Pain Couple

  1. copy-latte-motion-9.jpg

 

Title : Pain Couple
Main Cast: Kim Myung Soo as Infinite L & Lee Han Byul as OC
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG 17
Length : Multi chapter
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
xiaohyun.wordpress.com

***

Tepat pada tanggal satu Oktober, dengan sebuah balutan pakian formal berwarna hitam, Myungsoo seharusnya menjadi salah satu pria yang paling bahagia malam ini. Atau setidaknya, ada sepasang manusia yang mengikat satu sama lain di bawah janji suci yang menjadikan Tuhan sebagai saksinya. Seharusnya, Myungsoo tidak sedang duduk sendirian di atas balkon dengan lelehan air mata yang membuatnya semakin menyedihkan,ditambah dengan sebatang rokok yang terselip di antara jemarinya.
Dan, meskipun malam itu langit amat mendung –yang akhirnya awan-awan hitam yang terpaksa ia maki sialan, justru menurunkan hujan dan membuat bunyi bising geremericik yang membuat kepalanya amat sakit—ditambah balutan cuaca yang dingin, Myungsoo justru semakin meringkuk di salah satu undakan tangga dan semakin enggan untuk hengkang dari tempat itu.
Semua kesakitan di kulitnya sama sekali tak seberapa jika ia bandingkan dengan luka tak beradarah yang menggerogoti dadanya selama beberapa jam ini. Bahkan, jika ia mati di tempat itu pun, rasanya takkan cukup untuk mengakhiri luka yang entah akan berhenti atau tidak sama sekali.
“Aku tidak bisa menikah denganmu, Oppa. Maafkan aku. Aku sudah memikirkannya berulang kali, tapi semakin dekat waktu dimana seharusnya kita menyatukan ikatan kita, semakin aku merasa buruk…. Bukan dirimu. Kau sangat baik. Tapi aku…akulah yang terburuk. Maafkan aku.”
Myungsoo pun menyandarkan kepalanya yang benar-benar terasa berat dan sakit itu pada sebuah tembok. Ingatan mengenai baris kalimat dari gadis yang paling ia cintai, yang ia percayai sebagai wanita yang mampu mengisi sisa waktu hidupnya, seseorang yang membuatnya ingin memberikan segala yang ia miliki hanya untuknya, wanita yang selama tujuh tahun ini telah mengisi banyak waktunya, justru hanya memberikan salam perpisahan pada sebuah kertas lusuh dan tepat di tanggal –yang wanita itu pilih— pernikahan mereka.
Myungsoo kembali menarik sudut bibirnya dengan kecut. Selama ini ia begitu mempercayai takdir, dan kisah cintanya yang ia habiskan bersama wanita itu termasuk hatinya yang tidak pernah berubah pada wanita itu, baginya merupakan bagian rangkaian takdir.
Dan, hari itu…ia percaya takdir sama sekali tak pernah turun tangan untuk sebuah perasaan, pertemuan, maupun jenis kisah manapun….

