ketika sampai di rumahku. Tapi melihat bagaimana cara memperlakukanmu sekarang…sepertinya kau memang seorang tuan putri,”
Ariel terkekeh pelan dan kembali berguling ke sisi Luhan, lalu ia pun memeluk Luhan, “Aku menyukai rumah ini bukan karena bagaimana aku diperlakukan, tapi…karena aku merasa bahwa tempat ini adalah rumahku,” kemudian Ariel mendongak menatap mata Luhan yang sepertinya sejak tadi hanya terarah pada matanya, “Kau tidak perlu merasa canggung. Apapun yang kau butuhkan, atau apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman, katakan saja padaku.”

***

Tepat pada pukul tujuhmalam orang tua Ariel sampai di istana mereka –dantentunya adegan saling melepas rindu antara anak dan orang tua juga tidak terlewatkan. Meskipun sudah berusia tujuh belas tahun, tapi Ariel terlihat sama sekali tidak peduli ketika ia berlari dari lantai dua menuju ruang tamu, tempat kedua orang tuanya berada, lalu melompat ke arah ayahnya. Sedangkan Luhan justru hanya berdiri memandangi role adegan itu di dekat tangga. Luhan yang berstatuskan sebagai menantu keluarga Lau hanya bisa menarik sudut bibirnya dengan canggung. Ia benar-benar tidak terlalu dekat dengan keluarga Ariel, tapi sekarang ia malah terlibat langsung dengan keluarga ini.
“Astaga…lihatlah menantuku yang satu ini,” dan ibu Ariel adalah orang pertama yang menyambut hangat keberadaan Luhan yang awalnya agak kelam ini.
Luhan juga sebenarnya tidak dekat dengan ibu mertuanya –err ia agak merasa caggung dengan sebutan itu—tapi akhirnya ia tetap membalas senyum wanita berkepala empat itu, dan juga membiarkan wanita itu memeluknya lalu menariknya untuk bergabung di ruang tamu.
“Wah…kau terlihat semakin dewasa. Bagaimana dengan kuliahmu?” dan kali ini sang ayah mertualah yang menyambutnya dengan senyum semi hangatnya. Meskipun ramah, tapi Luhan kadang merasa sangsi apakah pria berkepala empat itu benar menyukainya atau tidak karena sikap dingin yang sering ditunjukkannya. Luhan juga tidak akan lupa bagaimana tatapan memindai yang ia berikan selama momen menjelang upacara pernikahan Luhan dan Ariel. Seolah-olah Luhan adalah penjahat yang baru saja menculik putri tercintanya.
Yeah…mungkin itu salah satu riwayat kecacatan pernikahan mereka, dimana semua anggota keluarga meyakini adanya ‘kecelakaan’ menjelang pernikahan. Sebanyak apapun Luhan dan Ariel menjelaskan situasi memuakkan beberapa bulan lalu itu, tetap saja mereka tidak mendnegarkan dan hanya menganggap penjelasan mereka sebagai alasan kosong demi tidak terlaksananya pernikahan ini.
Tapi, pada akhirnya Luhan malah terbiasa dan terkesan mensyukurinya. Luhan mulai membiasakan dengan hubungan yang tidak pernah terbayangkan akan terlaksana lebih cepat dari yang ia duga –ia sebagai menantu seseorang, dan ia juga mensyukuri pernikahannya dengan Ariel. Yeah, ia amat sangat mensyukuri hubungan ini.

***

“Aku tidak yakin untuk datang ke acara semacam itu,” Luhan dengan otak suramnya sama sekali tidak bisa membayangkan hal apa yang akan ia lewati malam ini di acara rekan kerja mertuanya. Yeah,mertuanya. Luhan merasa geli ketika satu kata yang mendadak menjadi keramat itu menyambangi kepalanya. Kata itu tiba-tiba saja membuatnya terasa terjerat.
Dan, di sisi lain ruangan, Ariel jutru terlihat amat santai. Ia masih bisa tersenyum ketika melihat bayangan dirinya yang terpantul dari cermin. Meskipun gadis itu terlampau cantik malam ini –dengan gaun selutut berwarna gading dan rambut coklat lurusnya—tapi Luhan bahkan tidak bisa membengkokkan kekhawatirannya. Disaat seperti ini, ia benar-benar merasa bahwa ia hanyalah anak kecil yang ingin berlari ke pelukan ibu dan ayahnya.
“Kau bahkan tidak pernah mencoba berdandan secantik itu saat berkencan denganku,” Luhan tidak bermaksud mencela Ariel. Demi Tuhan. Ariel sangat cantik dan ia behak mendapat pujian meskipun berupa pujian kecil. Tapi lidah Luhan benar-benar tertahan, dan sejalan dengan perasaannya, kata-katanya juga begitu suram.
“Kau pernah bilang aku selalu cantik dengan pakaian seperti apapun di kencan pertama kita, jadi aku pikir aku tidak perlu memakai sepatu seperti ini…” Ariel mengangkat kakinya –menunjukkan sepatunya yang agak tinggi—dan juga menunjuk gaunnya, “Ataupun pakaian yang biasa digunakan ke acara pesta.”
Yeah. Tentu saja. Ariel tidak mungkin mengenakan gaun semacam itu hanya untuk sekedar menonton di bioskop, berjalan-jalan ke sungai han, ataupun acara kencan lainnya yang memang sama sekali tidak berbau formal. Terlebih, mereka juga bukan pasangan dewasa yang akan makan malam di restoran mewah dengan pakaian yang juga mewah. Ketimbang membuang uang di restoran semacam itu, mereka akan lebih suka makan ramen bersama di warung pinggir jalan.
“Kau pernah ikut acara seperti ini sebelumnya?” Luhan pun kembali bersuara. Kali ini ia memutar tubuhnya untuk menoleh ke arah Ariel –memamerkan penampilannya dan berharap Ariel akan memberi komentar positif dan menurunkan kadar ketidak percayaan dirinya.
“Tentu saja.”
Ya. Tentu saja Ariel tidak akan memahami apa yang Luhan inginkan dari Ariel saat ini. ariel sama sekali tidak terlalu memerhatikan penampilan Luhan maupun keresahan Luhan, gadis itu justru buru-buru menariknya ke luar kamar, berjalan menuju tangga, dan kurang dari tiga puluh detik mereka sudah berada di ruang tamu tepat di hadapan orang tua Ariel –yang serta merta langsung memberikan pujian pada Luhan.
Pujian yang sama sekali tidak membuatnya jauh lebih baik.

