1

With You

Title     : With You

Genre  : Romance

Main Cast: Lee Hyukjae as Eunhyuk Super Junior, Han Hyojin, Cha Sunmin

Length : Oneshot

Rating : T

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

*** Baca lebih lanjut

Iklan
1

Love Again

Love Again

Nidariah S HS

“I Thought this was the end of my memory
the faces I’ll never see again pass me by
I stood at the end where I couldn’t do anything
I put my hands together and just prayed

So I could show how you my heart
that still hasn’t done everything

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You”

I thought the entire world stopped
only the happy times pass me by
I stood at the end I thought I wouldn’t have
I just prayed like that

So I can feel the love
that I’ve passed by

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You”

I’ve lived without knowing
how precious you are

Get up again
I want to see you who has waited for me
go back again
I want to say “I Love You” “
 (S.M The Ballad Kyuhyun – Love Again [english translate])

Cho mengambil kursi belakang kemudi untuk didudukinya, dengan suara gaduh teman-temannya, Cho dan teman-temannya –Jung, Jae, dan Shin- menaiki mobil menuju rumah masing-masing.

“Hei, Cho! Hari ini kau mau pulang kemana?” Tanya Jae yang duduk disamping Cho. Cho menoleh sebentar kemudian membuang napas berat, teringat sesuatu yang nyaris dilupakannya.

“Jung, kau tak keberatan aku menginap dirumahmu, kan? Ini terlalu malam untuk pulang ke rumah, dan terlalu lelah untuk menghalau emosi saat pulang ke rumah,” Beo Cho pada Jung yang duduk di kursi depan, di sisi kursi kemudi.

“Oh, tentu.” Jawab Jung dengan senang hati, sangat mengerti perasaan Cho belakangan ini.

Dan mobilpun mulai melaju.

“Lagipula, kenapa kau tak memberi pengertian pada ayahmu saja soal profesimu, kurasa ia akan mengerti. Daripada kau memaksakan diri seperti ini,” Shin memecah keheningan malam yang menggelantung didalam mobil. Mencoba bersaing dengan suara deru mobil.

“Aku sudah mencobanya, tapi tak membuahkan hasil,” Sahut Cho agak malas. Malas membahas masalahnya lagi dan lagi.

“Bicarakan dengan kepala dingin Cho,” Jung ikut menimbrung dari tempatnya, membuat Cho mendelik malas ke arah jendela.

“Lalu kenapa tidak kau saja yang katakan pada ayahku?” Balas Cho ketus yang langsung membungkam mulut seisi mobil. Sadar jika Cho sudah sangat malas berbicara.

Cho memejamkan matanya, menikmati kesunyian yang diciptakan malam. Bukan hanya tubuhnya yang kelelahan, pikirannya juga ikut lelah. Meskipun tidak tertidur, tapi memejamkan mata salah satu cara ampuh yang bisa membuatnya tenang, walau hanya sebentar. Ia juga tak yakin akan langsung tidur sesampainya di rumah Jung, tugas kuliah masih meraung-raung mengingatkannya jika Dosen tidak suka ‘pemalas’. Pemalas? Tidak. Kata itu tidak tepat, bagaimanapun ia hanya lelah dan seharusnya ia diberi toleransi karena tubuh manusia itu punya kapasitas sendiri bukan? Tapi itu tidak berlaku untuk tata tertib kuliahnya.

Cho mengintip ke arah jam tangannya, 12.20, bagus, sekarang ia malah berpikir untuk tidak kuliah besok. Mengerjakan tugas malam ini sepertinya tidak akan memberikan hasil yang bagus. Dosen seharusnya tidak mengecapnya sebagai ‘pemalas’ jika dia ada alasan karena tidak masuk, bukan? Ya, seharusnya begitu.

Cho kembali memejamkan matanya, hingga tiba-tiba sopir kehilangan kendali sehingga mobil mereka berputar beberapa kali hingga terbalik dan menabrak trotoar.

Cho tidak begitu menyadari apa yang terjadi, ia hanya mendengar suara hantaman keras . Ia menyadari sesuatu yang tidak beres, mobil itu berputar beberapa kali! Cho kemudian menyadari dirinya sudah terhempas ke sisi jalan dan langsung tidak sadarkan diri.

Hanya beberapa saat, kemudian Cho kembali siuman, meskipun ia merasakan seluruh tubuhnya remuk dan sulit digerakan. Ia sadar satu hal lagi, ia sedang tergeletak di jalanan. Hanya matanya yang bisa bergerak, ia mencari objek apapun atau mendengar suara apapun untuk menjelaskan semuanya. Mimpi, kah?

