(don’t) Call Me Daddy [chapter 4]

Title : (don’t) Call Me Daddy !
Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)
Other Cast : Find by yourself
Rating : PG
Length : Multi chapter
Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)
Disclaimer : the story is pure mine. Also published
xiaohyun.wordpress.com
Cover by : Lee Shin Hyo @Cafe Poster Art

***

“Kau baik-baik saja?” tanya Sehun dengan nada sebal pada Luhan yang sejak tadi terus bergerak seperti setrika di dapur.
Luhan hanya berhenti sebentar, sebelum akhirnya ia kembali menggerakan tungkai kakinya ke arah kulkas dan kembali ke arah meja makan. Ia sama sekali tidak peduli dengan teguran Sehun maupun yang lainnya. Otaknya sudah sangat penuh hanya untuk sekedar menampung keluhan tak penting dari teman-temannya.
“Yak! Luhan! Kau benar-benar menggangguku!” kali ini Kyungsoo yang tengah sibuk memasak pasta memberi teguran pada Luhan.
“Dia pasti sudah gila. Hyein juga becerita bahwa Luhan belakangan ini sangat berubah. Dan mungkin ini maksudnya,” Jongin ikut menimbrung saat melewati Luhan untuk mengambil bir nya di dalam kulkas.
“Aku punya masalah serius,” cicit Luhan dengan suara pelan. Ia pun berhenti di meja makan dan memandangi sepotong cake berwarna merah muda terletak di sana. Tiba-tiba saja, otaknya dilemparkan pada bayangan wajah Aleyna dan Kevin yang tengah memakan kue berbentuk tokoh kartun dengan warna mencolok, seperti yang tengah dilihatnya saat ini.
“Apa? Ayahmu akan menarik semua kartu kreditmu?” Kyungsoo menebak asal. Ia cukup bersimpati pada Luhan yang pernah mengeluhkan soal ancaman orang tuanya, belum lagi, belakangan ini ia terlihat amat sangat murung.
“Tidak. Masalah ini jauh lebih parah daripada kehilangan sebuah kartu kredit, ataupun tak memiliki mobil…” tangan Luhan refleks terulur ke arah cake itu –sebelum akhirnya Chanyeol muncul dan mengambil dengan cepat cake itu, “Maaf, ini milikku, kawan!” senyum konyol Chanyeol justru semakin memperpuruk suasana hati Luhan. Entah mengapa ia merasa sesuatu telah direnggut darinya setelah melihat senyum Chanyeol….
“Mungkin Kevin bukannya tidak menyukaimu, tapi kau sendirilah yang tidak nyaman saat berada di dekat Kevin,” suara Ariel kemarin malam tiba-tiba terngiang di telinganya. Setelah mengantar Ariel dan kedua anaknya kembali ke rumah, Luhan kembali mengeluhkan mengenai sikap Kevin terhadapnya –dan jawaban Ariel justru membuat Luhan seperti tersadar akan sesuatu, bahwa…, ia benar-benar merasa canggung karena bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya.
“Mama pasti terkejut saat melihat orang lain selain diriku yang mirip dengannya,” gumam Luhan pada diri sendiri.
Kyungsoo pun menaikkan sebelah alisnya. Kemudian, ia pun berjalan mendekat ke arah Luhan dan menyentuh pundak pemuda itu, “Kau tidak merasa kepalamu sedang sakit, kan?” Kyungsoo pun mencoba untuk menyentuh kening Luhan yang langsung ditepis oleh Luhan.
“Aku serius, Kyung!” Luhan kali ini bicara denan nada yang terdengar sangat frustasi. Ia frustasi dengan keadaannya saat ini, ia semakin terpuruk saat menyadari bahwa Ariel juga tidak berada di pihaknya dan terlihat sepeerti memusuhinya, ia semakin merasa frustasi dan terpuruk saat mulai membuat beberapa variabel kemungkinan yang terjadi padanya di masa depan, tentang dirinya dan juga kedua anak itu, juga Ariel.
“Lalu apa masalah seriusmu itu? Kau harus mengatakannya agar kami mengerti,” Kyungsoo pun kembali ke arah kompor dan menyiapkan pasta yang sempat ditinggalkannya tadi, “Jika kau memerlukan bantuan, aku dan yang lainnya pasti akan mencoba membantumu. Tapi kau harus menjelaskan pada kami terlebih dahulu,” kata Kyungsoo lagi sembari menyiapkan pasta yang dibuatnya.
Mata Luhan berpendar ke arah teman-temannya yang lain. Mereka masih konyol seperti biasa, tertawa terbahak-bahak ketika membicarakan sesuatu yang bahkan tidak terdengar lucu, mereka semua menikmati masa muda mereka dengan baik. Sedangkan Luhan akan segera kehilangan masa mudanya –mungkin.
“Aku memiliki anak.” Kata Luhan dengan nada amat datar dan juga pelan.
Kyungsoo sempat menghentikan pergerakan tangannya ketika mendengar ucapan tak masuk akal itu. Tapi detik berikutnya, Kyungsoo langsung membelalakan matanya dengan telunjuk terarah tepat ke hidung Luhan, “Kau menghamili Hye In?” tuduhnya.
Luhan pun menggeleng lesu, “Bukan Hyein. Tapi gadis lain.” Kata Luhan lagi.
Kyungsoo pun meletakkan alat masaknya dengan heboh, dan kegaduhan itu berhasil membuat orang-orang di ruang tengah smpat memerhatikan mereka berdua.
“Gadis lain? Kau menghamili gadis lain? Siapa gadis itu? Dia sudah hamil berapa bulan? Dia memintamu bertanggung jawab? Atau…”
“Astaga! Kau menghamili seoran wanita?” kali ini Chanyeol yang berteriak heboh ketika tanpa sengaja ia menguping ucapan Kyungsoo saat sedang mengambil bir di dalam kulkas.