***

Seandainya ini Korea, Luhan pasti tidak akan merasa begitu terlalu buruk meskipun harus berada di acara formal ini. yeah…sayangnya ini adalah wilayah asing dengan orang asing. Benar-benar orang asing. Orang-orang yang tidak beretnis sama dengannya. Orang-orang yang tidak berbahasa sama dengannya. Ia juga bukan seseorang yang perlu diperhatikan sih…tapi Luhan tetap saja meraasa tidak nyaman dengan perbedaan yang menurutnya amat mencolok ini.
Ia juga berharap Ariel ada di sampingnya, setidaknya membuat Luhan tidak merasa sendirian seperti sekarang. Tapi nyatanya Ariel malah disapa beberapa orang yang sepertinya teman lama Ariel. Sialan memang. Gadis itu menceritakan bahwa betapa suram masa lalunya tanpa teman, tapi nyatanya gadis itu malah tertawa bersama orang lain –bersama seorang anak laki-laki yang sepertinya sebaya dengannya. Berbicara dengan bahasa inggris –yang tidak bisa Luhan tangkap dengan cepat—lalu menertawakan sesuatu, entah apa.
“Menyebalkan,” umpat Luhan. Entah pada siapa. Ia merasa lebihs ebal lagi ketika tidak berani menyentuh wine yang terlihat amat menggiurkan. Ia masih ingin dicap sebagai ‘anak baik’ dan ‘menantu yang baik’ di hadapan orang tua Ariel. Jadi, sebisa mungkin Luhan menahan diri agar tidak melakukan hal-hal konyol.
Pesta ini seharusnya bisa menjadi pesta yang menyenangkan. Ada banyak makanan lezat yang menyapa Luhan di sana-sini. Terlebih, acara ini diselenggarakan di luar ruangan dengan pemandangan amat luar biasa. Ia merasa seperti tengah berlibur ke perkebunan dan mendapati berbagai macam pohon buah yang berjajar rapi. Luhan bisa membayangkan pemandangan yang lebih luar biasa lagi jika pesta ini diadakan pada siang hari.
“Haruskah aku belajar bahasa inggris lebih serius lagi sehingga aku bisa menyapa beberapa orang asing lain kali?” Luhan menatap sedih gelas berisi soda berwarna putih di tangannya. luhan pun mengangkat kepalanya dan masih mendapati Ariel berbicara dengan beberapa orang lain –yang entah akan berlangsung berapa lama lagi, “Aku selalu saja mengatainya bodoh. Tapi di saat seperti ini,a ku merasa akulah yang terbodoh.”
“Dia…Lu-Han,”
Dan, Luhan terlonjak kaget ketika Ariel membawa teman lelakinya mendekat ke arah Luhan lalu memeprkenalkan mereka berdua. Ayolah! Apakah Ariel sama sekali tidak melihat raut kesal yang sepertinya telah tergurat amat besar di keningnya? Dan sekarang ia mau menambahnya lagi dengan memperkenalkan laki-laki lain padanya? Heol…manis sekali gadisnya ini.
“Dan…Luhan, ini Ten. Dia temanku saat masih sekolah di Thailand. Kejutan besar bukan? Dia tidak terlalu pintar tapi bisa melanjutkan studinya hingga kemari…”
Ten yang sepertinya memahami ucapan Ariel langsung menyikut lengan Ariel dan menunjukkan raut kecewa, “Kau lupa aku lebih pintar darimu?” Ten menyela dengan bahasa Inggris-nya –astaga, padahal Ariel bicara menggunakan bahasa mandarin barusan, tapi sepertinya bocah tengik ini memahaminya.
“Tapi aku juga tidak lupa kau juga tidak sepintar itu,” dan Ariel masih saja menjawab ucapan anak lelaki bernama Ten itu.
“Senang bertemu denganmu…Hyung? Aku penggemar Kpop, dan aku boleh memanggilmu seperti itu, kan?” Ten kali ini beralih bicara padanya dengan tangan yang terulur padanya.
Yeah, laki-laki macam apa yang menyukai Kpop…?
“Senang bertemu denganmu juga,” maaf karena Luhan harus berbohong, Tuhan, “Jadi…kau adalah temannya Ariel saat SMP? kudengarAriel tidak berbaur dengan baik saat SMP…”
“Ah, dia memang pendiam. Sangat sangat pendiam,” Ten pun memutar bola matanya ke arah Ariel, “Aku juga terkejut dia ternyata mau membalas sapaanku. Tapi…aku lebih terkejut lagi saat mendengar bahwa ia telah bertunangan denganmu,” Ten kembali menarik bola matanya kea rah Luhan, kali ini dibarengi dengan seutas senyum nakal.
Oh yeah…setidaknya Ariel tidak membuat masalah ini sedikit lebih membengkak –ia cukup senang karena Ariel mengakuinya sebagai tunangan di hadapan laki-laki lain.