Cho menghela napas panjang –meskipun membuat dadanya sakit-, ia benar-benar baru mengalami kecelakaan. Ia mencoba menggerakan tubuhnya. Tidak. Tak satupun anggota tubuhnya mau mengikuti perintah otaknya. Hanya rasa sakit yang berteriak-teriak dari tubuhnya, ditambah hangatnya darah yang menembus pori-pori kulitnya.

Saat tengah melawan rasa sakit ditubuhnya dan mencoba untuk sekuat tenaga untuk bangun, tiba-tiba ia melihat Jae yang berlari ke arahnya. Cho juga melihat Jae terluka, meskipun terlihat tidak begitu parah. Cho tidak begitu menangkap apa yang di katakan Jae, tapi ia tahu Jae berdoa di sampingnya dan menggenggam tangan Cho erat.

Cho masih berusaha menggerakan tubuhnya, mencoba bangun dan mengabaikan dadanya yang juga ikut terasa sakit tiap kali ia bernapas. Sia-sia. Dan kali ini ia melihat cahaya putih melesat cepat di depannya, seperti kilat. Kemudian gelap.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, tapi semua seperti…

Apa ini? Cho bisa melihat dirinya sendiri di masalalu. Itu dia! Dia bisa melihat saat ia berkumpul dengan ayah, ibu dan kakak perempuannya. Ia melihat dirinya sedang berlibur di pantai dengan senyum bodoh penuh kebahagiaan terpampang di wajahnya sendiri. Ia juga melihat dirinya saat pertama mengenal sekolah, berteman, dan termasuk kejadian saat…

Seandainya ada pilihan untuk tak melihatnya, maka Cho memilih untuk tak melihatnya. Tapi film di otaknya masih terus berputar, terus bermain. Ia melihat dengan jelas kejadian itu.

‘ayah…’.

‘Apakah sekarang saatnya aku mati?’

 

^^^

Aku memutar tubuhku saat Jae tiba-tiba menarik lenganku dengan langkah lebar-lebar. Aku mengerutkan dahiku bingung, apa-apaan anak ini? Tapi aku tetap mengikutinya dari belakang hingga aku dan Jae keluar dari perpustakaan. Kemudian Jae menghadap ke arahku.

“Kau gila Cho?! Aku menunggumu disini sejak satu jam yang lalu, dan kau malah asyik diam di dalam?!” Pekik Jae yang membuatku sedikit menjauh, dia seperti anak perempuan jika berteriak seperti itu.

“Aku yang sudah menunggumu sejak tadi bodoh! Aku kan sudah bilang, aku menunggumu di perpustakaan. Apa kau tidak mengerti? PERPUSTAKAAN. Bukan DI DEPAN PERPUSTAKAAN.” Aku memberikan penekanan dalam ucapanku, tak terima dengan ucapan Jae.

“Kau mau kita mengobrol di tempat yang hanya boleh mengeluarkan suara 1 desibel? Jangan bercanda Cho!” Balas Jae tak mau kalah.

“Hiii! Jadi, kau mau apa menemuiku? Mau marah-marah dan menyalahkanku terus?” Akupun melipat tangan di dada, dengan tatapan mata angkuh dan menantang.

“Hhh…kau akan menarik sikapmu itu saat kau mendengar berita dariku,” Jae ikut menantangku dengan lagak yang sama. Sial! Dia berhasil membuatku penasaran. “Memangnya ada apa?” Tanyaku yang berhasil membuat senyum kemenangan sekaligus meremehkanku itu mengembang.

“Kita…aku, kau, Jung, dan Shin,” Jae menghentikan ucapannya.

“Iya, ada apa dengan kita berempat? Jangan sengaja membuatku penasaran begitu Jae!” Sungutku sebal, tak habis pikir dia malah mau mempermainkanku begini.

“Kita akan menjadi penyanyi sungguhan. Kita berempat! Menjadi sebuah grup!”

 

 

Aku mengendap masuk ke dalam rumah, memastikan tak ada orang yang memperhatikanku, khususnya ayah. Hari ini aku pulang malam, lagi. Hanya saja jika biasanya aku pulang karena latihan biasa, tapi hari ini aku baru saja menemui produser, aku akan mewujudkan mimpiku sebentar lagi! Tidak sia-sia bukan aku mengambil jurusan musik untuk kuliahku?

“Darimana saja kau, Cho?” Suara dingin itu menggelegar bagai petir, tapi terdengar menyeramkan dan membuat bulu kudukku merinding. Aku menoleh ke arah samping, ayah disana.

“Ini sudah jam berapa Cho? Sejak kapan kau mengambil kuliah malam?” Ayah mulai menginterogasiku, membuatku tersudut untuk yang kesekian kali dan membuat emosiku naik.