***

Semua orang di ruang tengah ternganga mendengar cerita singkat Luhan. Luhan yang menghabiskan one night stand-nya bersama seseorang di Amerika. Hamilnya gadis itu. Kedatangan gadis itu ke Korea. Dan berita terbesar dan terpentingnya adalah wanita itu telah melahirkan anak Luhan. Dan kembar. Kem-bar. Sehun bahkan terus mengulang-ulang kata kembar dalam pikirannya. Membayangkan dua anak kecil yang sangat mirip, berisik, nakal, dan mirip dengan Luhan.
“Kau benar-benar jantan,” gumam Chanyeol yang mendapat pukulan keras di bokongnya dari Jongin.
“Benar, kan? Aku jantan?” Luhan mendengus panjang, “Tapi aku sama sekali tidak jantan saat mengetahui keadaan Ariel. Gadis itu bahkan tak pernah memberitahuku soal kehamilannya dan tiba-tiba membawa anak-anak itu. Aku bahkan tidak sempat…” Luhan pun menggaruk kepalanya. Pusing. Ia bahkan tidak tahu cara untuk merangkai kalimat yang tepat untuk mengekspresikan perasaannya.
“Dia tidak pernah memberitahumu?” ulang Jongin.
Luhan mengangguk, “Gadis itu menunjukkan ketidak tertarikannya yang amat besar padaku. Sangat berbeda dengan dirinya yang kutemui beberapa tahun lalu. Dia seorang ibu…,”
“Lalu kenapa dia mendatangimu?”
“Jill, istri sepupuku, membantu Ariel dan juga anak-anak itu. Sebenarnya kami pernah bertukar kontak. Aku memberinya fotoku dengan nomor teleponku di belakangnya, dan dia juga memberikan nomornya. Tapi kami bena-benar tidak pernah bertemu lagi. Aku benar-benar menganggap malam itu hanya sebatas one-night stand, dan…” Luhan kembali menjeda ucapannya.
“Kau tidak akan bertanggung jawab? Maksudku, tetap saja mereka anak-anakmu.” Tanya Kyungsoo dengan nada prihatin. Ia tidak bermaksud untuk menyudutkan Luhan, hanya saja, jika kasus seperti ini terjadi, pada akhirnya pihak pria akan dimintai pertanggung jawaban. Dan Kyungsoo pikir, hal itulah yang menjadi penyebab Luhan terlihat sangat uring-uringan.
“Sudah kukatakan, dia tidak menyukaiku. Bahkan aku melihat seoang pria lain di rumahnya.”