***

“Haruskah aku terkejut setiap saat? Aku bahkan belum melihat seluruh rumahmu, dan sekaranga ku disuguhi pemandangan mewah dari kamar hotel milik orang tuamu?”
Ariel hanya tertawa dan langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang, “Apa karena kau terlalu sering terkejut makanya kau pendiam sekali hari ini?”
Luhan hanya mengedikkan bahu sambil menarik sebuah kursi di dekat meja rias dan mendudukinya dengan gerakan lambat. Ia benar-benar lelah sekali hari ini, padahal ia sama sekali tak melakukan aktivitas berarti : hanya duduk, diam, tersenyum, menanggapi beberapa sapaan, dan makan. Ini baru hari keduanya berada di Kanada, tapi Luhan malah merasa…entahlah, harusnya ia berlibur ke Busan atau ke Jeju saja. Ini liburan yang benar-benar di luar ekspetasinya –karena ia sama sekali tidak bisa menikmati liburannya yang hanya berputar di sekitar orang tua Ariel. Luhan meringis kecil ketika menyadari ia baru saja menjadi menantu menyebalkan.
“Kau tidak akan mandi?” Luhan mengalihkan isi pikirannya dan melirik kea rah Ariel yang tengah memainkan ponselnya dengan posisi telentang.
“Kau duluan saja, kakiku masih sakit,” Ariel mengacungkan kedua kakinya dan menoleh kea rah Luhan, “Aku harap kau tidak akan menyuruhku memakai sepatu seperti tadi lagi, itu menyebalkan. Kakiku sakit semua…”
Luhan pun mendecih, “Memangnya siapa yang menyuruhmu memakai sepatu seperti itu,”
“Aku hanya ingin terlihat cantik. Tapi ternyata itu susah sekali…” sahut Ariel masih dengan posisi yang sama, kali ini tanpa menoleh sedikitpun ke arah Luhan.
Penasaran dengan Ariel yang begitu sibuk dengan ponselnya, Luhan pun ikut berbaring di samping Ariel dan mencoba untuk mengintip layar ponsel Ariel yang membuatnya begitu sibuk, “Jung…Kook,” Luhan membaca nama yang tertera di layar ponsel Ariel dengan keras, “Heol…. Kau pacaran sungguhan dengannya? Kau tahu dia menyukaimu dan kau masih saja membiarkannya berputar-putar di sekitarmu seperti itu?”
“Kau cemburu…” sahut Ariel dengan nada mengejeknya dan sama sekali tidak mempedulikan Luhan.
“Hei, aku serius! Irene bahkan sudah tahu jika kau adalah tunanganku,dan kau masih akan mebiarkan laki-laki lain menguntitmu seperti itu?”
“Tapi Jungkook hanya temanku,” balas Ariel tanpa mengalihkan pandangannya, “Dia juga tahu aku punya tunangan. Jadi kau tidak perlu cemburu seperti itu…”
Luhan pun mendengus panjang. Oh yeah, tentu saja. Luhan tahu Jungkook hanya teman Ariel, Luhan juga tahu perihal Ariel yang sudah mengumumkan statusnya yang tidak lagi single. Tapi bukan berrati Ariel bisa membiarkan laki-laki lain sedekat itu dengannya, kan?
“Kau akan terus tersenyum seperti itu pada ponselmu?” protes Luhan lagi –yang semakin sebal—ketika Ariel terkekeh sendiri dan mulai menguah posisinya menjadi tengkurap, dan tentunya bola mata gadis itu masih saja terpatri pada ponsel sialannya.
Mendapati dirinya diabaikan, Luhan pun membaringkan kepalanya di atas punggung Ariel. Sama sekali tidak peduli dengan Ariel yang mulai mengomel sembari bergerak risih, “Kau berat, Luhan!”dan dengan nada marah Ariel pun terbangun sambil melotot ke arah Luhan.
Bukannya menanggapi, Luhan justru malah tertawa ringan –yang sama sekali terdengar seperti sebuah ejekan di telinga Ariel. Luhan pun menarik guling di dekatnya dan menggantikan punggung Ariel tadi untuk kepalanya. Rasanya sudah lama sekali sejak ia menjahili Ariel. Sayangnya, Ariel juga sudah berubah cukup banyak. Jika dulu Ariel akan balas menjahilinya, belakangan ini Ariel hanya akan menggerutu dan mengomel jika Luhan iseng padanya. Entah karena factor usianya atau bagaimana, tapi Ariel yang sekarang sama sekali tidak seseru Ariel sebelum mereka menikah….
“Ariel…jika suatu hari nanti kau bosan padaku, kau akan melakukan apa agar tidak lagi bosan denganku?” Luhan tidak tahu darimana asalnya pikiran itu. Tapi luhan tiba-tiba penasaran saja, mereka sudah lama bersama dan akhirnya mereka malah menikah di usia yang amat muda. Dan sudah bisa dipastikan, artinya sejak pernikahan itu dimulai, saat itu pula sudah bisa dipastikan mereka akan menghabiskan sisa umur mereka bersama-sama.
Ariel mengalihkan pandangannya dan menatap Luhan sedikit lama. Ia agak terganggu dengan kata ‘bosan’ yang ditekankan Luhan, seolah Luhan memprediksi hubungan mereka tidak akan berjalan mulus dan aka nada masalah di kemudian hari. Tapi kemudian Ariel hanya mendengus panjang, meletakkan ponselnya, dan ikut berbaring di samping Luhan.
“Justru, dengan kita berjauhan sementara waktu nanti, aku akan banyak merindukanmu dan tidak akan cepat bosan padamu,” Ariel sebenarnya menjawab dengan asal saja. Ia hanya mengutip obrolannya dengan Sohee di chat-Line, dan Sohee menceritakan mengenai hubungannya dengan Sehun. Ia bilang, ia tidak akan bosan pada Sehun karena ia masih cinta padaSehun, dan jarak hubungan mereka saat ini malah membuat Sohee malah mencintai Sehun semakin dalam dan tidak cepat bosan. Ariel tidak tahu apakah itu benar atau tidak jika ia menjalaninya dengan Luhan nanti, tapi ia harap setidaknya ia bisa merasakan hal-hal seperti itu, ketimbang kelak baik Luhan ataupun Ariel akan merusak hubungan mereka dengan kata bosan.
“Kau mengutip kata-kata Sehun?” Luhan membuka matanya dan menyipitkan matanya ke arah Ariel. Ia hampir saja terpejam, tapi kalimat Ariel barusan malah mengingatkannya padaSehun yang terlalu banyak menceritakan Sohee-nya yang katanya amat ia rindukan.
Dan, Ariel yang berbaring di samping Luhan justru membulatkan matanya, sebelum akhirnya ia tertawa geli, “Sehun Oppa juga mengatakan hal itu padamu?”
Luhan pun menguba posisinya menjadi miring dan menatap Ariel serius, “Kau dan Sehun suka mengobrol di belakangku? Wah…tega sekali…”
“Sohee Eonni,” potong Ariel cepat. Ia pun ikut mengubah posisinya menyamping ke arah Luhan, “Sohee Eonni pernah mengatakannya padaku. Kami suka mengobrol di Line jika dia sedang senggang. Bukankah itu sangat manis? Mereka benar-benar berjodoh…”
Luhan mencebikkan bibirnya dan menggeleng pelan, “Menurutku hubungan kita lebih manis. Aku tidak pernah menjalani hubungan seperti ini dengan gadis manapun sebelumnya…”
Ariel menyipitkan matanya, ia mulai penasaran dengan isi otak lelaki player ini, “Hubungan seperti apa?”
“Entahlah…” Luhan kembali mencebikkan bibirnya, “Aku biasanya akan berusaha terlihat baik di hadapan semua gadis yang pernah kukencani. Sayangnya aku tidak bisa seperti itu di depanmu. Aku bahkan tidak segan kentut dan mengupil di depanmu…”
Oh yeah, itu kebiasaan lumrah seorang Luhan yang amat menjijikkan, plus menyebalkan, plus menjengkelkan, dan…pokoknya Luhan menyebalkan jika sudah seperti itu. Ariel awalnya merasa kesal karena Luhan selalu terlihat manis di depan gadis lain tapi selalu menyebalkan seperti itu di depannya. Tapi…belakangan ini, Ariel pikir itu adalah salah satu poin plus hubungan mereka.
Bukankah sangat bagus jika Luhan menjadi dirinya yang apa adanya hanya di hadapan Ariel?
“Aku mencintaimu,”
Selama beberapa detik, tanpa disadarinya, Luhan sempat menahan napas setelah pernyataan cinta Ariel yang…yeah, Ariel memang seperti itu. Sesuatu yang belum berubah darinya adalah sifat terbukanya yang satu ini. Luhan pernah bertemu dengan beberapa gadis agresif yang tidak segan menyatakan perasaannya seperti yang Ariel lakukan. Tapi bedanya, mereka melakukan itu semua untuk menarik perhatian, sedangkan Ariel…. Entahlah. Mata gadis itu masih amat lugu. Apa yang ia akan katakan akan terpancar juga lewat sorot matanya.
“Maafkan aku,”
Ariel mengerutkan dahinya bingung, “Kenapa kau minta maaf?”
Luhan memutar bola matanya ke arah lain –seolah tengah berpikir untuk jawaban yang akan ia kemukakan, “Aku merasa telah menjadi seseorang yang buruk untukmu,” Luhan pun mengulas senyum kecil di bibirnya, “Aku merasa kita terlalu sering bertengkar dan semua itu berawal karena aku. Aku juga sebenarnya merasa minder…” Luhan menjeda ucapannya dengan helaan napas panjang, “Aku takut tidak bisa membuat rumah seperti ayahmu membuat rumahmu di sini. Rumah besar yang membuatmu sangat nyaman, bangga, dan membuatmu selalu rindu dan ingin pulang ke sana…”
Ariel pun tertawa pelan mendengar jawaban Luhan yang agak terdengar aneh itu, “Kau tidak perlu membuat rumah yang besar. Bagiku, yang terpenting rumah itu akan terasa hangat karena ada kau dan aku di dalamnya.”
Kali ini, Luhan yang balas tertawa menanggapi ucapan Ariel, “Begitukah?”
“Tentu saja. Bukankah percuma saja jika kita memiliki rumah yang besar dan mewah jika terasa dingin dan sepi? Itu bukan definisi rumah menurutku,”
Luhan pun menarik Ariel mendekat ke tubuhnya, “Dan tentu saja kita harus memiliki anak-anak lucu yang mirip diriku,”
Seketika Ariel langsung menarik tubuhnya menjauh dan memberikan tatapan –yang benar saja? Ariel tahu Luhan memiliki wajah yang good-looking dan wajahnya kadang terlihat terlalu muda dari usianya jika dibandingkan dengan teman-temannya. Tapi entah mengapa Ariel kurang setuju dengan kalimat ‘anak-anak lucu yang mirip diriku’ dari Luhan.
“Sebenarnya aku ingin mengakui bahwa kau tampan…” dan Ariel langsung menunjuk wajah Luhan agar tidak memotong ucapannya dengan tingkat kepercayaan dirinya yang agak berlebihan, “Tapi aku tidak suka dengan lelaki yang begitu percaya diri sepertimu.”
“Kau menyukaiku…” Luhan tampak tidak peduli dan kembali menarik Ariel.
Dan, Ariel hampir saja akan terpejam jika Luhan tidak tiba-tiba terbangun dan membuat gerakan di ranjang yang mereka tiduri. Yeah, Ariel hampir lupa posisinya saat ini sama sekali tidak cocok untuk tidur. Terlebih ia juga belum ganti baju dan…
“Bagaimana jika aku mengubah keputusanku?”
Ariel mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sudah mengantuk dan Luhan mengajaknya bicara mengenai…apa? Keputusan? Ariel tiba-tiba saja merasatidak lagi mengantuk dan langsung terduduk.
“Kau tidak mngizinkanku pergi?”
Ariel tidak mengerti situasi macam apa yang sedang ia alami saat ini. Luhan tiba-tiba saja berbicara mengenai keputusannya, lalu terdiam cukup lama sebelum akhirnya kembali duduk sambil mendekatkan wajahnya ke arah Ariel.
“Aku tetap mengizinkanmu pergi, kok…” Luhan sedikit berbisik sebelum akhirnya menempelkan bibir mereka berdua. Ariel tahu ini bukan ciuman pertama mereka, tapi Ariel merasa agak canggung karena…Luhan terus memperdalam ciumannya. Hingga tanpa ia sadari, saat ini mereka berada di posisi yang agak tidak menyenangkan : dengan Ariel yang berbaring di bawah Luhan, “Jika kau tidak hamil, aku akan mengizinkanmu pergi. Salahmu sendiri yang membuatku jatuh cinta secara tiba-tiba, membuatku menyadarinya amat terlambat, dan sebelum aku meminta pertanggung jawabanmu karena itu semua, kau malah mau pergi meninggalkanku.”
Baiklah. Untuk pertama kalinya, Ariel akhirnya merasa sudi mengakui otaknya yang ternyata memang agak lamban dalam bekerja. Ia sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Ia tidak tahu kenapa Luhan menyebut-nyebut kata hamil setelah mengomelinya mengenai ‘tidak mudah mengurus seorang anak’. Dan ia tidak tahu kenapa Luhan kembali menautkan bibir mereka di antara posisi yang membuatnya merasa canggung…dengan satu tangan yang kini telah berhasil menarik selimut untuk menutupi mereka berdua setelah berkata pelan, “Maafkan aku.”

***

4 years later…. Seoul, South Korea.