“Ayah tahu, aku…”

“Kau pikir kau bisa apa dengan bernyanyi, hah? Kau pikir dengan menyanyi kau bisa membuat masa depanmu lebih baik? Jurusan Musik? Hah! Kau ingin membuat lelucon untuk masa depanmu? Ini bukan saatnya bermain-main dengan masa depanmu!”

Akupun memberanikan diri menghadap ke arah ayah, untuk pertama kalinya aku berani menatap mata ayah secara langsung. “Aku tidak bermain-main. Aku tidak sedang membuat lelucon. Inilah masa depan yang kuinginkan, inilah mimpiku.” Ucapku kemudian, mendengar itu rahang ayah langsung mengeras.

“Kau ini cerdas Cho! Ayahmu seorang dosen. Dan kau menyia-nyiakan waktumu hanya untuk hal-hal bodoh seperti ini? Bagaimana bisa, aku yang berkecimpung di dunia pendidikan memiliki anak seorang penyanyi?!” Ayahpun maju selangkah, matanya terus membuntuti mataku, membuat mentalku terpuruk sekarang. “Saat kau SMA, kau juga membuat masalah. Dan semenjak kau bergabung dengan grup musik yang berisikan bocah-bocah ingusan itu, kau malah mulai bertingkah. Apa itu yang kau sebut dengan impian?” Cho memejamkan matanya, itu berbeda ayah! Dulu aku nakal karena aku memang hanya remaja labil! Tapi sekarang berbeda.

“Aku tidak peduli ayah adalah siapa dan ayah berpikir bagaimana. Tapi aku tidak akan berhenti.” Aku menjeda sesaat, mencoba mengendalikan napasku sendiri, kemudian aku berlutut tepat dihadapan ayah, “Aku sudah menandatangani kontrak. Debut. Itu yang aku tunggu. Aku tidak peduli dengan semua yang ayah pikirkan tentang mimpiku, tapi aku bersungguh-sungguh tentang itu. Musik adalah gerbang utama yang ingin kubuka kuncinya, dan sekarang kuncinya sudah ditanganku. Dengan dan tanpa izin ayah, aku akan terus melakukannya.”

 “Terserah! Aku tidak mau peduli! Lihat saja, kau akan kembali dan meminta maaf padaku. Kau akan mengakui bahwa semua omong kosongmu tak lebih dari seonggok batu yang kedinginan di jalan raya.” Ayah berbalik, dia mulai menjauh.

“Tidak akan pernah!” Entah bagaimana suaraku bisa meninggi. Bahkan terlalu keras untuk didengar kupingku sendiri. Dan itu membuat ayah kembali berbalik, “Aku akan membuktikannya ayah, kau hanya perlu menunggu. Kemudian ayah yang akan mengakui, bahwa ucapan ayah itu salah!” akupun bangun dan melangkahkan kakiku kasar menjauh dari ayah. Malas berdebat dengan keadaan lelah seperti ini. Apa ayah tidak mengerti juga? Aku ingin menjadi penyanyi! Sesederhana itu. Masa bodoh dengan segudang prestasi atau dengan kecerdasanku yang selalu ayah bangga-banggakan di depan semua orang jika ayah terus meremehkan mimpiku.

Hanya perlu sedikit lagi waktu ayah…tunggu aku!

 

^^^

“Selain tulang pinggulnya yang patah, enam tulang rusuknya juga patah,” Dokter mengabari keluarga Cho yang sudah menunggu diluar, airmata ibu Cho semakin deras. “Anak ini sudah sekarat, dia harus dioperasi lewat tenggorokan untuk membuka saluran pernapasannya. Tapi, persentase keberhasilan operasi ini hanya 20%.” Dokter itu melanjutkan.

Dan tanpa disangka, ayah Cho langsung angkat bahu dan menolak opsi dokter itu, “Anak ini seorang penyanyi, bernyanyi adalah impiannya. Jika kalian mengoperasi tenggorokannya, bukankah itu sama saja, kalian merebut harapannya yang terakhir? Kalaupun ia mampu bertahan hidup, apa ia mampu melanjutkan hidupnya?” Nada tinggi itu berhasil memancing emosi dokter, tidak habis pikir dengan pemikiran ayah Cho.

“Apa anda sudah gila?” nada suara Dokter itu sedikit meninggi, “Nyawa anak anda di ujung tanduk, dan anda masih berpikir soal impiannya bernyanyi? Kita harus segera melakukan apapun yang terjadi!”

Bahu Ayah Cho sedikit melemas, namun ia masih tak mau kalah berargumen, baginya saat ini impian putranya sangat penting. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana jika Cho benar-benar harus berhenti bermimpi. Ia tidak ingin melihat putranya sedih, tidak. Ia tidak bisa dan tak akan membiarkannya!