***

“Aku tidak percaya kau akhirnya benar-benar memutuskan untuk masuk ke dunia pertunjukkan. Kau bahkan sampai mempertemukan anak-anakmu dengan ayah mereka,” Dean melirik Ariel lewat ujung ekor matanya, memastikan bagaimana reaksi Ariel saat ia menyebut kalimat “ayah mereka’, “Padahal, dulu kau sangat enggan untuk membahasnya,” akhirnya Dean melanjutkan setelah tidak menemukan kerutan tak menyenangkan di wajah Ariel.
Gadis itu masih sibuk mengemasi barang-barang kedua anaknya, sedangkan Dean duduk di ruang TV bersama Kevin dan Aleyna. Sesuai perjanjian Ariel dengan Luhan, anak-anak Ariel akhirnya akan tinggal bersama dengan ayah biologis mereka untuk sementara waktu, hingga audisi dan seleksi untuk kelompok drama musikal yang memiliki nama cukup besar itu selesai.
“Sudah kukatakan, aku hanya memberinya kesempatan untuk mengenal kedua anaknya.” Kata Ariel dengan nada sambil lalu. Dean telah mendengar kalimat itu puluhan kali, atau mungkin ratusan kali setelah mendengar rencana Ariel dan kenalannya –Aiden—untuk mempertemukan Aleyna dan juga Kevin dengan ayah biologis mereka.
“Tapi aku tidak mengerti kenapa kau akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kelompok musikal ini,” Dean menjawab, “Ada banyak kelompok musikal dan kau memilih kelompok ini. Padahal kau tahu audisi ini tidak terlalu transparan. Dan lagi…, kupikir kau akan mengambil sebuah pekerjaan yang tidak terlalu menguras banyak waktu.”
Ariel pun berjalan mendekat ke arah Dean dan kedua anaknya, kemudian memberikan masing-masing sekotak susu pada Aleyna dan Kevin, “Ini satu-satunya mimpi yang kumiliki. Dari semua audisi yang aku ikuti, hanya kelompok musikal ini yang memberikan respon positif meskipun tahu aku telah memiliki anak. Aku tidak selamanya muda, mungkin saja aku akan berhenti setelah lima tahun,”
Dean pun tertawa pelan mendenar jawaban Ariel, “Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang membuat rencana untuk menghentikan impiannya sendiri, kau memang seorang ibu, tapi tetap saja pola pikirmu seperti seorang remaja,” kata Dean sebelum akhirnya kembali tertawa.
“Aku bicara serius,” Ariel pura-pura merajuk sambil mencubit pinggang pria itu.
“Baiklah, jangan marah padaku. Aku hanya cemburu. Kau bilang dia adalah pria yang kau benci, tapi kau bisa memberinya kesempatan,” Dean pun memutar wajahnya dan menatap Ariel serius, “Tapi kau tidak pernah memberiku kesempatan apapun.”
Selama beberapa detik, Ariel sempat terhanyut ke dalam tatapan pria itu, hingga akhirnya Ariel segera memutar wajahnya dan melempar bantal pembelian Luhan untuk Kevin kemarin ke arah Dean, “Kau harus segera mencari kekasih agar tidak menggodaku terus. Kau terlihat seperti playboy,” canda Ariel.
Dan, ketika Dean hendak membalas Ariel, tiba-tiba saja terdengar bunyi bel dari arah pintu. Luhan datang. Pikiran itu membuat perasaan sebal menyeruak ke dalam dadanya. Ia pun memainkan poni Aleyna dan membuat gadis kecil itu tertawa.
“Tapi aku bersungguh-sungguh padamu,” ucapan Dean berhasil menghentikan pergerakan Ariel beberapa saat, “Bagaimana bisa aku mencari gadis lain jika setiap hari aku malah menunggu pesan darimu,” lanjutnya lagi.
Ariel tidak menyahutinya dan langsung membuka pintu depan, menyambut Luhan dengan senyum tipisnya. Meskipun Ariel dibalas dengan raut Luhan tidak begitu menyenangkan.