Luhan berjalan pelan sembari menaikkan lengan kemejanya hingga ke sikut. Luhan tidak yakin, tapi ia benar-benar merasakan seluruh udara tersedot ke dalam suara derap langkah kakinya, dan menyisakan tatapan-tatapan gugup pada seluruh barisan dua puluh orang di sisi kanan dan kirinya. Luhan bukan sosok antagonis bagi para pekerja-pekerjanya, tapi melihat bagaimana reaksi para pelamar pekerjaan ke restorannya, Luhan menjadi merasa agak kurang nyaman.
Empat tahun lalu, Luhan sama sekali tidak mengerti tentang makanan. Ia bahkan mau repot-repot belajar memasak karena istrinya tidak bisa memasak –bahkan tidak tahu cara menanak nasi dan tidak tahu ukuran panci yang cocok untuk memasak ramen. Yeah…. Itu bisa dikatakan momen tergila pasca pernikahannya, tapi juga momen termanis untuknya. Jika bisa, Luhan ingin kembali berlari ke masa itu dan melakukan semua yang terbaik sebisanya. Hanya untuk istrinya, tentu saja.
Dan, hari ini…. Luhan berada di restoran ini sebagai bos yang cukup disegani oleh para karyawan. Luhan bukan lagi bos yanga kan datang saat rapat dengan pakaian kuliahnya yang agak serampangan –amat senada dengan wajah kucel dan rambut awut-awutannya. Luhan juga cukup menyadarinya, ia mulai merasakan wibawanya sendiri yang entah sejak kapan muncul pada dirinya sendiri.
“Kalian tahu aku hanya membutuhkan tiga koki dari dua puluh pendaftar hari ini,” kali ini suara Luhan menyedot seluruh perhatian dari karyawan dan jug dua puluh pelamar tadi.
Luhan pun berbalik ke arah Haneul yang masih menjadi manajer andalannya, “Dan aku mementingkan rasa-rasa dasar pada makanan, bagiku rasa-rasa dasar menunjukkan kemampuan dasar kalian juga,” Luhan pun memutar bola matanya, kali ini ke arah seluruh pelamar tadi.
Dengan senyuman yang agak dipaksakan, Luhan pun menarik napas panjang dan kembali angkat suara, “Aku sebenarnya tidak terlalu memahami masakan, tapi sayangnya aku juga tidak menikmati satupun masakan kalian,” Luhan pun menoleh ke arah Haneul yang masih berdiri dengan posisi tegak, “Dan Hyung-ku juga sependapat denganku.”
Oh, yeah…. Luhan memang bukan bos antagonis yang akan membuat mental karyawannya menciut, tapi Luhan tekenal dengan sifat ‘perfeksionisnya’. Dan sebelum restoran yang dikelolanya ini menjadi sebesar sekarang, seluruh karyawan tahu hanya Kang Haneul lah yang memiliki sifat menyebalkan seperti itu –dan sayangnya, sekarang menurun pada bos mereka yang tadinya lugu dan imut itu.
“Jadi…aku akan langsung mengumumkan bahwa perekrutan hari ini gagal,” Luhan sama sekali tidak terganggu dengan desahan kecewa yang mulai mengisi udara, “Hyung…sisanya aku serahkan padamu. Ini sudah jam Sembilan malam dan aku harus segera pulang. Dan…Hyejung-ssi…” Luhan pun mendekat pada salah satu staf yang mengurus masalah perekrutan ini, “Ini peringatan ketigaku…” ia pun mulai menyentuh pundak wanita yang usianya lebih tua empat tahun darinya itu, “Jika kau menyeleksi yang seperti mereka lagi, aku tidak bisa memercayakan program lainnya untukmu lain kali.”
Luhan selalu tersenyum. Itulah kelebihan yang ia miliki dan alas an ia tidak pernah dicap antagonis oleh karyawannya. Tapi pada satu titik, Luhan kadang semenyeramkan itu meskipun hanya sekedar tersenyum dan bergurau. Karena jika tidak sesuai harapan, Luhan dengan tega akan memutus kontrak. Tidak secara cuma-cuma, seperti wanita bernama Hyejung tadi, ia sudah mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
“Aku pulang….”
Dan, Luhan pun langsung mengambil jas hitamnya sebelum mengambil langkah keluar dari kantornya. Yeah…dalam waktu empat tahun, berkat bantuan semua orang di sekitarnya, Luhan akhirnya bisa membuka lima restoran dengan dibantu oleh karyawan kesayangannya, Kang Haneul. Ia juga telah menyelesaikan gelar sarjananya dan berencana untuk mencoba bidang fashion untuk bisnis lainnya. Itu baru rencana, Luhan masih harus banyak belajar.
“Menyebalkan. Kau benar-benar berniat mencampakkanku sekarang?” Luhan mengumpat pelan sepanjang perjalanannya menuju tempat parker mobilnya.
Ia masih melirik ponselnya, berharap gadis pujaannya yang membuatnya menjadi gila seperti ini akan segera berhenti bermain-main dan segera kembali ke pelukannya. Tapi, Luhan sering sekali merasa berkecil hati karena tingkah blak-blakan gadis sialan itu….
Tidak membalas pesannya saat sibuk. Tidak mengangkat teleponnya saat ada kegiatan. Tidak pulang ke Korea jika tidak ada waktu. Dan…entahlah. Luhan amat frustasi dengan gadis itu. Gadis yang telah diikrarkan sebagai istrinya empat tahun lalu. Dia benar-benar pergi ke Praha –dan ternyata tidak hamil meskipun dulu Luhan sempat ‘melakukannya’ beberapa kali. Dia hanya pualang setahun sekali dan Luhan justru lebih banyak mengunjunginya. Yang paling menyedihkan dari itu semua, saat Luhan melakukan wisuda Ariel juga tidak datang….
“Dia bahkan sudah lulus, tapi kenapa dia malah meneruskan kontrak di sana?” Luhan masih mengumpat setelah duduk di jok mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
Luhan pun mendesah panjang dan menyandarkan kepalanya pada sandaran jok. Yoon Sohee bohong. Dia bilang, semuanya akan baik-baik saja karena Luhan dan Ariel sudah menikah. Hubungan jarak jauh sama sekali bukan ide yang bagus. Mereka sangat sangat sangat sering bertengkar. Luhan bahkan sempat mengkhawatirkan hubungan mereka nanti…terlebih Ariel yang tidak juga memutuskan untuk pulang ke Korea dan berhenti dari segala obsesinya….

***

Praha, Ceko.
Ariel Lau kembali memakai sweter putihnya yang tidak ia ganti sejak dua hari lalu. Ia belum pulang ke apartemennya dan sibuk mengurus sebuah projek drama yang akan digelar di panggung terbesar dan acara terbesar kampusnya. Well, Ariel sebenarnya tidak pernah berencana menjadi orang sibuk, tapi ternyata Ariel tetap terjebak dalam manisnya buah dari segala impiannya : pekerjaannya sebagai penulis skenario. Bukan hanya drama, tapi juga film pendek, dan jenis skenario lainnya.
Ariel yang empat tahun lalu merengek tidak ingin kuliah dan ingin hamil saja –oke, Ariel sekarang amat merasa malu dengan sifatnya dulu—sekarang mulai berevolusi menjadi asisten dosen dan mulai menjadi penulis skenario sungguhan. Bahkan, satu tahun ini ia memiliki kontrak khusus dengan kampusnya untuk menjadi coach dan mulai menargetkan sebuah perusahaan film dokumentar & film pendek. Sayangnya, ia masih menikmati dunianya yang sekarang, sehingga ia masih menunda mengirimkan CV pada perusahaan-perusahaan tersebut.
“Aku tidak bisa memahami konsepnya,” gadis dengan rambut pirang terang yang mengenakan kostum hitam mendengus lelah. Ia barus aja menggunakan bahasa Jerman untuk mengeluh pada salah satu staf, “Aku bahkan tidak…”
“Kalau begitu berhentilah,” Ariel tidak menatap gadis itu dan tetap memperhatikan setiap detail skenario di tangannya. Hari ini ia juga mulai merangkap menjadi sutradara. Ia mulai rakus dan ingin mencicipi semuanya. Bahkan, jika bisa ia ingin membuat skenario untuk film bioskop ataupun cerita bersambung. Pasti menyenangkan.
Gadis itu terlihat jengkel, “Tapi ini benar-benar sulit dipahami. Bagaimana bisa…”
“Seorang aktris harusnya mencoba dan berlatih sebanyak yang ia bisa,” Ariel yang mulai jengkel akhirnya mengangkat kepalanya dan dengan lantang menusuk langsung tatapan gadis yang katanya terkenal itu, alas an mengapa ia berada disini dan dikontrak dengan harga mahal, “Kau hanya perlu membatalkannya jika kau mau. Kau terus merendahkan orang lain, tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya kau yang…” Ariel tidak meneruskan kalimatnya dan mulai bangun dari kursinya. Kadang, ia jengkel dengan beberapa aktris kontrak semacam ini, terlalu banyak maunya dan terlalu banyak mengeluh, terutama untuk jenis-jenis artis narsisme.
“Jika kau terus mengeluh, berhentilah. Kau sudha berada di tahap peragaan panggung, bukan hanya latihan membaca naskah. Kemarin kau mengeluh soal pasanganmu, sekarang kau akan mengeluh soal konsepnya?”
Well, gadis itu sebenarnya bukan gadis yang suka kalah dalam berdebat. Tapi wanita dengan name tag ‘Ariel Lau’ ini emiliki aura menyebalkan –aura yang tidak suka dan tidak bisa dikalahkan. Karisma yang dimiliki Ariel bukan tipe karisma yang bisa ditaklukkan, justru sebaliknya, karisma penakluk.
“Ka uterus mengalami kesalahan beberapa kali hari ini. Apakah kita harus break dan mendiskusikan ulang semuanya?”
Dan, Ariel pun menutup perdebatan kosongnya dengan menepuk pundak gadis itu, tidak lupa dengan sebuah tarikan senyum di bibirnya, “Kau tahu Korea? Artis favoritku harus menunggu tujuh tahun di tempat pelatihan sebelum akhirnya dia bisa tampil di depan kamera. Aku yakin usahamu pasti lebih besar dari itu, tapi kau harusnya mau menghargai kerja kerasmu.” Dan Ariel pun meninggalkan gadis itu dan meminta untuk menghentikan latihan hari pertama mereka di atas panggung.
Dan, sebelum ia meninggalkan tempat itu, ia sempat mengecek ponselnya yang hanya menyisakan 5% baterai. Ia mendapati banyak pesan –yang kebanyakan dari Luhan. Dan…tiba-tiba saja hatinya menjadi sendu. Ia merindukan Luhan-nya. Tapi Ariel tidak segera membalas pesan Luhan dan justru membuka pesan dari nama ‘Vernon.’.
“Kita bertemu besok siang setelah makan siang.” Ia mengetikkan dengan cepat pesannya pada Vernon –yang sayangnya justru berhasil menyedot habis baterai ponselnya.
“Sial!” umpatnya pelan. Ia belum sempat membalas pesan Luhan –yang belakangan sering sekali merajuk karena hal sepele seperti ini.