***

Hanbyul selalu mencoba yang terbaik. Tanpa tahu apakah yang ia lakukan akan menghasilkan hasil terbaik, atau justru sebaliknya. Ia akan tetap melakukan yang terbaik, mencoba yang terbaik, dan akan terus berusaha mempertahankan semuanya…bersama lelaki yang tengah berdiri di bawah payung merah yang sudah kuyup terguyur hujan.
Tapi, sepertinya semua yang telah ia lakukan sama sekali tidak cukup untuk membuatnya bertahan. Sepertinya, kerja kerasnya masih amat kurang. Ia mungkin terlalu percaya diri atau mungkin terlalu besar kepala atas sesuatu. Entahlah….
“Aku lelah…. Semuanya. Tidakkah kau juga merasa lelah?” suara lelaki itu mencoba menembus hujan dan memecah keheningan…juga memecah perasaannya yang sudah berceceran.
Hanbyul menarik pandanganya ke arah sepatu hitam lusuhnya. Sial. Ia hanya punya satu sepatu dan sekarang bukan hanya hatinya saja yang berantakkan, tapi juga sepatunya basah dan semakin lusuh, ditambah hampir seluruh pakaiannya juga hampir terkena cipratan air…. Yeah, selalu ada hari seperti ini : dimana sebuah keberuntungan mungkin berjajar rapi dan menyambutmu, tapi ada juga hari dimana dalam satu hari, kau merasakan sebuah ketidakberuntungan berjajar dan juga menyambutmu.
“Kau…” lelaki itu menahan ucapannya. Hanbyul tahu, pasti kalimat itu akan menyakitinya hingga lelaki itu tak sampai hati mengucapkannya. Yeah…dia masih selalu berada dalam kebiasaannya dan ternyata masih belum berubah sedikitpun.
“Aku tidak cukup baik. Aku hanya menjadi beban bagimu. Dan kau lelah denganku. Sudah cukup…” dan sayangnya Hanbyul terkenal dengan sifat tangguhnya –sifat tangguh yang sebenarnya hanyalah sifat dibuat-buat. Ia memiliki banyak topeng untuk bertingkah tangguh seperti sekarang, “Ada batasan dimana ketika kau menyakiti seseorang. Dan sekarang, kurasa sudah cukup.”
Dan, sialnya lelaki itu juga tahu tentang semua topeng-topengnya.
“Pulanglah…”
“Kenapa tidak kau saja yang pulang? Ini bukan urusanmu…” Hanbyul masih belum mengangkat kepalanya. Ia takut air matanya meleleh tepat di hadapan lelaki itu. Ia takut tak bisa menahan diri dan membuat semuanya berantakan.
“Hanbyul…”
“Kita berakhir, bukan? Lalu pulanglah! Kita tak lagi memiliki urusan. Pulang dan ganti pakaiamu, kau selalu mudah sakit jika terkena hujan.” Setidaknya, Hanbyul harus tetap bertindak tegas. Setidaknya itulah yang dicetuskan oleh otaknya. Tapi Hanyul sama sekali tidak bisa pura-pura untuk berhenti mengkhawatirkan mantan lelakinya ini.
Toh, ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar, putus, kembali, bertengkar, putus, dan kembali. Hanbyul bahkan tak lagi menghitung jumlah pertengkaran dan jumlah perpisahan yang mereka buat. Tapi pada satu titik, Hanyul merasa bahwa hubungan mereka akan bertemu sebuah tanggal kadaluarsa dan membuat semua kebiasaan-kebiasaan lama yang menyenangkan menjadi basi dan memuakkan.
Mungkin, sebenarnya Hanbyul juga sudah merasa lelah. Bukan hanya lelaki yang kini tengah ia pakaikan syal di lehernya, tapi mungkin sebenarnya Hanbyul juga merasa lelah. Tapi…tentu saja, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk membenarkan bahwa ‘lelah’ dan ‘bosan’ bisa menjadi pemutus hubungan ini.
Hubungan yang ia kira akan selalu bisa dimenangkan oleh kesetiaan dan cinta yang…mungkin saja tulus. Yeah, mungkin. Sebuah kata yang katanya memiliki dua variabel di dalamnya : yakni kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Tapi berkaitan dengan hubungannya, sepertinya kata mugkin di sini hanya tepat sasaran pada variabel kedua, yakni salah.
“Moon Taeil…” Hanbyul menarik napas panjang dan mengangkat kepalanya, mencoba untuk mencari sesuatu di mata mantan kekasihnya itu, entah apa… entah mencari harapan atau yang lainnya…. “Selamat tinggal.”

