2

Losing You

Losing You.

A story written by Chang Nidhyun.

*** Baca lebih lanjut

Iklan
0

Losing You

Losing You.

A story written by Chang Nidhyun.

 

***

 

Choi Ji Eun berjalan ragu ke arah halaman utama kampusnya. Bagaimanapun ia takut gelap, dan sekarang entah bagaimana teman-teman sekelasnya berbondong-bondong mengerjainya seperti ini, -berjalan di koridor kampus yang gelap- dan sekarang ia di minta untuk pergi ke halaman utama kampus. Baca lebih lanjut

1

The Way To Break Up

The Way To Break Up

A story by Chang Nidhyun

Ooo

Microsoft Office Word

Do you want to save the changes to Document?

YES-NO-CANCEL?’

2 kali aku melakukan kesalahan yang sama, tepat saat aku akan menyimpannya, tiba-tiba saja jariku mengarahkan panah di layar komputerku ke icon NO. dan semua itu diluar kesadaranku.

Aku termenung. Dengan tulisan yang sama, tentang aku yang mengurai helaian hatiku yang pelan-pelan kubuka untuk tidak mengusik luka yang lain disudut hatiku, malah aku mengusiknya dengan kemarahanku. Dan aku melakukannya lagi.

Cursor dihadapanku mungkin mentertawakanku, aku bodoh. Sangat bodoh. Dan aku tahu, cursor itu tahu sedikit rahasiaku yang sangat ingin melanjutkan part ke-26 dari tulisan berjudul ‘Him’ itu. Tapi untuk saat ini, terlalu banyak titik-titik noktah yang meminimalisir otakku untuk bekerja dengan baik.

Aku penulis. Aku ingin menulis. Aku tahu ini aneh, dan aku terlalu gengsi untuk menuliskan 5 kalimat yang terinspirasi dari 5 jari tanganku untuknya. 5 kalimat yang memang berisikan cerita-cerita pendek, sepenggal perjalanan pendek, dan ucapan-ucapan pendek lainnya yang membuku dalam ingatanku, menjadi sebuah ‘Memories’ yang kuharap tidak akan pernah tertimbun.

‘Maafkan aku, dan terimakasih.

Aku merindukanmu.

Aku menyukaimu.

Aku membencimu.

Dan aku mencintaimu.’

Hanya itu. Dan aku hanya mampu menatap layar laptop hitamku ini penuh dengan rasa frustasi, layar yang menunjukkan Ms.Word inipun hanya menatapku jengah, jengah dengan setiap emosi yang dimainkan jariku diatas keyboard-nya.

Sakit. Tapi aku tidak ingin memenangkan perasaanku. Sudah kukatakan padanya, jalanku masih panjang. Aku terlalu sering terobsesi olehnya. Terlalu sering dan itu membuat otakku terlalu bosan melayani semua hal-hal irrasional yang ada dihatiku.

Dan pertanyaan Ms.Word tadi saat ia menanyakan pertanyaan umum, tepat ketika aku menutup halaman Ms.Word ini, kenapa rasanya dia bertanya khusus dan membongkar isi hatiku yang sengaja aku timbun?

Sama seperti dia menanyakan apakah aku ingin menyimpannya didalam memoriku? Ia seperti menanyakan tentang keyakinanku, apakah benar?

Hati kecilku berkata ‘ya’ dan otakku menyetujui.

Tapi ketika refleks jariku menyentuh icon ‘No’ pada pertanyaan tadi –kearah layar sentuh laptopku-, apakah itu sama artinya bahwa otakku menyuarakan hati kecilku yang belum terbaca? Jawaban yang tidak terpikir olehku, Tidak.

Nafasku menderu berat.

Aku tidak ingin menyakitinya, aku tidak ingin mengikuti isi hatiku yang irrasional. Aku ingin melupakan perasaanku padanya, bukan melupakannya.

Mungkin mudah baginya menatapku biasa, dan aku?

Dia memiliki dunianya yang baru, bahkan tak tersentuh oleh imajinasiku sendiri, dan aku?

Dia marah. Tentu saja. Dia mengamini apa yang aku katakan, apa yang aku minta meskipun itu terasa sakit. Dia menantang permintaanku. Tapi perlu aku luruskan, aku tidak pernah bermaksud mengajaknya kembali cekcok.

Apakah tidak akan ada ‘Him part-26?’. Tidak tahu. Untuk saat ini aku terlalu gengsi menuliskan 5 kalimat tadi untuk menjadi part tulisanku berikutnya. Dan alhasil aku sendiri tidak begitu yakin apakah akan ada bab penutup, atau setidaknya epilog untuk tulisan itu?