***

Luhan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia baru saja tiba di Praha –lagi, setelah dua bulan lalu ia kabur dari jadwalnya yang padat dan berlari ke pelukan Ariel. Yeah…selalu seperti ini. Ia selalu merasakan rindu yang menggebu-gebu. Dan sejauh ini, ia selalu masih dikalahkan oleh perasaan rindu itu.
Harusnya Ariel sudah berhenti dari segala kegilaannya di Praha dan segera kembali ke Korea. Luhan sebenarnya sudah sering mengeluhkan masalah ini, juga pada Ariel, dan semuanya berakhir pada pertengkaran. Baik itu pertengkaran kecil maupun pertengkaran yang agak serius. Tapi kemudian, Luhan akan mendapati dirinya membiarkan Ariel lebih lama tinggal di Praha dan dirinya yang terus pulang-pergi Seoul-Praha seperti ini.
“Oh…Hai, Cheska. Ini aku, Luhan…. Ya, Ariel tidak mengaktifkan ponselnya lagi…” Luhan terdiam beberapa saat ketika memasuki taksi sembari mendengarkan ucapan Cheska, teman kuliah Ariel yang kini sama-sama menjadi pekerja kontrak di kampus mereka, “Bisakah kau kirimkan alamatnya padaku?” dan Luhan pun menutup telponnya, menunggu sms dari Cheska –alamat tempat Ariel berada saat ini. Gadis itu lagi-lagi menon-aktifkan ponselnya lagi. Sedang sibuk latihan merekam suara katanya. Entah jenis suara macam apa dan merekam yang seperti apa. Luhan hanya ingin bertemu dengan Ariel.
Kemudian, setelah mengucapkan terimakasih pada Cheska d isms, ia pun menunjukkan alamat yang dikirimkan Cheska padanya lalu menyuruh supir taksi itu mengantarkan kopernya ke apartemen Ariel. Well, penjaga apartemen sudah mengenalnya, jadi tidak sulit baginya untuk sekedar meminta mereka menjaga barangnya sebentar.

***

Jika saja Luhan membesarkan rasa egoisnya, ia bisa saja berlari padaAriel, menariknya dari tepi danau itu lalu memeluknya sebelum membawanya kabur dari tempat itu. Tapi Luhan justru merasa penasaran dengan Ariel yang tengah mengenakan headphone, lalu berbincang sedikit dengan kedua teman lelakinya –yang entah siapa, dengan beberapa peralatan merekam yang diarahkan pada air danau.
Luhan tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di tempat yang terbilang sepi ini, tempat yang terlihat seperti hutan dengan rumput tinggi memenuhi tanah dan sebuah danau di tengah-tengahnya. Tapi Luhan merasakan sesuatu menghangatkan hatinya saat melihat ekspresi serius Ariel saat memakai headphone itu. Suasana benar-benar amat sepi, dan ekspresi Ariel yang senada dengan suasana saat itu justru membuat hati Luhan merasa damai.
Apa yang membuat Ariel bahagia juga membuat Luhan bahagia.
Itu terdengar aneh, tapi Luhan tidak bisa membohongi dirinya sendiri ketika ia ikut merasasenang dengan kebahagiaan Ariel. Mungkin itu sebabnya ia bisa mengalah hingga empat tahun lamanya. Mungkin itu sebabnya juga ia tidak pernah benar-benarmeminta Ariel untuk kembali ke Korea.
Hingga satu jam lamanya, Ariel dan kedua teman lelakinya yang terlihat kebaratan sekali selesai dengan aktivitas mereka. Luhan juga akhirnya terdampar disana seperti orang bodoh yang duduk di sisi jalan dan memandangi Ariel, kemudian ikut bangun dan berharap Ariel akan menyadari keberadaannya setelah berbalik nanti.
Dan, benar saja. Tak lama setelah itu Ariel berbalik dan matanya berhasil mendapati Luhan yang tengah berdiri di sisi jalan raya yang sepi. Mata gadis itu langsung membulat. Dengan cepat, ia langsung berlari ke arah Luhan –tak lupa dengan pekikannya yang berhasil membuat kedua temannya menoleh penasaran pada Ariel yang baru saja melompat pada Luhan.
Ariel benar-benar melompat ke arah Luhan, memeluknya erat dan mengecup bibir Luhan berkali-kali. Sebenarnya Luhan malu karena Ariel melakukannya tepat di hadapan kedua temannya. Tapi…yeah, siapa peduli. Ia juga merindukan Ariel-nya yang tetap menjadi gadis kecil bodoh dan ceroboh plus tidak tahu malu.