***

Namanya Dean Kwon –tepatnya Kwon Hyuk, pria keturunan Korea yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Keturunan garis ketiga dari keluarga Kwon, katanya. Dan dilihat dari penampilannya, Luhan bisa menebak jika pria bermarga Kwon ini berasal dari kalangan orang berada. Pria yang menunjukkan ketertarikan amat besar pada Ariel, pria yang terus memutar bola matanya untuk menghapal setiap gerak-gerik Ariel, pria yang membuat Luhan terus menatap jengkel ke arahnya dan membuat mood Luhan sangat terpuruk, terlebih ketika pria itu terus saja membuat Kevin dan Aleyna tertawa.
“Aku akan pergi besok,” dan suara jernih Ariel berhasil mengalihkan perhatiannya.
Ariel pun duduk berhadapan dengan Luhan di meja makan, gadis itu menatapnya cukup serius, “Aku mempercayakan Kevin dan Aleyna padamu. Tolong jaga mereka.”
Luhan tidak mengatakan apapun. Ia bisa melihat kekhawatiran menggurat di wajah Ariel. Mimik yang tidak jauh berbeda dengan mimik ibunya saat mengantar Luhan ke Korea beberapa tahun lalu. Mimik yang hanya dimiliki oleh seorang ibu. Mimik yang baru Luhan pahami ternyata memiliki makna dan perasaan yang mendalam.
“Kau tidak harus memaksakan dirimu untuk membiarkanku membawa anak-anak jika kau sangat mengkhawatirkan mereka,” Luhan pun melirik Dean lewat ujung ekor matanya, “Bahkan kau terlihat lebih memercayainya daripada memercayaiku.”
Ariel pun mendesah panjang. Entah mengapa tiap kali berbicara dengan Luhan, rasanya selalu saja ada yang menyulut emosinya dan membuatnya selalu ingin beradu argumen. Untungnya, Ariel masih bisa mencoba menahan emosinya. Ia tidak harus betengkar kaena hal-hal sepele seperti itu, kan? Apalagi jika ia harus bertengkar di depan anak-anaknya.
“Kau terdengar seperti tengah mencemburuinya,” Ariel mengubah bahasanya menjadi bahasa mandarin, ia tidak ingin Dean mendengar dan mengerti apa yang dikatakannya, “Tapi jika kau tidak mau mengurus mereka, seperti yang sudah kukatakan…”
“Kau terdengar selalu seperti meremehkanku,” potong Luhan yang juga menggunakan bahasa mandarin. Luhan pun menundukkan kepalanya, memutar-mutar kaleng soda yang diberikan kepadanya.
Ariel pun mendesah panjang. Ia seperti tengah menghadapi sepupu Aiden yang duduk di bangku SMP, “Maksudku…”
“Akan jauh lebih masuk akal jika kau datang dan menamparku, menyalahkan segalanya padaku dan bukannya membuatku merasa bersalah. Atau membuatku terlihat konyol. Kau bahkan tetap memperkenalkanku pada pacarmu di depan anak-anak…”
“Dia bukan pacarku!” tanpa sadar Ariel menaikkan intonasi suaranya. Ia bukan hanya membuat Luhan terkejut, bahkan Kevin sudah hampir menangis setelah mendengar bentakkannya.
“Hei…, ada apa dengan kalian?” tegur Dean, ia pun segera menggendong Kevin dan Aleyna, “Jika kalian mau menyelesaikan masalah, gunakanlah kepala dingin,” kata Dean lagi sebelum akhirnya membawa anak-anak ke luar rumah.
Luhan pun terkekeh datar, “Dia bahkan bisa membuat Kevin diam,”
“Luhan…”
“Kau tahu apa yang mengganjal pada perasaanku? Bukan karena mereka adalah anak-anakku ataupun karena aku tidak menginginkan mereka, tapi kau baru mendatangiku sekarang, baru memberi tahu mengenai keberadaan mereka setelah mereka tumbuh. Dan sekarang kau membuatku merasa konyol dengan keberadaan pria itu,” Luhan pun bangkit dari kursi yang didudukinya, “Aku akan menjaga anak-anak hingga kau selesai dengan urusanmu. Kau bisa menghubungi ataupun menemuiku kapan saja.”