***
Kim Myungsoo kembali mengecek beberapa dokumen dan berkas yang harus ia serahkan pada atasannya –ayahnya. Laporan penjualan dan beberapa pengajuan proposal yang diberikan oleh bawahannya. Kim Myungsoo memang tak lebih dari seorang General Manager –jabatan yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang cucu pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Tapi ini sudah terlanjur menjadi pilihannya. Yeah…pilihannya.
Myungsoo melepas semua masa kebebasannya dan memilih untuk menjadi monster di balik meja kerja. Myungsoo yang tidak terlalu pintar dan sama sekali tak berpengalaman, harus terpontang-panting memulai kembali hidupnya yang baru. Ia yang semula begitu percaya diri tertakdir untuk menjadi pewaris Moli Group –perusahaan yang cukup memiliki nama dan sudah mencabang ke berbagai bidang bisnis—tiba-tiba saja memutar isi pikirannya sendiri.
Ia tak lagi memercayai takdir.
Ia tak akan memercayai takdir.
Berterimakasihlah pada sang mantan kekasih yang meninggalkan sepucuk surat lusuh sebagai salam perpisahaan di hari pernikahan mereka.
Myungsoo mendesah panjang. Ini sudah lewat dua tahun, tapi tak pernah ada yang berubah dari dirinya –luka-lukanya tak pernah memutuskan sembuh dan justru memperparah keadaan. Myungsoo bukan hanya mulai mengubah pola hidupnya dan mengurung diri di balik meja kerja dan memutuskan untuk tidak memercayai takdir, tapi ia juga tak lagi melihat wanita manapun dan menutup diri dari semua orang.
Ya. Semua orang…. Baginya, semua orang yang membuat hubungan yang terlalu intim dengannya, justru akan mencelakainya dan menambah beban untuknya. Dan Myungsoo tak lagi tertarik untuk itu.
“Tuan Kim, ada seorang tamu ingin bertemu dengan Anda,” suara sekretarisnya berhasil menarik perhatian Myungsoo dari kertas-kertas di hadapannya ke arah pintu.
“Siapa?”
Belum sempat wanita yang sebaya dengannya itu menyebutkan ‘tamu’ yang disebutkannya, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya menjeblak terbuka lebar dan menampakkan sesosok familiar yang mulai memudar dalam memorinya. Myungsoo mengenalnya. Bahkan dari jarak lima meter itu, Myungsoo masih bisa mengenali aroma khas wanita itu. Aroma yang dulu menjadi candu dan juga rindu untuknya. Aroma yang kini berubah menjadi racun yang mencekiknya. Tidak. Ia tidak bohong, hanya dalam hitungan detik, ia merasa dadanya tercekik lalu disusul sesak yang menggerayanginya.
“Kim Myungsoo…” wanita itu mendekat dan mencoba meraihnya. Wanita yang mencampakkannya di hadapan semua orang dan melubangi hidupnya dengan sebuah luka yang tak pernah sembuh.
Bukan hanya sesak napas, Myungsoo merasa dirinya kehilangan seluruh fungsi indranya. Suara wanita itu mengabur di telinganya, termasuk pandangannya yang semakin memburam. Myungsoo yang merasa dirinya semakin terjepit lansung mendorong wanita itu yang terus berteriak menyebut namanya dan membuat dirinya semakin sakit.
“Pergi kau jalang!”
Dan, Myungsoo tak lagi mengingat apapun setelah mendorong wanita tersebut.