***

“Kau harusnya menelepon dulu. Tahu begitu aku akan menyiapkan sesuatu untukmu dan bukannya pergi ke sana tadi…” ucap Ariel dengan nada merajuk –dengan bahasa Koreanya yang sudah jauh lebih baik meskipun ia tak lagi berada di Korea.
Luhan tampak tidak peduli dengan seluruh ocehan Ariel dan hanya memeluk tubuh Ariel yang duduk berbaring di sampingnya, dan sesekali mengecup dahi atau punggung tangan Ariel. Toh, percuma saja jika ia menelepon sedangkan yang ditelepon sama sekali sulit dihubungi. Sebenarnya ia merasa jengkel jika Ariel sudah seperti itu, seolah hubungan mereka tak memiliki masa depan yang cerah. Tapi jika Luhan sudah datang ke hadapannya langsung seperti sekarang, Luhan akhirnya bisa menepis semua keraguannya begitu saja. Terutama jika ia melihat reaksi Ariel yang….
“Kau terlhat lebih kurus,” Luhan mengusap pipi Ariel. Ia sering sekali mengingatkan Ariel untuk menjaga kondisi kesehatannya, tapi sepertinya Ariel diam-diam sering mengabaikan itu.
“Sepertinya porsi makanku agak berkurang. Aku memiliki acara untuk akhir bulan ini, aku sepertinya agak sedikit sibuk…”
Luhan mendesah panjang dan mengusap pelan kepala Ariel, “Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini?”
Kali ini, giliran Ariel yang mendesah panjang. Ia pun menegakkan punggungnya dan menyentuh wajah Luhan, “Kau belakangan sering sekali menanyai pertanyaan itu padaku. Kau tahu…”
“Aku tahu, tidak perlu dilanjutkan…” Luhan kembali menarik Ariel untuk berbaring di sampingnya. Ia bosan menengar alasan Ariel, dan Luhan bosan mendapati dirinya juga tidak bisa menang dari adu argumen untuk masalah ini. Ia masih lebih suka memeluk Ariel dan melepas rindu padanya ketimbang harus berdebat dengannya.
“Kau lebih pendiam. Kau juga tidak banyak bicara saat di telepon…”
“Kau tahu pekerjaanku tidak lagi sedikit,” Luhan menarik napas panjang, kemudian helaan napasnya seolah menjawab betapa melelahkan pekerjaannya di Seoul saat ini. Atau tepatnya, betapa melelahkannya ia dengan pekerjaan menggunungnya di Seoul dengan hatinya yang selalu berlari merindukan dan mengkhawatirkan Ariel setiap harinya.
“Kau tidak perlu memaksakan datang kemari jika memang benar-benar sibuk. Kau juga harus banyak istirahat jika kau lelah…”
“Aku sedang menambah energiku saat ini, kau tidak tahu?”
Ariel terkekeh pelan dan mencubit hidung Luhan gemas, “Tapi aku serius, Luhan…. Kau…”
“Aku merindukanmu dan itu lebih melelahkan daripada semua pekerjaan yang aku lakukan di Seoul. Dan kau masih sempat-sempatnya menyalahkanku?” Luhan sebenarnya tidak bermaksud memulai perdebatan, tapi nada jengkel itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa bisa ia saring terlebih dahulu.
Ariel pun mencebik, “Aku akan pulang, kok…hanya saja…”
“Hanya saja masih banyak ambisimu yang belum selesai. Dan semua ambisimu itu tidak akan pernah selesai dan entah kapan selesai. Aku penasaran apakah tahun depana ku masih harus merayakan hari ulang tahunku sendirian lagi.”
Kali ini, giliran Ariel yang mulai merasa jengkel. Ia pun bangun dan menatap Luhan serius, “Beri aku waktu sedikit lagi. Aku hanya perlu bekerja di salah satu perusahaan setelah itu…”
“Kau akan terus seperti ini?” potong Luhan cepat sebelum Ariel melanjutkan ucapannya, “Aku mengerti kau memiliki impian dan aku mengizinkanmu melakukan semuanya. Tapi apa seterusnya akan seperti ini? Kau akan tetap berada disini, berjauhan denganku, tidak mengangkat teleponku, terlambat membalas smsku, dan…” Luhan mendengus pelan, “Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kau menghuungiku duluan. Bahkan saat natal kau tidak pulang…”
“Pekerjaanku banyak dan…”
“Kau bisa bertahan dengan tidak merindukanku? Aku hampir gila merindukanmu, dan sepertinya kau tampak baik-baik saja meskipun tidak sedang bersamaku.”
Luhan sebenarnya sama sekali tidak menaikan intonasi suaranya. Tapi perdebatan mereka kali ini justru terasa lebih serius dan menyakitkan. Ariel tahu Luhan lelah dengan pekerjaannya, dan Ariel juga merasakan hal yang sama. Ia juga merindukan Luhan, tapi ia berani bersumpah ia tidak benar-benar dengans engaja mengabaikan Luhan. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dan ia ingin semua targetnya selesai sehingga ia bisa dengan mudah melanjutkan impiannya di Korea. Tapi nada bicara Luhan yang menyebalkan membuat Ariel juga akhirnya merasa kesal.
“Berhenti berdebat! Kita sangat jarang bertemu dan kau malah seperti ini,”Ariel pun memilih menahan segala emosinya.
Sayangnya, Luhan tampak mulai kehilangan control emosinya, “Kau kira kenapa kita jarang bertemu? Kau akan terus menomor duakanku seperti ini?”
“Luhan!”
Luhan pun ikut bangun dan menatap Ariel serius, “Jika sekali lagi aku bertanya…apakah kau memilihku atau impianmu, kau akan pilih yang mana?” Luhan tidak bermaksud untuk memulai pertengkaran, tapi semuanya terlanjur terjadi dan Luhan pikir, percuma menahannya lebih lama lagi, ia harus mengetahui semua jawaban yang ia inginkan sekarang.
“Luhan…”
“Aku merindukanmu setiap hari dan aku selalu kesulitan menghubungimu. Bahkan aku merasa kesepian saat kelelahan dan juga sakit. Aku benar-benar telah emncoba untuk memahaminya, tapi…tidak bisakah kau behenti sekarang dan memulai semua impianmu bersama denganku tanpa harus ada jarak seperti ini?”
Ariel memejamkan matanya dan mendesah panjang, “Luhan…aku…”
“Kau tidak bisa, kan?” suara Luhan terdengar amat menyedihkan. Luhan bahkan bisa merasakan semua kesedihannya dan mulai mengasihani dirinya sendiri. Ia harusnya tahu jawaban yang akan Ariel berikan, tapi nyatanya semua itu justru menjadi kelemahan Luhan.
“Luhan…”
“Aku lelah. Kita tidur saja,” Luhan pun kembali berbaring dan kembali menarik selimutnya hingga telinga dengan posisi memunggungi Ariel. Luhan biasanya akan mencoba untuk mengalah, tapi…entahlah. Dadanya terlalu sesak hari ini, dan ia tidak tertarik untuk berteriak marah pada Ariel atas semua kondisi yang tidak pernah terbayangkan akan benar-benar menjadi seperti ini : menurutnya ini buruk.

***

Sebenarnya, pagi ini Ariel harus sudah kembali ke kampus dan mengurus beberapa hal dan menjadi coach jam sebelas nanti. Ia juga sebenarnya ada janji untuk membicarakan masalah film pendek yang telah disiapkan tim-nya –Ariel memiliki komunitas dari angkatan kuliahnya dulu. Dan sepertinya, Ariel harus memebatalkan semua itu karena Luhan.
“Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik,” Ariel mulai merasa pusing. Ia bahkan tidak bertenaga untuk menaikkan intonasi suaranya. Ia benar-benar kesal setengah mati dengan tingkah Luhan saat ini, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa saking merasa emosi.
“Kita tidak sedang bertengkar, kan?” ucapan Luhan lebih terdengar seperti sebuah sindiran untuk Ariel, “Kau juga sepertinya amat sibuk. Aku butuh waktu untuk sendiri…” dan Luhan tetap pada keputusan menyebalkannya untuk pulang ke Seoul hari itu juga.
“Berhenti kekanakan seperti ini Luhan!”
“Kekanakan?” Luhan tampak mulai emosi, “Biarkan aku bertanya satu kali lagi…apakah kau membutuhkanku?’
“Luhan!”
“Tanya dan lihat pada hatimu, Ariel…. Apakah aku benar-benar dibutuhkan olehmu?”
Ariel terdiam ketika Luhan menatap langsung iris matanya, “Aku sangat membutuhkanmu. Itu sebabnya meskipun aku memiliki jadwal yang gila dan meskipun aku merasa tidak sehat aku tetap datang ke Praha. Aku ingin berusaha melakukan yang terbaik untukmu, itu sebabnya aku bertahan selama ini, meskipun kau melanggar janjimu untuks egera kembali ke Seoul. Aku berusaha untuk terbiasa hidup dengan merindukanmu seperti ini…. Aku membutuhkanmu dan hanya berusaha mempertahankan hubungan ini denganmu. Tapi tidak bisakah kau mengalah sekali ini saja? Kau bahkan tidak akan tahu saat aku terkapar sakit dan sendirian, kan? Aku hanya membutuhkanmu…di sisiku. Tidak bisakah sekali ini saja kau memilihku?”
Luhan menunggu beberapa saat. Beraharap Ariel akan memberikan jawaban yang ia inginkan. Tapi sekali lagi, Luhan harus menelan kepahitan. Yeah…tentu saja Ariel takkan merelakan semua karirnya saat ini. Ia masih sangat muda dan jiwa ambisinya masih amat tinggi, “Pernikahan pasti menjadi penghambat bagimu. Maafkan aku…” Luhan pun menarik pandangannya dan menarik kopernya keluar dari apartemen itu. Untuk pertama kalinya, mereka bertengkar dengan parah seperti ini : dengan luka yang amat parah di hatinya.
Sedangkan Ariel masih berdiri di tempatnya tanpa begerak sedikitpun. Napasnya tiba-tiba saja tercekat, senada dengan dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja seperti ini. Terlebih ketika ia merasakan air matanya meleleh begitu saja, yang kemudian disusul dengan senggukan dan berhasil membuatnya merosot ke lantai.
Yeah…ternyata kalimat “maafkan aku” justru membuat hatinya berantakan seperti ini.