Tiba-tiba seorang dokter datang menghampiri Ayah Cho dan dokter tersebut. Profesor Wang. Ia yang tahu titik masalah perdebatan antara kedua pria itu, langsung menengahi dan memberi alternatif  lain. “Agar anak ini tetap bisa bernyanyi, aku akan melakukan operasi dengan metode lain…” Ucap Profesor Wang yang membuat Ayah Cho cukup merasa lega.

 

Cho membuka matanya yang berat secara perlahan, cahaya disekitarnya langsung menusuk ke retinanya. Membuat Cho harus beradaptasi beberapa saat sebelum ia benar-benar bisa melihat ke sekelilingnya. Rumah sakit. Ruang ICU.

Dan haripun berganti, setelah Cho siuman, 3 hari kemudian ia dipindahkan ke ruang rawat biasa. Cho bisa bernapas lega, ia sangat bersyukur bisa kembali melihat orang-orang yang dicintainya. Dan mereka semua dengan setia menungguinya di rumah sakit. Meskipun ia masih merasakan tubuhnya terlalu sakit untuk merayakan kebahagiaannya.

Ia hampir mati. Itu yang selalu dipikirkannya tiap kali momen itu berkelebat di ingatannya. Tak ada satupun yang bisa membayar kebahagiaanya saat ia bisa kembali membuka matanya. Ia sangat bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Melihat dunia, dan melihat wajah orang-orang yang dicintainya.

78 hari menjadikan rumah sakit sebagai rumah sementara bukan hal yang menyenangkan apalagi dikenang, bukan? Cho tidak memilih untuk mengingat banyak hal saat ia berada di rumahsakit. Ia masih bisa membayangkan dirinya berada di ruangan yang sunyi mencekam dengan seluruh tubuhnya terasa sakit. Bahkan ia juga harus mencicipi rasa udara dari tabung oksigen. Tidak ada yang menyenangkan.

Tapi Cho akan menolak jika ia diberi kesempatan untuk melepas ingatannya selama berada di rumah sakit. Ya. Ia ingat saat ibunya mengatakan bahwa ayahnya ikut andil atas masa depan Cho. Cho agak bingung awalnya, sampai ia tahu bahwa ayahnya adalah orang yang paling menentang saat ia hampir di operasi lewat tenggorokan. Ayahnya melihat mimpinya, ia membela mimpi Cho.

Seandainya ada kata-kata yang tepat untuk mengatakannya, maka Cho akan mengatakannya meskipun akan menghabiskan waktu berhari-hari. Cho terlalu senang, terlalu terharu saat tahu semuanya.

Selalu ada hikmah di balik kejadian bukan? Cho bisa saja tidak menyukai kejadian itu, tapi Cho akan menghargai kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya itu.

“Kakak,” Panggil Cho saat ia berada di dalam mobil, menuju rumah.

“Apa?” Wanita yang dipanggi kakak oleh Cho itu menyahut.

“Katakan pada ayah,” Cho mengembangkan senyumnya, “Aku sangat mencintainya. Salah satu alasan aku bisa bertahan hidup, karena ayah mempertahankan hidupku, juga mimpiku.”

 

Cho dan teman-temannya memasuki studio dan memulai acara talk show di salah satu stasiun TV. Ia diundang untuk diwawancarai seputar kesehariannya, percikan masalah pribadinya, hingga akhirnya MC menanyakan masalah kecelakaan yang menimpa Cho.

“Selama ini, ayah adalah orang pertama yang menentang keinginanku menjadi penyanyi. Ayah memiliki latar belakang akademisi. Karenanya, setiap kali aku mengutarakan cita-cita menjadi seorang penyanyi, ia selalu menentang, ‘Bagaimana mungkin, aku yang berkecimpung di dunia pendidikan memiliki anak seorang penyanyi?!’” Cho menirukan kata-kata ayahnya tempo hari, kalimat itu tertempel permanen sepertinya.

“Namun, ayah yang selama ini bersikeras menentang impianku, ternyata dengan caranya sendiri yang tidak ku ketahui, berusaha melindungi mimpi itu untukku. Saat diceritakan tentang hal ini, aku langsung menangis sejadi-jadinya.” Tutur Cho lagi, mengenang saat-saat paling mengharukan. Bahkan ia dapat merasakan airmata nyaris terjatuh kembali saat ia mengatakannya. “Aku bersyukur, aku bisa kembali diberi kesempatan hidup satu kali lagi, untuk membalas semua kasih sayang mereka padaku.”

Setelah acara selesai, Cho di persilahkan untuk menyanyikan sebuah lagu.

“Aku menyanyikan lagu ‘Love Again’ ini untuk orang-orang yang kucintai, orang yang mencintaiku, dan setia menungguku, khususnya ayah. Terimakasih. I Love You.”

 

=FIN=

 

Garut, 06 Juni 2013, 10;01PM

-Chang Nidhyun-