***

Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari sebuah kisah cinta? Bahwa salah satu yang paling mencintai, mungkin saja yang menjadi paling sulit melupakan. Dan ini seperti penjara –yang tentunya bukan hanya akan membuat dirinya merasa tersiksa sendirian, tapi juga meninggalkan luka yang tak bisa disembuhkan.
Dan, luka yang paling mendera Hanbyul adalah…tetap merindukannya meskipun perpisahan mereka telah berjalan selama dua tahun.
Hanbyul pun menghembuskan napas beratnya. Yeah, hidup kadang bisa selucu itu. Mereka dipertemukan oleh waktu seolah-olah takdir benar-benar menginginkan mereka bersatu. Tapi perpisahan ini membuat Hanbyul merasa…sebenarnya bukan takdirlah yang memutuskan garis benang abu-abu yang sebenarnya memang sejak awal harus putus itu, tapi dirinya sendiri.
Hanbyul pun mengangkat kepalanya, menengadah dan membiarkan iris matanya menembus tiap salju yang menari-nari menghujam tanah. Jika ia mau kembali mengenang dan mengurai setiap kenangan yang terlanjur menggerayangi isi kepalanya, sebenarnya ia tahu sebuah perpisahan, ketidak cocokan, dan kesakitan antara dirinya dan juga cinta yang selama ini ia agung-agungkan, merupakan keputusannya sendiri.
Ketika Hanbyul tahu bahwa Taeil menyukai sahabatnya sendiri dan membuat semua hubungan ini menjadi berantakkan, ia justru mencoba menghibur dirinya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja.
Itu adalah masalah pertama, tetapi bahkan ketika masalah kedua, ketiga, dan masalah-masalah lainnya menerjang, Hanbyul sendirilah yang memutuskan untuk tetap bertahan dan bersikap sok tangguh dengan meyakinkan dirinya untuk menanggung semuanya : menanggung cinta, luka, dan rindu yang sebenarnya hanya akan diakhiri oleh kata perpisahan. Yang hanya ditanggung oleh dirinya sendiri…Hanbyul sama sekali yakin Taeil tak secuilpun merasakan apa yang Hanbyul rasakan.
Seperti sekarang, seolah tak puas mempermainkannya, Taeil kembali dibawa oleh waktu ke hadapan dirinya dengan bongkahan luka dan lelehan air mata. Luka yang sebenarnya tak pernah ingin disentuh siapapun, air mata yang sebenarnya tak bisa dihapus siapapun. Mungkin Hanbyul hanya semacam ruang kosong yang sunyi tempat lelaki itu pulang…. Hanya sebagai tempat pulang bagi kesepian, luka, dan air matanya. Bukan tempat pulang untuk kembali mengisi energi, berbagi kebahagiaan, atau tempat mengadukan rindunya.
Dan, di bawah lelehan salju…lelaki itu kembali berdiri dan memberikannya tatapan yang sama dengan tujuh tahun lalu. Tatapan yang ia kira merupakan tatapan cinta…. Ah, saat itu Hanbyul masih remaja ingusan berusia belasan tahun. Kali ini ia harus bangun dari semua mimpinya dan membuka matanya untuk berjalan pada sebuah kenyataan.
“Apa aku terlihat seperti wanita gampangan di matamu?” Hanbyul memang selalu seperti itu : berbicara kasar dan terkesan tak berperasaan. Tapi sayangnya, Taeil adalah salah satu pria yang tahu dan terbiasa dengan kebiasaan Hanbyul.
“Kau masih marah rupanya…”
“Aku bukan marah padamu, aku membencimu.”
Taeil dan Hanbyul terdiam bersamaan. Baik Taeil dan Hanbyul saling berperang dan mencoba mencari sesuatu dari bola mata masing-masing. Hanbyul sendiri tidak tahu apa yang ingin ia cari dari mata Taeil, entah kebenaran atau kebohongan, atau perasaan Taeil yang sesungguhnya. Perasaan yang selama ini diharapkan Hanbyul….
“Aku merindukanmu…” Taeil kembali angkat suara, kali ini bola matanya terjatuh ke arah tanah. Seolah mengaku kalah untuk terus menghunus bola mata Hanbyul, “Aku menyesal.”
“Kau memang harus merindukanku. Kita telah melewati banyak hal, bukankah tidak adil jika hanya aku yang merindukanmu? Dan tentu saja kau harus menyesal…” Hanbyul pun menghapus air matanya yang kembali mencoba menerobos dan merusak pertahanannya, “Kau telah mempermainkan diriku selama ini. Aku terlihat gampangan, kan?”
“Aku tidak pernah…”
“Sejak awal kau tidak pernah menyukaiku, Moon Taeil. Kau hanya memanfaatkanku karena hanya aku satu-satunya yang mau terus berada di sisimu…” Hanbyul pun mendecih, “Kau akan meninggalkanku saat kau menemukan orang lain, atau setidaknya kau bisa merebut hati dari sahabatku yang memang sekeras batu,” Hanbyul pun menarik sudut bibirnya. Sinis.
“Lalu kau menyalahkanku sekarang?”
“Apakah menjadi seseorang yang paling mencintai adalah sebuah pilihanku? Apakah menjadi seseorang yang tidak sempurna untukmu adalah keinginanku? Apakah…apakah karena aku yang paling mencintaimu dan tidak pernah bisa menolakmu, akhirnya kau menganggapku gampangan dan selalu memperlakukanku seperti ini?”
“Bukankah kau juga memanfaatkanku, Lee Hanbyul?” Taeil menarik napas panjang, “Kau selalu mengeluh padaku. Kau kira hanya kau yang memiliki masalah? Kau harus melihat sudut pandangku juga…” sepertinya kesabaran Taeil mulai tergerus. Omong-omong, Taeil juga memiliki tempramen yang buruk, mirip seperti Hanbyul, sehingga pertengkaran jenis apapun, sekecil dan seremeh apapun, mereka akan mendebatkannya dengan serius. Seperti sekarang.
“Lalu apakah kau mencintaiku? Apakah kau tahu sudut pandangku? Setelah menarikku, melepasku, lalu memberikan uluran harapan lagi…. Apakah benar ada diriku pada perasaanmu, Moon Taeil?” Hanbyul pun menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti,”Kau tahu apa yang selalu aku pikirkan tentang dirimu? Aku akan mempercayaimu. Meskipun kau berbohong, karena aku mencintaimu, aku akan mempercayaimu…meskipun kau berbohong. Tapi aku lelah, Taeil…”