***

“Anda sudah kembali?” Kang Haneul terkejut ketika mendapati Luhan melenggang masuk ke dalam kantor tanpa menjawab sapaan beberapa karyawan. Mood pria itu terlihat amat buruk, terlihat sangat jelas di wajahnya.
Haneul pun mengikuti Luhan yang mengabaikan pertanyaannya dan masuk ke dalam kantor Luhan, kemudian melaporkan semua aktivitas perusahaan selama tiga hari ini. Tapi Luhan sama sekali tidak terlihat focus dan hanya melihat sekilas seluruh laporan itu.
“Anda…baik-baik saja?” Haneul mencoba membuka pembicaraan sekali lagi, ia merasa iba pada bosnya yang terlihat menyedihkan hari itu.
“Aku tidak bisa tidur semalaman. Jetlag-ku belum selesai dan aku harus terkena jetlag lagi sesampainya di Korea kemarin…” Luhan terkekeh pelan. Kekehan menyedihkan. Ia menertawakan dirinya sendiri.
“Bukankah Anda harusnya masih di Praha, padahal…”
“Harusnya Hyung menyarankanku untuk tidak membiarkannya pergi ke Praha,” potong Luhan cepat.
Haneul belum mengerti kemana arah obrolan ini, tapi Luhan terus meracau, “Jika satu orang saja setuju dan meyakinkanku untuk tidak membiarkannya pergi empat tahun lalu, mungkin aku tidak merasa kacau seperti sekarang.”
“Tuan…”
Luhan pun menggeleng pelan dan mengibaskan pelan tangannya, ia akhirnya malah mengasihani otaknya yang terasa akan meledak. Ia sebenarnay merasa sakit kepala sejak ia sampai di Seoul kemarin. Dan sakit kepalanya semakin parah pagi ini karena ia tidak bisa tidur semalaman.
“Bisa antarkan aku ke rumah sakit? Sepertinya tekanan darahku rendah….”

***

“Kau akan mengundurkan diri?”
Ariel menggigit bibir bawahnya ragu. Ia sebenarnya bisa saja berubah pikiran sekarang juga dengan pertanyaan sederhana itu. Ia tidak ingin mengundurkan diri, tapi…
“Saya sedang mengandung,”
Dan wanita yang pernah menjadi gurunya itu membelalakkan matanya, “Apa? Kau hamil?”
Ariel pun mengangguk pelan, “Aku sudah menikah dan…sepertinya aku sudah terlalu lama meninggalkannya. Ditambah lagi akus edang mengandung, aku pernah berjanji padanya agar berhenti dari segala aktivitasku dan pulang ke Korea jika aku hamil. Jadi…sepertinya aku akan berhenti sekarang,”
Wanita itu terlihat kecewa. Ia pun emnarik napas panjang dan mencoba menarik Ariel mendekat padanya, “Kau yakin? Kau sudah sejauh ini, kau masih bisa melanjutkan semua projek ini meskipun kau mengadung. Setidaknya hingga kau akan melahirkan nanti.”
Ariel menggigit bibir bawahnya. Ia tidak bisa lagi…. “Dia…membutuhkanku,” Ariel pun menatap wanita berkepala empat itu dengan tatapan serius, “Suamiku membutuhkanku. Aku harus segera pulang…” dan meminta maaf padanya, Ariel melanjutkan dalam hati.

***

Luhan benar-benar menyesali keputusannya untuk datang ke rumah sakit. Ia terpaksa di-opname dan tidak mendapatkan izin pulang meskipun ini sudah hari kedua ia berada di rumah sakit. Ia benar-benar bosan setengah mati.
Luhan hampir saja tertidur jika saja tidak ada orang aneh yang membuka pintu kamar inapnya dengan keras, Luhan hamir saja menegurnya –tapi semua emosinya tertahan ketika ie mendapati Ariel berdiri di hadapannya. Dan tentu saja, keberadaan Ariel justru malah memporak-porandakan perasaan Luhan.
“Ariel?”
Luhan benar-benar masih bingung ketika Ariel –yang dalam keadan menangis—langsung menghambur ke arahnya dan menangis sembari memeluknya. Luhan hampir tidak percaya semua ini nyata. Ia sama sekali tidak menghubungi Ariel sejak ia kembali ke Korea, dan gadis itu tiba-tiba saja berdiri di hadapannya?
“Hei…ini benar kau? Kau baik-baik saja?”
Ariel langsung melepaskan pelukannya dan menatap Luhan marah, “Harusnya aku yang bertanya begitu! Bagaimana bis akau sampai sakit seperti ini? Aku sudah mengatakannya padamu….”
“Haneul Hyung yang mengatakannya padamu aku ada di rumah sakit?” Luhan memotong ucapan Ariel. Ia tidak sedang dlam kondisi ingin mendengarkan ceramah Ariel, tapi ia benar-benar penasaran dengan keberadaan Ariel yang tiba-tiba ini.
Ariel tidak langsung menjawab dan justru kembali memeluk Luhan. Ia masih menangis dan sesenggukan. Yeah…ia bisa saja terlihat amat serius dengan pekerjaannya yang entah seperti apa di Praha, tapi Ariel tetaplah Ariel di mata Luhan.
“Hei…aku baik-baik saja. Kau tahu aku terekna jetlag, aku phobia ketnggian dan…”
“Aku pulang,” bisik Ariel masih menangis.
Luhan mendengus panjang dan mengusap rambut Ariel, “Aku tahu…. Tapi kau tidak perlu memaksakan…”
“Aku bilang aku pulang, bodoh!” Ariel melepaskan pelukannya dan menatap mata Luhan serius, “Aku bilang aku pulang. Pu-lang. seperti permintaanmu. Aku pulang dan tidak akan kembali ke Praha…”
Luhan sama sekali tidak bisa berpikir. Ia merasa bingung dan juga…senang? Ekspresi Ariel membuatnya tidak ingin merasa senang, tapi di sisi lain ia berjarap kata ‘pulang’ yang diucapkan Ariel adalah kata pulang yang selama ini dinantikan Luhan.
“Kau…pulang?”
Dengan ekspresi kekanakan, Ariel menganggukkan kepalanya, “Harus berapa lagi kukatakan aku pulang. Aku sudah pulang. Aku kembali…” Ariel pun menarik tangan Luhan dan menempelkannya pada permukaan perutnya yang masih datar, “Bersama anakku.”
Luhan langsung menarik tangannya saking terkejut. Apa? Anak? Ariel bilang anak? Ia menatap Ariel dan perutnya bergantian. Apa Ariel baru saja mengatakan bahwa…ia sedang hamil?
“Kau…kau hamil?”
“Ish…. Ya! Aku hamil dan kau malah sakit! Aku harusnya membawa kabar ini dengan perasaan gembira, bukan dengan perasaan kesal seperti ini. Kau harusnya memperhatikan kesehatanmu dan…” dan Ariel menghentikan ucapannya saat Luhan menarik tubuh Ariel ke dalam pelukannya.
Dan…yeah, Ariel pun balas memeluk Luhan dan menyandarkan kepalanya di pundak Luhan. Sekali lagi, ia menangis. Entah kenapa ia ingin menangis lagi saat Luhan semakin mempererat pelukannya.
“Terimakasih…” Luhan berbisik pelan, “Terimakasih memutuskan kembali…dengan malaikat kecil kita,” Luhan pun melepaskan pelukannya dan beralih mengecup dahi Ariel, “Tapi…bukankah…”
Arielmenggeleng pelan dan mengecup singkat bibir Luhan, “Aku akan memulai semuanya dari awal di sini. Tapi…sepertinya aku tidak bisa melakukannya untuk saat ini, aku mengkhawatirkan kedua bayi kita…”
“Dua?” :uhan menyela ucapan Ariel. Astaga. Luhan benar-benar banyak dibuat terkejut hari ini, “Kau bilang dua? Bayi kita? Maksudmu…”
“Kem…bar. Hebat, kan? Mereka berusia tiga bulan…”
“Tapi…bagaimana bisa. Maksudku, kita bahkan tak memiliki riwayat memiliki saudara kembar. Tapi…”
Ariel hanya tersenyum kecil, kali ini sedikit menarik kuping Luhan, “Si mesum ini ternyata lupa dengan perbuatannya sendiri.”
“Yak! Yak! Aku sedang sakit!”
Ariel pun melepaskan tangannya dari kuping Luhan dan balas menatapnya jengkel, “Lalu kau pikir kau pantas bertanya ‘bagaimana bisa?’ sedangkan tiap kali kau datang ke Praha bahkan kau tidak bisa membuatku tidur dengan damai di malam hari? Ckck…. Kau benar-benar pria mesum.”
“Yak…tapi aku berhasil, kan? Aku berhasil membuatmu hamil dan…wah…. Kembar?”
Luhan kembali menarik Ariel ke pelukannya dan mengecup Ariel di dahi, mata, hidung, dan berakhir di bibirnya. Ia menautkan bibir mereka cukup lama dan perlahan. Ia mencoba menyalurkan semua kerinduan dan rasa bahagianya.
“Maafkan aku…” ujar Ariel setelah Luhan melepaskan tautan bibir mereka. Ariel memejamkan matanya ketika sekali lagi Luhan menautkan bibir mereka, dan menempelkan kening mereka berdua.
“Aku juga minta maaf karena…yeah, munkin aku terlalu emosional kemarin. Maaf telah pergi begitu saja,” Luhan pune manrik Ariel untuk berbaring dan memeluk tubuh itu dengan erat, “Dan terimakasih pada akhirnya telah memilihku. Seperinya jika kau tidak hamil kau tidak akan kembali…”
Ariel mendesis pelan, “Sebenarnya kau berniat pulang setelah kau pulang ke Seoul begitu saja. Tapi aku menangis seharian dan kesehatanku langsung drop. Dan ternyata aku hamil…”
“KAu sakit?” Luhan menatap wajah Ariel serius.
Ariel pun mengggeleng pelan kembali memeluk tubuh Luhan, “Aku kekurangan darah. Karena aku hamil dan aku kurang nutrisi. Tapi aku baik-baik saja….”
Luhan pun mengusap pipi Ariel, “Terimakasih juga…telah mengandung anak-anak kita.”
Ariel tersenyum dan mengecup bibir Luhan, “Ayo kita mulai lagi dari awal! Semuanya.”
Oh yeah…tentu saja. Mereka harus kembali mengulang semuanya dari awal. Karena pada akhirnya, aturan dalam sebuah hubungan adalah mengulangnya dari awal saat semuanya mulai tidka berjalan mulus dan memperbaiki semua kesalahan.
Dan…tentu saja, perjalanan mereka masih amat panjang…. Dan masih terus akan berjalan.
20170513 AM0238