Meskipun satu kalimat pasti, yang kadang-kadang menyeruakkan lukaku dan membuatku hanya tercenung menatap segalanya, aku merindukannya…

Aku kembali memasang headset-ku, memutar kembali lagu yang belakangan ini entah mengapa terasa begitu tepat dan hangat dikupingku, lagu yang dinyanyikan bias-ku, yang kupamerkan pada oranglain bahwa dia adalah bias kesayanganku, Cho Kyuhyun, dengan lagunya – The Way To Break Up. OST Poseidon, yang aku sendiri tidak tahu itu sebuah drama atu film, juga tidak tahu isinya menceritakan apa, tapi aku sangat menyukai lagunya. Hanya satu lagu yang dinyanyikan Kyuhyun oppa, -wajar bukan bila aku memanggilnya oppa?-

Terlalu hangat. Terlalu tepat. Dipadukan suara oleh seseorang yang juga kukagumi, Cho Kyuhyun of Super Junior.

Dan lirik-lirik itupun mulai bermain ditelingaku,

Apado amureochi anheun cheok
nunmuri heullodo gamchuneun beop
maeumhan jjok geugose namgyeojoko
amuil eopdaneundeusi utneun beop
heeojineun bangbeop

Maeumi ireoke tto jeomuljyeo
sumanheun miryeondeul tto heomuljyo
dasi jiwogagetjyeo
adeukhaejigetjyo
uri seoro ijeogagetjyo

Nae uimieomneun haruga tto jiganagetjyo
o duldeomneun urisarang eopdeonirijyo
neol bodosipda haedo dasin bo
lsu eopgetjyo
apada chamayagetjyo
heeojineun bangbeobijyo

Neoeomneun haruga iksukhajyo
naeireun jogeumdeo pyeonhagetjyo
jeomjeom ijeogagetjyo
eojjeom saenggangnagetjyo
joheun chueokdeulman namgetjyo

Tiba-tiba smartphone-ku berdenting, menandakan satu e-mail masuk. Aku agak setengah bersungut-sungut membukanya. Malas. Tapi bagaimana jika itu e-mail penting?

Dan saat kubuka.

From   : ….

Subject :

Home sweet home, finally ~

Rasa rindu itu menyeruak. Dadaku sesak. Lee Donghae, laki-laki itu. Laki-laki yang setahun lalu pergi untuk menimba ilmu di negri orang, meninggalkanku tanpa tahu betapa aku tersiksa karena telah merindukannya.

Jika hari itu bisa kukembalikan, boleh aku mengganti permintaanku? Jangan pergi. Jangan pernah pergi. Karena akhirnya aku tidak pernah bisa melepaskanmu. Meskipun kau ada disini, ada dan terus berusaha berada disampingku, pada akhirnya kau tidak akan sampai, pada akhirnya hatimu hanya akan terbelenggu oleh kisah yang lain. Dan hatiku terhempas kemudian melebur jadi jutaan kepingan kecil. Menunggumu sama saja membiarkanku semakin menderita.

To        : …

Subject :

Leave me alone ~
say good
bye!  I will miss you! I can’t meet you tomorrow. Sorry.

Mungkin dia hanya akan menanggap itu semacam lelucon. Tapi bagaimanapun cinta itu begitu egois. Jalanku masih panjang, dan aku terpaku di hatinya yang tak pernah dibukanya untukku.

Nae uimieomneun haruga tto jinagagetjyo

O duldeomneun urisarang eopdeonirijyeo
neol bosipda haedo dasin bolus eopgetjyo
apada chamayagetjyo

Titik-titik memori itu terus menghujam ingatanku. Bagaimana kami melalui kisah kami sebagai teman. Teman? Sungguh, jika aku punya hak untuk mengatakannya, aku ingin mengatakan jika semua ini tidak adil. Tentu saja, tidak adil. Aku mencintai seseorang yang bahkan tidak mencintaiku.

Aku mencintai seseorang yang mencintai sahabatku sendiri. Aku mencintai seseorang yang dicintai sahabatku sendiri. Aku mencintai orang yang bahkan tak pernah sampai oleh apapun.

(apado amureochi anheun cheok)
(nunmuri heullodo gamchuneun beop)
geudage nan bwara boneun nariga
(maeumhan jjok geugose namgyeonoko amuil eopdaneundeusi utneun beop)
(heojineun bangbeobijyo)
ijeoyahaneunde

Satu-satunya cara hanya meninggalkannya. Melupakannya. Melepaskannya. Ini mungkin bodoh. Ya. Aku memang bodoh. Tapi kurasa aku akan jauh lebih bodoh jika membiarkan diriku terlalu jatuh kedalam hatinya, terlalu jauh membiarkan diriku terbelenggu dalam kisahnya.

Nae gadeukgoin nunmulmani neol gieokhago

Tto haengbokhaetdeon heunjeokderuri
neomu manhaseoo
naege sarangiran neomu gaseum apeunil apado
chamayagetjyo geureoke itgetjyo

And I will love you, now, tomorrow, next day, and next year. Forever.  Although I hope I can’t leave my love for you, from now on.

END