***
“Gadis gila. Bisa-bisanya dia datang menemuimu dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa malu seperti itu,” itu Kim Yura, satu-satunya anggota keluarga yang memiliki hubungan paling dekat dengannya.
Bahkan meskipun Myungsoo terlihat menyedihkan dengan bersandar pada ranjang rumah sakit dan didiagnosis mengalami PTSD, kakaknya sama sekali tak telihat gentar dan tetap tersenyum dan mengoceh, seolah semua baik-baik saja. Yeah…Myungsoo sekarang merasa ia amat sangat menyedihkan.
“Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, dokter bilang kau bisa…”
“Apakah aku terlihat gampangan?” ucap Myungsoo tanpa memandang ke arah sang kakak. Bola mata Myungsoo berlari lurus ke arah lantai dengan tatapan kosong, “Apa aku terlihat semenyedihkan itu hingga dia datang dan bertindak seolah ia mengasihaniku?” Myungso pun mengangkat kepalanya, menghunus bola mata sang kakak dengan tatapannya.
“Bukankah justru dirinya yang terlihat menyedihkan?” Yura pun menarik kursi dan duduk di dekat Myungsoo, “Dia bertindak seolah-olah dialah yang mencampakkanmu. Tapi kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Saat dia memutuskan datang kembali padamu, dia melupakan fakta bahwa…ia menunjukkan bahwa dirinya menyesali keputusannya. Dia tidak bahagia.”
Myungsoo pun tersenyum kecut, “Bukankah aku juga terlihat tidak bahagia?”
Myungsoo bisa saja menuduh gadis itu menyesali keputusannya hingga ia rela melepas semua rasa malunya dan berani melangkahkan kakinya ke arah Myungsoo kembali. Tapi pada kenyataannya, Myungsoo memang terpuruk setelah wanita itu meninggalkannya, membuangnya, dan mencampakkannya. Myungsoo tidak pernah lagi membuka dirinya untuk siapapun, Myungsoo tak lagi memberikan rasa percayanya terhadap siapapun, Myungsoo…kehilangan dirinya. Segala tentang dirinya.
“Kalau begitu bahagialah. Kau tidak bisa menunggu bahagia itu datang. Kau harus membuatnya.” Yura hanya berkata sambil lalu, tapi entah mengapa ucapannya berhasil menarik perhatian Myungsoo, “Kau bilang kaulah yang memilih takdirmu. Maka kau juga harus memulai untuk memilih kebahagiaanmu.”