***

Luhan terus saja melirik kaca spion di depannya, memastikan Kevin dan Aleyna baik-baik saja di jok belakang. Lucu sekali, untuk pertama kalinya ia mengkhawatirkan sesuatu hingga seperti ini –rasa khawatir yang tidak bisa ia deskripsikan dengan kata-kata dan membuatnya selalu ingin memastikan rasa khawatirnya tidak terjadi.
Dan, yang lebih lucu lagi, seluruh rasa emosinya setelah pertengkaran kecilnya dengan Ariel luruh begitu saja, tepat ketika ia berhasil menggendong Kevn tanpa membuatnya menangis seperti kemarin. Meskipun kedua anak itu terlihat bingung saat Luhan membawa mereka ke dalam mobil sedangkan sang ibu justru malah melambaikan tangannya dari luar mobil, untungnya Kevin dan Aleyna sama sekali tidak rewel.
Yeah, semoga saja hingga beberapa waktu ke depan, mereka berdua akan tetap seperti sekarang.

***

“Hai hyungnim~” Luhan menyapa seluruh teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang TV dengan Kevin di gendongannya dan Aleyna yangbaru saja beringsut turun dari gendongannya. Dan, Luhan hanya bisa menunjukkan senyum malu ketika semua orang langsung melongo dengan tatapan tidak percaya ke arah mereka semua, Luhan dan kedua anaknya.
“Mereka… anakmu?” Sehun adalah orang pertama yang berani membuka suara di tengah keheningan itu. Ia benar-benar merasa linglung melihat Luhan yang mau menggendong anak kecil. Yeah, bukan hanya anak kecil, tapi anak-anak biologis Luhan.
“Astaga, anak itu mirip dengannya,” Chanyeol bergumam cukup keras. Bagian dari dirinya terguncang saat benar-benar melihat langsung anak yang diceritakan oleh Luhan kemarin.
Luhan pun kemudian membawa Aleyna berjalan ke arah teman-temannya yang memiliki beragam ekspresi : terkejut, tidak percaya, terguncang, dan semacamnya. sayangnya, Kevin memberikan reaksi yang mirip ketika ia bertemu pertama kali dengan Luhan. Kevin tidak menyukai suasana dan orang-orang baru, itulah kesimpulan yang ditariknya saat Kevin memeluknya semakin erat dan hendak menangis. Ia bahkan sempat memanggil ibunya.
“Wah…wah…, lihat gadis cantik ini, siapa namamu?” Kyungsoo menyambut Aleyna yang langsung berjalan santai mendekati mereka semua.
“Dia berbicara dengan bahasa Inggris,” kata Luhan ketika Aleyna hanya menatap Kyungsoo tanpa menjawabnya.
Chanyeol pun langsung tertawa mendnegar ucapan Luhan, “Bukankah kau juga tidak bisa bahasa inggris?”
Luhan benar-benar ingin memukul wajah Chanyeol, tapi ia berusaha mngabaikannya. Aleyna benar-benar sangat bisa beradaptasi dengan baik. Ia bahkan tidak keberatan ketika Baekhyun menggendongnya, kemudian langsung bermain dengan Jongin dan juga Chanyeol. Sedangkan Kevin justru semakin erat memeluknya.
“Dia benar-benar anakmu, Han,” canda Sehun sambil menunjuk Kevin dengan kedikan dagunya.
Luhan hanya tersenyum dan mengecup kepala Kevin. Dan adegan itu mendapat sorakan dari Sehun dan Kyungsoo yang melihatnya. Sehun bahkan merinding melihat Luhan yang terlihat seperti ayah sekarang.

PM0950 20170905

Iklan

4 thoughts on “(don’t) Call Me Daddy [chapter 4]

  1. Akhirnya update lg yeaay…
    Penasaran trus aku bc ff karyamu
    Ditggu lanjutannya…
    Dan mohon diselesaikan jgn mpe gantung ditinggal tengah jalan ae….hehehehe

    Suka

  2. Kevin dan Aleyna akhrnya tggl brg Luhan mkin pnsaran kdepan’a akn semerepotkan dan seheboh apa. Aplgi tmn2 Luhan yg absurd itu ikt gabung jg. Mksh udh mw update truz Nida wlpn gk tiap mggu dn hrs nggu lmaaa tp gpp asal jgn stuck ajj cerita’a. Finally aq ska ceritamuu. 😊👍

    Suka

  3. Ooooooh akhirnya nongol juga, pertama buka kaya baru dapet hadiah umroh. Seneeeeeeng bgt
    Udah gk sabar baca cerita selanjutnya. Eonn jangan lama2 ya update nya pleaseeee

    Ttp semangat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s