 

Ps. Thanks udah bareng ff ini selama satu tahun ini. Thanks buat Luhan tercinta yang udah jadi inspirasi disini. Makasih buat Lee Haeun yang jadi visualisasi Ariel Lau secara fisik juga hehe… Makasih buat Alwan Hyeong yang ngajarin aku ‘baper’ rasanya ditinggal jauh -aww it feels like we dont broke up- makasih buat adekku yang selalu diktein aku. Makaaih buat semua readers yang…tentunya apalah aku tanpa kalian. Salam sayang dari istri Luhan 😘 soo…wanna tell me what is ur fav scene on this story? Haha

Iklan

25 thoughts on “Way of Two Rings (chapter 26-ENDING)

  1. SERIUSSS ini chapter yg paling bikin BAPER tingkat dewa, apalagi pas luhan ngungkapin cinta dia yg abis pulang reuni ama temen SMA nya itu, gilaaa gua nyampe degdeg an beneran dibkin…
    sama scene dia ke praha dn bertengkar gtu 😢, kalo luhan bneran maen film yg skenario nya kaya gini sihh, udh g kebayang gua bapernya gmn, tiap gua baca ff ini dri chapter 1 smpe skrg, slalu ngebayangin luhan beneran kaya gini 😂
    .
    .
    .
    makasih nidhyun eonni udh bikin saya baper…
    makasih udh bkin cerita yg seru kaya gini walau typo dikit bertebaran but i’m always lovelovelove your this fanfiction❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

    Suka

  2. Huaaa…
    Akhirnya ending jugaaa…
    Scene favorite ku buat part ini yaitu ketika luhan ngijinin ariel pergi ke praha, mereka berdua pelukan dan nangis bersama, itu bneran bikin baper klo bayangin gmn gak relanya luhan yg ditinggal pas sayang²nya dan sedihnya ariel krn harus rela ninggalin suami demi cita²nya.. 😭😭

    Over all, ceritanya menarik, dan selalu bikin penasaran tiap part nya..
    Boleh saran?
    Sebenernya endingnya udah bagus, tapi agak sedih krn gank nya luhan gk dimunculin, padahal mereka kan udah muncul dari awal..
    Dibikin epilog dong..
    Yg nanti ditunjukin setelah 4th gmn nasib tmen²nya luhan dan ariel..
    Aku sih penasaran bgt gmn reaksi mereka setelah tahu ariel hamil, pasti seru..
    Dan buat orangtua luhan-ariel yg segera dapet cucu, pasti heboh bukan main.. 😂😂

    Plissss… Ini harus dibikin epilognyaa..!!!!

    Suka

  3. Aduhhh baper…..
    Udh tamat ya???
    Kakak, ceritanya bikin baper…
    Terlalu Bagus ceritanya.
    Tapi udh tamat…. Aduh… Sedih aku…
    Tpi gpp lah. Endingnya Bagus.
    Gk sia sia aku nunggu berbulan bulan.
    Terima Kasih kakak, ceritanya luar biasa .
    Aku ttp jdi reader kakak kok.
    Semangat ya kak…

    Suka

  4. Wah aku gak nyangka ini jadi part endingnya. Puanjaaaaang bgt yaa. Sampai bikin baper dan bertanya sendiri ariel jadi gak ya ke praha trus gimana luhannya. Tapi semua kejawab sudah dgn ending yg mengejutkan klw ariel lagi hamil hehehe. Wah seneng deh mereka bahagiaaa

    Suka

  5. Nangis bombay aku kak😭😭 mereka akhirnya happy ending. Nunggu 3 bulan itu gak sebentar dan akhirnya terbayar juga luhan-ariel bahagia apalagi sama anak kembar mereka. Aku cek akun wattpad kakak kalo aja ada wotr dipost disana tapi gak ada. Aku kira kakak udh break nulis wotr tapi ternyata udh post 3 hri lalu. Sumpah seneng banget. Harapannya ada sequelnya tntang kehidupan luhan-ariel stelah punya anak tapi kalo gk ada yg udh gakpapa sih yg penting udh ending😭😭.
    Typonya banyak😂 tapi semangat kak buat nulisnya. Ditunggu karya selanjutnya

    Disukai oleh 1 orang

  6. haaaa ini fanfiction terbaik yg pernah aku baca yg selalu di tunggu berbulan” :* 😦 terima kasih thor akhirnya ending yang luar biasa akhirnya baby luhan ariel akan segera tibaaa 🙂 tapi masihh pengen lanjutan mereka sampe anak mereka lahir 😀 tapi gak apa ,semua nya dari awal chap sampe akhir rapi certanya teratur gak berantakan meskipun ada beberapa typo gak masalah aku mah, terbaik buat ceritanya kak di nantikan karya selanjutnya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  7. finally…. tamat jg ff ini.
    ahkkhh… tp rasanya gak mau pisah sama mereka.

    sumpah baper ah..
    bingung mau kasih komentar apa..
    pokoknya keren..
    baca chapter ending ini rasanya nano nano…

    seribu jempol buat kakak..

    Disukai oleh 1 orang

  8. Huuuaaa…aku mpe nangis bc nya..
    Terima kasih sudah mau melanjutkannya sampe selesai…terima ksih sdh membuat ff yg keren ni…terima kasih atas segala kerja kerasnya menyelesaikan ff ni…
    Trus berkarya y…
    Dan ditunggu karya2 yg lainnya..

    Disukai oleh 1 orang

  9. Demi apa ini udah ending????? Ffnya masih manis hehe. tapi keknya kk ngetiknya keburu-buru yah? Soalnya byk typo. Makasih kk udah namatin ff ini 🙂 🙂 🙂 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  10. Daebakkk!!!
    Luar biasa sekaliii. Sukaak banget bacanya. Akhirnya ariel luhan bkal punya anak wkkwkw kembar pula. Minta sequel boleh nid? 😂😂
    Btw pengin baca ulang dari chapter 1, tapi di pw 😥😥😥

    Disukai oleh 1 orang

  11. manis banget kak… aduh gmna jelasin nya ya..pokoknya aruel luhan pasangan paling mabis. apalagi kalo lagi bertengkar awww manis bingit. favorit scene aq… waktu luhan kecelakaan trs ariel ke RS msh dengan sandal piyama..trs marah2 sma pelaku tabrak lari… sama moment nikahan merwka.
    fighting kak. dutunggu karya selanjutnya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s