***

Myungsoo menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Musim dingin. Myungsoo mendecih pelan dan berputar berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu ramai. Myungsoo sebenarnya tidak diperkenankan untuk pulang hari ini. Well –siapa peduli? Myungsoo sudah cukup menderita dengan keberadaan wanita yang tanpa sengaja ia katai jalang karena terus erusaha meraih Myungsoo yang merasa seperti sekarat ketika wanita itu memangkas jarak mereka. Dan ia tak mau menambah bebannya lagi dengan berdiam di rumah saki seperti seseorang yang lemah dan tak berdaya. Ia tak ingin lebih terlihat menyedihkan.
“Lalu apakah kau mencintaiku? Apakah kau tahu sudut pandangku? Setelah menarikku, melepasku, lalu memberikan uluran harapan lagi…. Apakah benar ada diriku pada perasaanmu, Moon Taeil?”
Myungsoo tidak bermaksud untuk menguping, tapi suara gadis yang hampir menangis itu sedikit mengusik pendengarannya. Myungsoo tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi pada wanita itu, tapi rasa penasarannya berhasil menarik dirinya untuk terus melangkah mendekat dan melihat langsung apa yang tengah terjadi pada gadis itu…. Dengan kalimat yang menurut Myungsoo cukup dalam dan semakin terdengar menyedihkan dengan cara gadis itu mengucapkannya.
,”Kau tahu apa yang selalu aku pikirkan tentang dirimu? Aku akan mempercayaimu. Meskipun kau berbohong, karena aku mencintaimu, aku akan mempercayaimu…meskipun kau berbohong. Tapi aku lelah, Taeil…”
Myungsoo pun menghentikan langkah kakinya. Akhirnya ia menemukan sumber suara itu. Tepat ketika si pemilik suara mengeluarkan air matanya dan langsung berjongkok, menangis sesenggukan, seolah ada banyak luka yang menyakitinya. Mata Myungsoo beralih memindai si pria yang tengah berhadapan dengan gadis itu. Dia hanya terdiam, entah apa yang dipikirkannya dan entah apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sepertinya mereka adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
“Berhentilah membuatku terlihat menyedihkan Moon Taeil. Jika kau memang tidak benar-benar mencintaiku, kau tidak perlu datang lagi dan lagi membawa sebongkah harapan yang akhirnya akan membuatku seperti ini lagi. Aku akan tetap menerimamu datang jika kau memang membutuhkanku…”
“Lee Hanbyul…”
“Aku tidak bisa menolak kedatanganmu,” gadis menyedihkan itu masih terus menangis, bahkan ia masih terus berusaha menghapus air matanya yang membuatnya terlihat semakin menyedihkan, “Tapi kau selalu menolak keberadaanku, Taeil. Bahkan di saat aku sangat membutuhkan seseorang…kau meninggalkanku. Di saat aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan membelaku, kau menolakku. Dan kau meninggalkanku. Apakah menjadi seseorang yang paling mencintai adalah sebuah kesalahan?”
“Kau tidak mengerti..”
“Apa yang harus aku mengerti jika kau bersikap seperti ini?” gadis yang dipanggil Lee Hanbyul itu pun mengangkat kepalanya, “Apa yang harus aku mengerti jika kau bahkan tak pernah menjelaskan apapun padaku? Kenapa aku harus memahami seseorang yang bahkan tak pernah berusaha untuk bisa dipahami? Kenapa…”
Myungsoo terpekur. Inibenar-benar dramatis dan amat menyebalkan di saat bersamaan. Tapi satu-satunya yang Myungsoo pahami, adalah kesakitan dalam tiap kata yang jatuh dibarengi dengan air mata gadis itu.
“Hanbyul…”
“Lee Hanbyul-ssi…” dan Myungsoo dengan idiotnya malah ikut memasukkan namanya ke dalam adegan drama tak mengenakkan yang terjadi di tempat umum ini.
Kedua orang itu akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Myungsoo. Dan…omong-omong, beruntungnya Myungsoo yang ternyata benar-benar mengenal gadis bernama Lee Hanbyul itu. Ia tak menghapal semua karyawan di kantornya, tapi gadis itu adalah salahs atu gadis yang cukup sering banyak bicara dan mondar-mandir di kantornya. Dia bahkan tidak melepas tanda pengenal yang dikalungkan pada lehernya.
“Tuan GM…” yeah, wanita itu setengah terkejut dan setengah bingung. Ia buru-buru bangun dan menghapus sisa air matanya yang sejak tadi telah membanjiri wajahnya. Juga, mungkin perasaannya, “Anda baik-baik saja? Anda akan pulang sekarang?”
“Kau yang mengantarku kemari?” Tanya Myungsoo dengan nada santai. Ia pun memutar bola matanya ke arah pria yang dipanggil dengan nama Taeil sejak tadi, “Atau kau sengaja untuk bertemu dengan kekasihmu disini?” ia pun kembali menatap Hanbyul yang mulai salah tingkah.
“Saya akan mengantar Anda sekarang. Kita bisa pergi ke mobil saya sambil menunggu Nona Kim…” Lee Hanbyul buru-buru merogoh saku almamaternya dan berjalan cepat mendahului Myungsoo.
“Menjadi seseorang yang paling mencintai bukanlah kesalahan,” dan si idiot Myungsoo benar-benar memasuki alur kisah cinta yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya. Ucapan Myungsoo bukan hanya menarik perhatian Hanbyul yang sudah berjarak satu meter darinya, tapi juga lelaki bernama Taeil, “Tapi menyakiti seseorang yang mencintaimulah yang merupakan sebuah kesalahan.”
Myungsoo pun mengangkat kepalanya dan kembali menatap pria benama Taeil, “Meskipun kau tidak benar-benar menyukainya, kau tidak seharusnya membuat seseorang yang mencintaimu perlu menangis hingga merusak harga dirinya sendiri. Kau tidak perlu menyakitinya secara berlebihan. Kau bukan hanya menyakitinya, kau juga mempermalukannya, dan mempermalukan dirimu sendiri. Jika kau benar-benar tulus padanya, lakukanlah dengan benar. Jangan remehkan seseorang yang mencintaimu, meskipun mungkin kau tak bisa membalasnya dengan sama.”
***

20170529 Pm1036

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s